Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 28: Taktik Lorong Laba-Laba


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*


 


Kini, Tirana berhadapan dengan Biru Segara. Suasana tegang tercipta. Selain Pangeran Baijin yang pernah mengalahkan ilmu perisai Dewi Kulit Gaib, baru kali ini ada orang yang bisa menembus ilmu itu lagi.


“Aku yakin, pukulan tadi bukan serangan terhebat Biru Segara,” kata Getara Cinta kepada Joko Tenang.


“Tapi aku yakin Tirana bisa mengatasinya. Jika memang Tirana tidak sanggup, terpaksa kita harus mengeroyok orang itu,” kata Joko Tenang.


Di sisi lain, Turung Gali dirasuki kekhawatiran pula, sebab kali ini putrinya menghadapi lawan yang tidak biasa.


Wuss!


Tirana mulai menampilkan kekhasan dirinya. Ia melompat maju dengan tubuh menyebarkan angin ke segala arah. Sementara di kedua telapak tangannya bercokol sinar biru ilmu Bola Kulit Langit. Satu gelombang angin halus berhembus menerpa tubuh Biru Segara.


Bajak laut berusia separuh abad itu mendelik ketika merasakan ia tidak bisa mengangkat kedua kakinya lepas dari bumi, tetapi tubuhnya masih bisa bergerak.


Belum sempat Biru Segara memikirkan akan melakukan apa untuk lepas dari lem bumi itu, Tirana sudah melompat maju ke udara. Dua sinar biru Bola Kulit Langit siap dihantamkan ke tubuh musuhnya.


Seet!


Tali tambang hitam melesat cepat menyambut kedatangan tubuh Tirana di atas sana. Namun, meski ujung tambang itu sekeras baja dan seruncing tombak, tetap tidak bisa menembus lapisan perisai Kulit Dewi Gaib.


Sess! Bluaarr!


Pada saat yang bersamaan, Tirana melanjutkan niatnya dengan membanting dua bola sinar birunya serentak. Tidak ada jalan lain bagi Biru Segara selain menerima dua hantaman itu dengan lindungan ilmu perisainya.


Ledakan dahsyat terjadi. Tubuh Biru Segara terbanting hebat ke belakang, sampai masuk ke dalam tanah yang hancur hebat dan berhamburan tinggi ke udara. Gelombang hebat pun menghentak menyebar ke segala arah. Orang-orang terdekat harus terjajar, terdorong oleh gelombang ledakan. Para prajurit yang masih mendapat imbas, harus berjengkangan dan jatuh bertindihan.


Wuss!


Tirana tahu bahwa lawannya belum mati. Karenanya, ketika dari balik udara berdebu pekat itu melesat naik ke angkasa sosok Biru Segara, Tirana langsung melejit mengejar.


Das dis dus!


Pertemuan Tirana dan Biru Segara di puncak lejitannya, menciptakan pertarungan jarak dekat dengan ritme yang sangat cepat dan mengandung tenaga dalam tinggi. Sedemikian cepatnya, para penonton hanya melihat mereka bertemu.


Boom!


Ujung-ujungnya, terjadi ledakan tenaga berwarna ungu di atas sana.


“Tirana!” sebut Joko Tenang dan Turung Gali panik bersamaan.


Tubuh Tirana meluncur deras menukik miring ke bumi dengan kepala berposisi di bawah.


Wuss!


Beruntung, segulung angin pertolongan datang dari Kerling Sukma. Ia mengirim angin bergulung yang menyambut jatuh tubuh Tirana, membuat Tirana hanya jatuh berguling di tanah.


“Uhhuk!” batuk Tirana sekali, tetapi batuknya darah.


Wuzz! Bluarr!


“Auu…!”

__ADS_1


Dari atas melesat bola sinar ungu berpijar yang menyebarkan hawa panas menyengat. Tirana kali ini tidak mau mengandalkan kehebatan ilmu perisainya. Karenanya ia memilih melesat cepat menghindari serangan dari Biru Segara yang mengambang di angkasa sana.


Ledakan dahsyat terjadi menghancurkan tanah dengan radius yang cukup luas. Suara dan daya ledak ilmu Biru Segara mengimbas hingga radius yang luas.  Selain kawah besar tercipta yang menghancurleburkan tanah dan para mayat, pendekar yang lain juga harus mundur lebih jauh lagi. Kuda-kuda menjadi panik dan para serigala serentak melolong di siang hari, memberi isyarat keadaan yang berbahaya. Mereka semua menjauhi pusat pertarungan


Jalanan yang penuh mayat itu kini terputus oleh kubangan besar dan dalam.


Wuzz! Bluarr! Wuzz! Bluarr!


Belum juga Tirana memusatkan pandangannya ke atas, bola sinar ungu berpijar kembali menyerang Tirana. Gadis Penjaga kembali melesat menghindar. Belum lagi ia berhenti, datang sinar ungu yang lain membidik dirinya yang terus bergerak.


Dua ledakan dahsyat terjadi di dua titik, menciptakan kubangan-kubangan besar yang benar-benar merusak area tanah.


Sebelum menyusul lagi serangan yang serupa, Tirana lebih dulu melesat naik ke udara menyongsong ke posisi Biru Segara.


Bress! Wuzz! Bluarr!


Dalam waktu yang sangat rapat, Tirana dan Biru Segara saling berebut waktu.


Tirana lebih dulu melepaskan sinar merah berbentuk jaring laba-laba yang membentang di tengah jalan. Dari arah yang berlawanan melesat cepat bola sinar ungu. Tubuh Tirana lebih dulu menerobos masuk ke dalam sinar jaringnya dan menghilang. Barulah sinar ungu lewat melesat ke bawah, menciptakan ledakan dan kubangan tanah yang hebat.


Biru Segara mendelik melihat sosok Tirana menghilang. Dia tidak tahu ke mana Tirana menghilang. Namun kemudian, ia kembali semakin terkejut.


Agak jauh di atasnya, muncul jaring sinar merah, yang dari dalamnya keluar meluncur turun tubuh Tirana yang sudah berbekal dua bola sinar dua warna. Masing-masing bola sinar itu berwarna kuning dan hijau.


Bross! Wezz!


Bluamm!


Ketika ilmu Bola Dua Maut Tirana hantamkan ke kepala Biru Segara, lelaki berotot itu hanya bisa mengadukan bola sinar ungunya.


Bom!


Suara hantaman tubuh ke dalam kubangan terdengar keras, sampai menimbulkan kebulan debu yang tebal.


“Tirana!” sebut Joko Tenang dan yang lainnya panik. Mereka melihat tubuh Tirana terpental kencang dan jauh.


Baru saja Getara Cinta hendak mengejar tubuh Tirana, tubuh madunya itu telah lenyap di udara masuk ke dalam sinar merah berbentuk jaring laba-laba. Tirana menghilang.


Tiba-tiba jaring laba-laba muncul rendah di udara, setinggi pinggang dari permukaan tanah.


Blug!


Dari dalam jaring itu jatuh tubuh Tirana ke tanah.


“Tirana!” seru Turung Gali lalu berlari hendak menjemput anaknya yang terbaring dengan dagu penuh darah kental yang hangat.


Joko Tenang bersama para istri dan calon istrinya juga hendak pergi ke posisi Tirana terkapar, tetapi mereka serentak mengurungkan niat. Turung Gali yang sudah berlari, berhenti mendadak di tengah jalan dengan wajah yang penuh kecemasan.


Tirana telah mengangkat tangan kanannya dengan telapak dibuka, sebagai tanda bahwa Joko Tenang dan yang lainnya jangan mengkhawatirkannya.


Bagaimana tidak cemas jika melihat Tirana tidak bisa bangkit? Wanita jelita itu bergerak mencoba berdiri, tetapi ia hanya bisa sebatas duduk bersimpuh dengan kepala lunglai tertunduk. Darah kental menggantung di bibirnya.


Sementara dari dalam kawah kering, melompat sosok Biru Segara lalu mendarat mantap di tanah, tujuh tombak dari posisi Tirana. Ada sedikit darah yang muncul dari lubang hidungnya, menunjukkan bahwa ada luka di dalam tubuhnya.


Zursss!

__ADS_1


Tubuh Biru Segara kini diselimuti sinar ungu seperti lapisan plasenta. Tenaga saktinya sangat kental terasa oleh mereka yang sakti-sakti di sana, menimbulkan ketegangan dan kecemasan terhadap keselamatan Tirana.


Bress! Bress!


Melihat ancaman itu, Getara Cinta mengaktifkan Permata Dara Suci, membuat tubuhnya diselimuti sinar hijau. Ia bersiap melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Tirana. Bersinarnya tubuh Getara Cinta, sontak memancing tubuh Joko Tenang bersinar hijau juga.


“Lakukan sesuatu, Kakang!” kata Getara Cinta.


“Percayalah, Tirana pasti memiliki cara menghadapi mautnya. Dia sudah memberi isyarat kepada kita,” kata Joko Tenang.


Biru Segara menyalurkan tenaga saktinya pada kedua tangannya. Ia mengangkat kedua telapak tangannya hingga setinggi perut. Segulung sinar ungu yang wujudnya berbeda dari sebelumnya, tercipta mengambang di depan dada Biru Segara.


“Ilmu ini kekuatannya jauh lebih tinggi dibanding yang tadi. Aku tidak bisa melawannya,” batin Tirana. Meski ia masih bisa mengerahkan tenaga dalam, tetapi saat itu dia tidak bisa berdiri. Ia seperti seorang tahanan yang siap menerima hukuman pancung.


“Hayyo! Siapa yang berani menolongnya?!” teriak Biru Segara keras. “Maka dia juga akan musnah oleh ilmu Roh Langit Dua ini!”


Sinar ungu yang bergulung-gulung dalam satu rotasi di depan dada Biru Segara itu kini sudah sebesar kelapa.


“Heaaah!” teriak Biru Segara keras dan panjang, sambil kedua tangannya mendorong udara ke depan.


Zursss!


Gulungan bulat sinar ungu itu melesat cepat setinggi pinggang dari tanah. Tanah yang dilalui atasnya menjadi terbongkar oleh kekuatan ilmu itu, menciptakan parit panjang dan dalam menuju posisi Tirana bersimpuh.


Semua tegang bercampur cemas. Masalahnya ilmu Biru Segara begitu tinggi tenaga saktinya. Meski yakin terhadap isyarat yang diberikan oleh Tirana, tetapi tetap saja Joko Tenang dan yang lainnya tetap was-was, khawatir Tirana salah perhitungan.


Bress!


Bersamaan dengan Tirana mengangkat wajahnya menatap maut yang datang, Tirana memercikkan jari-jari tangannya. Sinar merah berbentuk jaring laba-laba besar seketika terbentang setombak di depan tubuhnya seperti layar tancap.


Ketika Tirana melepaskan ilmu Lorong Laba-Laba, Joko Tenang dan yang lainnya segera mengerti dan dapat menduga hasilnya.


“Cara cerdik!” ucap Joko Tenang.


“Bagus!” desis Turung Gali terbelalak berubah sumringah.


Mereka menduga, Tirana akan membuang ilmu Biru Segara ke tempat lain.


Dan memang seperti itu. Sinar ungu dari ilmu Roh Langit Dua itu menabrak jaring sinar merah lalu menghilang, tidak sampai kepada tubuh Tirana.


Begitu terkejutnya Biru Segara menyaksikan itu.


Bress! Zursss! Bruass!


Tiga tombak di sisi kanan Biru Segara tiba-tiba muncul jaring sinar merah. Dari dalam jaring itu melesat keluar gulungan sinar ungu dari ilmu Biru Segara. Tidak sampai setengah detik, sinar ungu itu menabrak tubuh pemiliknya sendiri.


Wujud Biru Segara hancur tidak tersisa bersama meledaknya sinar ungu dahsyat itu.


Pertarungan pun berakhir.


Tirana jatuh, tumbang ke depan.


“Tirana!” sebut Joko Tenang sambil lebih dulu melesat mendapati tubuh istri tercintanya. Kemudian menyusul yang lain.


Awalnya mereka menyangka Tirana hanya akan membuang ilmu itu ke tempat kosong. Mereka tidak menyangka Tirana akan mengalihkannya untuk menyerang pemiliknya sendiri. (RH)

__ADS_1


__ADS_2