Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 7: Pernikahan Sandaria


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


 


Kicau Semilir sebagai Kepala Dayang Kerajaan Sanggana Kecil menjadi orang yang paling sibuk sejak malam hingga acara pernikahan berlangsung. Tidak jarang ia harus berteriak dan marah-marah kepada para dayangnya yang dinilai salah melaksanakan arahannya.


Namun, berkat kecerewetan, ketelatenan, dan ketegasan Kicau Semilir, ruangan dan panggung pernikahan diciptakan penuh keindahan dan keharuman. Acara-acara pada hari itu telah disusun siap dan rapi.


Berbeda dengan acara pernikahan Joko Tenang di Perguruan Tiga Tapak, dalam pernikahan Prabu Dira Pratakarsa Diwana kali ini akan ada panggung pertandingan prajurit sebagai hiburan.


Suasana hening tercipta di ruang pernikahan yang didekorasi dengan kain-kain hias berwarna putih. Prabu Dira telah berdiri menunggu calon istrinya keluar untuk menemuinya agar janji setia bisa diucapkan segera. Ia mengenakan pakaian serba kuning bagus dan berlapis rompi merah.


Mau tidak mau, Prabu Dira harus mengakui, di dalam hatinya ia merasa tidak sabaran untuk segera bercumbu dengan Sandaria. Hanya saja ia harus menjaga wibawanya juga, terlebih ia sekarang seorang raja.


“Pengantin wanita, Putri Serigala Sandaria tiba!” teriak prajurit bagian protokol.


Semua mata tertuju ke arah ambang pintu yang didekorasi hiasan kain putih yang indah. Tiga dari empat permaisuri yang berdiri berjejer, menatap tanpa kedip ke ambang pintu tempat Sandaria akan muncul. Berbeda dengan Permaisuri Nara, ia hanya menatap lurus dengan mata hitamnya.


Hari ini, semua permaisuri mengenakan tiara bertahta permata di kepalanya, termasuk Permaisuri Nara, meski rambutnya pendek.


Langkah perlahan dua pasang kaki yang menapaki karpet merah bertabur bunga-bunga melati, mulai melewati ambang pintu. Salah satu pemilik langkah perlahan itu tidak lain adalah Sandaria. Ia tampil begitu cantik dan anggun dalam pakaian pernikahan yang berwarna serba kuning. Pakaiannya dilengkapi oleh perhiasan emas dan perak yang indah. Wajah jelitanya semakin jelita, sampai sulit untuk digambarkan dengan perumpamaan melalui tulisan dan kata-kata, karena riasan yang sempurna. Rambutnya yang biasa mekar seperti hutan belantara, kini lebih tertata oleh ikatan-ikatan hiasan rambut yang bagus.


Dalam tampilan saat ini, Sandaria seolah terlahir kembali dalam wajah baru yang lebih menggoda dan lebih harum. Senyumnya yang selalu mekar secukupnya, seperti takaran garam yang pas pada kuah sayur.


Prabu Dira tersenyum lebar melihat kecantikan Sandaria yang luar biasa. Ketika ia melihat bagian “depan” milik Sandaria, genderang gairah seketika langsung bertabuh di dalam otak nafsu sang prabu. Namun, ia harus bisa bertahan dalam kekhidmatan acara sakral itu. “Hanya sebentar kok,” pikirnya dalam hati.


Sandaria berjalan dengan tangan kanannya dipegangi oleh Kusuma Dewi yang juga berpenampilan indah berwarna biru muda, meski tidak sesemarak penampilan Sandaria. Sementara tangan kiri Sandaria tetap membawa tongkat saktinya yang berwarna biru.


Dalam kekagumannya kepada Sandaria, Prabu Dira juga terkagum melihat kecantikan Kusuma Dewi yang juga kian meningkat karena polesan riasan penata make-up. Namun, khusus hari ini, Sandaria memang mendominasi dalam hal pesona.


Mau tidak mau Prabu Dira harus fokus kepada pesona Sandaria. Hari ini adalah harinya Sandaria. Kusuma Dewi akan memiliki panggungnya sendiri di hari berikutnya.


Ketika memasuki ruang pernikahan, dan merasakan bahwa calon suaminya telah menatapnya, Sandaria jadi tersenyum malu, memperlihatkan mimik khasnya yang menggemaskan, membuat Prabu Dira ingin menggigit senyum dan pipi gadis itu.


Auuu…!


Suasana khidmat itu tiba-tiba dipecahkan dan dikejutkan oleh lolongan kelima serigala yang berbaris rapi di sudut ruangan. Lolongan itu membuat nyaris semua orang terkejut di saat mereka sedang fokus memandangi pengantin perempuan.

__ADS_1


“Hihihi…!” Sandaria tidak bisa menahan tawanya karena mengetahui keterkejutan hampir semua orang yang hadir, termasuk Prabu Dira.


“Hahaha!”


Akhirnya, Prabu Dira dan para istrinya serta yang lainnya jadi turut tertawa dengan insiden tidak terduga itu.


Prabu Dira Pratakarsa Diwana lalu maju menyambut kedatangan sang calon istri keenamnya.


Seraya tersenyum, Kusuma Dewi menyerahkan tangan kanan Sandaria kepada Prabu Dira.


Serr!


Ketika jari jemari tangan kanan Sandaria berpindah ke tangan Prabu Dira, darah asmara dalam tubuh Sandaria serentak bersorak lalu mengalir penuh bahagia. Perasaan indah yang aneh itu membuat Sandaria tersenyum sambil menggigit sedikit bibir bawahnya, membuat sang prabu tergoda untuk mencomot dengan bibirnya saat itu juga. Namun, “Malaikat Putih” mengatakan, “belum sah”.


Kebahagiaan Prabu Dira dan Sandaria ternyata menjalar luas kepada mereka yang hadir di ruangan itu. Suasana itu terlihat dari senyum-senyum mereka yang mekar melihat pasangan yang begitu mengagumkan tersebut. Mungkin hanya Permaisuri Nara yang tidak tersenyum.


“Pengucapan ikatan suci dan janji setia kedua pengantin!” teriak protokol pernikahan.


“Sandaria Putri Serigala, bersediakah kau menjadi istriku mulai saat ini?” ucap Prabu Dira lantang bertanya kepada Sandaria.


“Ya!” jawab Sandaria cepat dan lantang, membuat sebagian besar dari mereka tersenyum lebar. “Aku bersedia menjadi istrimu yang setia, Prabu Dira Pratakarsa Diwana, hingga maut memisahkan kita. Aku janji tidak akan nakal!”


“Bagaimana, Yang Mulia Ratu dan para Permaisuri?” tanya protokol pernikahan.


“Sah!” jawab Ratu Getara Cinta dan ketiga permaisuri lainnya.


Auuu…!


Tiba-tiba, kata-kata “sah” diikuti oleh lolongan panjang kelima serigala. Lolongan itu tidak lagi membuat terkejut, tetapi justru memberi nuansa horor.


“Mulai saat ini, kau aku beri gelar Permaisuri Keenam dan Permaisuri Serigala!” seru Prabu Dira.


“Terima kasih, Kakang Prabu,” ucap Sandaria lalu bergerak berlutut menghormat di depan kaki suaminya.


“Pertandingan Laga Prajuriiit, diii… muuu… lai!” teriak protokol pernikahan kencang, setelah suara lolongan serigala berhenti.


Gong!

__ADS_1


Terdengar suara gong dipukul keras di sisi luar istana.


“Yang Mulia Gusti Prabu Dira dan Permaisuri Keenam dipersilakan menduduki kursi pengantin!” teriak protokol.


Prabu Dira dongkol dalam hati.


“Kenapa ada acara menyaksikan pertunjukan segala? Kenapa tidak langsung ke kamar asmara?” batin Prabu Dira.


Namun, ia tidak boleh mengacaukan susunan acara begitu saja. Ia sebagai seorang raja, kini harus menjadi contoh. Masih untung tadi malam ia mendapat pelayanan asmara yang memuaskan dari Permaisuri Nara, setelah libur dalam perjalanan selama sepekan.


Meski belum pernah menikah atau melakukan hubungan suami istri sebelumnya, tetapi ternyata Permaisuri Nara memiliki pengetahuan dan praktik berhubungan yang mahir, laksana seorang profesional, sehingga bisa memberi ukuran-ukuran gerak dan tekanan yang sangat pas.


Prabu Dira dan Permaisuri Sandaria berjalan bersama menuju ke luar Istana. Di belakangnya berjalan Ratu Getara Cinta dan tiga permaisuri lainnya.


Di luar, telah tersedia panggung yang menampung satu kursi panjang berbantal empuk. Kursi itu memang untuk diduduki bersama. Agak jauh di sisi kanan panggung, ada empat kursi lainnya yang diperuntukkan oleh keempat istri yang lain. Di sisi kiri panggung ada tiga kursi yang diduduki oleh Putri Sagiya, Turung Gali dan Kusuma Dewi.


Mereka menghadap kepada sebuah panggung batu besar tapi hanya setinggi lutut. Panggung berbentuk persegi empat itu cukup besar sebagai arena tarung.


Gong!


Seorang prajurit kembali memukul gong besar yang digantung. Seorang prajurit berusia separuh baya lalu melompat naik ke atas panggung. Dia berdiri di tengah-tengah arena. Sementara lebih dari seratus prajurit berdiri mengelilingi panggung.


“Peserta pertandingan dipersilakan menaiki arena!” teriak prajurit yang berdiri di atas arena. Ia bertindak sebagai wasit, namanya Takaran.


Dari kerumunan prajurit melompat seorang prajurit ke udara. Di udara ia bersalto cantik lalu mendarat gagah di sisi kanan wasit.


Dua detik kemudian, seorang prajurit lain melompat sederhana ke atas arena, ia berdiri di sisi kiri Takaran.


“Bersiap!” teriak Takaran memberi aba-aba.


Jleg!


Tiba-tiba di udara muncul kelebatan sosok lelaki berpakaian hijau gelap. Kedua kakinya mendarat keras di lantai arena. Mendaratnya ia di arena, dari kedua telapak kakinya melesat tenaga dalam yang mementalkan tubuh Tarakan dan kedua finalis pertandingan itu. Ketiganya terpental hingga jatuh terjengkang keras di lantai arena.


Kemunculan lelaki berbaju tanpa lengan itu mengejutkan semua, sebab di antara mereka semua, tidak ada seorang pun yang mengenal lelaki berambut gondrong sebahu tersebut.


Lelaki berusia kisaran empat puluh tahun itu berikat kepada hijau gelap. Terlihat kedua lengannya yang kekar. Ada gambar tato berwujud tengkorak kepala manusia berwarna merah di lengan kirinya.

__ADS_1


“Siapa yang berani melawan aku?” seru lelaki itu dengan warna suara yang agak serak. (RH)


__ADS_2