
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Malaikat Pedang Air dan Mega Kencani akhirnya tiba di bibir sebuah jurang. Mereka melihat keberadaan dasar jurang yang tidak begitu dalam, tetapi untuk sampai ke sana perlu kehati-hatian. Selain terjal, jalan untuk turun juga penuh lumut yang licin.
Jika memperhatikan ke bawah, maka akan terlihat keberadaan sebuah mulut gua yang sebagian besarnya berlindung di balik tumpukan bongkahan batu-batu besar.
Namun, kesulitan turun hanya berlaku bagi orang biasa. Sebab, dengan mudahnya Grayugantang dan Mega Kencani berkelebat turun. Mereka mendarat tidak jauh dari tumpukan batu besar di depan gua.
Bau tidak sedap yang membuat perasaan tidak nyaman seketika menyergap penciuman kedua orang itu. Bau itu bersumber dari dalam gua.
“Hoekh!” mual Mega Kencani. “Kenapa harus ke sini, Grayugantang?”
“Jika kau tidak mau masuk, biar kau menunggu di sini,” kata Grayugantang lalu melangkah menuju mulut gua.
“Huh!” dengus Mega Kencani, tetapi ia memilih ikut juga. Ia memencet hidungnya dengan dua jari tangannya. “Hanya bukan manusia yang betah tinggal di tempat sebau ini!”
Sejenak mereka berhenti di mulut gua, memandangi dalam gua yang diterangi oleh lima obor batu yang besar, membuat gua besar itu cukup terang.
Ruangan gua yang cukup besar didominasi oleh warna merah gelap. Batu-batu gua berwarna merah gelap, entah itu warna cat atau warna darah kering. Bau anyir yang tidak sedap seolah menjawab asal warna merah itu. Di salah satu sudut gua berjejer beberapa gentong tanah liat.
“Kebenaran sekali kau datang, Gantang,” kata satu suara wanita tua. Setelah itu muncul berdiri seorang wanita berpakaian merah terang. Meski suaranya tua, tetapi terlihat kulitnya masih cukup kencang dan segar. Wajahnya dilapisi pupur tebal. Bibirnya merah gelap dengan alis hitam tebal lagi panjang. Ia memiliki sorot mata yang tajam, terlebih ketika melihat keberadaan Mega Kencani. Ia adalah tokoh tua golongan hitam yang dikenal luas dengan nama Nenek Haus Darah.
Ia baru saja berjongkok di pinggiran kolam kecil berair merah seperti air darah, tapi jelasnya dari air itu keluar bau anyir yang cukup tajam. Jika melihat kolam itu, orang akan bertanya-tanya, dari mana Nenek Haus Darah mendapat darah sekolam seperti itu.
“Siapa gadis muda itu?” tanya Nenek Haus Darah.
“Murid Setan Genggam Jiwa,” jawab Grayugantang.
“Jika begitu, kita bunuh saja,” kata Nenek Haus Darah seenaknya.
Mendelik Mega Kencani mendengar perkataan si nenek berfisik muda itu. Ia diam-diam segera waspada.
“Mega Kencani sudah termasuk bagian dari kita, sebentar lagi akan menjadi istri mudaku. Hahaha!” kata Grayugantang.
“Jangan sembarangan kalau bicara, Grayugantang!” hardik Mega Kencani marah.
“Sebelum kau menyampaikan maksudmu, aku mau bicara penting dan rahasia denganmu, hanya berdua. Ikut aku!” kata Nenek Haus Darah lalu berbalik pergi lebih ke dalam.
“Kau tunggu di sini, Mega!” kata Grayugantang kepada Mega Kencani yang hanya merengut kesal.
__ADS_1
Grayugantang segera menyusul Nenek Haus Darah. Sementara Mega Kencani memilih berbalik pergi ke luar gua.
“Kalau aku tahu seperti ini, lebih baik aku tidak ikut ke sini!” sungut Mega Kencani.
Jregr!
Nenek Haus Darah membuka satu pintu batu rahasia dengan menginjak sebongkah batu sebesar kepala kambing. Maka tampaklah sebuah ruangan yang juga cukup besar untuk disebut sebagai kamar.
Ruangan itu serba merah dengan adanya tirai-tirai kain merah. Ada pula peraduan yang juga berwarna merah. Lantai itu penuh dengan taburan bunga mawar merah. Namun, harumnya mawar tidak bisa menandingi bau anyir darah yang bersumber dari sebuah kuali besar. Air merah di dalam kuali terus bergolak seperti mendidih, tetapi tanpa api dan asap.
“Masuklah!” ajak Nenek Haus Darah setelah ia masuk.
“Kau tidak bermaksud aku melayani nafsu tuamu kan, Haus Darah?” tanya Grayugantang curiga. Ia melangkah masuk.
“Cuih!” ludah Neneh Haus Darah. “Jika mengambil darahmu, mungkin iya.”
Jregr!
Pintu batu yang lebarnya satu depa, kembali menutup setelah Neneh Haus Darah menginjak satu tonjolan batu di lantai.
“Indah juga suasana kamarmu untuk seorang wanita yang mengerikan sepertimu, Haus Darah,” puji Grayugantang.
Cweetts!
Malaikat Pedang Air terkejut bukan main. Buru-buru ia berkelebat menghindar. Namun, keempat belalai sinar merah itu bisa mengikuti gerakannya dan membelit leher, kedua tangan dan satu kaki Grayugantang.
“A… apa yang kau perbuat, Haus Darah?!” teriak Grayugantang berusaha memberontak.
“Hihihi!” tawa Nenek Haus Darah. “Apa yang aku inginkan? Aku ingin bertanya dan kau harus jawab dengan jujur!”
“Tapi bukan seperti ini caranya!” kata Grayugantang sambil menahan belitan panas pada lehernya.
Keempat belalai itu mengangkat tubuh Grayugantang hingga tidak menginjak lantai.
“Apakah kau mau setia kepada aliran hitam, Gantang?” tanya Nenek Haus Darah.
“Apa yang kau tanyakan, Haus Darah? Jelas kita setia dengan jalan hidup kita sebagai golongan aliran hitam!” kata Grayugantang kesal.
“Apakah kau bersedia melaksanakan tugas utama seluruh tokoh persilatan aliran hitam?” tanya Nenek Haus Darah lagi.
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa bersedia jika aku tidak tahu apa tugas yang disepakati oleh aliran hitam?”
“Tugas itu adalah membasmi tokoh-tokoh aliran putih!” jawab Nenek Haus Darah.
“Aku bersedia, aku bersedia! Tapi, lepaskan dulu Belalai Darah-mu!” teriak Grayugantang yang sudah tidak betah dengan kondisinya.
Akhirnya Nenek Haus Darah melepaskan Grayugantang dan menarik hilang keempat belalai sinar merahnya.
“Kau ini keterlaluan, Haus Darah!” maki Grayugantang sambil memegangi lehernya yang masih merasakan panas bekas lilitan.
“Ternyata tokoh-tokoh persilatan aliran hitam wilayah timur telah melakukan pertemuan besar dan mereka sepakat untuk mengembalikan kejayaan aliran hitam. Mereka tidak mengangkat seorang pun ketua agar tidak terjadi perpecahan. Dan mereka sepakat untuk membasmi aliran putih apa pun alasannya,” jelas Nenek Haus Darah.
“Lalu?” tanya Grayugantang.
“Kau pernah dengar nama Malaikat Dewa Raja Iblis?” Nenek Haus Darah balik bertanya.
“Pernah. Tokoh sakti aliran hitam di wilayah timur yang puluhan tahun lalu pernah memporak-porandakan aliran putih. Namun, kemudian dia tiba-tiba menghilang hingga sekarang,” jawab Grayugantang.
“Malaikat Dewa Raja Iblis kini adalah raja sebuah kerajaan. Kerajaan itu bernama Kerajaan Siluman. Dialah yang menggalang pertemuan aliran hitam di wilayah timur. Setelah pertemuan itu, dialah yang bertugas menyebarkan utusan kepada tokoh-tokoh aliran hitam di wilayah lain. Dua hari lalu, seorang utusan datang menemuiku dan menyampaikan apa yang telah disepakati oleh wilayah timur,” ujar Nenek Haus Darah.
“Jika sudah membunuh tokoh-tokoh aliran putih, lalu keuntungan apa yang akan kita dapat?” tanya Grayugantang.
“Menguasai dunia. Kerajaan-kerajaan akan diambil alih dan dipimpin oleh orang-orang persilatan, bukan lagi kalangan bangsawan,” jawab Nenek Haus Darah.
“Hahaha! Itu artinya aku akan dengan mudah bisa mendapatkan perempuan-perempuan muda dan cantik!” ucap Grayugantang seraya tersenyum lebar dengan mata berbinar nafsu, menghayalkan kemesumannya.
“Tapi kau harus rahasiakan ini dari kalangan muda. Gerakan ini hanya boleh diketahui sebatas kalangan tua saja. Jangan sampai berita ini juga bocor ke tokoh aliran putih!” kata Nenek Haus Darah wanti-wanti.
“Nah, kebetulan sekali, Haus Darah,” kata Grayugantang semangat. “Seiring dengan semangat persatuan aliran hitam itu, ada orang aliran putih yang harus kita bunuh secepatnya.”
“Siapa?” tanya Nenek Haus Darah cepat.
“Murid Kunsa Pari,” jawab Grayugantang.
“Rupanya bocah itu sudah muncul lagi di wilayah ini,” ucap Nenek Haus Darah mendesis dengan tatapan menerawang tajam. “Sebenarnya aku tidak peduli dengan siapa orang yang membunuh Nenek Kerdil Raga. Namun, itu bisa aku jadikan alasan untuk menuntut nyawa kepada murid Kunsa Pari itu.”
“Benar. Aku juga harus menuntut nyawa atas kematian anakku. Sekalian kita bunuh juga orang-orang yang bersamanya,” tandas Grayugantang.
Blaarr!
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sampai mengguncang ruangan merah itu. Nenek Haus Darah dan Grayugantang terkejut.
(RH)