Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
78. Hancurnya Istana Haram


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


 


Pertaruhan nyawa yang diancamkan Kaisar kepada Jenderal Mok Jueng membuat pria berkumis itu mengerahkan semua sumber dayanya. Biro Mata Putih yang berada di bawah perintahnya dipaksa mengerahkan semua agennya untuk mencari informasi dan menyelidiki semua sudut Ibu Kota di luar istana, khususnya di lokasi tempat terjadinya penyerangan terhadap Putri Yuo Kai. Para prajurit dikerahkan semua untuk memeriksa identitas setiap manusia yang tinggal dan berada di Ibu Kota. Semua rumah dan tempat usaha diperiksa untuk menemukan orang dan menanyakan bukti identitasnya. Semua mayat penjahat yang mati diperiksa dan dicari tahu identitasnya.


Hasilnya, setiap orang yang tidak bisa menunjukkan identitasnya secara jelas akan langsung dibawa ke penjara. Ibu Kota He memiliki sistem kependudukan yang rapi. Seharusnya setiap orang yang ada di kota itu memiliki identitas yang jelas, apakah dia warga Ibu Kota, tamu, atau pengusaha yang sedang datang berbisnis.


Tindakan tegas para petugas yang dikejar oleh batas waktu menimbulkan kericuhan di hampir semua sisi Ibu Kota di luar istana. Kepanikan pun tercipta di kalangan warga dan pelaku bisnis.


Rumah para bangsawan dan pejabat kerajaan tidak luput dari tindakan pemeriksaan. Tidak jarang ketegangan adu mulut terjadi antara mereka dengan para petugas yang berani karena bermodalkan perintah dari Jenderal Mok Jueng atas perintah Kaisar.


Bagi Jenderal Mok Jeung, lebih baik ia berurusan dengan sesama pejabat daripada besok pagi dia digantung di alun-alun. Penjahat yang mengincar nyawa Putri Kai nilai kegawatannya sama dengan mengincar nyawa Kaisar. Bahkan pada satu kondisi tertentu, terkadang Putri Kai lebih memiliki otoritas dibandingkan ayahnya.


Peristiwa penyerangan itu benar-benar membuat para petugas dan pejabat yang bertanggung jawab terhadap keamanan Ibu Kota dan Istana dibuat sibuk dan tidak ada waktu untuk istirahat di kala hari menjelang senja itu. Warga Ibu Kota pun dibuat resah dan kacau oleh kerja para petugas yang tidak lagi ramah dan lembut. Sejumlah bisnis ilegal terpaksa tiarap sementara dan menahan napas demi keberlangsungan nyawanya.


Sepulang di Istana Haram, Putri Yuo Kai langsung menuju kamarnya. Ia membuka sebuah laci di bawah ranjang tempat tidurnya yang berhias kelambu berwarna merah transparan berlapis. Dari dalam laci ia mengambil sebuah kotak kuning seukuran dua telapak tangan.


Tek!


Cara membuka kotak itu ternyata dengan menarik kedua bagiannya ke kanan dan ke kiri sehingga terbelah di bagian tengah. Kotak itu terus ditarik hingga putus. Ternyata di bagian tengahnya ada lempengan logam berwarna hitam mengkilap berbentuk lingkaran ular hitam yang berpola angka delapan.

__ADS_1


Kepingan logam ular itu cukup untuk dipegang dengan satu telapak tangan. Putri Kai meletakkan kotaknya dan memberikan logam lencananya kepada Bo Fei.


“Tunjukkan Lencana Ular ini kepada Ular Buta. Berangkatlah setelah matahari terbenam!” perintah Putri Kai, mengulangi perintah sebelumnya.


“Baik, Yang Mulia,” kata Bo Fei patuh.


Yi Liun datang mendekat. Lalu lapornya, “Ruang mandi sudah siap, Yang Mulia.”


Selain terus sering berlatih dan meningkatkan kesaktiannya, salah satu kesukaan Putri Kai adalah mandi. Meski sebelum berangkat ke luar istana sang putri sudah mandi, tetap ia akan mandi sepulang dari berpergian. Jika Yi Liun bertugas menyiapkan air baru dengan taburan bebungaan, maka Mai Cui bertugas melepas pakaian dan perhiasan tuan putrinya.


Putri Kai memilih melepas pakaiannya di dalam kamar pemandian. Mai Cui hanya bertugas melepas pakaian luar saja, adapun melepas pakaian dalam dilakukan oleh sang putri sendiri. Lalu masuk ke air untuk berendam. Sebelum Putri melepas seluruh pakaiannya, Mai Cui sudah pergi keluar dan menutup pintu kamar pemandian dengan rapat.


Bruakr!


Betapa terkejutnya Putri Yuo Kai yang sedang asik merendam tubuh di dalam air. Begitu pula dengan Bo Fei yang terpental keras. Mai Cui dan Yi Liun juga terlempar. Pengawal Angsa Merah yang berada di ruang depan bergerak gesit melindungi diri dari hantaman balok kayu atau benda-benda lainnya.


Atap Istana Haram, tepat di atas kamar pemandian Putri Kai, ambruk sekejap mata karena ada satu benda bersinar kuning emas yang jatuh menghantamnya dari atas. Hantaman itu begitu keras hingga merusak sebagian besar atap Istana Haram. Benda yang jatuh itupun langsung ke tengah kolam, membuat seluruh dinding terdorong keras dan terbongkar berantakan. Air pemandian terlempar ke segala arah membasahi seluruh kamar sang putri.


“Yang Mulia!” teriak Bo Fei cepat, saat tersadar dari jatuhnya yang terpental sampai ke luar kamar.


“Yang Mulia Putri!” teriak Mai Cui dan Yi Liun. Keduanya cepat bangkit seraya mengerenyit menahan sakit. Dahi Yi Liun tampak berdarah akibat membentur tiang kayu yang kini berdiri miring.

__ADS_1


Ke-12 Pengawal Angsa Merah dan pengawal lainnya di istana keputrian itu segera berdatangan dengan wajah panik bercampur bingung. Meski mereka tidak tahu apa yang terjadi, hal pertama yang mereka pikirkan adalah keselamatan tuan putri mereka.


Di dalam kebingungan dan masih terbawa dalam keterkejutan, mereka sedikit bernafas lega. Mereka melihat Putri Yuo Kai berdiri agak jauh dari kolam dalam kondisi hanya berbalut satu lapis pakaian ganti.


Ketika benda asing itu jatuh keras menjebol atap istana dan tepat jatuh ke kolam, Putri Kai spontan melompat keluar dari dalam air dan langsung menyambar pakaian yang ada untuk menutupi kepolosan tubuhnya. Pengerahan tenaga dalam yang tinggi membuat dirinya terlindung dari hantaman kehancuran.


Suara jatuh itu begitu keras, hingga terdengar ke seantero Istana Kekaisaran Jang. Kaisar Tsaw yang sedang berbicara kepada beberapa orang menterinya, seketika berhenti berkata seraya memandang para menteri yang juga terkejut mendengar suara yang keras tapi terdengar agak jauh.


Putri Kai dan para pengawalnya memandang ke kolam yang sudah kering karena seluruh airnya terlempar jauh. Dasar kolam yang keras tampak amblas menjadi lebih dalam.


“Angsa Merah, berjagalah di luar! Jangan biarkan ada seorang pun prajurit Istana Kekaisaran atau perwira datang masuk ke Istana Haram ini!” perintah Putri Kai dengan wajah menegang.


“Baik, Yang Mulia!” jawab patuh para prajurit elit sang putri tersebut.


Seluruh personel Pengawal Angsa Merah segera bergerak pergi untuk melakukan penjagaan di luar tembok istana keputrian itu. Itu menunjukkan bahwa Putri Kai memandang peristiwa aneh dan dahsyat itu sangat perlu dirahasiakan, meski belum jelas apa sebenarnya yang terjadi.


Putri Kai yang didampingi Bo Fei melangkah perlahan untuk melihat lebih jelas, benda apa yang menghancurkan Istana Haram itu.


“Manusia?” kejut Putri Kai berucap lirih. (RH)


 

__ADS_1


__ADS_2