Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 15: Menyerang Gua


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)* 


Di tempat itu tidak terlihat keberadaan Chang Chi Men dan Mai Cui.


“Ke mana Chi Men?” tanya Permaisuri Yuo Kai cepat.


“Mengejar orang yang menculik Mai Cui,” jawab Bo Fei.


“Kita langsung kejar ke gua!” seru Prabu Dira.


“Berhenti!” seru Barbara cepat menghadang pergerakan Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai.


“Lumpuhkan saja!” perintah Prabu Dira.


Permaisuri Yuo Kai cepat merangsek maju menyerang Barbara. Gadis berambut pirang itu mencoba melawan.


Das! Tuk tuk!


Namun, gerakan serang Permaisuri Yuo Kai terlalu cepat. Dengan muda satu kibasan kaki menghajar wajah Barbara. Selanjutnya, dua totokan cukup membuat Barbara terdiam.


“Ikat wanita ini!” perintah Permaisuri Yuo Kai kepada Bo Fei.


“Baik, Yang Mulia.”


Bo Fei segera mengurus tubuh Barbara. Sementata Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai segera pergi menembus kegelapan. Mereka berdua segera menuju ke ara gua yang sebelumnya pernah dilihat oleh Bo Fei.


Saat mengintai tiga lelaki berambut kuning sore tadi, Bo Fei memutuskan mengikuti ke mana mereka pergi. Ternyata mereka masuk ke sebuah gua yang terletak di area lebih atas di gunung itu. Di dalam gua itu ada kegiatan sejumlah orang berambut kuning.


Zersss!


Tanpa mau berlama-lama, Permaisuri Yuo Kai mengeluarkan makhluk penghuni Cincin Mata Langit. Keduanya terbang bersama menuju ke gua yang sudah mereka ketahui posisinya.


Tidak berapa lama, gua yang mereka maksud sudah terlihat. Ada sejumlah obor di dalam gua, sehingga membuatnya mudah terlihat. Di mulut gua yang besar, ada sejumlah lelaki berambut kuning sedang bertarung mengeroyok Chi Men.


“Tabrak saja!” perintah Prabu Dira.


Permaisuri Yuo Kai pun mengarahkan belalang sinarnya melesat langsung masuk ke dalam gua.


“Chi Men minggir!” teriak Permaisuri Yuo Kai.


Chi Men yang tidak melihat kedatangan junjungannya, jadi terkejut dan buru-buru melompat jauh ke samping.


“Hah!” kejut para lelaki berambut kuning berhidung mancung, saat melihat kemunculan makhluk aneh di udara malam.


“Ada silumaaan!” teriak salah seorang dari mereka dengan bahasa yang asing di telinga Prabu Dira dan sang permaisuri.


Wuss! Seset seset!


“Aak…! Akk!” pekik para lelaki berpakaian biru gelap itu.

__ADS_1


Entah bagaimana cara kerjanya, ketika belalang sinar itu menabrak lima lelaki berambut kuning, orang-orang itu merasakan sedang disayat-sayat oleh benda tajam. Kelima lelaki itu bertewasan dengan kondisi tubuh yang tercabik-cabik.


Hal itu membuat Permaisuri Yuo Kai terkejut, sebab ia tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Namun, sebagai seorang wanita yang memiliki karakter dingin dan kejam terhadap musuh, Permaisuri Yuo Kai pun kemudian menerima fakta yang terjadi.


Belalang sinar jingga kemudian hancur dan melesat masuk ke dalam tubuh Permaisuri Yuo Kai. Prabu Dira, Permaisuri Yuo Kai dan Chi Men lalu berlari masuk ke dalam gua yang lorongnya menyempit.


Namun, setelah lorong menyempit, mereka masuk ke sebuah ruangan batu yang besar dan luas, dengan langit-langit yang tinggi. Ruangan besar itu lebih seperti tempat menambangan. Ada banyak gundukan batu di beberapa sisi dan terlihat sejumlah alat tambang.


Yang langsung menjadi titik perhatian mereka adalah keberadaan Mai Cui. Di ujung tempat besar itu, terlihat tubuh Mai Cui yang tidak sadarkan diri atau sudah mati, sedang dipasang pada sebuah alat besi yang menggantung. Kaki, pinggang dan tangannya dibelenggu dengan besi dan rantai, sehingga posisinya tengkurap di udara. Posisi kaki lebih tinggi daripada kepala.


Tepat di bawah wajah Mai Cui ada sebuah batu kristal putih bening. Terlihat jelas bahwa di dalam batu itu ada sebuah pedang berwarna putih susu. Pada sisi bawah di sekitar batu ada warna merah gelap, seperti warna darah kering.


Lelaki yang memasang tubuh Mai Cui di gantungan adalah seorang pemuda tampan berambut kuning berhidung mancung. Ia memiliki perawakan yang bagus dengan otot-otot yang terlihat perkasa. Dialah orang yang bernama Albert. Bersamanya ada lima lelaki lain.


“Hentikan!” teriak Prabu Dira cepat.


Albert dan kelima rekannya jadi terkejut. Terlebih Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai sudah berkelebat mendekat.


“Cepat alirkan darahnya!” perintah Albert kepada rekannya yang berdiri di sebelah bawah tubuh Mai Cui.


Rekan Albert cepat mencabut pedangnya untuk ditusukkan kepada tubuh Mai Cui. Diperkirakan, jika Mai Cui dilukai dalam posisi seperti itu, darahnya akan mengalir ke kepala lalu akan menetes ke batu kristal putih.


Set!


Sebelum pedang lelaki rambut pirang itu menyentuh tubuh Mai Cui, pedang itu mendadak tertahan, tidak bisa digerakkan. Itu karena ada benang halus yang melilit mata pedang dengan sangat kuat, termasuk leher pemilik pedang telah dililit oleh benang yang halus dan nyaris tidak terasa.


Teng! Set!


“Manusia macam apa ini?” rutuk Albert lalu bersalto cepat di udara.


Sess sess! Blar blar!


Dari putaran tubuh itu melesat dua sinar merah berbentuk kerucut kepada Prabu Dira. Dengan sigap Prabu Dira mengelaki kedua sinar itu, sehingga menimbulkan ledakan jauh di belakang Prabu Dira.


Baru saja Prabu Dira hendak membalas dengan ilmu Lima Jerat Terakhir, empat lelaki berambut kuning lainnya telah menyerang Prabu Dira dengan senjata pedang.


Chi Men segera bergabung bersama Prabu Dira.


Sementara itu, Permaisuri Yuo Kai harus menundukkan Albert.


Albert dengan antusias menyambut kedatangan Permaisuri Yuo Kai dengan serangan yang keras dan cepat. Setiap gerak serang tangan dan kakinya mengandung tenaga dalam tinggi.


Namun, Albert tidak tahu siapa yang dihadapinya. Seharusnya kematian rekannya tadi cukup membuatnya perpikir panjang.


Sess sess! Bom bom!


Albert memiliki kesempatan untuk melesatkan dua sinar biru kerucutnya. Namun, Permaisuri Yuo Kai menangkis dengan ilmu perisai Ruang Darah Naga. Dua sinar biru itu menghantam perisai sinar merah bening di depan tubuh sang permaisuri. Sang permaisuri baik-baik saja.


Selanjutnya, Permaisuri Yuo Kai melesat cepat ke depan, lalu tiba-tiba berhenti dengan kedua tangan agak merenggang terbuka.

__ADS_1


“Kau sudah terjerat benang Serat Sutra! Jika kau bergerak, kau akan mati!” seru Permaisuri Yuo Kai dengan bahasa ibunya,


Albert terkejut, ia memahami bahasa Permaisuri Yuo Kai.


“Ja… jangan bunuh aku!” teriak Albert menggunakan bahasa Mandarin. Rupanya ia adalah seorang multi bahasa.


Albert sudah merasakan ada seperti benang halus yang melekat di lehernya. tidak hanya itu, kedua lengannya juga sudah terliliti oleh benang halus yang tidak terlihat jelas olehnya. Benang itu mencekik kedua lengannya dengan agak kuat.


Pencahayaan obor batu membuat Albert bisa melihat samar adanya bentangan beberapa benang halus, seperti melihat seutas benang dari bokong laba-laba.


“Apa yang kau lakukan terhadap pelayanku? Jawab dengan jujur, atau lehermu putus!” tanya Permaisuri Yuo Kai mengancam.


“Untuk persembahan.”


“Persembahan apa?” tanya Permaisuri Yuo Kai lagi.


“Pedang Singa Suci.”


“Kenapa harus pakai persembahan?”


“Untuk mencairkan batu kristalnya.”


Set set!


Albert mendelik terkejut saat kedua lengannya putus begitu saja dan jatuh tergeletak.


“Aaak!” jerit Albert setelah beberapa detik kedua tangannya putus. Sementara lehernya dilepaskan oleh Permaisuri Yuo Kai.


“Kau mencari masalah dengan orang yang salah,” kata Permaisuri Yuo Kai.


Sementara itu, Prabu Dira dan Chi Men telah selesai melumpuhkan keempat lawannya. Mereka tidak dimatikan, tetapi hanya dilumpuhkan sehingga tidak bisa berdiri lagi.


Set set! Crak crak!


Permaisuri Yuo Kai melesatkan benang-benang Serat Sutra-nya yang dengan mudah memutus rantai-rantai yang menggantung tubuh Mai Cui yang belum sadarkan diri.


Prabu Dira segera menangkap tubuh Mai Cui dengan kedua tangannya, lalu diletakkan di lantai untuk dilepaskan dari belenggu.


“Aku baru melihat ilmumu itu, You Kai,” kata Prabu Dira.


“Panggil saja aku Kai’er, Suamiku,” kata Permaisuri Yuo Kai seraya tersenyum.


“Baik, Kai’er,” jawab Prabu Dira seraya tersenyum.


“Mai Cui akan dijadikan pengorbanan untuk mencairkan batu kristal itu,” kata Permaisuri Yuo Kai.


Prabu Dira lalu beralih memandang benda yang ada di dalam batu kristal besar tersebut.


“Pedang itu sangat bagus,” ucap Prabu Dira terkagum.

__ADS_1


Pedang yang ada di dalam batu kristal adalah pedang bermata dua tapi pendek. Ujung pedang itu tidak lancip, melainkan tebal dan rata, seperti sebuah pedang yang patah. Gagangnya yang juga berwarna putih susu memiliki ukiran kepala macan yang sedang membuka mulutnya. Pedang itulah yang bernama Pedang Singa Suci.


Sementara itu, Albert telah tidak sadarkan diri karena banyak kehilangan darah dari kedua lengannya. (RH)


__ADS_2