Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 3: Ciuman Makhluk Gaib


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Sebelum pergi menuju ke kediaman Ki Ranggasewa, Joko Tenang, Tirana dan Putri Sri Rahayu sepakat untuk beristirahat sejenak di sebuah pinggiran sungai.


Joko Tenang berbaring di atas dahan besar sebuah pohon yang tumbuh menjorok ke atas aliran sungai. Sementara si cantik Tirana duduk berdua dengan putri si buruk rupa. Mereka asik menikmati ikan bakar dengan minuman kelapa muda.


“Kakang!” panggil Tirana sambil mendongak ke atas.


“Hmm?” gumam Joko Tenang menyahut. Matanya tertutup.


“Kakang kenal dengan wanita bercadar biru yang membunuh Mega Kencani?” tanya Tirana.


“Sepertinya, tapi aku tidak yakin,” jawab Joko, tanpa bergerak sedikit pun dari posisi berbaringnya. Wajahnya tampak begitu indah dalam keadaan berbaring terpejam seperti itu. Bahkan bibirnya yang merah sangat menggoda untuk dikecup.


Cup!


Joko Tenang terkejut bukan main. Ia menggeragap sampai oleng dari dahan pohon.


Jbur!


Joko Tenang yang sakti itu jatuh terjebur ke dalam air sungai.


Kejadian itu membuat Tirana dan Putri Sri Rahayu terkejut pula. Segera keduanya berdiri dan memandangi Joko Tenang yang segera berenang ke sebuah batu lain. Ia naik dalam keadaan basah kuyup.


“Kenapa, Kakang?” tanya Putri Sri Rahayu.


“Aku merasakan ada yang menciumku,” jawab Joko Tenang dengan kening berkerut heran.


“Kakang bermimpi siang?” tanya Tirana pula.


“Tidak. Bukankah sebelumnya aku menjawab pertanyaanmu,” tandas Joko Tenang yang kini berdiri berseberangan batu dengan kedua gadisnya.


Joko Tenang tiba-tiba menghilang dari pandangan Tirana dan Putri Sri Rahayu. Joko mengerahkah ilmu Merah Raga-nya. Tidak berapa lama ia kembali muncul.


“Aku tidak menemukan siapa-siapa, kecuali makhluk gaib di sekitar tempat ini,” kata Joko Tenang.


“Mungkin Kakang dicium oleh makhluk penghuni tempat ini,” kata Tirana asal sambil tersenyum.


“Risiko memiliki calon suami berwajah sangat tampan, sampai makhluk gaib pun suka,” kata Putri Sri Rahayu pula, membuat Tirana justru tertawa.


“Atau Kakang sudah tidak sabar, ya? Sampai berhayal pun terasa nyata. Hihihi!” goda Tirana.


“Kalian ini,” dengus Joko Tenang, tetapi ia tersenyum.

__ADS_1


Joko Tenang lalu membuka bajunya. Ia lemparkan rompi pusakanya kepada Tirana dengan maksud agar dijaga. Seluruh pakaian boleh hilang dicuri orang, tetapi Rompi Api Emas tidak boleh sampai hilang.


Kini Joko Tenang tidak berbaju, memperlihatkan badannya yang kekar berotot dengan dada yang bidang. Pemandangan itu membuat Tirana dan Putri Sri Rahayu tersenyum-senyum.


Joko lalu pergi ke balik batu. Di sana ia membuka celananya. Bukan maksud untuk pipis, tetapi bermaksud menceburkan diri ke dalam sungai usai meletakkan celananya yang basah.


Melihat Joko Tenang berenang-renang dalam kondisi bugil, Tirana dan Putri Sri Rahayu hanya bisa mendelik terdiam.


“Hihihi…!”


Akhirnya meledaklah tawa kedua gadis itu tanpa menjelaskan apa sebenarnya yang mereka tertawakan.


“Apakah kakang Joko suka mandi seperti itu?” tanya Putri Sri Rahayu setengah berbisik.


“Tidak. Tapi aku curiga ini karena pengaruh Ratu. Dua hari yang lalu mereka mandi bersama,” kata Tirana sambil tersenyum, merujuk kepada Getara Cinta.


“Kau tidak pernah mandi bersama Kakang Joko?” tanya Putri Sri Rahayu.


“Tidak,” jawab Tirana seraya tersenyum malu.


“Berarti kau harus mencobanya,” hasut Putri Sri Rahayu sambil tertawa kecil.


“Hihihi! Tidak perlu, karena beberapa hari lagi aku dan Kakang akan mendaki puncak asmara hanya berdua,” kata Tirana sambil tertawa kecil penuh bahagia.


“Hihihi! Rahasia!” desis Tirana lalu tertawa kencang, memancing Putri Sri Rahayu juga tertawa kencang.


Joko Tenang yang saat itu sedang menyelam di dalam air, berenang naik ke permukaan. Kepalanya muncul dari dalam air dan keluar sebatas dada. Joko Tenang mengusap wajahnya, membersihkannya dari lapisan air.


Tiba-tiba Joko Tenang merasakan tubuhnya perlahan melemah.


Cup!


Seiring melemahnya tubuh Joko Tenang di air, kembali Joko Tenang dibuat gelagapan saat merasakan bibirnya ada yang mencium kembali tanpa terlihat wujudnya. Sangat terasa bagi bibir Joko, sebab ada sedikit rasa dilumat.


Ingin Joko Tenang segera masuk ke alam gaib, tetapi tidak bisa, tenaganya sedang melemah di air. Namun, seiring rasa ciuman itu lenyap, tenaga Joko Tenang kembali pulang. Karena lemah itu, Joko Tenang sempat terbawa arus sebentar.


Setelah tenaganya pulih kembali, barulah Joko Tenang mengerahkan ilmu Merah Raga-nya. Namun lagi-lagi ia tidak menemukan siapa-siapa yang mencurigakan.


“Aneh,” ucap Joko lirih.


Ia kemudian memandang ke tempat Tirana dan Putri Sri Rahayu. Dilihatnya Tirana sedang menjemur baju dan celananya. Ia lalu berenang mendekat ke batu tempat Tirana berada.


“Bagaimana, Kakang?” tanya Tirana.

__ADS_1


“Bagaimana apanya?” tanya balik Joko Tenang, otaknya masih kepikiran makhluk yang mencuri bibirnya. Namun masih untung, apakah itu jin, setan atau manusia, pencuri bibir itu masih seorang perempuan. Buktinya Joko sempat merasakan rasa lemas.


“Apakah harus menunggu sampai pakaian Kakang kering atau mau dipakai basah-basahan?” tanya Tirana.


“Biar aku pakai basah, nanti kita cari desa agar bisa mencari pakaian kering,” kata Joko.


“Mau pakai baju di atas atau di air?” tanya Tirana seraya menahan senyum.


“Biar di bawah saja pakainya,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum lebar, paham dengan pikiran Tirana.


Tirana akhirnya tertawa rendah, membuat Putri Sri Rahayu tersenyum di tempatnya.


Tirana lalu memberikan celana lebih dulu kepada Joko Tenang. Tirana hanya bisa menyaksikan bayangan di dalam air saat calon suaminya itu mengenakan celananya. Setelah itu, barulah Joko Tenang pergi naik ke batu yang lain, menjauhi Tirana.


“Maaf, Kakang,” ucap Tirana sambil melemparkan baju dan rompi pusaka Joko Tenang.


Tirana hanya tersenyum-senyum melihat apa yang dilakukan oleh calon suaminya itu.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Joko Tenang saat melihat rasa bahagia pada senyum calon istrinya itu.


“Beberapa hari lagi aku tidak perlu menjaga jarak untuk bisa mengurus urusan kecil-kecil seperti ini, Kakang,” jawab Tirana.


“Oh ya, tadi Kakang mengatakan merasa kenal dengan wanita bercadar biru itu?” tanya Putri Sri Rahayu yang datang mendekat.


“Aku merasa wanita itu seperti Ginari, tapi bukankah itu tidak mungkin,” jawab Joko Tenang.


“Benar, jelas-jelas Ginari sudah mati. Sejak dari Lembah Cekung hingga kita kuburkan, Ginari tidak pernah bernapas lagi,” kata Putri Sri Rahayu.


“Aku rasa wanita itu adalah orang persilatan yang memiliki dendam kepada Mega Kencani,” kata Tirana.


“Mega Kencani memang memiliki banyak masalah dengan orang-orang persilatan, wajar jika ada yang menaruh dendam kepadanya,” kata Joko Tenang. “Ayo, kita harus cepat ke kediaman Ki Ranggasewa. Setelah itu kita segera menyusul Getara Cinta.”


“Jika begitu, kita cari kereta dan kuda di desa nanti,” kata Tirana. Ia lalu beralih kepada sang putri, “Aku rasa Putri memiliki banyak uang.”


“Apa?”delik Putri Sri Rahayu kepada Tirana.


“Putri mana yang tidak membawa uang banyak dalam berpergian?” kata Tirana seraya tersenyum.


“Baiklah, anggap saja aku dirampok oleh calon maduku sendiri,” kata Putri Sri Rahayu.


“Hmm!” Tiba-tiba Tirana mengecup pipi kanan Sri Rahayu, membuat sang putri mendelik lebar kepada Tirana.


Joko Tenang yang sempat ngeri jika Tirana menyentuh leher sang putri, hanya tertawa melihat reaksi gadis beracun itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2