Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo4: Mengikuti Jejak


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)* 


Sugeti Harum mencurigai sesuatu, yaitu masa waktu antara kematian Pangeran Serak Bayat dengan hari penyerangan terhadap Kerajaan Tabir Angin.


“Jika perjalanan seorang diri dan menggunakan ilmu peringan tubuh yang tinggi, mungkin masuk akal dalam waktu sepekan. Tapi pergerakan satu pasukan besar tidak mungkin secepat itu. Letak Kerajaan Tarumasaga dan Kelompok Pedang Angin cukup jauh dari Rimba Berbatu.”


“Itu artinya, kuat dugaan bahwa penyerangan itu bukan karena kematian Pangeran Serak Bayat?” terka Tirana.


“Benar. Kematian itu hanya sekedar alasan untuk menyerang. Jadi Pangeran Serak Bayat hanyalah tumbal,” tandas Sugeti Harum. “Sepertinya Kerajaan Tarumasaga sudah mengirim pasukan sebelum kematian Pangeran Serak Bayat. Berarti serangan itu bukan untuk balas dendam, tetapi ada niatan lain.”


“Di arah mana Tarumasaga berada?” tanya Joko.


“Arah barat dari Rimba Berbatu. Namun, apakah Yang Mulia Ratu dibawa ke Tarumasaga atau ke tempat Kelompok Pedang Angin, kita tidak tahu,” kata Sugeti Harum.


“Dugaanku pasti dibawa ke Karajaan Tarumasaga. Sebab dia yang memiliki perintah,” kata Joko.


“Kalian harus mengikuti jejak mereka. Meski selisih tiga hari, tapi mungkin saja masih bisa mengejarnya,” kata Sugeti Harum.


“Terpaksa harus menunggu esok pagi. Tidak mungkin mencari jejak di Rimba Berbatu dalam kondisi gelap,” kata Joko. Lalu ucapnya lirih kepada dirinya sendiri, “Di mana kau, Ginari?”


“Besok kalian harus mengirim pasukan untuk menguburkan para prajurit Tabir Angin. Di sana sudah aman,” kata Tirana kepada Sugeti Harum yang hanya mengangguk.


“Biarkan Badak Jawara besok menemani kalian dalam mengikuti jejak pasukan Pedang Angin sampai keluar dari Rimba Berbatu, itu akan mempercepat,” kata Sugeti Harum.


“Baik,” ucap Tirana.


“Jika pasukan Pedang Angin melewati Desa Wongawet, itu akan menjadi penghalang lain bagi kalian. Mudah-mudahan mereka memilih jalan lain,” kata Sugeti Harum.


“Ada apa dengan desa itu?” tanya Tirana.


“Desa itu menutup jalan. Untuk melewatinya akan memakan beberapa hari, karena desa itu memiliki banyak aturan yang tidak boleh dilanggar. Jika memilih jalan lain, pasti akan mengulur waktu perjalanan memutar sejauh satu pekan,” jelas Sugeti Harum.


“Kakang, apakah bisa kita menggunakan jasa Gimba untuk mempercepat pengejaran?” tanya Tirana kepada Joko.


“Sulit karena kita harus mengikuti jejak dengan teliti. Lewat udara tidak akan bisa membaca jejak,” jawab Joko. “Yang terpenting adalah kita harus menemukan Ratu sebelum masa hidupnya berakhir.”


“Biarkan aku membantu menyembuhkan lukamu,” kata Tirana kepada Sugeti Harum.


Tirana kemudian memberikan Sugeti Harum dua kali Kecupan Malaikat. Meski tidak membuat luka Sugeti Harum sembuh sepenuhnya, tetapi itu sangat membantu panglima perang perempuan itu lebih baik.


Keesokannya, Panglima Sugeti Harum bisa memimpin pasukan untuk mengurus mayat-mayat yang ada di Kerajaan Tabir Angin.

__ADS_1


Sementara Joko Tenang dan Tirana melakukan pencarian jejak dengan didampingi oleh Badak Jawara. Karena yang mereka cari adalah jejak satu pasukan, bukan jejak satu dua orang, dengan mudah mereka menemukan jejak itu.


Jejak yang mereka temukan di antaranya jejak kaki pada tanah yang lembab, benda-benda pasukan yang tercecer, bekas tempat istirahat, hingga patahan-patahan ranting. Jejak itu menuntun mereka ke arah barat.


Panduan Badak Jawara yang mengenal seluk beluk Rimba Berbatu membuat pengikutan jejak yang mereka lakukan berlangsung cepat dan singkat.


Hingga menjelang senja, mereka telah tiba di luar daerah Rimba Berbatu.


“Maafkan aku, Pendekar. Aku hanya bisa mengantar sampai di sini,” ucap Badak Jawara.


“Baik, Jawara. Terima kasih sudah menemani kami sampai di sini,” kata Tirana.


“Nanti kami akan segera menyusul Pendekar,” kata Badak Jawara.


“Ingatkan Sugeti harum, cukup membawa orang-orang terbaik saja,” kata Tirana lagi.


Sebelumnya, Panglima Sugeti Harum menyatakan akan menyusul jika kondisi sudah lebih baik. Ia akan membawa satu pasukan dari orang-orang pilihan yang masih ada.


Badak Jawara pun akhirnya kembali pulang untuk membantu Sugeti Harum, perwira tertinggi yang kini masih dimiliki Kerajaan Tabir Angin.


Joko Tenang dan Tirana melanjutkan perjalanan.


Joko Tenang seakan berubah menjadi karakter yang lebih pendiam, lebih tegang, dan lebih banyak diam termenung.


“Apa yang Kakang pikirkan?” tanya Tirana lembut saat mereka berjalan menjauhi kawasan Rimba Berbatu.


“Aku hanya merasa tidak tenang, Tirana. Aku tidak bisa tenang sebelum memastikan keselamatan Ginari dan Ratu. Mungkin aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika nanti terjadi sesuatu yang buruk terhadap Ratu Getara,” kata Joko Tenang.


“Aku yakin segalanya akan baik-baik saja, Kakang,” kata Tirana. “Tapi entah, apa yang akan dilakukan oleh Puspa jika mengetahui bencana ini.”


Mereka kini dihadapkan pada sebuah sungai yang cukup lebar. Ada sebuah jembatan gantung yang membentang di atas sungai, tetapi kondisinya sudah tidak bisa dilewati oleh orang biasa. Kondisinya sudah rusak, tinggal tambang talinya yang menggantung sempurna.


Tirana sejenak memperhatikan daerah pinggir sungai itu. Ia menemukan banyak jejak kaki yang sudah hampir hilang di tanah jalan menurun. Jalan itu menuju ke bawah, pinggir sungai. Di bawah sana pun, terlihat ada bekas-bekas potongan ujung bambu yang berserakan begitu saja.


Tirana dan Joko melompat turun ke bawah, pinggir sungai.


“Sepertinya mereka membuat rakit untuk menyeberangi sungai, Kakang. Bekas potongan bambunya sudah tidak baru lagi, mungkin dua hari yang lalu,” kata Tirana.


Joko Tenang tidak memberi respon.


Dak! Dak! Byur!

__ADS_1


Joko Tenang menyepak dua potongan bambu yang kemudian melesat jatuh ke tengah-tengah sungai dalam jarak berbeda.


Detik selanjutnya, Joko Tenang berkelebat ke tengah sungai. Satu kakinya dengan ringan menginjak potongan bambu yang mengapung terbawa arus sungai, lalu melompat lagi ke potongan bambu berikutnya. Selanjutnya bertolak ke daratan di seberang.


Hal sama dilakukan oleh Tirana.


Setelah mereka meninggalkan sungai, mereka dihadapkan oleh sebuah permukiman atau sebuah desa. Jika pasukan Pedang Angin menyeberang sungai di daerah itu, mereka juga pasti melewati desa tersebut.


Sementara alam mulai menggelap.


Ketika mulai memasuki batas desa, Joko dan Tirana mulai melihat keberadaan manusia lain.


Joko Tenang dan Tirana menghampiri seorang lelaki bertelanjang dada yang sepertinya baru kembali dari sungai. Lelaki berkulit hitam itu membawa jala dan keranjang bambu yang berisi ikan.


“Permisi, Kisanak,” sapa Tirana.


“Iya, Nisanak?” jawab lelaki itu ramah.


“Desa apakah ini, Ki?” tanya Tirana.


“Ini Desa Wongoko,” jawab lelaki itu.


“Kalau letak Desa Wongawet di mana, Ki?”


“Oh, Wongawet. Masih sehari perjalanan ke utara,” jawab lelaki itu. “Hari sudah gelap, lebih baik pendekar berdua bermalam di desa ini. Jalan ke arah Wongawet adalah hutan dan jurang.”


“Apakah orang asing boleh bermalam di desa ini, Ki?” tanya Tirana.


“Sudah biasa, Nak Pendekar. Terkadang orang dunia persilatan singgah bermalam di sini. Tentunya atas sepengetahuan Kepala Desa.”


“Bagaimana, Kakang?” tanya Tirana kepada Joko yang sejak tadi tidak bicara.


Joko Tenang mengangguk.


“Baiklah, Ki. Kami akan menginap di sini,” kata Tirana kepada lelaki itu.


“Mari, biar Bapak antar ke rumah Ki Longgor.” (RH)



KUNJUNGI JUGA karya Om Rudi yang sensasional kocaknya. Chat Story PETUALANGAN TINA AYU.

__ADS_1


__ADS_2