Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 34: Cara Sandaria


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*  


 


Peta peperangan di Jalur Bukit sangat tidak berpihak pada pasukan Kerajaan Baturaharja yang jumlahnya hanya dua ribu pasukan. Kekuatan Pasukan Balilitan terlalu besar, terutama ketika pasukan dari dua bukit turun semua.


Meski ada kekuatan tiga makhluk Cincin Mata Langit yang menelan banyak korban dalam waktu singkat, tetap saja jumlah pasukan Balilitan terlalu banyak. Pasukan Baturaharja pimpinan Nayaka Segar Labu, Sepak Bilas dan Tepuk Geprak lebih cepat habisnya daripada kecepatan daya bunuh ketiga makhluk sinar Cincin Mata Langit.


Awalnya Nayaka Segar Labu berharap bisa memundurkan pasukannya ketika Tirana selesai menghabisi pasukan panah, tetapi peluang itu tertutup saat dua pasukan besar turun dari bukit dan semakin mengerumuni mereka, seperti gerombolan semut mengerumuni bangkai belalang.


Karena pasukan baturaharja berpusat di sisi timur, pasukan Balilitan yang turun lebih cenderung membludakkan diri di area itu.


“Ada harapan di ujung Jalur!” desis Nayaka Segar Labu saat melihat kondisi pertempuran di ujung jalan antara pasukan Senopati Duri Manggala melawan pasukan Laga Patra. Peluang untuk tercipta jalan di barat sana lebih besar, sebab di sana ada Sandaria dan kelima serigalanya yang mengamuk hebat.


Nayaka Segar Labu juga melihat kedua pendekarnya sudah kewalahan, meski mereka masih prima.


“Sepak! Tepuk! Bawa pasukan bergerak ke barat!” teriak Nayaka Segar Labu kepada kedua bawahannya.


“Mundur ke barat!” teriak Sepak Bilas kepada pasukannya.


“Mundur ke barat!” teriak Tepuk Geprak sambil menepuk kedua telapak tangannya yang bersinar merah.


Swerss!


Sepuluh butiran sinar merah berlesatan mengenai pasukan Balilitan yang terus mendesak. Serangan komandan mereka membuat prajurit bawahan Tepuk Geprak bisa bergerak mundur, tetapi kemudian mereka kembali bertemu lapisan prajurit Balilitan lainnya.


Jarak yang cukup jauh menuju sisi barat, ditambah lautan pasukan Balilitan menjadi kesulitan besar bagi Nayaka Segar Labu untuk membawa pasukannya ke sana.


Di sisi lain, kini tinggal Tirana dan Kusuma Dewi yang menghabisi per puluhan prajurit Balilitan dengan makhluk Cincin Mata Langit-nya, sebab Kerling Sukma sudah bertarung melawan Nyai Kilau Maut.


Brusss!


Tirana telah berhasil menghancurkan pasukan panah Balilitan dengan tunggangan sinar merahnya. Ia membakari para prajurit itu, membuat pasukan itu benar-benar merasa sedang dibumihanguskan. Mayat-mayat yang terbakar begelimpangan mengerikan. Kini dia menghajar pasukan berkuda yang sulit ditaklukan oleh pasukan Baturaharja.


Brusss!


Naga hitam Kusuma Dewi melakukan manuver menarik. Dia terbang menerabas pasukan Balilitan yang berpusat pada posisi para pendekar pengikut Joko Tenang. Tindakan itu membantu sekali bagi Reksa Dipa dan yang lainnya.


Seseset….!


Bahkan ketika menerabas pasukan musuh, Kusuma Dewi telah berpindah tempat dengan bergelantungan di ekor naga hitamnya. Sementara pedangnya menyambar leher-leher prajurit yang dilaluinya.


Boamm!


Satu ledakan hebat terjadi di atas angkasa, tepatnya pada pertarungan Ratu Ginari melawan Joko Tenang dan Getara Cinta. Tampaknya pertarungan serius sudah terjadi di antara ketiganya.


Ratu Ginari menyambut kedatangan Joko Tenang dan Getara Cinta dengan Tinju Menembus Gunung-nya. Getara Cinta cepat menahan dengan benteng tenaga sakti di depan tubuhnya dan suaminya, yang berada satu punggung macan sinar hijau bersayap.


Akibatnya, ledakan tenaga terjadi, membuat tubuh Joko Tenang terlempar dari punggung binatang sinar hijau.


Getara Cinta yang bisa bertahan di punggung macan sinarnya, mendelik terkejut melihat suaminya terpental jatuh menuju bumi.


Bress!

__ADS_1


Dengan tubuh yang bersinar hijau, Getara Cinta cepat melesat terbang dari punggung tunggangannya. Getara Cinta melesat mendatangi Ratu Ginari di udara. Ratu Ginari membiarkan Getara Cinta datang.


Maka saat bertemu, sekitar dua puluh gerak serangan yang sangat cepat dalam dua detik dilancarkan oleh Getara Cinta. Namun, dengan mudah Ratu Ginari menangkal semua serangan tanpa ada gerakan memindahkan kakinya mengambang di udara.


Getara Cinta yang tidak bisa mengambang, mau tidak mau harus meluncur jatuh dari ketinggian setinggi bukit itu.


Zoom!


Saat tubuh Getara Cinta meluncur jatuh, Ratu Ginari melesatkan segumpal sinar ungu dari tinjunya lurus ke bawah, mengejar tubuh Getara Cinta.


Blas! Bluarrr!


Mengetahui serangan itu, Getara Cinta cepat meledakkan tenaga saktinya di telapak tangan ke samping, membuat tubuhnya terdorong setombak ke samping, sehingga garis luncurnya berpindah.


Sementara sinar ungu Ratu Ginari lewat tipis di sisi kanan Getara Cinta, lalu langsung menghancurkan tanah lereng bukit dengan hebat, bahkan membuat bumi pada dua bukit itu berguncang sejenak.


Wess!


Macan sinar hijau yang sudah mennyambar tubuh Joko Tenang sebelum mencapai bumi, melesat terbang menyambar tubuh Getara Cinta, membatalkan tubuh wanita jelita itu menghantam tanah bukit.


“Kesaktian Ginari meningkat jauh, Kakang!” kata Getara Cinta saat Joko Tenang memeluk pinggangnya dari belakang sambil berdiri bersama di atas punggung macan sinar yang terbang.


Bress!


Getara Cinta yang tubuhnya sudah bersinar hijau dari kesaktian Permata Darah Suci, memancing Permata Darah Suci pada Joko Tenang juga aktif, membuat tubuh suaminya juga diliputi sinar hijau.


“Pertarungan udara ini sepertinya akan sulit. Udara adalah kemenangan bagi Ginari,” kata Joko Tenang.


“Kita tetap harus mencoba!” kata Getara Cinta optimis.


Namun, kita alihkan dulu sorotan kepada pertempuran yang terjadi di sisi barat, tempat ayah dan anak saling siap bunuh.


Senopati Duri Manggala tidak habis pikir, bagaimana mungkin putranya kini berkesaktian tinggi. Ia bisa merasakan bahwa sebenarnya kini ia kalah tingkat. Namun, kemarahan dan kehormatannya membuatnya tidak akan mundur meski harus mati di tangan anak sendiri.


Sementara tidak jauh dari posisinya, si gadis buta bersama kelima serigalanya mengamuki pasukan Balilitan. Secara perlahan, pasukan Balilitan pimpinan Laga Patra berkurang seperti daun digerogoti lima ulat.


Senopati Duri Manggala melesat maju dengan keris bersinar putih redup. Sementara Laga Patra maju dengan keris biru membara.


Ting ting ting…! Set!


“Akk!”


Bukk!


Saling serang dan tangkis dengan keris berlangsung sengit. Namun kemudian, ternyata Laga Patra lebih unggul, satu sabetan berhasil menyayat lengan kiri ayahnya. Senopati Duri Mandala menjerit tinggi. Luka sayatan yang dalam dan menganga tercipta begitu menyakitkan. Uniknya, tidak ada darah yang mengalir. Keris Laga Patra bersifat melukai tapi juga mengeringkan.


Setelah sayatan pada lengan kiri itu, Laga Patra menendang keras dada ayahnya. Tendangan itu bukan sekedar tendangan kasar, tetapi bertenaga dalam tinggi, sehingga Senopati Duri Manggala terjengkang keras dengan mulut memuncratkan darah kental.


Meski terluka dalam, Senopati Duri Manggala buru-buru bangun dengan wajah mengerenyit menahan sakit yang luar biasa.


Creb! Bzezz!


Senopati Duri Manggala lalu menusukkan kerisnya ke tanah. Dari dalam tancapan itu melesat keluar sebola sinar putih menyilaukan dan mengambang di udara, di depan tubuh Senopati Duri Manggala. Dengan lengan kanan yang dialiri tenaga sakti penuh, Senopati Duri Manggala mendorong sinar putih itu.

__ADS_1


Zezz! Zruzz!


Wuszz!


Ketika sinar putih menyilaukan melesat menyerang Laga Patra, pemuda tampan itu juga melesatkan sinar ungu panjang dari tinjunya.


Hal yang mengejutkan, ketika Senopati Duri Manggala mendorong sinar putihnya, tiba-tiba sosok mungil jelita Sandaria telah berdiri di sisinya, sambil menusukkan tongkat biru kecilnya ke depan. Selarik sinar merah kecil melesat ke depan membuntuti sinar putih. Namun, ketika melesat, sinar merah itu mengembang cepat membentuk sinar lebar seperti ujung payung yang baru mengembang.


Bduarr! Bdum!


Pertemuan sinar ilmu Senopati Duri Manggala dan putranya menimbulkan suara ledakan keras. Tenaga sakti Laga Patra unggul jauh, sehingga ia tidak terdorong setindak pun. Namun, tenaga sakti yang seharus menyerang balik kepada Senopati Duri Manggala, terhalang oleh sinar merah milik Sandaria yang terus melesat cepat dan menghantam tubuh Laga Patra.


Sinar ilmu Payung Kegelapan Sandaria telah melindungi Senopati Duri Manggala dari kematian. Justru sinar merah pembuntut itu menerabas menghantam tubuh depan Laga Patra tanpa bisa dielaki atau ditangkis.


Tubuh Laga Patra seharusnya hancur tanpa sisa, tetapi itu tidak terjadi. Pemuda itu terpental jauh ke belakang.


“Satria!” teriak Sandaria menyebut nama serigalanya.


Satria yang sedang mengoyak leher seorang prajurit, cepat berlari kencang memburu arah jatuh tubuh Laga Patra. Suara lonceng di lehernya terdengar nyaring dan ramai.


Keempat serigala yang lain cepat meninggalkan para prajurit Balilitan yang jumlahnya tinggal puluhan di arena itu. Mereka berlari kencang menyusul Satria. Sementara Sandaria tersenyum manis menggemaskan kepada Senopati Duri Manggala, bukan maksud menggoda, tapi memang begitu tingkahnya.


“Terima kasih, Nisanak!” ucap Senopati Duri Manggala yang tahu kondisi apa yang terjadi barusan.


Clap!


Tahu-tahu Sandaria sudah menghilang entah ke mana, gerakannya begitu cepat hingga tidak terlihat oleh sang senopati.


“Aakk!” jerit Laga Patra ketika tubuhnya yang jatuh setelah menghantam tebing batu di bukit, diserbu oleh lima ekor serigala besar-besar.


Layaknya binatang buas yang mendapat mangsa di alam liar, kelima serigala itu berbagi gigitan. Ada yang menggigit kedua kaki Laga Patra, ada yang menggigit tangan dan bahu, ada juga yang menggigit pinggang. Kondisi itu membuat Laga Patra menjerit kesakitan dan berkepanjangan.


Blom!


Aiik! Aik!


Tiba-tiba satu ledakan tenaga sakti Laga Patra lepaskan, membuat kelima serigala besar itu berpentalan tidak karuan, tetapi tidak membuat mereka terluka karena ledakan tenaga itu hanya untuk mengusir.


Cess! Tuss!


Namun, tepat di udara atas tubuh Laga Patra telah mengambang tubuh mungil Sandaria. Pada posisi itu, Sandari menusukkan tongkat kecilnya seperti seorang penyihir. Satu larik sinar kuning tipis dan kecil melesat menembus dada dan jantung Laga Patra.


Pemuda yang sudah hancur wujudnya dan bersimbah darah oleh serangan para serigala, tidak bisa menolak kematiannya. Tamatlah riwayat Roh Langit Satu.


Sandaria mendarat di tanah dengan damai.


“Hihihi! Sandaria memang cerdas!” ucap Sandaria kepada dirinya sendiri sambil senyum-senyum menggemaskan.


Kelima serigalanya segera datang berkumpul di sekelilingnya. (RH)


  


***********

__ADS_1


AYO! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!


__ADS_2