
*Desa Wongawet (Dewo)*
Wiro Keling dan Wiro Abang adalah kakak beradik. Usia mereka hanya terpaut tiga tahun saja.
Wiro Keling sebagai kakak berperawakan kekar agak pendek, berkulit tubuh sawo matang. Ia tampan dengan hidung mancung yang kokoh.
Wiro Abang, meski sebagai adik, tetapi ia memiliki postur tubuh lebih tinggi dan sedikit lebih cerah warna kulitnya. Model hidungnya sama dengan kakaknya, tetapi ia memiliki tahi lalat kecil di bawah sudut mata kirinya.
Keduanya melakukan perjalanan jauh demi sampai ke Desa Wongawet. Cerita tentang desa itu membuat mereka bercita-cita untuk datang dan tinggal di desa itu agar bisa awet muda.
Ki Daraki sebagai kepala desa menyambutnya ramah dan menerimanya sebagai warga Desa Wongawet.
Wiro Keling dan Wiro Abang kemudian menjalani hari-harinya di desa tersebut dengan mematuhi segala aturannya.
Pada suatu hari, di saat acara mandi sore menjelang makan bersama, Wiro Keling dikerjai oleh rekan-rekannya. Baju Wiro Keling sengaja dihanyutkan.
“Wiro Keling, bajumu dibawa lari air!” teriak Palang Segi, orang yang menjadi otak penghanyutan.
“Hah! Woi baju, jangan hanyut!” teriak Wiro Keling panik. Buru-buru ia keluar dari air dan memakai cawatnya, lalu berlari di sepanjang bibir sungai mengejar bajunya.
“Hahaha!” Rekan-rekannya hanya tertawa melihat kepanikan Wiro Keling, terlebih ia berlari hanya mengenakan cawat.
Cukup derasnya arus air pada hari itu membuat Wiro Keling agak kesulitan untuk memburu bajunya.
Tidak terasa baju itu telah hanyut memasuki kawasan wanita Desa Wongawet. Hal itu tidak disadari oleh Wiro Keling.
Wiro Keling akhirnya berhenti mengejar dan terpaku dalam keterkejutan. Ia melihat bajunya tersangkut pada punggung seorang wanita berkulit putih bersih. Wanita itu sedang mandi di tengah sungai dengan hanya berpinjung merah seatas dada.
Si wanita cantik, merasa terganggu dengan benda yang menyangkut di tubuhnya. Ia pun mengambil baju itu dan melihatnya. Si wanita mengedarkan pandangannya, seolah sedang mencari si pemilik baju.
“Aw!” pekik tertahan si wanita terkejut saat melihat Wiro Keling yang berdiri di atas batu tidak begitu jauh darinya. Buru-buru ia agak membenamkan tubuhnya hingga sebatas leher.
“Maaf, itu bajuku yang hanyut, bisakah kau memberikannya kepadaku?” ujar Wiro Keling seraya tersenyum.
“Ini sungai wilayah wanita, beraninya kau sampai di sini. Apalagi kau hanya bercelana seperti itu!” hardik si wanita.
“Walah, edan aku!” umpat Wiro Keling kepada dirinya sendiri, setelah sadar bahwa ia hanya bercawat ria. Buru-buru ia melompat turun ke balik batu, menyembunyikan wilayah bawah perutnya.
Melihat tingkah Wiro Keling, tertawalah si gadis cantik. Hal itu benar-benar membuat Wiro Keling malu.
__ADS_1
“Wahai wanita cantik, tolong berikan bajuku,” pinta Wiro Keling dengan nada yang lembut.
Tersenyum senang si wanita karena dipuji cantik. Ia lalu mengepal-ngepal baju di tangannya dan melemparkannya ke atas batu tempat Wiro sembunyi.
“Terima kasih!” ucap Wiro Keling agak berteriak, lalu tersenyum lebar kepada si wanita yang juga tersenyum manis.
Acara saling pandang pun terjadi dalam belasan detik. Rasa bahagia dan indah merasuk masuk menari di dalam hati keduanya.
“Pergilah sebelum ada yang datang!” seru si wanita.
“Iya iya iya! Hahaha!” sahut Wiro Keling lalu tertawa senang.
Ia segera melompat ke pinggir sungai dan berlari pergi dengan hati gembira. Pertemuannya dengan si wanita yang tidak ia tahu namanya itu membuatnya bahagia.
Kejadian lucu yang baru saja terjadi, juga membuat si wanita selalu tertawa, sehingga wajah tampan Wiro Keling selalu tergambar dalam pikirannya.
Meski mendapat malu, tetapi Wiro Keling telah jatuh cinta, satu pekerjaan hati yang dilarang di desa itu. Rasa suka kepada si wanita itu membuatnya penasaran ingin mengetahui nama gadis yang membuatnya jatuh hati.
“Hei hei, Palang Segi!” panggil Wiro Keling pada suatu waktu, saat ia sedang membelahi bambu tidak jauh di sisi kanan jalan utama.
“Kenapa?” tanya Palang Segi yang memegang kapak dan batangan bambu.
“Namanya Riri Liwet,” jawab Palang Segi setelah memastikan siapa wanita yang dimaksud Wiro Keling. “Kau menyukainya?”
“Iya,” jawab Wiro Keling.
“Asal tidak ketahuan saja,” kata Palang Segi.
Wiro Keling lalu memungut potongan kecil bambu. Potongan itu ia lempar jauh ke seberang dan jatuh di dekat gadis yang bernama Riri Liwet.
Riri Liwet dibuat terkejut oleh lemparan tersebut. Ia langsung mencari siapa orang yang melemparnya.
Saat pandangan Riri Liwet mengarah ke tempatnya, Wiro Keling segera melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum lebar. Sejenak Riri Liwet memperjelas pandangannya.
“Hahaha!” tawa Riri Liwet saat mengenali Wiro Keling. Sebab ia langsung teringat kejadian di sungai.
Interaksi jarak jauh itu membuat hati Wiro Keling jatuh semakin dalam dan berbunga-bunga. Rasa cinta dan dan kasmaran juga bersemayam di hati dan perasaan Riri Liwet.
Namun, pada suatu malam. Riri Liwet bertugas menjadi wanita penyaji makanan. Ia meletakkan makanan tepat di depan Wiro Abang. Wajah cantik yang berhias senyuman yang begitu manis, membuat jantung Wiro Abang tersentuh.
__ADS_1
Kehadiran paras cantik Riri Liwet yang begitu singkat di depan matanya, membuat Wiro Abang terkenang-kenang. Hingga-hingga wajah itu terbawa ke dalam mimpi. Mimpi bertemu dengan Riri Liwet, memperkuat rasa suka Wiro Abang kepada gadis yang belum mengenalnya itu.
Ternyata Wiro Abang memiliki karakter yang lebih nekat dan militan dibandingkan kakaknya. Ia berusaha mencari di mana rumah tempat Riri Liwet menginap. Melalui bantuan Bangirayu, Wiro Abang akhirnya tahu posisi rumah Riri Liwet.
Setelah itu, pada malam harinya, Wiro Abang menyelinap masuk ke daerah wanita dan pergi ke rumah Riri Liwet.
Riri Liwet terkejut saat mendengar suara ketukan di dinding kamarnya. Ia bangkit dan membuka jendela kamarnya. Ia terkejut ketika mendapati keberadaan seorang pemuda di samping kamarnya. Namun, gelapnya malam membuat Riri Liwet sulit mengenali wajah Wiro Abang.
“Namaku Wiro Abang. Aku jatuh cinta kepadamu, Riri,” ujar Wiro Abang.
“Terima kasih, Wiro,” hanya itu ucapan respon dari Riri Liwet.
Pertemuan itu berlangsung singkat, karena khawatir penyusupan Wiro Abang ada yang mengetahuinya selain Riri Liwet.
Keesokannya, Riri Liwet berusaha mencari tahu pemuda yang bernama Wiro Abang. Akhirnya Riri Liwet mengetahui seperti apa wajah Wiro Abang, meski melihatnya hanya dari jarak jauh. Riri Liwet sedikit pun tidak mengetahui bahwa Wiro Abang adalah adik dari pemuda yang disukainya.
Kemilitanan dan kenekatan Wiro Abang terlihat dari penyusupannya setiap malam ke daerah wanita, semata-mata untuk menemui Riri Liwet sebelum waktu tidur. Meski hanya pertemuan yang mencuri-curi dan terkadang sangat singkat, tetapi itu membuat Wiro Abang sangat bahagia.
Di sisi Riri Liwet sendiri, ia tidak bisa menyatakan penolakan atas tindakan Wiro Abang. Ia pun tidak bisa menyatakan cinta sebagaimana yang dilakukan oleh Wiro Abang.
“Wiro Abang, sebaiknya berhentilah datang setiap malam. Aku khawatir kau akan tertangkap,” kata Riri Liwet.
“Tenang saja, Riri. Aku sudah mahir menyusup. Aku aman,” tandas Wiro Abang.
Namun, kekhawatiran Riri Liwet akhirnya menjadi kenyataan. Pada malam berikutnya, sejumlah wanita tiba-tiba menyergap Wiro Abang sebelum ia sampai ke rumah Riri Liwet.
Penyergapan yang dipimpin oleh Mak Gandur itu, mengejutkan Wiro Abang.
“Tangkap, jangan biarkan lolos!” perintah Mak Gandur lalu menyerang Wiro Abang lebih dulu.
Keenam wanita yang bersama Mak Gandur segera menyusul menyerang. Meski melawan kaum wanita, tetapi jumlah yang banyak membuat Wiro Abang kalabakan.
Keributan yang terjadi di wilayah wanita itu membuat lingkungan terganggu dan para wanita segera berkeluaran melihat apa yang terjadi. Akibatnya, Wiro Abang tidak berkutik ketika lebih banyak para gadis yang turun tangan.
Dalam waktu singkat, Wiro Abang dapat diringkus dalam kondisi terluka dalam akibat terkena pukulan bertenaga dalam Mak Gandur. (RH)
**********
Bagi yang suka karya Om ini, silakan beri like, vote, komen, dan gift terbaikmu. Terima kasih selalu untukmu, Readers. 😁🙏🙏
__ADS_1