Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
65. Penyerangan ke Kampung Penerus


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Para prajurit wanita yang berjaga di pintu masuk ke Kampung Penerus sudah tergeletak tidak berdaya. Mereka yang jumlahnya 12 orang dilumpuhkan oleh Bidadari Seruling Kubur bersama Ginari, Kembang Buangi dan Sulasih sebagai penunjuk jalan.


Dengan kewaspadaan tinggi, keempat wanita itu berlari menyusuri jalan masuk ke Kampung Penerus. Jalan itu diapit oleh dinding batu yang diselimuti oleh tanaman menjalar yang lebat.


Tidak berapa lama, mereka tiba di mulut Kampung Penerus. Mereka melihat sebuah perkampungan dengan latar belakang dinding batu yang tinggi. Kawasan itu terkurung oleh dinding batu dan jurang yang dalam. Di lingkungan itu banyak berdiri gubuk-gubuk kayu yang disinergikan dengan bebatuan. Di tempat itu ada sumber air berupa air terjuk kecil. Selain di jalan masuk yang mereka lalui, mereka tidak melihat lagi ada tanaman di kawasan itu. Ada satu tiang batu besar yang menjulang di tengah-tengah perkampungan wanita itu.


Tampak sejumlah wanita sedang melakukan kegiatan sehari-hari di luar rumah. Ada yang menjemur pakaian, menggendong dan mengasuh anak, hingga yang berlatih ilmu keprajuritan. Sekumpulan anak-anak perempuan berusia belasan tahun tampak sudah berlatih beladiri yang dilatih oleh seorang prajurit wanita. Di sisi lain, anak-anak perempuan dan lelaki di bawah usia sepuluh tahun asik bermain di antara bebatuan. Di satu sudut yang agak jauh, asap di dapur umum mengebul ke udara. Bangunan kayu yang dijadikan dapur umum cukup besar. Banyak wanita yang bekerja di sana.


“Lihat rumah yang di atasnya ada tengkorak kepala kerbau!” tunjuk Sulasih kepada satu rumah kayu yang di atasnya dipajang tengkorak kepala kerbau. “Di sanalah para lelaki pembuah ditahan sementara.”


“Aku akan ke sana!” kata Kembang Buangi lalu langsung berkelebat di udara. Ia sudah mendapat cerita lengkap dari Sulasih tentang dugaan Hujabayat yang dijadikan lelaki pembuah bagi wanita-wanita Hutan Kabut untuk melahirkan generasi perempuan. Hati dan pikirannya sejak tadi sudah tidak tenang. Ia ingin cepat-cepat menemukan Hujabayat.


“Para lelaki pembuah dilumpuhkan dengan Tali Pemupus milik Sekara, Kepala Kampung Penerus. Di sana Sekara berada!” kata Sulasih lalu menunjuk sebuah rumah kayu besar dan lebih menonjol dari rumah-rumah biasa yang lain.


“Biar aku yang memantau keadaan!” kata Nintari lalu berkelebat cepat menuju ke tonggak batu besar yang menjulang di tengah-tengah kampung.


“Ayo! Kita bunuh Kepala Kampung!” ajak Ginari kepada Sulasih.


“Berhenti!” seru seorang prajurit wanita yang melihat kelebatan tubuh Kembang Buangi.


Kembang Buangi terpaksa harus meladeni wanita yang menghadangnya. Tidak lama, prajurit wanita berpakaian putih itu dapat dilumpuhkan oleh Kembang Buangi.


“Penyusup! Penyusup!” teriak suara wanita yang melihat kemunculan orang-orang asing.


Tong tong tong!


Seorang prajurit wanita lain yang ada di depan rumah besar yang diincar Ginari dan Sulasih memukul kentongan kayu. Tanda peringatan itu segera membuat para wanita penghuni Kampung Penerus bersiaga.


Maka bermunculanlah prajurit-prajurit wanita bersenjatakan pedang dan tombak. Satu, dua dan tiga wanita berpakaian prajurit datang menyerang Kembang Buangi di depan rumah bertengkorak kepala kerbau. Ginari dan Sulasih juga mendapat sergapan dari sejumlah prajurit. Sementara Bidadari Seruling Kubur berdiri di pucuk tonggak batu dan telah memegang serulingnya.


Anak-anak yang sedang bermain segera berlarian pulang ke rumahnya. Terlihat pula sejumlah wanita-wanita hamil yang keluar untuk melihat apa yang terjadi. Tidak hanya dua tiga yang hamil, tetapi belasan orang.


Kembang Buangi merampas pedang seorang penyerangnya lalu membunuhnya. Selanjutnya dia mengatasi tiga prajurit berpedang lainnya dengan ilmu pedangnya. Selanjutnya, Kembang Buangi melompat dengan tangan kiri mengepal menyala biru.

__ADS_1


Sess! Blar!


Selarik sinar biru melesat dari kepalan kiri Kembang Buangi menghancurkan depan rumah tahanan yang dijaga oleh dua prajurit perempuan. Kedua prajurit itu terpental dan terluka parah, sehingga tidak mampu bangkit lagi.


Kembang Buangi segera masuk ke dalam. Di dalam, si gadis mendapati empat kamar. Setiap kamar ada empat ranjang kayu. Setiap ranjang ditempati oleh seorang lelaki tanpa berbaju, tetapi bercelana panjang. Semua lelaki itu diikat kedua tangan dan kakinya. Sementara lehernya dililit tali sinar merah yang disebut Tali Pemupus.


Setibanya di depan rumah kayu besar, Sulasih dan Ginari telah dikepung enam orang prajurit wanita. Dari dalam rumah keluar seorang wanita bertubuh tidak tinggi mengenakan pakaian putih berbeda dari prajurit biasa. Usianya mungkin sepadan dengan Sulasih. Ia yang bernama Sekara, Kepala Kampung Penerus.


“Sulasih! Apa yang kau lakukan bersama orang asing?!” bentak Sekara.


“Kami ingin membebaskan kaum lelaki dari perbudakan dan menyelamatkan anak laki-lakiku. Kau pun punya seorang anak lelaki di Lembah Gelap, Sekara!” jawab Sulasih dengan lantang.


“Rupanya kau mau memberontak!” tuding Sekara.


“Aku ingin keluar dari menindasan Ratu Aswa Tara!” balas Sulasih.


“Bunuh!” perintah Sekara.


Bak!


“Hekr!”


Melihat Kepala Kampung Penerus tumbang dengan mulut penuh darah, keenam prajurit wanita yang mengepung jadi mendelik gentar. Maka Sulasih melengkapi kegentaran mereka.


“Pilih menyerah atau mati?!” bentak Sulasih kepada para prajurit itu.


Keenamnya jadi ragu-ragu dan saling pandang. Namun, bermula satu orang membuang pedangnya, kelima lainnya jadi ikut menjatuhkan pedang tanda menyerah.


Wezzz! Blaar!


Terdengar suara sesuatu yang membuat perasaan ngeri. Setengah detik kemudian, suara ledakan terdengar dari tempat lain. Ternyata Bidadari Seruling Kubur melesatkan sinar biru pipih selebar piring makan. Sinar itu menghantam bangunan kayu yang menjadi dapur umum. Satu bangunan itu hancur seketika bersama orang-orang yang ada di dalamnya tanpa pandang bulu.


Beberapa saat sebelum kematian Sekara, Kembang Buangi tidak menemukan pria yang dicarinya, yaitu Hujabayat. Kembang Buangi kecewa. Ia lalu membuka ikatan satu lelaki di ranjang.


“Aku datang untuk melepas kalian. Apakah kalian bisa bertarung?” tanya Kembang Buangi kepada keempat lelaki yang ada diranjang, sambil ia membuka ikatan tali.

__ADS_1


“Tidak, tenaga dalam kami lumpuh oleh Tali Pemupus ini,” jawab pria yang tali ikatan tangannya dilepas.


“Buka ikatan tali mereka semua!” perintah Kembang Buangi.


Lelaki yang sudah bebas itu lalu membuka ikatan tali lelaki yang lain. Kemudian keempatnya dikejutkan oleh tiba-tiba lenyapnya tali sinar merah yang melilit leher mereka.


“Tenaga dalamku kembali,” kata seorang di antara mereka sambil mengencangkan otot kedua lengannya hingga mengeluarkan hawa tenaga dalam.


“Sekara pasti sudah mati!” duga pria lainnya.


Memang benar. Matinya Kepala Kampung Penerus dengan sendirinya membuat Tali Pemupus yang membelenggu leher para lelaki di kampung itu lenyap.


“Kalian harus ikut kami untuk membebaskan para lelaki di Lembah Gelap!” kata Kembang Buangi.


“Baik!” jawab keempat lelaki itu.


“Bebaskan yang lainnya!” perintah Kembang Buangi.


Keempat lelaki itu dengan semangat pergi ke tiga kamar lainnya untuk membebaskan lelaki lainnya yang sudah bebas dari Tali Pemupus tapi belum lepas ikatan tali di kedua tangan dan kakinya.


Kembang Buangi kembali ke luar. Ternyata di luar sudah tidak terjadi pertarungan.


Setelah kematian Sekara, para prajurit wanita yang jumlahnya tidak begitu banyak karena sebagian besar pergi ke Sumur Juara, memilih menyerah. Terlebih dari atas puncak tonggak batu Bidadari Seruling Kubur mengancam akan meledakkan rumah-rumah yang dihuni wanita hamil dan anak-anak.


“Dengarkan penduduk Kampung Penerus! Jika ada yang berani melawan, akan aku hancurkan rumah-rumah kalian!” seru Nintari dengan gagah di atas sana, meski fisiknya terlihat mungil. “Ikat para prajuritnya!”


Para lelaki yang sebelumnya dijadikan sebagai penanam benih di kampung itu, segera bekerja untuk mengikat para prajurit wanita yang jumlahnya hanya belasan orang. Selebihnya adalah wanita hamil dan anak-anak. Mereka dibiarkan tetap di rumah-rumahnya.


Nintari lalu melompat turun. Tubuhnya turun laksana kapas yang jatuh, lembut mendarat di bumi.


“Siapa di antara kalian yang memiliki kesaktian di atas para prajurit wanita itu?” tanya Nintari.


Separuh dari keenam belas lelaki yang ada segera tunjuk tangan.


“Kalian berjaga di sini. Sebab Kerajaan Hutan Kabut sebentar lagi runtuh. Yang lain ikut kami ke Lembah Gelap!” perintah Nintari.

__ADS_1


“Kakang Hujabayat tidak ada di sini,” kata Kembang Buangi kepada Ginari.


“Mungkin dia sudah dikirim ke Lembah Gelap,” kata Sulasih. (RH)


__ADS_2