Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
44. Tirana Unjuk Kesaktian


__ADS_3

“Siapa kiranya gadis jelita yang berserah diri kepadaku ini?” tanya Kakek Ular Emas.


“Mohon maaf, Kakek, jika Tirana begitu lancang ingin beradu keberuntungan,” jawab Tirana santun, seiring senyum manis yang mengembang.


“Jadi namamu Tirana. Aku bisa merasakan kesaktian yang tinggi padamu. Luar biasa, semuda ini sudah sampai ke tahap seperti ini,” puji Kakek Ular Emas.


“Kakek begitu melebihkan,” kata Tirana seraya tertawa kecil.


Tidak terlihat ada ketegangan di antara kedua jago itu.


“Silakan Kakek memulai,” kata Tirana.


“Baik, baik, hehehe!” ucap Kakek Ular Emas seraya terkekeh.


Kakek Ular Emas menusukkan tongkatnya ke depan. Ular kuning yang berada di tongkat melesat ke arah sosok Tirana. Gadis sakti itu tidak melakukan apa-apa.


Clap!


Ketika kepala ular yang membuka mulutnya lebar-lebar hendak mematuk wajah Tirana, sosok si gadis tiba-tiba lenyap begitu saja. Sementara ular terus meluncur ke atas tiang batu lalu merayap cepat menghilang di antara sela-sela bebatuan.


Di saat seluruh mata pada mencari keberadaan Tirana, Ratu Getara Cinta tiba-tiba dikejutkan dengan satu suara perempuan yang sangat dekat di belakang kepalanya.


“Aku Tirana, gadis yang melawan kakek itu. Jawab dengan cepat, Ratu!” kata suara itu.


“Baik,” jawab Ratu Getara Cinta. Meski suara di belakang kepalanya tidak memberikan ancaman, tetapi kemampuan berada di belakangnya tanpa diketahui oleh siapa pun, bisa saja menjadi hal yang mengancamnya.


Tampak dua punggawa tinggi yang ada di sisi Ratu Getara Cinta tidak mengetahui apa yang terjadi dengan ratu mereka.


“Apakah Arak Kahyangan ada padamu?” tanya Tirana yang berada di belakang Ratu Getara Cinta tapi tidak memperlihatkan wujudnya.


“Benar,” jawab Ratu Getara Cinta.


“Jika kau berjanji akan memberikan Arak Kahyangan, aku dan calon suamiku tidak akan memenangkan Ratu Aswa Tara pada pertemuan ketiga,” kata Tirana.


“Baik.”


“Di arah mana posisi kerajaanmu?” tanya Tirana lagi.


“Timur.”


“Hari ini kau akan kalah,” kata Tirana lalu menghilang dari belakang Ratu Getara Cinta.


Ratu Getara Cinta dapat merasakan bahwa hawa dingin yang sejak tadi menempel di lehernya lenyap begitu saja, seiring menghilangnya keberadaan Tiara.


“Habisi!” teriak para prajurit wanita Hutan Kabut tiba-tiba, saat di arena tiba-tiba pula muncul sosok Tirana dengan dua bola sinar biru di telapak tangannya.


Dari sosok Tirana berhembus angin tenaga dalam ke segala arah, membuat debu-debu berterbangan. Ia berjalan santai mendatangi Kakek Ular Emas.


“Serang!” teriak Kakek Ular Emas.


Tiba-tiba dari arah samping, dari sela-sela bebatuan melesar terbang seekor ular kuning milik si kakek yang tadi menghilang bersembunyi.

__ADS_1


Tuk!


Namun, kepala ular yang siap menggigit dengan taring runcingnya membentur satu dinding tenaga beberapa jengkal dari tubuh Tirana. Ular itu terpental jatuh lalu langsung merayap cepat lagi.


“Serang!” seru Kakek Ular Emas lagi.


Si ular kuning emas kembali muncul melompat menyerang Tirana, tetapi kembali terpental oleh dinding gaib yang melindungi tubuh si gadis.


Melihat ularnya tidak berfungsi terhadap Tirana, Kakek Ular Emas cepat angkat tongkat kayu hitamnya tinggi-tinggi. Tongkat hitam itu kini diselimuti sinar hijau.


Kakek Ular Emas melesatkan tongkatnya kepada Tirana yang masih agak jauh di depan.


Zersss! Presss! Blarr!


Tirana melepaskan satu sinar biru di tangannya yang langsung melahap hancur tongkat Kakek Ular Emas. Sementara sinar biru itu tetap utuh dan terus melesat menyerang si kakek.


Berubah panik Kakek Ular Emas saat tahu kedua kakinya terpaku dalam pijkannya di atas batu. Buru-buru Kakek Ular Emas meliuk cepat membuat bola sinar biru Tirana mengenai ruang kosong dan terus menghancurkan batu besar di belakang si kakek.


Sadar tidak bisa pergi dari tempat berdirinya, Kakek Ular Emas cepat melakukan sesuatu daripada harus mati tanpa daya.


Sring! Bress!


Kakek Ular Emas mengadukan sepasang tinju tuanya, membuat tubuhnya kini dilapisi sinar hijau beberapa lapis. Itu adalah ilmu perlindungan Kakek Ular Emas yang bernama Lima Kulit Kehidupan. Selanjutnya si kakek menghentakkan sepasang lengannya lurus ke atas. Hawa panas seketika menyebar yang berpusat dari tubuh si kakek. Sementara itu muncul sinar kuning bergerak berbentuk ular besar yang melilit di tubuh Kakek Ular Emas. Kepala ular sinar itu memasang diri di atas kepala si kakek. Itu adalah ilmu tertinggi Kakek Ular Emas yang bernama Amarah Ular Emas.


Sementara itu, Tirana kian mendekati lawannya. Di tangannya tetap ada dua bola sinar biru.


“Akankah Kakek mengalah kepadaku?!” tanya Tirana dengan setengah berteriak.


“Aku tidak pernah mengaku kalah sebelum Amarah Ular Emas aku lepaskan!” seru Kakek Ular Emas.


“Heaaat!” teriak Kakek Ular Emas seraya mendorong sepasang lengannya dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.


Wurss! Brass!


Seiring itu, kepala ular sinar kuning di atas kepala si kakek melesat ganas menyerang Tirana. Hawa panas yang begitu tinggi dipastikan akan membakar hangus tubuh cantik Tirana. Namun, Tirana dengan tenangnya tetap melangkah menghampiri Kakek Ular Emas. Ia membiarkan ular sinar ganas itu menabrak tubuhnya.


Yang terjadi adalah sinar berwujud ular itu hancur dan sirna dua jengkal sebelum menyentuh tubuh Tirana. Hingga sinar ular itu habis sama sekali dan hawa panas yang tinggi darinya pun lenyap.


Ratu Getara Cinta dan Ratu Aswa Tara terbelalak. Demikian pula orang-orang yang memiliki kesaktian tidak rendah.


“Sehebat inikah calon istriku?” ucap Joko Tenang lirih.


“Siapa sebenarnya gadis ini?” membatin pula Bidadari Seruling Kubur sebagai seorang pendekar yang sudah langlang buana ke dunia luas. Ia tahu seganas apa ilmu Amarah Ular Emas. “Ada yang salah dengan Kakek Ular Emas. Sejak tadi kakinya tidak bergerak sedikit pun.”


“Apakah Kakek bersedia menyerah?” tanya Tirana kepada Kakek Ular Emas, memberi kesempatan terakhir. Sepasang tangannya siap melempar sinar biru yang masih digenggamannya.


“Aku mengaku kalah!” seru Kakek Ular Emas.


Kakek Ular Emas lalu meredakan pengerahan tenaga dalamnya. Ilmu perisai Lima Kulit Kehidupan lenyap pula.


Melihat Kakek Ular Emas telah menormalkan kondisinya, Tirana pun melenyapkan dua bola sinar birunya. Angin tenaga dalamnya pun berhenti berhembus.

__ADS_1


Kakek Ular Emas menjura hormat kepada Tirana yang membalas dengan anggukan dan senyuman. Dari belakang muncul ular kuning yang kemudian merayap melilitkan tubuhnya ke pinggang tuannya. Kakek Ular Emas lalu berkelebat naik ke tribun, berdiri di sisi Ragatos dan Bidadari Seruling Kubur.


“Menang!” teriak para prajurit wanita Hutan Kabut serentak. Begitu riuh perayaan kemenangan itu.


Tirana berkelebat naik ke atas tribun.


“Kenapa kau tidak bertarung sampai mati, Kakek Ular?” tanya Ragatos.


“Diam, kau!” hardik Kakek Ular Emas. “Aku masih mau hidup.”


“Tampaknya harus aku yang menjadi penentu kemenangan,” kata Bidadari Seruling Kubur lalu berkelebat turun ke medan tarung.


Nintari memandang langsung kepada Joko Tenang yang masih berdiri di tribun atas. Ia yakin bahwa pemuda tampan itu yang akan menjadi lawan tarungnya. Tak lama kemudian, Joko Tenang memang berkelebat turun dan berdiri sepuluh langkah di hadapan Nintari.


“Aku ingat kau, Tampan,” kata Nintari lalu tertawa kecil sendiri.


“Bagaimana kau yakin, Bidadari?” tanya Joko seraya tersenyum manis, seolah membenarkan perkataan Nintari.


“Bibir merahmu. Baru satu lelaki yang pernah aku jumpai memiliki bibir merah seperti bergincu. Kau mengingatkanku pada Senggala,” ujar Nintari.


“Kau pun mengingatkanku kepada sahabat-sahabatku yang hilang,” kata Joko.


“Tidak aku sangka kau tumbuh menjadi terlalu tampan, Bocah. Oh ya, siapa namamu?”


“Joko Tenang.”


“Dulu aku begitu tertarik kepadamu. Namun sekarang, kau membuatku semakin tertarik,” kata Nintari terus terang.


“Hahaha!” Joko Tenang tertawa kecil. “Kau beruntung, Bidadari.”


“Oh ya? Muslihat apa yang mau kau mainkan, Joko?”


“Tidak ada muslihat. Saat ini aku sedang mencari istri banyak,” kata Joko.


“Hihihi!” Tertawalah Nintari.


“Wanita sakti yang baru saja bertarung tadi adalah salah satu calon istriku.”


“Tawaranmu sangat menarik, Joko. Tetapi, aku bukan wanita yang suka berbagi lelaki dengan wanita lain. Aku lebih memilih menaklukkanmu lalu kau menjadi budakku seorang,” kata wanita bertubuh gadis remaja cantik itu. “Bagaimana mungkin orang sepertimu berada di tempat tersembunyi seperti ini?”


“Aku mencari obat untuk calon istriku,” jawab Joko apa adanya.


Melihat pertarungan belum juga dimulai, hal itu membuat sejumlah orang tidak sabar, terutama Ratu Aswa Tara.


“Apa yang mereka diskusikan?” kata Ratu Aswa Tara kesal.


“Tampaknya mereka saling mengenal, Ratu,” kata Sawiri menjawab pertanyaan ratunya.


Kembali ke percakapan Joko dan Nintari.


“Kau bisa menawarkan diri kepada Ratu Getara Cinta. Lihat, betapa cantiknya ratu itu,” kata Nintari lalu memandang kepada Ratu Getara Cinta.

__ADS_1


Joko Tenang lalu memandang kepada Ratu Getara Cinta. Melihat Joko Tenang beralih menatapnya dengan serius, Ratu Getara Cinta jadi kerutkan kening bertanya-tanya dalam hati. Joko Tenang lalu melempar senyum manis kepada Ratu Getara Cinta. Senyuman itu seperti lesatan anak panah kesejukan yang menikam hati sang ratu.


“Pasti pemuda ini calon suami gadis tadi,” membatin Ratu Getara Cinta. “Senyumannya membuatku berdebar aneh. Mengapa dia dan Nintari memandangku?” (RH)


__ADS_2