
*Cincin Darah Suci*
Tidak siang, tidak malam, Putri Yuo Kai terus “menghajar” Joko Tenang. Setelah sekali dan dua kali, akhirnya Putri Yuo Kai terbiasa dan dia tipe wanita yang cepat belajar dan mempelajari sesuatu yang baru. Akhirnya Putri Yuo Kai punya gaya sendiri dan pola sendiri dalam mencumbu suaminya yang berubah menjadi mayat hidup saat urusan ranjang.
Putri Yuo Kai benar-benar tidak mau menyia-nyiakan kebersamaannya yang tinggal kurang dari sehari.
Joko Tenang pun merelakan dirinya merasakan lemah berkali-kali demi kebahagiaan istrinya. Ia benar-benar menjadi suami yang penurut sekali karena ia pun ada merasakan kebahagiaan dan kenikmatan, meski seala kadarnya saja.
Meski pengantin baru itu bercumbu berulang kali, tetapi keduanya tetap memenuhi komitmen mereka kepada Tirana, yaitu tidak merusak keperjakaan dan keperawanan mereka.
Namun, semuanya berubah ketika pagi menyapa.
Dum dum dum dum....!
Suara tabuhan genderang yang serentak terdengar memenuhi angkasa Istana dan ibu kota He. Tabuhan itu berasal dari pelataran Istana Naga Langit, semua menara pengawas dan dari atas benteng Ibu Kota.
Tabuhan genderang itu dilakukan terus-menerus dan berkepanjangan. Itu sebagai tanda bahwa Negeri Jang bersiap menghadapi perang. Dan artinya pula, akan ada pejabat penting yang berangkat meninggalkan Istana untuk terjun ke medan juang demi keselamatan Negeri Jang.
Di Istana Ksatria, Bo Fei membantu Putri Yuo Kai mengenakan zirah perangnya yang berwarna biru terang. Rambutnya digelung layaknya seorang prajurit lelaki. Sementara Bo Fei sudah berpakai perang lengkap berwarna biru gelap.
Sementara Joko hanya tersenyum melihat Putri Yuo Kai yang seketika berubah dari wanita yang haus cinta dan kemesraan, menjadi seorang prajurit gagah yang siap gugur di medan perang.
Setelah rapi, Putri Yuo Kai berbalik dan melangkah gagah ke luar dengan menenteng sebuah pedang bagus berwarna biru hitam. Bo Fei berjalan di sisinya, tetapi sedikit di belakang. Bo Fei membawa helm pelindung kepala Putri Yuo Kai yang belum dipakainya.
Joko Tenang mengikuti di belakang dengan tetap menjaga jarak fisik.
Setibanya di luar, ternyata di depan Istana sudah menunggu sepuluh prajurit wanita yang juga mengenakan zirah lengkap berwarna merah terang. Mereka adalah Pengawal Angsa Merah yang tinggal sepuluh orang.
Kesepuluh Pengawal Angsa Merah berjalan rapi mengikuti di belakang Putri Yuo Kai dan Bo Fei.
Mereka terus berjalan gagah menuju ke Istana Naga Langit.
Di depan Istana Naga Langit telah menunggu Kaisar Long Tsaw, Permaisuri Fouwai, kedua selir, Pangeran Han Tsun, Putri Ling Mei, dan para pejabat yang dipimpin oleh Perdana Menteri La Gonho.
__ADS_1
Ada pula Tirana, Puspa, Su Ntai dan Su Mai yang sedang menunggu. Mereka tidak menunggu kedatangan sang putri, tetapi lebih kepada menunggu kedatangan Joko Tenang.
Di pelataran, sepuluh prajurit menabuh genderang besar dan ada beberapa ribu prajurit berseragam biru-biru berbaris rapi, lengkap dengan prajurit pembawa bendera dan panji-panji pasukan. Bendera Negeri Jang adalah berwarna merah dengan gambar satu cakar naga berwarna hitam.
“Hormat hamba, Yang Mulia Kaisar!” ucap Putri Yuo Kai seraya turun berlutut kepada Kaisar Long Tsaw yang diikuti oleh para pengawal sang putri.
Joko Tenang pun berlutut menghormat.
“Bangkitlah!” perintah Kaisar Long Tsaw. Ia tersenyum melihat penampilan Putri Yuo Kai, putri yang sudah tidak ia khawatirkan lagi tentang jodohnya. Meski pagi ini mereka harus menerima kenyataan pahit.
Permaisuri Fouwai dan kedua selir pun tersenyum melihat penampilan Putri Yuo Kai.
“Ayahanda Kaisar dan Ibunda Permaisuri, izinkan aku pamit diri,” ucap Joko Tenang yang segera diterjemahkan oleh Su Mai.
“Tapi ingatlah untuk datang berkunjung kembali ke mari, Joko,” pesan Kaisar Long Tsaw yang diterjemahkan oleh Su Mai.
“Tentu, Yang Mulia. Aku tidak akan lupa jalan,” tandas Joko yang juga diterjemahkan lagi oleh Su Mai.
Putri Yuo Kai memandang suaminya. Joko balas menatap istrinya. Sejenak keheningan tercipta di antara mereka di dalam irama tabuhan genderang perang.
“Apa jadinya jika pasukanmu melihat air mata itu?” kata Joko Tenang seraya tersenyum kepada Putri Yuo Kai.
Mendengar terjemahan Su Mai, akhirnya Putri Yuo Kai tersenyum dan menyeka air matanya dengan ujung jarinya.
“Yakinlah, kelak kita akan bertemu dan bersatu kembali!” kata Joko dengan nada agak tinggi.
“Aku akan segera meyusulmu, Suamiku!” balas Putri Yuo Kai setelah mendengar terjemahan Su Mai.
“Aku pergi!” ucap Joko. Ia lalu menghormat kepada Kaisar dan Permaisuri. Setelah itu, Joko memberikan senyuman perpisahan kepada Putri Yuo Kai.
Sementara itu, Puspa sudah mengerahkan ilmu Gerbang Tanpa Batas. Tangan kirinya telah menapak ke lantai. Di depannya Tirana telah duduk bersila.
Su Ntai bergerak memeluk Su Mai, putrinya yang akan ia tinggalkan kembali. Setelah itu Su Ntai pergi duduk bersila di antara Puspa dan Tirana. Ia memegang tangan kanan Puspa dan tangan kiri Tirana.
__ADS_1
Mereka duduk di atas gelombang sinar putih yang muncul dari bawah telapak tangan kiri Puspa.
Selanjutnya Joko Tenang bergerak cepat. Ia masuk kedalam lingkaran dan langsung duduk bersila. Tirana cepat menggenggam erat tangan kiri Joko. Maka seketika Joko pun melemah.
“Berangkat!” teriak Puspa kencang sambil cepat melepas telapak tangan kirinya dan menggenggamkannya ke pergelangan tangan kanan Joko.
Bress!
Gelombang sinar putih berganti dengan sinar merah bulat datar yang bergerak melebar melewati bawah tubuh mereka berempat. Maka setelah lingkaran sinar merah itu sempurna, keempat orang itu masuk tenggelam ke bawah seolah masuk ke dalam lantai. Seiring hilangnya keempat orang itu, maka lenyap pula sinar merah tadi.
Satu rasa kehilanganya yang begitu kuat seketika melanda hati Putri Yuo Kai. Ia ingin menangis, tetapi ditahannya. Ia tekan perasaan itu dengan berteriak nyaring yang di dengar oleh seluruh pasukan yang berbaris di pelataran Istana Naga Langit.
“Berangkaaat!”
Maka Putri Yuo Kai berbalik dan melangkah menuruni tangga, diikuti oleh Bo Fei dan kesepuluh Pengawal Angsa Merah. Di bawah tangga sana, sudah berbaris dua belas ekor kuda hitam, lengkap dengan pelana perangnya. Setibanya di bawah, Bo Fei memberikan helm milik sang putri. Putri Yuo Kai memakainya, membuat kepala dan separuh wajah atasnya tertutup. Hanya sepasang mata dan bibir yang terlihat.
Setelah Putri Yuo Kai naik ke punggung kudanya, para pengawal pun menyusul naik.
Selanjutnya kedua belas kuda itu berjalan dalam formasi yang rapi meninggalkan depan Istana Naga Langit.
Dum dum dum dum...!
Penabuh genderang kini mengubah irama tabuhannya. Pasukan yang berbaris rapi secara tertib mulai bergerak dan membentuk barisan pasukan di belakang rombongan Putri Yuo Kai.
Di bawah pimpinan Putri Yuo Kai, ribuan pasukan itu bergerak keluar dari Istana, lalu melalui jalan utama Ibu Kota menuju gerbang Ibu Kota.
Warga Ibu Kota segera berbaris di pinggir sepanjang Jalang Liong Sue. Mereka sangat antusias untuk menyaksikan pasukan yang akan pergi berperang.
“Hidup Yang Mulia Putri!” teriak seseorang yang mengetahui bahwa penunggang paling depan adalah Putri Yuo Kai.
“Hidup Yang Mulia Putri!” teriak mereka semua seraya terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa sang putri lah pemimpin pasukan yang akan pergi ke perbatasan itu.
Sekeluarnya dari benteng Ibu Kota, puluhan ribu pasukan Negeri Jang telah menunggu. Pasukan infanteri dan kavaleri lengkap semua.
__ADS_1
Maka dimulailah perjalanan puluhan ribu pasukan Negeri Jang yang berseragam warna biru-biru menuju ke perbatasan timur. (RH)