Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC15: Memeriksa Alam Gaib


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*


Pagi yang cerah. Rombongan Putri Sri Rahayu dan Joko Tenang harus berpisah, meski katanya mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu Kerajaan Tarumasaga. Hanya saja, katanya, rombongan Putri Sri Rahayu hanya sebatas Kuthanegara, tidak sampai ke istana.


Gulung Lidah sebenarnya ingin ikut rombongan Joko Tenang, karena ia ingin selalu dekat dengan Tirana.


“Jangan genit, apalagi menggoda calon istri orang!” hardik Putri Sri Rahayu ketika Gulung Lidah meminta izin kepada junjungannya.


“Kan bababa... baru cacaca... calon,” ucap Gulung Lidah lirih, tertunduk merengut.


Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi tidak mau membuang waktu, mereka berangkat lebih dulu. Menggunakan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi membuat mereka seperti menghilang dari tempatnya berdiri.


Putri Sri Rahayu, Gulung Lidah dan Sabdo Bumi hanya memandangi kepergian kenalan baru mereka.


“Siluman Mata Setan, keluarlah!” seru Putri Sri Rahayu agak kencang. Ia sudah duduk di bilik keretanya.


Tiba-tiba tidak jauh di sisi kereta kuda itu muncul sesosok lelaki bertubuh bonsai. Ia muncul begitu saja seperti setan. Tingginya hanya setinggi roda kereta. Rambutnya panjang sebokong, tetapi dikepang tunggal seperti perempuan. Ia mengenakan pakaian abu-abu dengan sabuk putih. Di pinggang kanannya ada menggantung sebuah kantong kain sebesar genggaman berwarna hitam. Kantong itu diisi oleh sesuatu.


Orang cebol itu segera berlutut satu kaki mengarah kepada dalam kereta.


“Hormat hamba, Bidadari!” ucap si cebol.


“Siluman Mata Setan, pergilah dan pantau selalu Joko Tenang!” perintah Putri Sri Rahayu.


“Baik, Bidadari,” ucap lelaki cebol yang disebut Siluman Mata Setan, meski tidak ada yang aneh dengan matanya.


“Ingat, jangan terlalu dekat. Pancaindera Joko sangat tajam. Dan jangan sekali-kali kau memperlihatkan wujudmu di matanya. Jangan juga kau merasa aman dari penglihatannya. Sepertinya dia bisa melihatku saat aku berada di alam gaib,” kata Putri Sri Rahayu wanti-wanti.


“Baik, Bidadari.”


“Berangkatlah!” perintah Putri Sri Rahayu.


“Baik, Bidadari,” ucap Siluman Mata Setan patuh.


Namun, sebelum lelaki bonsai itu pergi, Gulung Lidah cepat-cepat menahannya.

__ADS_1


“Tututu... tunggu, Mata Sesese... Setan!” seru Gulung Lidah.


“Ada apa?” tanya Siluman Mata Setan.


“Kau jajaja... jangan memantau Tititi... Tirana, tapi papapa... pantau Joko!” tandas Gulung Lidah mengingatkan.


“Perintahmu tidak berlaku kepadaku!” kata Siluman Mata Setan sambil mendelikkan matanya.


“Kau...!” umpatan Siluman Gagap terhenti karena Siluman Mata Setan sudah menghilang seperti hantu. Menghilang tanpa melangkahkan kaki.


Sementara itu di dalam perjalanannya, setelah satu jam lamanya meninggalkan kaki bukit tempat mereka bermalam, Joko Tenang mendadak berhenti melesat saat mereka tiba di sebuah lembah. Tirana dan Kembang Buangi mengikuti.


“Ada apa, Kakang?” tanya Tirana.


“Sebentar,” kata Joko Tenang.


Joko lalu berdiri. Ia menghirup napas dalam-dalam dan mengumpulkannya di perut. Selanjutnya ia genggam kuat kedua tangannya dengan tenaga dalam. Tiba-tiba raga Joko Tenang hilang dari pandangan Tirana dan Kembang Buangi.


Kedua wanita itu tahu bahwa Joko sedang mengerahkan ilmu Merah Raga pemberian Minati Sekar Arum.


Ia yakin bahwa itu adalah masyarakat jin yang memiliki dunia sendiri, berbeda dan terpisah dari dunia manusia. Ada makhluk berwujud tinggi besar berkulit merah semua seperti kepiting rebus, posisinya paling dekat dengan Joko. Namun, makhluk itu seperti tidak melihat keberadaan Joko Tenang.


Joko Tenang mengedarkan pandangannya, ia mencari seseorang. Namun, setelah agak lama mencari, ia tidak menemukan hal yang dicurigainya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menggenggam kembali kedua tangannya sendiri. Joko kembali muncul di hadapan Tirana dan Kembang Buangi.


Seperginya Joko Tenang dari alam gaib, dari balik sebuah pohon di alam gaib muncul kepala milik Siluman Mata Setan.


“Benar, Joko bisa masuk ke alam gaib,” ucap Siluman Mata Setan kepada dirinya sendiri.


Posisi persembunyian Siluman Mata Setan agak jauh dari posisi Joko Tenang dan kedua gadisnya. Siluman Mata Setan tidak mau suara detak jantungnya terdengar oleh Joko.


“Bukankah bukan waktunya untuk menjajal ilmu, Joko?” tanya Kembang Buangi.


“Ketika kemarin siang aku menjajal ilmu Merah Raga di depan para guru, aku melihat sejumlah makhluk gaib di alamnya. Salah satu yang aku lihat adalah Putri Sri Rahayu. Hanya saja waktu itu, ia melayang di udara menggunakan asap merah seperti kumpulan awan,” jelas Joko.


“Maksud Kakang, Putri Sri Rahayu bukan tanpa sengaja bertemu dengan kita, tetapi sengaja mengikuti kita?” terka Tirana.

__ADS_1


“Iya.”


“Berarti putri itu bukan manusia? Aku jadi merinding,” terka Kembang Buangi.


“Mungkin, sebab tubuhnya beracun. Seberbisanya binatang, pasti memiliki anggota tubuh yang tidak beracun,” kata Joko. “Tadi aku mencari, apakah Putri Sri Rahayu itu mengikuti kita melalui alam gaib, tapi aku tidak menemukannya.”


“Kita harus waspada, meskipun kita tidak memiliki masalah dengannya,” kata Tirana.


“Ayo, kita langsung ke Kuthanegara dan jangan beristirahat lagi. Kita langsung menyerang istana!” kata Joko Tenang.


Kedua gadis itu hanya mengangguk. Joko Tenang lalu kembali memimpin perjalanan ekspress itu.


Sementara itu di Kadipaten Rebaklaga, tepatnya tidak jauh dari rumah adipati yang kini dihuni oleh Arjuna Tandang. Ginari menggeser pelepah kelapa yang menutupi dirinya sejak semalam. Saat ini ia benar-benar lemah. Ia meringis menahan rasa lapar. Kini ia berada di sebuah kebun yang tepat ada di belakang rumah adipati.


Tadi malam, berulang kali orang-orang Kelompok Pedang Angin lewat di dekat tubuhnya yang tertutup pelepah kelapa kering. Gelapnya malam dan pakaian serba hitam yang dikenakannya membantu Ginari tidak mudah terlihat.


Ginari mempercayai perkataan Arjuna Tandang tentang Racun Ikatan Seratus Langkah yang ditanamkan di dalam tubuhnya. Karena itu, Ginari tidak berani sembrono dengan pergi jauh dari sosok orang jahat pemuja cinta itu.


Hingga pagi, orang-orang Kelompok Pedang Angin masih melakukan pencarian besar-besaran. Pencarian bahkan diperluas ke lingkungan kadipaten yang ramai penduduk dan aktivitas perputaran ekonominya, meski itu sudah lebih seratus langkah dari posisi Arjuna Tandang.


Sementara Arjuna Tandang tidak bisa tidur semalaman. Ia gelisah. Ia sangat takut jika Ginari nekat pergi melewati seratus langkah, yang akan membunuh gadis jelita itu.


Terangnya alam membuat Ginari bisa melihat pohon-pohon apa saja yang tumbuh di kebun itu. Ia mencari sumber makanan yang sedang berbuah. Dilihatnya ada pohon jambu air, tetapi buahnya masih hijau-hijau, belum matang. Sebenarnya buah kelapa banyak, tetapi proses untuk memakannya tidak semudah jambu.


Sambil tetap merunduk di balik rumput yang setinggi lutut, Ginari memantau sejenak ke sekeliling. Ia melihat ada dua penjaga Kelompok Pedang Angin di dekat pintu belakang kediaman adipati yang dikelilingi tembok pagar.


Jarak yang cukup jauh membuat Ginari bisa dengan mudah merayap ke bawah pohon kelapa. Ginari mengambil posisi di belakang pohon jika dilihat dari posisi kedua penjaga.


Dengan tanaga yang masih ada, Ginari dengan cepat memanjati pohon kelapa, lebih cepat dari panjatan seekor bajing. Sesampainya di atas, Ginari langsung melesat terbang seperti burung dan hinggap di dahan besar pohon jambu.


Kelebihan Ginari dibandingkan dengan para pendekar lain adalah bisa terbang seperti burung di udara. Bahkan lebih hebat dari burung, ia bisa mengambang diam di udara. Kelihaiannya bermain di udara membuat ia dijuluki Pendekar Tikus Langit.


Dengan ilmu peringan tubuhnya, Ginari bisa bergerak bebas di atas pohon jambu tanpa menimbulkan suara berisik.


“Apa boleh buat,” ucap Ginari ketika baru mulai memakan buah jambu yang masih terbilang muda dan rasanya sepat. (RH)

__ADS_1


__ADS_2