
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Ketika Ratu Getara Cinta diturunkan dari gendongan Tirana, sepasang matanya telah menyala hijau. Sebagai orang yang pernah lama memiliki Permata Darah Suci di dalam raganya, membuat tubuhnya cepat bereaksi ketika permata itu kembali masuk ke dalam tubuhnya.
Ratu Getara Cinta duduk bersila. Setelah melakukan pengaturan napas sebentar, tubuh sang ratu tiba-tiba diselimuti sinar hijau.
Anehnya. Tanpa Joko Tenang kehendaki tiba-tiba ada tenaga sakti yang berproses di dalam tubuhnya. Beberapa detik berikutnya, tubuh Joko pun diselimuti sinar hijau. Di saat seperti itu, Joko Tenang merasakan dirinya seolah memiliki kesaktian yang terpendam, tetapi tidak tahu kesaktian seperti apa.
Namun itu hanya sebentar, karena kemudian sinar hijau pada tubuh Joko Tenang telah sirna kembali. Joko pun merasakan kondisi tubuhnya fit kembali, lelahnya hilang.
Sinar hijau masih menyelimuti tubuh Ratu Getara Cinta. Seiring itu, rasa lemahnya berangsur hilang hingga ia merasa telah menjadi kuat kembali, sama ketika ia belum mengeluarkan permatanya untuk menyelamatkan nyawa Joko Tenang.
Ratu Getara Cinta kemudian bangkit berdiri dalam kondisi masih bersinar.
“Minggirlah, Puspa. Aku akan mengeksekusinya!” kata Ratu Getara Cinta.
Puspa pun dengan berat hati menyingkir, wajahnya masih merengut, padahal ia yang sangat ingin mengeksekusi Prabu Cokro Ningrat.
“Cokro Ningrat!” sebut Ratu Getara Cinta dengan tatapan mata yang bersinar hijau, menunjukkan keangkerannya sebagai seorang pemilik Permata Darah Suci.
“Baiklah, bara telah menjadi arang dan darah telah tertumpah di tanah Tarumasaga. Jika memang cinta kita tidak bisa bersatu lagi, maka biarlah kita mengubur cinta itu dengan kematian!” seru Prabu Cokro Ningrat. Ia terlanjur terbakar oleh api cemburu, setelah menyaksikan langsung sikap mesra pemuda berbibir merah itu kepada wanita yang ia sangat cintai.
“Aku tegaskan, Cokro! Tidak ada sebutir debu pun jejak cinta mu yang tertinggal di hatiku. Kau justru menjadikan dirimu sebagai orang pertama yang harus aku bunuh atas musnahnya seluruh orang Tabir Angin. Dan aku sendiri yang akan mengeksekusimu!” teriak Ratu Getara Cinta.
Sementara itu, di sudut yang lain.
“Kangmas, kau harus bertindak agar Ayahanda tidak terbunuh!” desak Putri Alifa Homar kepada kakaknya.
“Percuma, mereka orang-orang yang tidak bisa dicegah. Bisa-bisa aku dan kau yang justru terbunuh. Ratu itu membawa dendam rakyatnya yang dibantai oleh Mahapatih Yudi Mandala. Dan yang memberi perintah itu adalah Ayahanda. Ini kesalahan besar Ayahanda dan apa daya, kita tidak bisa berbuat apa-apa,” kilah Pangeran Zulkar Nain. “Tadi aku sudah mencoba mencegah, tiba-tiba perempuan gembel itu muncul merusak usahaku. Sekarang ditambah Ratu Tabir Angin dan perempuan secantik bidadari itu.”
“Kau akan membiarkan Ayahanda mati dan kita tidak berbuat apa-apa?” tanya Putri Alifa Homar.
“Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa. Jika kau tidak percaya, pergilah ke sana, bisa-bisa kau hanya akan mati. Kau tidak melihat bagaimana mudahnya Adipati Rumak Gulai dibunuh dengan hanya sekali gerak,” kata Pangeran Zulkar Nain.
“Jika Kangmas tidak mau, biar aku saja!” dengus Putri Alifa Homar kesal. Ia lalu melangkah keluar dari balik tembok kerajaan.
Sang putri berkelebat di udara mendekati lokasi pertarungan. Sementara para prajurit kerajaan yang masih hidup telah memperjauh posisinya dari titik pertarungan. Para pejabat yang tersisa pun hanya pasrah membiarkan raja mereka menanggung sendiri urusannya.
“Ayahanda!” teriak Putri Alifa Homar.
Terkejut Prabu Cokro Ningrat mendengar panggilan putrinya itu.
__ADS_1
“Jangan mendekat, putriku!” seru Prabu Cokro Ningrat. Sebagai seorang ayah, ia tidak akan membiarkan hal yang buruk terjadi kepada putri satu-satunya itu.
Wess!
Namun, Putri Alifa Homar harus berhenti mendekat dan mematung tidak jauh dari titik ketegangan. Tirana telah mengirimkan satu angin lembut khusus kepada gadis cantik berhidung mancung itu, agar tidak mengganggu jalannya pertarungan.
“Hah!” pekik Ratu Getara Cinta lalu maju laksana menghilang.
Bam!
Prabu Cokro Ningrat mencoba bertahan dengan ilmu perisainya yang tidak kasat mata. Namun, tinju Ratu Getara Cinta terlalu kuat. Tubuh lelaki berkumis tebal itu terlempar masuk ke dalam balairung. Namun, Prabu Cokro Ningrat masih bisa berdiri, meski ia merasakan rasa nyeri pada seluruh tubuhnya.
Ratu Getara Cinta tidak memilih untuk menyusul ke dalam balairung, tetapi ia justru melejit naik ke angkasa.
Zerss! Bluar!
Satu kiblatan sinar hijau melengkung membelah dua atap balairung hingga ke lantainya pun terbelah besar. Sementara Prabu Cokro Ningrat berhasil melesat jauh keluar dari balairung menghindari serangan dari atas yang sudah diduganya.
Pada jarak yang jauh itu, Prabu Cokro Ningrat memiliki kesempatan untuk mengerahkan satu ilmu andalannya. Tubuh Prabu Cokro Ningrat kini dikurunng oleh pusaran sinar kuning seperti pusaran angin tornado. Ia kemudian meluruskan kedua tangannya lurus ke atas. Pusaran sinar kuning itu kemudian bergerak mengecil dan melingkari kedua tangan Prabu Cokro Ningrat.
Ratu Getara Cinta telah melesat cepat memburu posisi Prabu Cokro Ningrat. Sang prabu menyambut kedatangan wanita pujaannya itu dengan hentakan kedua tangannya.
Zezz!
Hasil itu jelas mengejutkan Prabu Cokro Ningrat. Ilmu andalannya tidak berarti bagi Ratu Getara Cinta.
Zerss!
Tangan kiri Ratu Getara Cinta mengibas. Satu kiblatan sinar hijau melengkung menyerang Prabu Cokro Ningrat. Sang prabu bisa menghindarinya dengan melompat cepat ke udara.
Zerrr!
Saat Prabu Cokro Ningrat berada di udara, satu aliran sinar hijau seperti petir tahu-tahu menjerat tubuhnya.
“Aaakr!” jerit Prabu Cokro Ningrat dengan tubuh tertahan di udara saat sinar hijau itu menyengatnya. Luar biasa sakitnya.
Aliran sinar hijau itu berasal dari tangan kanan Ratu Getara Cinta. Tangan kiri sang ratu juga kembali menghentak dengan jari-jari menekuk keras. Satu aliran sinar hijau yang serupa melesat dan memperlengkap jeratannya pada tubuh Prabu Cokro Ningrat di udara.
“Akkrrr...!” pekik Prabu Cokro Ningrat panjang.
“Ayahandaaa!” teriak Putri Alifa Homar yang hanya bisa mendengar jeritan ayahnya. Posisi yang memunggungi titik pertarungan membuatnya tidak bisa melihat keberadaan ayahnya.
__ADS_1
Blar!
Hasilnya, tubuh Prabu Cokro Ningrat meledak di udara, hancur tanpa bentuk.
Putri Alifa Homar tidak tahu bahwa tubuh ayahnya meledak dan telah tamat riwayatnya. Sementara di tempat persembunyiannya, Pangeran Zulkar Nain hanya berdiri berbalik, tidak mau melihat nasib ayahnya.
Namun, berhentinya jeritan Prabu Cokro Ningrat membuat kedua anaknya menduga kuat bahwa ayah mereka telah tewas.
“Ayahanda,” ucap Putri Alifa Homar lirih. Ia menangis.
“Kerajaan Tarumasaga resmi diduduki dan diambil alih oleh Ratu Getara Cinta! Siapa yang berani melawan, maka akan dihukum mati!” teriak Ratu Getara Cinta mengandung tenaga dalam tinggi, sehingga terdengar ke seantero kerajaan.
Setelah itu, sinar hijau yang menyelimuti tubuh Ratu Getara Cinta lenyap, begitu juga sepasang matanya kembali normal.
Kini, Ratu Getara Cinta kembali menjadi seorang wanita yang anggun. Kesangaran dan aura membunuhnya telah hilang.
Ratu Getara Cinta melangkah mendatangi Puspa. Puspa tampak masih kesal, tergambar dari wajahnya.
“Puspa, berlututlah!” Setibanya di depan Puspa, Ratu Getara Cinta memberikan perintah, layaknya seorang ratu yang memberi perintah kepada abdinya.
“Berani kau memerintah Puspa, Getara jahat!” bentak Puspa melotot marah.
Di Rimba Berbatu, satu-satunya orang yang berani bersikap tidak sopan dan berkata kasar kepada Ratu Getara Cinta adalah Puspa seorang.
“Aku ingin memberimu hadiah, berlututlah!” kata Ratu Getara Cinta.
“Hah, hadiah? Hihihi!” kejut Puspa lalu berubah tertawa nyaring, senang.
Buru-buru Puspa berlutut di hadapan Ratu Getara Cinta. Ia tersenyum-senyum.
Ratu Getara Cinta lalu meletakkan tangan kanannya ke kepala Puspa.
“Joko, Tirana, Kembang Buangi, kalian menjadi saksi atas ucapanku!” kata Ratu Getara Cinta sambil memandangi ketiga orang itu.
Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi hanya mengangguk.
“Puspa, dengarkan! Aku Getara Cinta, menyerahkan tahta Kerajaan Tabir Angin kepadamu. Mulai saat ini, kau adalah Ratu Kerajaan Tabir Angin dan penguasa tunggal di Rimba Berbatu!” seru Ratu Getara Cinta.
Terkejutlah Puspa mendengar ucapan Ratu Getara Cinta. Ia terdiam.
“Apa yang kau lakukan, Getara?” tanya Puspa pelan, dalam keadaan yang tetap berlutut menunduk.
__ADS_1
“Aku mengembalikan hakmu, Puspa. Kau adalah pewaris kerajaan yang sah. Selama ini aku telah merampas keratuanmu. Sekarang aku kembalikan kepadamu!” tandas Ratu Getara Cinta. (RH)