
*Cincin Darah Suci*
Seorang prajurit wanita kembali muncul di pintu dan masuk lalu menghormat dengan berlutut.
“Yang Mulia Putri, Nona Su Rai dari Teratai Nirwana ingin menghadap,” lapor prajurit wanita itu.
Mendengar laporan itu, Putri Yuo Kai segera bangun dari duduknya dan melangkah pergi.
Di ruang depan, telah berdiri menunggu seorang wanita cantik berpakaian serba putih dan bermantel putih. Gadis cantik bertahi lalat di dagu kirinya itu segera turun berlutut dan menghormat ketika Putri Yuo Kai dan bawahannya tiba di depannya. Ia adalah Su Rai alias Ular Putih, kakak dari Su Mai.
“Hormat hamba, Yang Mulia,” ucap Su Rai.
“Bangunlah!” perintah Putri Yuo Kai.
Su Rai bergerak bangkit.
“Pesan penting apa yang kau bawa sehingga tanpa aku panggil kau datang? Apakah terkait kelompok di belakang orang-orang yang menyerangku?” tanya Putri Yuo Kai.
“Bukan. Untuk itu, aku yakin bahwa Yang Mulia Putri sudah mengetahuinya bahwa Kelompok Hutan Timur berada di balik penyerangan di hari kemarin, termasuk penyerangan di parit selatan. Aku datang membawa pesan dari orang-orang Jaringan Ular Tanah yang ada di Negeri Lor We....”
“Apa?” tanya Putri Yuo Kai memotong.
“Mungkin ini ada hubungannya dengan Pendekar Joko. Agen Jaringan Ular Tanah yang ada di dalam Pasukan Perbatasan Timur Negeri Lor We, menyaksikan langsung dua orang perempuan jatuh dari langit. Mereka berbahasa asing yang tidak dimengerti oleh siapa pun,” ujar Su Rai.
Terlukis raut keterkejutan menghiasi wajah cantik Putri Yuo Kai.
“Dua perempuan jatuh dari langit,” ucap Putri Yuo Kai lirih. “Mereka pasti calon istri dan sahabat Joko.”
“Satu hal lagi, Yang Mulia Putri,” kata Su Rai.
“Katakanlah!”
“Saat ini, Kaisar Young See Fou sedang ditumbangkan oleh Putra Mahkota Pangeran Young Tua,” ujar Su Rai.
“Apa?!” kejut Putri Yuo Kai. “Itu artinya perbatasan timur kita akan terancam. Berarti kerajaan yang berada di belakang kekacauan di Ibu Kota adalah Negeri Lor We!”
Putri Yuo Kai menunjukkan kemarahannya dalam ekspresi wajah cantiknya yang terlihat menegang.
“Jika tidak ada hal Yang Mulia ingin sampaikan lagi, hamba mohon undur diri,” kata Su Rai.
“Sampaikan kepada Ular Buta. Cari tahu tentang hal yang bernama Permata Darah Suci!” perintah Putri Yuo Kai, kemarahannya yang terpendam perlahan luntur.
“Baik, Yang Mulia. Hamba mohon undur diri,” ucap Su Rai lalu menjura hormat secukupnya dan mundur sejauh beberapa langkah lalu berbalik.
“Yi Liun!” panggil Putri Yuo Kai.
“Hamba, Yang Mulia Putri,” sahut Yi Liun.
__ADS_1
“Kirimkan hadiah untuk Nona Su!” perintah sang putri.
“Baik, Yang Mulia,” ucap Yi Liun. Ia lalu beranjak pergi menuju ke kamar Putri Yuo Kai. Ia sudah tahu jenis hadiah apa yang harus dikirim untuk Su Rai.
“Bo Fei, bawa semua Pengawal Angsa Merah ke Paviliun Hijau!” perintah Putri Yuo Kai lagi.
“Baik, Yang Mulia.”
Maka, saat itu juga, Putri Yuo Kai dengan dikawal oleh Bo Fei, Mai Cui, dan ke-12 Pengawal Angsa Merah pergi ke Paviliun Hijau, tempat Joko Tenang beristirahat.
Dibawanya semua personel Pengawal Angsa Merah ke Paviliun Hijau menunjukkan bahwa Putri Yuo Kai akan melakukan satu hal yang sangat serius.
“Yang Mulia Putri Yuo Kai tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu di Paviliun Hijau.
Lo Yoh yang selalu berdiri berjaga di dekat kamar Joko segera datang menyambut. Su Mai yang sedang duduk membaca buku di kursi juga segera meletakkan bukunya di meja. Ia segera melangkah ke depan, seiring masuknya Putri Yuo Kai.
“Hormat hamba, Yang Mulia Putri!” ucap Su Mai dan Lo Yoh bersamaan seraya turun berlutut.
“Bangunlah!” perintah sang putri.
Kedua abdi itu bergerak bangkit berdiri.
Putri Yuo Kai masuk bersama Bo Fei dan Mai Cui. Tidak terlihat keberadaan 12 personel Pengawal Angsa Merah.
“Di mana Joko?” tanya sang putri.
Putri Yuo Kai melangkah ke arah kamar. Ketika tiba beberapa langkah dari pintu kamar yang tertutup, Putri Yuo Kai berhenti.
“Tenaga sakti yang tinggi,” ucap Putri Yuo Kai dalam hati.
Bo Fei yang juga merupakan orang berkepandaian, dapat merasakan adanya energi tenaga dalam yang tinggi sedang terkerahkan dari dalam kamar.
Putri Yuo Kai melanjutkan langkahnya hingga berhenti tepat di depan pintu.
Tok tok tok!
Tiga ketokan Putri Yuo Kai lakukan di pintu kamar. Setelah menunggu sejenak, tidak ada tanggapan atau reaksi yang terdengar dari dalam kamar.
Tok tok tok!
Putri Yuo Kai kembali mengetuk. Namun, hasilnya tetap sama.
Clek!
Putri Yuo Kai memutuskan mendorong daun pintu kamar yang ternyata tidak dikunci.
Dari posisinya, Putri Yuo Kai dapat melihat keberadaan Joko Tenang yang sedang duduk bersila di lantai. Joko sedang bersemadi, duduk diam dengan sepasang mata tertutup, sementara pernapasannya bermain teratur.
__ADS_1
Putri Yuo Kai melangkah masuk dan langsung mendekat ke arah Joko Tenang. Namun, sang putri harus berhenti karena ada tenaga dalam yang menahan langkahnya sehingga tidak bisa maju lagi. Sang putri tertahan dalam jarak lima langkah dari tubuh Joko Tenang.
Dak!
Kaki kanan Putri Yuo Kai menghentak ke lantai. Itu jejakan bertenaga dalam tinggi.
Satu aliran tenaga menjalar menerobos pagar tenaga dalam Joko Tenang. Tubuh Joko Tenang tiba-tiba terpental berguling di udara lalu jatuh mendarat halus di sudut ruangan.
Joko Tenang sudah membuka matanya. Ia berdiri santai seraya tersenyum manis kepada Putri Yuo Kai. Namun, sang putri tidak mengindahkan senyuman manis yang sebenarnya menggetarkan hatinya itu.
Putri Yuo Kai berbalik tanpa ekspresi dan melangkah keluar kamar. Bo Fei dan Mai Cui mengikuti.
Joko Tenang mendelik melihat reaksi wanita berkulit putih bersih itu.
“Apa yang salah?” tanya Joko dalam hati. Ia memendam rasa heran.
Joko Tenang memutuskan untuk mengejar putri itu pergi ke luar rumah.
“Yang Mulia Putri!” panggil Joko sambil berjalan sewajarnya. Namun, Putri Yuo Kai tidak berhenti.
Dalam langkahnya itu, Joko Tenang dapat mendengar ada banyak degub jantung manusia selain dari yang terlihat. Joko mengetahui bahwa degub-degub jantung itu ada di atas atap paviliun.
Su Mai dan Lo Yoh hanya diam, tidak mengerti menyaksikan Joko mengejar Putri Yui Kai hingga ke halaman depan paviliyun.
Di halaman paviliyun, Putri Yuo Kai berhenti dan berbalik. Hal itu membuat Joko Tenang otomatis berhenti dalam jarak empat langkah. Keduanya saling berhadapan. Namun kali ini, kedinginan yang ditunjukkan oleh Putri Yuo Kai menciptakan suasana yang agak tegang.
“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Joko Tenang.
Su Mai segera datang mendekat dan berhenti dalam jarak terbatas dari Joko. Ia kemudian menerjemahkan pertanyaan Joko kepada sang putri.
“Aku punya kabar yang mungkin itu tentang calon istrimu,” jawab Putri Yuo Kai.
Tersenyum lebar wajah Joko Tenang ketika Su Mai menerjemahkan jawab Putri Yuo Kai.
“Benarkah? Katakan, berita apa yang kau bawa!” kata Joko sumringah.
Su Mai menerjemahkan.
“Tapi ada satu hal yang ingin aku ketahui darimu, Joko,” kata Putri Yuo Kai.
Setelah Su Mai menerjemahkan perkataan Putri Yuo Kai, sang putri langsung melayang mundur.
Saat itu pula, dari sisi atas, enam sosok wanita berpakaian merah melayang turun mengurung posisi Joko. Su Mai segera bereaksi dengan melompat mundur menjauh, ia tidak mau terlibat dalah hal yang tidak ia ketahui duduk perkaranya.
Setelah mendarat, keenam wanita itu merangsek maju bersamaan untuk menjepit posisi Joko dalam jarak kurang dari empat langkah.
Joko Tenang langsung memilih melejit naik lurus ke atas. Namun, enam wanita berpakaian merah lain muncul pula di udara untuk menutup gerak Joko dari atas. Tidak ada jalan lain bagi Joko untuk menghindar. (RH)
__ADS_1