
"Yang Mulia Ratu Aswa Tara tiba!”
Tiba-tiba terdengar seruan keras dari dinding selatan.
Dum dum dum...!
Para pria besar penabuh genderang perang segera mengubah irama pukulnya menjadi lebih keras dan cepat. Sorak kubu selatan pun kian riuh seakan sudah siap berperang habis-habisan.
Troeeet...! Troet troet troet!
Ternyata di kubu utara mengandalkan terompet besar sebagai musik pembakar adrenalinnya. Ada tiga pria gemuk-gemuk yang meniup trompet dari tanduk besar yang bengkok melingkar.
Dari sebuah lorong batu besar yang ada di dinding selatan, keluarlah Ratu Aswa Tara membawa keanggunannya.
Yang menjadi pusat perhatian Ratu Getara Cinta dan kubunya adalah dua orang yang sebelumnya belum pernah mereka lihat, yaitu Joko Tenang dan Tirana. Mereka langsung menduga bahwa dua orang itu adalah jagoan baru Hutan Kabut.
Setibanya di tribun selatan Sumur Juara, perhatian Joko dan Tirana langsung terfokus kepada Ratu Getara Cinta. Joko dan Tirana telah mengatur rencana jika memang saat di pertarungan Sumur Juara hari ini ada kehadiran Ratu Getara Cinta.
“Pasti wanita itu yang bernama Ratu Getara Cinta,” membatin Joko ketika melihat keberadaan Ratu Getara Cinta. “Bagaimana mungkin Ratu Aswa Tara bisa punya peternakan wanita seperti ini.”
Joko Tenang agak dibuat terkejut dengan kumpulan wanita yang jumlahnya sedemikian banyak.
Tirana memilih tidak begitu jauh dengan Joko yang merasa benar-benar berada di sarang penuh racun. Ada satu wanita saja yang mendekatinya, bisa bahaya. Namun, kondisi Joko kini tidak terbelenggu, ia bisa menjauh jika ada wanita yang mendekatinya.
“Biarkan gadis kecil berambut kepang itu bagianku,” kata Joko kepada Tirana.
“Baik,” jawab Tirana seraya tersenyum manis kepada Joko.
Mereka semua menunggu sejenak hingga genderang berhenti ditabuh dan terompet berhenti ditiup.
“Ratu Aswa Tara!” seru Panglima Perang Sugeti Harum ketika tabuh genderang berhenti. “Kami sudah cukup lama menunggu!”
“Baik!” sahut Ratu Aswa Tara. Ia lalu berdiri dari duduknya. Ia lalu mengangkat tangan kanannya lalu berseru, “Pertarungan Sumur Juara dimulai!”
Dum...!
Genderang kembali ditabuh.
“Gardasakti!” seru Ratu Aswa Tara.
Gardasakti raih perisai besinya lalu berkelebat turun dari tebing dan mendarat di batu datar yang lapang.
__ADS_1
Crakr!
Gardasakti menancapkan sisi perisainya ke lantai batu hingga bisa berdiri tanpa dipegang.
Ragatos segera berkelebat turun dari tebing utara dan mendarat laksana makhluk besi turun di atas batu. Lantai batu yang dijejaknya tampak retak-retak. Hal itu menunjukkan betapa kuatnya tenaga yang dimiliki oleh Ragatos.
Kedua pendekar itu saling tatap tajam. Ragatos menyeringai seram. Sementara Gardasakti diam dengan ketenangan.
Crak!
Bersamaan dengan berhentinya genderang ditabuh, Gardasakti mencabut perisainya dari laintai batu lalu maju dengan cepat melabrak posisi Ragatos.
Bagg! Babak!
Ragatos menyambut kedatangan Gardasakti dengan tinju besar, kuat dan cepat. Namun, Gardasakti memasang perisainya sebagai tameng. Sementara kedua kakinya berkelebat cepat menendang dada besar Ragatos.
Ternyata, tameng besi Gardasakti lebih kuat dari tinju Ragatos. Namun, dada Ragatos lebih teguh dari tendangan dua kaki Gardasakti. Tendangan itu tidak sedikit pun bisa mendorong tubuh Ragatos. Gardasakti sendiri terdorong jatuh berguling dan langsung dalam posisi siap.
Sejenak kedua pendekar terdiam. Keduanya memang belum pernah saling bertarung sebelumnya, hanya sebatas tahu nama.
Sementara di tribun selatan dan utara, para prajurit semakin ramai berteriak mendukung jago masing-masing.
Giliran Ragatos yang menyerang dengan mengandalkan tinju-tinjunya. Tameng besi Gardasakti jadi benteng ampuh untuk bertahan. Beberapa kali serangan cepat Gardasakti muncul dari balik perisainya, tetapi kekuatan tenaga dalamnya tidak berarti apa-apa bagi tubuh Ragatos. Otot Ragatos benar-benar keras, lebih keras dari batu.
Ketika Ia kembali menangkis tinju kuat Ragatos dengan perisainya, dari balik perisai itu ia keluarkan tusukan jari-jari yang sudah membara kuning seperti besi panas.
Tukss!
Tusukan jari-jari Gardasakti tepat bersarang di perut Ragatos. Namun, Gardasakti harus mendelik, ternyata Ragatos tidak bereaksi kesakitan sedikit pun.
Dagg!
Satu tendangan Ragatos yang cepat dan keras datang membabat Gardasakti. Tak bisa mengelak, Gardasakti hanya gunakan perisai ampuhnya sebagai benteng.
Sreeets!
Namun, tendangan itu memiliki tenaga yang berlipat-lipat dibandingnya dengan kekuatan tinju. Tubuh Gardasakti terseret deras hingga tersudut di sebuah batu besar.
Kelebatan tubuh besar Ragatos telah datang menyusul sebelum Gardasakti siap kembali. Gardasakti memilih langsung melejit tinggi lurus ke atas.
Dagrk!
__ADS_1
Batu besar yang disandari Gardasakti hancur berkeping-keping dihantam kaki besar Ragatos.
Gardasakti justru mendapat posisi unggul dengan berada di atas.
Sets!
Gardasakti melesatkan perisainya guna menghantam kepala Ragatos.
Bang! Srets!
“Aakhr!” pekik Gardasakti kesakitan.
Ragatos dengan cepat meninju tengah perisai yang mengincar kepalanya, membuat perisai itu terlempar jauh. Sementara dari tangan kirinya melesat rantai yang tidak bisa dihindari Gardasakti. Rantai itu melilit leher Gardasakti di udara.
Bugk!
Gardasakti jatuh menghantam batu dengan leher masih tercekik rantai yang tersambung dengan tangan kiri Ragatos.
Melihat kondisi Gardasakti, tampak Ratu Aswa Tara gusar.
“Pendekar tidak berguna!” desis Ratu Aswa Tara.
Gardasakti berusaha menahan rantai itu dengan balas menariknya. Kedua tangan Gardasakti yang membara merah menarik kuat rantai yang juga ditarik oleh Ragatos. Meski lehernya masih terlilit, Gardasakti bisa bergerak bangkit.
Rantai itu turut berubah memerah seperti besi membara. Baranya perlahan menjalar menuju kepada lilitan rantai di tangan Ragatos.
“Argh!” pekik Ragatos sambil tiba-tiba melesat cepat ke depan dan tinju tangan kanannya mengayun kilat.
Bugkr!
Gardasakti tidak punya waktu untuk mengelak dari serangan tiba-tiba itu. Tinju besar, kuat dan kencang Ragatos menghantam dadanya. Tubuh Gardasakti terlempar keras menghantam batu lalu diam tidak bergerak. Darah keluar dari setiap lubang di kepala Gardasakti. Dadanya telah hancur remuk oleh tinju maut Ragatos.
“Menang!” teriak seluruh prajurit Ratu Getara Cinta merayakan kemenangan Ragatos.
Sementara kubu Hutan Kabut terdengar sepi.
“Satu pertarungan lagi, Ratu Aswa Tara!” seru Panglima Perang Sugeti Harum.
“Tidak akan aku biarkan. Aku akan memaksa Tabir Angin bertarung di pertemuan ketiga!” kata Ratu Aswa Tara dengan nada marah.
Ragatos telah kembali ke atas tribun berdiri di sisi Sugeti Harum. Seiring itu, tiba-tiba Kakek Ular Emas menghilang dari tempatnya begitu saja, laksana termakan oleh waktu. Namun pada saat yang sama, ia telah berdiri di bawah sana, di tengah arena menunggu lawan berikutnya.
__ADS_1
Cara perpindahan raga yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa itu menunjukkan level keilmuan Kakek Ular Emas.
Karena Joko Tenang sudah memilih lawan, yaitu Bidadari Seruling Kubur, maka dengan turunnya Kakek Ular Emas ke gelanggang, Tirana lah yang akan maju lebih dulu. Tirana berkelebat di udara lalu turun dengan perlahan di hadapan Kakek Ular Emas. Tirana yang turun seperti jatuhnya kapas menunjukkan pula tingkat keilmuan gadis cantik itu. (RH)