Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 32: Penghuni Cincin Mata Langit


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)* 


 


Sekitar sepuluh ribu pasukan Balilitan telah mengepung rombongan Joko Tenang dan pasukan Kerajaan Baturaharja. Jalan maju dan mundur telah ditutup. Di punggung bukit kanan dan kiri, ribuan prajurit sudah siap berlari turun menyerbu. Mereka tinggal menunggu komando para komandannya.


Dua ribu pasukan Baturaharja di bawah komando Nayaka Segar Labu bersama dua pendekarnya, yaitu Sepak Bilas dan Tepuk Geprak, segera berbalik arah dan memasang formasi rapat. Benteng perisai mereka ciptakan berlapis-lapis. Tidak hanya pasukan berkuda yang jumlahnya begitu mengerikan yang mereka hadapi, tetapi juga ada pasukan panah.


Sebanyak tiga ratus lima puluh pasukan berkuda Kerajaan Baturaharja harus berhadapan dengan seribu pasukan berkuda Kerajaan Balilitan, sungguh kekuatan yang sangat timpang. Kondisi itu menjatuhkan mental tempur pasukan Baturaharja sebelum berperang.


“Bagaimana ini, Senopati?” tanya Nayaka Segar Labu kepada Senopati Duri Manggala. Ia panik, mentalnya juga drop melihat kekuatan musuh yang tidak terduga.


“Apakah kau akan menyerah?!” bentak Senopati Duri Manggala. “Jika kau setia kepada Kerajaan Baturaharja, maka bertempurlah sampai mati!”


“Ba… baik, Gusti!” ucap Nayaka Segar Labu.


Sementara di sisi pasukan berkuda pimpinan Senopati, Joko Tenang segera mengarahkan rombongannya.


“Bagi kalian yang siap berperang, maju!” perintah Joko Tenang yang duduk di punggung Kemilau menghadap kepada para pengikutnya. Ekspresi dan sorot matanya menunjukkan karakter seorang jenderal perang bintang tujuh.


Kecuali Gowo Tungga dan Gembulayu, para pendekar berkelebatan maju ke depan, mereka berkumpul di depan Joko Tenang.


“Gabungkan Senandung Senja dengan Gowo Tungga!” perintah Tirana kepada Nyai Kisut.


“Baik,” ucap Nyai Kisut. Ia dan Senandung Senja segera keluar dari bilik kereta kuda.


Senandung Senja segera merapat ke dekat Gowo Tungga dan Gembulayu.


“Kalian tidak akan apa-apa,” kata Nyai Kisut menenangkan Senandung Senja yang menunjukkan wajah ingin menangis.


Senandung Senja hanya mengangguk.


Nyai Kisut lalu berkelebat maju, bergabung bersama para pendekar. Hanya Kurna Sagepa yang akan berperang dalam kondisi masih terluka dalam. Sementara luka Swara Sesat tidak begitu berat.


“Jangan paksakan dirimu, Kurna!” pesan Turung Gali yang tahu tingkat luka pemuda tampan berambut keriting pendek itu.


“Baik,” ucap Kurna Sagepa mengangguk.


Tik! Swiit!


Getara Cinta menjentikkan jarinya di atas kepala. Hanya disaksikan oleh Senandung Senja, Gowo Tungga dan Gembulayu, tiba-tiba mereka dikurung oleh kubah sinar hitam, sehingga mereka tidak bisa melihat alam sekitar. Suasana perang seketika lenyap dari pandangan mereka. Sementara bagi orang-orang lain, mereka hanya melihat ketiga orang itu menghilang. Ketiganya telah diamankan dengan ilmu Selubung Alam milik Getara Cinta.


“Untuk cepat menghentikan perang ini, kita harus langsung melumpuhkan para komandannya. Aku dan Ratu akan menghadapi Ginari!” seru Joko Tenang.


Ratu Ginari di atas angkasa yang tinggi mengangkat tangan kanannya, memberi tanda perintah kepada pengikutnya.


Fuuu…! Fuuu…!


Tiba-tiba dua tiupan terompet dari tanduk hewan terdengar dari atas punggung bukit sebelah kanan yang dikomandani oleh Raja Galang Madra. Itu adalah tanda bagi pasukan untuk mulai menyerang.


“Pasukan pertama, seraaang! Habisi siapa saja yang kalian temui!” teriak Laga Patra kepada pasukannya.


“Seraaang…!” teriak para prajurit yang menutup jalan di antara dua bukit.


Maka, separuh dari seribu pasukan segera berlari sambil berteriak ramai tanpa putus. Mereka siap menusukkan tombak-tombaknya.

__ADS_1


Senopati Duri Manggala mengangkat tinggi kerisnya yang sudah dihunus.


“Seraaang!” teriak Senopati Duri Manggala sambil mengayunkan kerisnya menunjuk ke depan.


Lima puluh pasukan berkuda segera maju menyongsong pasukan pimpinan Laga Patra. Senopati Duri Manggala menggebah kencang kudanya mendahului pasukannya. Targetnya adalah mendapatkan Laga Patra, putranya sendiri. Di tengah berlarinya, pasukan Laga Patra tiba-tiba berhenti dan membentuk formasi pagar dengan tombak-tombak yang dipasang miring guna menyambut para kuda musuh.


Di sisi lain.


“Pasukan panah!” teriak komandan pasukan Kerajaan Balilitan yang berhadapan langsung dengan pasukan Baturaharja.


Pasukan panah cepat menarik senar busurnya.


Melihat pasukan musuh sudah tarik busur, Nayaka Segar Labu cepat meneriakkan aba-aba.


“Taktik Dua Arah!” teriak Nayaka Segar Labu keras.


Ketiga ratus pasukan berkuda cepat memecah formasi dengan cara berlari kencang ke dua arah yang saling berjauhan. Pasukan kuda itu bergerak melebar. Lari mereka begitu cepat. Sementara pasukan kuda Balilitan belum bergerak menyerang, karena pasukan panah yang lebih dulu akan bertindak.


“Tembak!” teriak komandan pasukan Balilitan.


Seset…! Seset…!


Ketika pasukan berkuda Senopati Duri Manggala melesat menyambut pasukan di depan sana, pasukan Nayaka Segar Labu dan rombongan Joko Tenang lebih dulu mendapat serangan hujan panah.


Hujan panah menyirami pasukan Baturaharja yang berlindung di benteng tameng. Panah-panah itu bertancapan di tameng-tameng yang terbuat dari kayu tebal.


“Akk! Akh! Akk…!”


Meski sudah berbenteng perisai, tetap saja ada anak panah yang lolos masuk ke celah-celah dan mengenai tubuh prajurit Baturaharja.


Hujan panah juga menargetkan pasukan kuda yang berlari menyebar menjadi dua barisan panjang. Satu, dua, dan tiga, prajurit berkuda yang berlarian terkena panah lalu terjatuh ke tanah.


Di tengah pertempuran itu, tiba-tiba….


Zersss!


Kiiik!


Semua orang yang berdiri di medan Jalur Bukit kompak terkejut ketika tiba-tiba bilik kereta kuda tempat Tirana berada hancur, seiring melesat terbangnya sosok raksasa sinar merah.


Sosok sinar merah itu berwujud burung raksasa berekor panjang bersayap seperti sayap capung. Itu adalah penghuni Cincin Mata Langit merah milik Tirana. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Tirana duduk kuat di pangkal tengkuk makhluk sinar merah itu. Tirana menungganginya dan dibawa terbang tinggi. Kemudian, burung sinar raksasa itu terbang menukik ke arah pasukan panah Kerajaan Balilitan. Para prajurit dalam pasukan itu berubah panik bukan main.


Brusss!


“Aaak…!”


Burung sinar merah raksasa melesat terbang rendah menerabas kerumunan pasukan panah, membuat puluhan prajurit panah terpentalan seperti ditabrak burung berwujud sungguhan. Naasnya, mereka berpentalan dengan tubuh telah terbakar oleh kobaran api.


“Dahsyaaat!” teriak Nayaka Segar Labu begitu senang.


“Penghuni Cincin Mata Langit telah unjuk kesaktian!” seru Turung Gali sumringah. Melihat hal itu, adrenalin perangnya semakin berkobar-kobar.


Joko Tenang dan para wanitanya menjadi tersenyun melihat aksi Tirana bersama burung tunggangannya.


Getara Cinta dan Kerling Sukma jadi memandang sejenak kepada Cincin Mata Langit yang tersemat di jari manis mereka berdua.

__ADS_1


“Sandaria! Kusuma Dewi! Aku berikan Cincin Mata Langit lebih awal sebagai tanda pernikahan kita!” seru Joko Tenang kepada kedua calon istrinya.


Set!


Joko Tenang melesatkan Cincin Mata Langit bermata ungu dan hitam kepada Sandaria dan Kusuma Dewi, yang masih duduk di atas serigalanya masing-masing. Kedua gadis jelita itu sigap menyambut cincin itu langsung dengan jari manisnya. Seolah sudah tertakdir dan jodoh, kedua cincin emas itu langsung memasukkan jari manis kedua gadis itu dalam lingkaran dirinya.


Zersss! Zersss!


Semuanya kembali dikejutkan dengan munculnya dua makhluk sinar raksasa dari dalam permata Cincin Mata Langit. Keduanya langsung melesat tinggi seolah hendak mencapai langit biru. Sebagian besar orang turut mendongak memandanginya.


Wujud sinar ungu yang keluar dari cincin Sandaria adalah kuda bersayap burung yang kokoh dan panjang. Ia memiliki kobaran api ungu pada pucuk kepalanya dan ekornya justru seperti ekor macan yang ujungnya memiliki kobaran api ungu.


Sementara itu, wujud sinar hitam yang keluar dari cincin Kusuma Dewi adalah ular naga hitam. Makhluk itu berkumis panjang dan memiliki tanduk bercabang seperti tanduk kijang. Empat kakinya berkuku cakar kokoh, seolah-olah wujudnya benar-benar padat.


Setelah melesat begitu tinggi ke langit, kedua makhluk itu menukik deras lurus ke bawah dan masing-masing masuk ke dalam tubuh pemiliknya. Hanya memberikan sedikit hentakan keterkejutan kepada kedua calon istri Joko Tenang itu.


Taktik Dua Arah pasukan berkuda Kerajaan Baturaharja rupanya menyerang dua titik ujung dari pasukan berkuda musuh yang lebih besar dan diam menunggu.


“Seraaang…!” teriak Sepak Bilas, pendekar yang mengomandani separuh pasukan infanteri Kerajaan Baturaharja.


“Seraaang…!” teriak Tepuk Geprak pula memberi perintah kepada pasukannya. Perintah itu mereka teriakkan ketika melihat pasukan panah hancur dibakari oleh Tirana yang menunggangi burung sinar merahnya.


Pasukan Sepak Bilas dan Tepuk Geprak menyerang pasukan kuda yang membentengi masukan panah dari depan.


“Habisiii…!” teriak komandan pasukan berkuda Kerajaan Balilitan.


Di saat dua sisi ujung pasukan berkuda Balilitan menghadapi serangan pasukan berkuda Baturaharja yang jumlahnya lebih sedikit, bagian tengah pasukan berkuda Balilitan maju kencang menerabas pasukan pejalan kaki Baturaharja. Meski tidak seimbang, pasukan pejalan kaki Baturaharja memberi perlawanan tangguh.


Sementara itu, Sepak Bilas dan Tepuk Geprak yang aslinya seorang pendekar, mengamuki para prajurit berkuda musuh. Keduanya bertarung seperti seekor macan buas yang sedang terluka.


Di bagian jauh di depan, kuda-kuda pasukan Senopati Duri Mandala disambut dengan pagar tombak yang panjang. Kuda-kuda terdepan tertusuk tombak-tombak yang dipasang sehingga jatuh tersungkur hebat bersama prajurit penunggangnya. Namun kemudian, kuda-kuda di barisan kedua melesat menerabas para prajurit yang ditabraknya. Pertempuran dua pasukan pun terjadi.


Di saat pasukan saling bertemu, Senopati Duri Manggala naik berkelebat di udara. Sosok Laga Patra juga melesat terbang di atas pertempuran, menyambut perlawanan sang ayah.


Melihat perkembangan yang terjadi dengan kehancuran pasukan panah, Ratu Ginari kembali mengangkat tangan kanannya tinggi di udara.


Fuuu….! Fuuu…!


Beberapa prajurit peniup terompet tanduk kembali serentak meniupkan irama komando perang.


“Seraaang…!” teriak Nyai Kilau Maut tinggi.


Ribuan pasukan Nyai Kilau Maut berlarian menuruni punggung bukit di sebelah kiri.


“Seraaang…!” teriak Raja Galang Madra pula di punggung bukit sebelah kanan. Ribuan pasukannya juga segera berlari menuruni bukit.


Total sekitar tujuh ribu pasukan Balilitan bergerak cepat menuruni bukit dari dua arah, seperti gerakan gelombang serangga yang menyerbu ke satu titik. Pergerakan itu membuat suasana perang semaking menegangkan.


Melihat hal itu, Joko Tenang sebagai jenderalnya Kerajaan Sanggana Kecil juga segera meneriakkan perintah pamungkasnya.


“Para pendekar Kerajaan Sanggana Kecil! Waktunya menegakkan kebenaran dan menumbangkan kejahatan! Berperanglah kalian sampai tetes darah penghabisan! Serang!” teriak Joko Tenang keras dan berapi-api.


Zersss!


Graurrr!

__ADS_1


Ketika Getara Cinta menyalurkan tenaga saktinya ke cincinnya, makhluk raksasa sinar hijau berwujud macan bersayap burung melesat keluar dari dalam tubuhnya. Sinar itu terbang ke angkasa lalu berputar arah terbang turun.


Getara Cinta menggandeng tangan suaminya lalu melompat ke udara bersama meninggalkan serigala mereka. Macan sinar hijau cepat menyambar kedua majikannya. Joko Tenang dan Getara Cinta kini duduk di punggung macan sinar hijau. Mereka terbang menuju posisi Ratu Ginari di angkasa tinggi. (RH)


__ADS_2