
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
Sungguh menggemaskan ketika Permaisuri Sandaria untuk pertama kalinya hadir di balairung utama setelah statusnya sebagai permaisuri. Ia dapat merasakan bahwa dirinya menjadi pusat perhatian dari para madunya yang tersenyum-senyum.
“Bagaimana? Masih mau menikah lagi atau cukup sekali ini saja?” Permaisuri Tirana sempat berbisik kepada Permaisuri Sandaria dengan maksud menggodanya.
“Hihihi! Kalau pengantin lelakinya selalu Kakang Prabu, aku mau menikah terus,” jawab Sandaria yang disertai tawa genitnya.
Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Kerling Sukma pun tersenyum melihat senyuman Permaisuri Sandaria, yang baru saja melalui perjalanan ranjang yang panjang dan berliku.
Pada pertemuan tersebut, hanya Kusuma Dewi yang tidak hadir. Sebab, ia harus menjalani berbagai prosesi pembersihan dan pewangian diri. Seorang pengantin wanita harus benar-benar bersih dan harum seluruh bagian tubuhnya, bahkan harus bersih sampai ke bagian yang dalam-dalam.
“Aku sudah mendapat laporan singkat dari Ratu Getara atas apa yang terjadi di hari kemarin hingga malam tadi. Sampaikan rencana kalian hari ini!” ujar Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang.
“Izinkan hamba berbicara, Kakang Prabu!” kata Permaisuri Kerling Sukma.
“Silakan, Permaisuri Keempat!” kata Prabu Dira.
“Konflik yang tercipta antara Kerajaan dengan kelompok pendekar Gunung Prabu, menuntut Permaisuri Keenam untuk bertugas lebih awal, meski baru kemarin menjalani pernikahan dan merasakan kebahagiaan yang tidak terkira. Dengan ditangkapnya lima orang Gunung Prabu, hamba menduga Pangeran Kubur akan bertindak lebih cepat untuk membebaskan orang-orangnya atau membalas dendam. Maka, sebaiknya Permaisuri Keenam segera pergi untuk membuat kesepakatan dengan Pangeran Kubur dan untuk mengetahui sikap yang dia ambil. Meski kita pun sekarang telah berurusan dengan orang-orang Hutan Malam Abadi, tetapi yang memiliki alasan untuk bertindak lebih dulu terhadap kita adalah Gunung Prabu,” tutur Permaisuri Kerling Sukma.
“Baiklah. Permaisuri Keenam, terima titahku!” seru Prabu Dira.
“Hamba siap menerima titah, Kakang Prabu!” ucap Permaisuri Sandaria sambil turun dari duduknya dan berlutut menghormat dengan dalam.
“Pagi ini juga, pergilah ke Gunung Prabu dan temui pemimpin dan penguasa gunung itu. Tawarkan mereka tiga pilihan!”
__ADS_1
Setelah pertemuan pagi itu, Permaisuri Sandaria langsung berangkat ke Gunung Prabu.
Permaisuri Sandaria pastinya berangkat bersama kelima serigalanya. Selain itu, Reksa Dipa dan Surya Kasyara mengawal sebagai Pengawal Bunga. Selain itu, ada tiga puluh orang prajurit yang mengawal.
Dalam perjalanannya menerobos hutan, mendaki gunung, Permaisuri Sandaria membentuk formasi rombongan yang agak berbeda.
Posisi paling depan dalam rombongan adalah dua serigala, yaitu Bulan dan Bintang. Setelah itu, ketiga puluh prajurit pejalan kaki. Di belakang pasukan prajurit berjalan Reksa Dipa dan Pendekar Gila Mabuk. Barulah setelahnya berjalan Kemilau dan Belang, dua serigala yang lain.
Sementara Satria yang membawa Permaisuri Sandaria, berjalan paling belakang dan berjarak agak jauh. Posisi Permaisuri Sandaria bermaksud mengontrol keamanan rombongannya. Seperti itu gaya kepemimpinan kawanan serigala yang selalu serius memberi perlindungan terhadap rombongannya.
Sesekali Permaisuri Sandaria bergerak maju untuk mengontrol dan mengawasi rombongan. Setelah memeriksa rombongannya, Permaisuri akan kembali ke posisi di paling belakang.
Setibanya di kaki Gunung Prabu, mereka harus mendaki naik ke gunung. Ketika mereka sudah sampai di pinggang gunung, Permaisuri Sandaria bisa merasakan adanya orang-orang yang mengawasi perjalanan mereka. Namun, Permaisuri Sandaria tetap tenang.
Seperti sudah mengetahui jelas rute dan kondisi medan di gunung itu, rombongan Permaisuri Sandaria tahu-tahu telah tiba di depan sebuah gapura batu yang sudah berlumut dan ditumbuhi oleh tanaman rambat. Hal itu bisa terjadi karena ketajaman penciuman dua serigala di depan. Mereka bisa mengendus bau manusia yang sebenarnya jarang di daerah gunung besar tersebut.
Rombongan Permaisuri Sandaria terpaksa berhenti tepat di gapura karena ada lebih sepuluh orang yang berdiri menghadang menutup jalan. Ketiga belas orang berpenampilan seperti pendekar itu dipimpin oleh seorang wanita cantik berpakaian hijau gelap berpadu warna putih. Wanita itu cantik berkulit kuning langsat, tetapi terlihat matang karena usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun. Wanita berambut panjang itu berbekal senjata berupa kipas berwarna hitam.
Selain keempat belas orang yang menghadang itu, ternyata kemudian bermunculan pula sejumlah orang pada sisi belakang dan samping, menunjukkan bahwa rombongan itu telah dikepung.
“Siapa kalian?!” seru wanita berkipas hitam, pertanyaannya ia tujukan secara umum.
Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Sandaria memerintahkan Satria untuk bergerak maju ke depan. Wanita berkipas hitam dan rekan-rekannya memilih menunggu apa yang akan dilakukan oleh Permaisuri Sandaria dan para serigalanya yang sebenarnya membuat nyali gentar.
Namun, Satria justru berhenti tidak di titik paling depan rombongan. Ia berhenti dan turun merendah ke tanah saat tiba di sisi barisan para prajuritnya. Selanjutnya, Permaisuri Sandaria bergerak turun lalu berjalan sambil memposisikan ujung tongkat birunya di depan kaki, sedikit di atas permukaan tanah. Dengan cara itu, semua orang yang mengepung mereka menjadi tahu bahwa wanita kecil yang parasnya sungguh memukau perasaan itu ternyata buta.
Tidak sedikit hati-hati, khususnya hati kaum batangan yang awalnya menaruh rasa permusuhan terhadap orang asing, berubah jadi terenyuh dan iba. Wanita berkipas hitam pun menjadi agak terkejut ketika tahu akan kebutaan Permaisuri Sandaria.
__ADS_1
Permaisuri Serigala lalu berhenti berjalan dan berdiri di depan Bintang dan Bulan, juga berhadapan dengan wanita berkipas hitam.
“Maafkan kami karena lancang memasuki wilayah kalian, Kakak,” ucap Permaisuri Sandaria santun seraya tersenyum ramah, memberi kesan pertama yang baik. “Aku adalah utusan dari Kerajaan Sanggana Kecil yang kini telah berdiri di utara gunung ini. Aku Permaisuri Sandaria. Maafkan aku jika datang bersama kelima hewan peliharaanku. Aku seorang wanita yang buta, jadi aku butuh penjagaan dari liarnya alam.”
Semakin terkejut perasaan orang-orang itu, sebab wanita yang datang ke tempat mereka itu ternyata seorang permaisuri.
“Bisakah aku tahu sedang berhadapan dengan siapa?” tanya Sandaria lembut seraya tersenyum manis.
Meski kaum batangan yang berdiri berbaris di belakang wanita berkipas hitam terlihat diam dalam kepatuhan, tetapi sebenarnya hati-hati mereka meleleh encer melihat pesona Permaisuri Sandaria yang sungguh menggemaskan dan menggelitik naluri kelelakian.
“Aku adalah Manik Cahaya, Pendekar Kipas Hitam!” jawab wanita berkipas hitam, tetap lantang. Ia harus menjaga wibawanya di depan rekan-rekannya yang ia pimpin.
“Senang sekali berkenalan dengan wanita cantik seperti Kakak Manik. Julukanmu saja sudah menunjukkan tingkat kesaktianmu yang hebat,” puji Permaisuri Sandaria seraya tersenyum lebar. Bahasa lisan dan bahasa tubuhnya sedikit pun tidak menunjukkan nuansa permusuhan.
“Lalu, apa maksud kedatanganmu, Permaisuri?” tanya Manik Cahaya tanpa ada penyebutan penghormatan.
“Aku ingin bertemu dengan pemimpin kalian. Jika tidak salah, namanya Pangeran Kubur. Luruskan aku jika aku salah,” kata Permaisuri Sandaria.
“Benar, nama pemimpin kami adalah Pangeran Kubur,” kata Manik Cahaya.
Tiba-tiba….
“Biarkan mereka masuk, Manik!” kata satu suara tidak berwujud. Suara itu milik lelaki dan dari warnanya bisa diterka bahwa usianya sudah tidak muda.
Mendengar suara berjenis perintah itu, Manik Cahaya lalu bergeser ke samping yang diikuti oleh rekan-rekannya. Maka terbukalah jalan bagi rombongan Permaisuri Sandaria.
“Terima kasih atas sambutan baikmu, Kisanak!” ucap Permaisuri Sandaria agak keras kepada pemimlik suara yang belum terlihat wujudnya. (RH)
__ADS_1