Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 29: Macan Sinar Merah


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Pesta pernikahan akhirnya usai. Tepat tengah malam, musik gamelan dihentikan. Para penari waktunya istirahat panjang. Malam itu adalah malam terakhir bagi para tamu untuk bermalam. Besok semua tamu akan pulang, termasuk Joko Tenang dan para istrinya.


Joko Tenang dan ketiga istrinya akan melanjutkan perjalanannya, sebab kini Joko Tenang sudah memiliki rumah kediaman, yang katanya adalah sebuah istana kecil.


Ketika matahari pagi mulai naik, Joko Tenang dan Kerling Sukma sudah membuka pintu rumah pengantin.


Turunnya Joko Tenang segera disambut oleh Tirana dan Getara Cinta. Selain mereka rindu karena telah berpisah dua dan satu hari, mereka juga harus merembukkan agenda berikutnya.


“Kakang, apakah kau masih kuat?” tanya Tirana menggoda suaminya.


“Hahaha! Tentu. Berkat ilmu pengobatan yang masing-masing kalian miliki, sangat membantu aku bisa melayani keganasan kalian,” kata Joko Tenang yang kini bisa berdiri dekat di antara para istrinya.


“Hihihi…!” Tertawa ramailah ketiga wanita jelita itu karena disebut “ganas”.


“Ehhem!” dehem seorang wanita yang datang mendekati kemesraan mereka. Ia tidak lain adalah Gatri Yandana. Ia tersenyum lebar kepada putrinya yang sudah merasakan nikmatnya menjadi seorang istri.


“Ibu,” sebut Kerling Sukma seraya tersenyum malu.


“Kakakmu Lirik Layangati sudah kembali,” ujar Gatri Yandana.


“Kapan Kakak sampai?” tanya Kerling Sukma sumringah.


“Tidak lama setelah kau naik ke kamar asmara,” jawab sang ibu.


“Di mana Kakak sekarang? Aku ingin menemuinya,” tanya Kerling Sukma.


“Kata ibu pertamamu, Lirik masih tidur. Mungkin ia kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh,” kata Gatri Yandana. “Nanti saja, para tamu ingin pulang. Mereka harus bertemu dengan kalian dulu sebelum pergi.”


“Baiklah, kita temui para tetua,” kata Joko Tenang.


Joko Tenang dan keempat wanita itu lalu pergi menuju ke balairung perguruan.


Di balairung telah berkumpul Pendekar Seribu Tapak dan Ketua Perguruan Tiga Tapak Jaga Manta bersama para senior dunia persilatan, termasuk Dewi Mata Hati yang masih ditemani oleh Kumala Rimbayu dan Robenta alias Pendekar Tongkat Merah.


Ketika melihat Joko Tenang yang nama kerajaannya adalah Pangeran Dira Pratakarsa Diwana itu datang, semua orang yang duduk di balairung segera berdiri.


Namun, baru saja Joko Tenang dan para istrinya memasuki balairung, dari sisi lain ada yang memanggil.


“Sukma!”


Panggilan suara wanita itu membuat langkah Joko Tenang dan keempat wanita yang bersamanya berhenti. Mereka menengok kepada Lirik Layangati yang datang berlari kecil. Terlihat jelas bahwa ia baru saja selesai mandi.


Lirik Layangati pagi itu mengenakan pakaian warna biru terang. Ia tersenyum lebar kepada Kerling Sukma.


“Kakak Lirik!” sebut Kerling Sukma gembira lalu berlari kecil menyambut kedatangan Lirik Layangati.


Mereka bertemu di teras balairung dan saling berpelukan sambil tertawa akrab. Melihat kejadian itu, keluarga besar Perguruan Tiga Tapak yang tahu cerita di masa lalu, merasa bahagia. Itu jelas menunjukkan tidak ada konflik lama yang masih terpendam di dalam dada.

__ADS_1


“Sangat mengejutkan kau, Sukma. Awalnya aku kira ini pernikahan Kakang Jaga, ternyata pernikahanmu. Hihihi!” ujar Lirik Layangati.


“Iya, Kak. Aku menikahi lelaki yang selama ini aku damba-dambakan. Menanti lama di Jurang Patah Hati tidak tersiakan. Purnama yang kurindu selama ini telah jatuh di dalam genggaman. Akhirnya kami disatukan di atas pelaminan,” kata Kerling Sukma, seperti orang bersyair.


“Kau benar-benar berbeda sekarang, kecuali mata hijaumu yang tidak berubah,” kata Lirik Layangati.


Di sisi lain, tampak Lili Angkir dan suaminya tersenyum melihat keakraban kedua kakak adik tersebut.


“Panggilkan suamimu, aku ingin mengenalnya khusus,” kata Lirik Layangati setengah berbisik kepada adiknya.


Sambil tersenyum, Kerling Sukma berbalik memandang kepada suaminya. “Kakang, sini!” panggil Kerling Sukma.


Sambil tersenyum, Joko Tenang melangkah mendatangi kedua gadis bersaudara itu.


“Kakang, perkenalkan, ini kakakku atau adik Kakang Jaga, Lirik Layangati,” kata Kerling Sukma memperkenalkan kakaknya.


Lirik Layangati memandangi ketampanan Joko Tenang seraya tersenyum semanis mungkin. Pandangannya seolah memendam rasa tersembunyi.


Sementara itu, semua mata memandang kepada mereka, terutama para tamu yang tinggal menunggu Joko Tenang sebelum mereka pulang.


Lirik Layangati maju lebih dekat kepada Joko Tenang, tetap tersenyum manis.


“Terima kasih, Pangeran!” ucap Lirik Layangati sambil mengulurkan tangan kanannya, bermaksud bersalaman.


Joko Tenang segera menyambut tangan itu dengan tangannya sambil menatap juga sepasang mata Lirik Layangati.


Deg!


Isyarat halus yang Joko Tenang tangkap dari perubahan kecil pada sorot mata Lirik Layangati akhirnya terjadi.


Zreff!


“Aakh!”


Graukrr!


“Aakk…!”


Lirik Layangati tiba-tiba mendorong tangannya ke dada Joko Tenang, tidak jadi menjabat tangan pemuda itu. Tangan Lirik Layangati dalam bentuk cakar dan jari-jarinya bersinar hitam pekat.


Bersamaan dengan adanya gelombang sinar hitam yang masuk ke dalam dada Joko Tenang, pemuda itu menjerit tertahan.


Saat itu pula, tiba-tiba dari dalam Cincin Macan Penakluk yang ada di jari tangan Joko Tenang melesat keluar sinar merah menyilaukan. Sinar itu berbentuk macan merah besar yang langsung menerkam tubuh Lirik Layangati.


Lirik Layangati yang terlempar sampai jatuh ke tanah halaman, menjerit histeris. Sebab macan sinar merah itu seolah macan sungguhan.


“Kakang!” pekik Kerling Sukma terkejut bukan main sambil buru-buru menangkap tubuh suaminya yang tumbang ke belakang.


“Kakang!” teriak Tirana dan Getara Cinta terkejut bersamaan. Mereka langsung mendapati tubuh suami mereka yang sudah memejamkan mata.

__ADS_1


“Yang Mulia Pangeran!” teriak Turung Gali sambil melesat laksana menghilang dari dalam balairung. Turung Gali berdiri berjaga sambil memandangi Lirik Layangati yang sedang diamuk macan sinar merah.


“Lirik!” teriak Lili Angkir histeris melihat putrinya tiba-tiba diterkam macan sinar merah. Mendadak ia bingung.


Kejadian tidak terduga itu seketika menghebohkan seluruh orang di tempat itu. Semua orang yang berada di dalam balairung segera keluar untuk melihat jelas apa yang terjadi sebenarnya.


Zess! Bress!


Melihat putrinya dicabik-cabik oleh makhluk sinar itu, Lili Angkir akhirnya bertindak dengan melesatkan sepiring sinar putih yang berputar dahsyat mengenai macan sinar merah. Makhluk itu ambyar menjadi sinar-sinar merah kecil yang sangat halus, lalu bergerak seperti tersedot pulang ke dalam Cincin Macan Penakluk.


Dengan lenyapnya macan sinar merah, maka terlihat jelaslah kondisi Lirik Layangati. Sungguh mengenaskan dan menyedihkan.


Kini, wajah dan tubuh Lirik Layangati hancur tanpa bentuk yang jelas. Luka cakaran yang dalam dan berdarah-darah merusak parah wajah dan tubuh indah itu. Namun, Lirik Layangati tampak masih bernyawa, terlihat dari hentakan-hentakan tubuhnya yang sudah kritis. Ia sudah tidak bisa bergerak bangun selain tergeletak tidak berdaya dalam kondisi mengerikan.


“Liriiik!” teriak Lili Angkir histeris sambil berlari mendapati tubuh putrinya. Ia menangis histeris.


Lili Angkir segera memangku kepala putrinya yang sudah hampir mati. Darah mengalir deras dari wajah, leher, dan badan yang rusak parah.


“Liriiik, kenapa kau lakukan ini?! Huuu….!” ratap Lili Angkir sambil memeluk kepala putrinya. Ia menangis tersedu.


“A… aku. Ma… masih. Dendam, Bu!” ucap Lirik Layangati pelan sekali, terputus-putus, tetapi ibunya masih mendengar jelas.


“Liriiik…!” jerit Lili Angkir begitu histeris dan menangis meraung.


“Maafkan… a… ku. Bu… nuh. A… aku!” ucap Lirik Layangati.


“Aaa…!” teriak Lili Angkir lagi setelah mendengar permintaan putrinya.


Pangeran Arya Duduwani dan Jaga Manta datang berlari menghampiri ibunya.


Krekr!


“Ibuuu!” teriak Jaga Manta histeris, tapi berhenti berlari. Ia sudah terlambat mencegah ibunya. Jaga Manta berdiri syok, lalu jatuh terlutut di tanah. Ia begitu syok melihat jelas ibunya meremukkan leher Lirik Layangati dengan sekali cekik bertenaga dalam.


“Huuu huuu…!” Lili Angkir menangis tersedu-sedu sambil memeluki kepala putrinya yang sudah tanpa nyawa. Ia sendiri yang mengakhiri nyawa putrinya.


“Lili!” panggil Pangeran Arya sambil menyentuh kedua lengan istrinya.


“Kakang Pangeran!” sebut Lili Angkir menangis sambil bangkit berdiri memeluk suaminya. Di dada suaminya itulah ia menangis sejadi-jadinya.


Sementara Lirik Layangati tergeletak tidak bergerak di tanah.


“Adik!” ucap Jaga Manta dengan suara bergetar hebat. Ia beringsut dengan lututnya mendekati jasad adiknya.


Tangannya gemetar hebat saat hendak meraih tubuh Lirik Layangati. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa berkata-kata. Hanya tangis yang terurai deras. Dengan gerakan pelan yang bergetar, Jaga Manta memeluk tubuh yang penuh luka dan darah itu.


“Aaa…!” Tiba-tiba Jaga Manta berteriak sangat keras meluapkan emosi kesedihan dan kemarahannya. Namun, ia bingung harus marah kepada siapa.


Di saat Lili Angkir dan Jaga Manta larut dalam kesedihannya. Di teras balairung juga terjadi kepanikan yang luar biasa.

__ADS_1


Joko Tenang yang dalam kondisi tidak sadarkan diri, kini warna kulitnya berubah menghitam.


“Energi buruk ini ternyata yang aku rasakan kemarin saat bertemu dengan anak itu,” ucap Dewi Mata Hati kepada Ki Ranggasewa yang berdiri di sisinya. (RH)


__ADS_2