
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Sinar ungu yang seperti air bah dilesatkan oleh Ratu Ginari, lalu bertemu dengan gelombang sinar hijau Getara Cinta di pertengahan jarak.
Krekr!
Yang terjadi adalah sinar hijau langsung melahap sinar ungu. Sinar kesaktian Roh Langit Tujuh dengan cepat membeku di udara dan terus menjalar sampai ke tangan Ratu Ginari. Pembekuan itu menjalar dan bekerja dengan cepat. Lapisan es tebal dengan cepat mengkristal keras membekukan tubuh Ratu Ginari.
Getara Cinta sudah semakin lihai dalam mengendalikan tenaga es dari Permata Darah Suci.
Bress!
Melihat apa yang terjadi di depan sana, Tirana menyimpulkan bahwa sekaranglah waktu yang tepat. Ia melepaskan sinar merah berbentuk jaring laba-laba.
Kerling Sukma yang sudah menunggu pula, cepat melesat masuk ke dalam jaring laba-laba. Seiring lenyapnya jaring laba-laba itu, muncul sinar merah jaring laba-laba di tempat yang jauh, yaitu tepat beberapa tombak di atas kepala Ratu Ginari.
Ratu Ginari benar-benar dibuat tidak berkutik dalam selimutan lapisan es tebal.
Jersss!
“Aaak…!”
Dari dalam ilmu Lorong Laba-Laba melesat turun tubuh Kerling Sukma dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Pada ujung jari tangan kanannya telah bercokol sinar biru menyilaukan. Itu bukan ilmu Jari Surga, tetapi itu ilmu Jari Pemusnah.
Jari bersinar itu menusuk tepat pada ubun-ubun Ratu Ginari. Maka sinar biru langsung menusuk masuk. Ratu Ginari yang sedang membeku, menjerit melengking tinggi.
Blep!
Tiba-tiba ada ledakan cahaya biru dari dalam tubuh Ratu Ginari tanpa merusak lapisan es yang menyegelnya.
“Berhasil, Ratu!” seru Kerling Sukma dengan nada suara bergetar, karena dia juga kedinginan.
Getara Cinta lalu mengendalikan tenaga esnya agar kembali mencair. Ia ganti mengerahkan tenaga panas.
Kerling Sukma melambaikan tangan kepada Joko Tenang dan yang lainnya, sebagai tanda bahwa rencana mereka berhasil.
Mereka segera beramai-ramai pergi mendatangi posisi ketiga wanita jelita itu.
__ADS_1
Setibanya di sana, mereka melihat kondisi Ratu Ginari berdiri dalam selimut lapisan es yang mulai mencair. Ratu Ginari tidak mati. Ia berdiri tersegel dengan tatapan mata yang lurus tapi kosong.
“Ginari!” panggil Joko Tenang saat berada di depan Ratu Ginari.
Namun, Ratu Ginari hanya diam, tidak menyahut dan tidak memandang. Bahkan ketika Joko Tenang memasang wajahnya di depan wajah wanita itu, pandangannya tidak terlihat memandang wajah Joko Tenang, tetapi memandang tembus jauh ke belakang.
“Apa yang terjadi?” tanya Joko Tenang, entah ditujukan kepada siapa.
“Kesaktiannya telah musnah oleh Jari Pemusnah Dewi Mata Hijau. Jiwa dan pikirannya kini kosong. Ia menjadi seperti mayat hidup,” jawab Nara.
“Apa?!” kejut Joko Tenang.
“Kakang, aku rasa ini adalah hasil terbaik yang kita berikan kepada Ginari,” kata Tirana lebih bijak.
Joko Tenang diam terpaku menatap Ginari. Dalam dadanya muncul kesedihan, tetapi ia tidak akan meluapkan kesedihannya di depan para istrinya.
Hingga akhirnya, lapisan es tebal yang menyegel tubuh Ratu Ginari telah mencair semua. Ginari jatuh, seolah tidak kuat berdiri. Joko Tenang cepat menahan tubuh Ratu Ginari yang dingin dan basah kuyup oleh es.
“Ayah, coba tanyakan kepada pemimpin pasukan itu, kenapa mereka belum juga pergi, padahal ratunya sudah takluk. Katakan kepada mereka, jika mereka ingin membalas kekalahannya, suruh mereka datang ke Kerajaan Sanggana Kecil!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Yang Mulia Pangeran!” ucap Turung Gali patuh.
Turung Gali pergi mendatangi seorang prajurit yang berpenampilan perwira. Ia duduk di atas kudanya. Posisinya dalam barisan pasukan Kerajaan Balilitan menunjukkan bahwa dia adalah pemimpin pasukan itu.
“Siapa pemimpin pasukan ini?” tanya Turung Gali setibanya di depan ribuan pasukan itu.
“Aku, Senopati Langgapati!” sahut perwira berkuda itu.
“Ratu kalian telah takluk, raja kalian telah mati. Apalagi yang kau tunggu, Senopati?” tanya Turung Gali.
“Kami akan kembali pulang ke Kerajaan Balilitan. Namun, kami ingin tahu siapa yang telah mengalahkan kami,” kata Senopati Langgapati, lelaki gagah yang menderita satu luka sayatan di dadanya.
“Dengarkan aku! Raja kalian telah dirasuki kekuatan jahat Kalung Tujuh Roh yang pernah menghidupkannya….”
“Dari mana kau tahu bahwa Gusti Prabu Galang Madra pernah mati? Hanya beberapa orang yang tahu bahwa Gusti Prabu pernah hidup kembali dari matinya,” kata Senopati Langgapati.
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan hal itu. Namun ketahuilah, kami adalah orang-orang Kerajaan Sanggana Kecil di utara Gunung Prabu. Jika kalian ingin menuntut balas, kalian bisa datang menyerang kami. Kami akan menyambut pasukan kalian!” ujar Turung Gali.
“Baiklah!” kata Senopati Langgapati. Ia lalu mengangkat tangann kanannya memberi tanda kepada pasukannya.
__ADS_1
Senopati Langgapati lalu menggebah pelan kudanya meninggalkan tempatnya. Pergerakan Senopati membuat para pemimpin pasukan segera memberi aba-aba untuk mulai bergerak. Meski mereka bergerak pergi, tetapi ada sebanyak seribu pasukan yang diperintahkan untuk mengevakuasi para prajurit yang mati dan terluka. Mereka nantinya akan kembali setelah tugas mereka selesai.
Sementara jasad Raja Galang Madra sudah mereka bawa.
“Guru, akhirnya kau kembali,” ucap Kerling Sukma kepada Nara.
“Sudah aku ingatkan, jangan panggil aku guru lagi, Mata Hijau!” hardik Nara, tetapi nadanya datar. “Panggil saja aku Mata Hati.”
“Apakah kau akan ikut bersama kami ke Sanggana Kecil, Nara?” tanya Joko Tenang.
“Iya. Mungkin sudah waktunya aku bermanja diri dengan kemewahan sebuah istana. Aku sudah berpikir dalam-dalam dan menimbang. Aku harus mengakui bahwa sudah kehendak Sang Dewata aku menjadi istrimu dan berbagi suami dengan muridku sendiri,” jawab Nara.
Joko Tenang tersenyum mendengar jawaban istri tuanya itu.
“Jangan tersenyum seperti itu!” hardik Nara yang membuat Joko Tenang mendelik seketika. “Kau terluka parah, Kakang. Biar aku obati.”
Sementara Ginari terduduk diam bersandar pada bongkahan batu, seolah tanpa roh.
“Kalian jauh-jauhlah! Ini giliran aku bersama dengan suamiku!” kata Nara kepada wanita lain yang berkumpul di sekitar mereka.
Tirana, Getara Cinta, dan Kerling Sukma hanya tersenyum. Mereka tidak tersinggung sedikit pun atas sikap Nara, mereka justru bahagia. Kembalinya istri tersakti suami mereka jelas akan semakin memperkuat kelompok mereka dan komunitas Kerajaan Sanggana Kecil nantinya. Jikapun nanti Dewi Mata Hati menghendaki kedudukan ratu di kerajaan, maka mereka pun tidak akan keberatan.
Di saat mereka dalam upaya pemulihan, para prajurit Kerajaan Balilitan juga bekerja mengurusi mayat-mayat prajurit pasukannya.
Pada kesempatan itu, Dewi Mata Hati harus menguras cukup banyak energi untuk mengobati Joko Tenang serta para istri dan calon istrinya. Sementara pendekar lainnya tidak menjadi urusannya.
“Bagaimana dengan Ginari, Kakang?” tanya Kerling Sukma.
“Tirana akan merawatnya. Semoga dengan menanamkan kenangan baik bisa membantunya pulih sebagai seorang manusia,” jawab Joko Tenang.
Akhirnya Joko Tenang dan para istrinya melanjutkan perjalanan menuju Gunung Prabu. Mereka pergi dengan kepala tegak. Mereka baru saja melalui pertempuran besar dan masa-masa tersulit. Namun, kuatnya persatuan para istri dan calon istri, didukung oleh para abdi yang setia, mereka bisa saling menguatkan meraih kemenangan itu. Kerling Sukma justru mendapat kesaktian baru, yaitu Roh Langit Empat.
Kehadiran Dewi Mata Hati membuat Sandaria semakin senang. Sebagai wanita yang sama-sama tanpa penglihatan, kedua wanita itu memeiliki keterikatan khusus.
Lalu tantangan dan permasalahan apa lagi yang akan dijumpai oleh Joko Tenang dan para istri saktinya ke depannya? Jawabannya tetap hanya ada di cerita ini. (RH)
***********
Season "Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)" yang cukup menguras energi dan pikiran Author telah berakhir. Season baru berjudul "Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)" akan dimulai di chapter berikutnya.
__ADS_1