Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 19: Rahasia Kalung Tujuh Roh


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


“Tidak usah dipermasalahkan. Hal yang biasa jika seorang lelaki memiliki istri banyak. Masih untung Joko Tenang adalah seorang pangeran, seandainya ia seorang raja, maka istrinya bisa sampai seratus orang,” ujar Pendekar Seribu Tapak, mencoba meredam keterkejutan para calon istri Joko Tenang setelah mendengar ramalah tentang jumlah istri suami mereka kelak.


“Tepatnya berapa jumlah istri Kakang Joko, Kakek Ganteng?” tanya Tirana kepada Malaikat Serba Tahu yang duduk sudah tegak, tidak bersandar lagi di tiang.


“Uhuy! Aku ditanya oleh wanita tercantik yang pernah kutemui!” teriak Malaikat Serba Tahu girang.


“Berarti aku tidak cantik di matamu, Kendor Buluk?” tanya satu suara wanita tiba-tiba.


Pertanyaan itu membuat Kerling Sukma terkejut, tapi cepat tersenyum. Sebab ia mengenal akrab suara itu.


Semua mata kemudian beralih memandang ke arah depan balairung, kecuali Nyi Lampingiwa dan Sandaria.


“Selamat datang, Dewi Mata Hati!” seru Pendekar Seribu Tapak sambil cepat bangun berdiri.


Melihat siapa yang datang, semua orang di balairung perguruan itu segera bangun berdiri.


Orang yang datang adalah seorang gadis cantik jelita, tapi ia berambut pendek seperti lelaki dan bermata hitam penuh. Sepasang matanya berwarna hitam kusam tanpa cahaya. Ia mengenakan jubah kuning. Ia adalah Nara yang lebih melegenda dengan nama Dewi Mata Hati.


Ia datang bersama Robenta yang berjuluk Pendekar Tongkat Merah dan seorang gadis cantik yang tidak lain adalah Kumala Rimbayu, murid kesayangan Pendekar Seruling Panjang.


“Aah, hahaha! Itu jika tidak ada kau, Nara. Jika ada kau, tentu kaulah yang paling cantik,” ucap Malaikat Serba Tahu sambil berdiri cengengesan.


“Dasar kau, Kendor Buluk! Masih saja bertingkah layaknya seorang raja!” rutuk Dewi Mata Hati karena dapat merasakan situasi di balairung itu meski tidak melihat.


“Kenapa kau mengungkap nama asliku? Mereka jadi tahu semua!” keluh Malaikat Serba Tahu.


“Buktinya tidak ada yang tertawa ketika mereka mendengar nama aslimu aku sebut,” kata Dewi Mata Hati.


“Memang tidak ada yang tertawa, tapi yang tersenyum banyak!” gerutu Malaikat Serba Tahu.


“Hahaha…!”


Mendengar kekesalan Malaikat Serba Tahu, barulah mereka tertawa rendah.


“Jangan salahkan aku, kau sendiri yang membuat mereka tertawa,” kata Dewi Mata Hati. Ia lalu berjalan layaknya orang berpenglihatan, meski arah wajahnya selalu lurus ke depan. Ia memilih berdiri di sisi kiri Sandaria. Ia tahu bahwa Sandaria adalah seorang gadis yang juga buta.

__ADS_1


Sementara Robenta bergabung dengan Ki Ranggasewa dan Pendekar Seribu Tapak yang dikenalnya. Tirana segera memanggil Kumala Rimbayu dengan lambaian tangan. Gadis cantik bermantel putih itupun segera bergabung bersama kelompok yang tercantik, memberi kesan bahwa calon istri Joko Tenang samakin bertambah.


“Silakan duduk kembali! Silakan, silakan!’ kata Pendekar Seribu Tapak.


Mereka semua duduk kembali dalam formasi lingkaran besar.


Merasakan kehadiran seorang wanita di sisinya, Sandaria jadi tergerak. Terlebih tadi ia mendengar bahwa wanita itu adalah Dewi Mata Hati, tokoh buta sakti mandraguna yang ia idolakan. Sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan Dewi Mata Hati, hanya pernah mendengar nama dan ceritanya.


“Apakah yang duduk di sisiku adalah Dewi Mata Hati yang cantik dan sakti itu?” tanya Sandaria seraya tersenyum senang.


“Benar,” jawab Dewi Mata Hati.


“Aku senang sekali, akhirnya aku bisa bertemu dengan orang yang aku kagumi selama ini, bahkan bisa duduk bersama,” ucap Sandaria senang, membuat Joko Tenang tersenyum sendiri melihat kegembiraan gadis mungil itu.


“Sesama orang buta harus berkumpul bersatu. Tapi berbeda dengan orang buta yang sudah tidak berkesaktian,” kata Dewi Mata Hati yang kemudian merujuk kepada Nyi Lampingiwa. “Lampingiwa, Ranggasewa, apakah kalian juga menjadi korban kehilangan semua kesaktian?”


Terkejutlah sebagaian dari mereka yang belum mengetahui bahwa Ki Ranggasewa dan Nyi Lampingiwa telah kehilangan semua kesaktiannya.


“Benar, Dewi,” jawab Nyi Lampingiwa.


“Santa Marya, sepertinya kau datang ke mari bukan untuk menghadiri pernikahan murid kesayanganku, aku lihat kau membawa pasukan serigalamu?” tanya Dewi Mata Hati.


Dewi Mata Hati manggut-manggut. Pada momentum itu sangat terlihat bahwa Serigala Perak yang galak sangat menghormati Dewi Mata Hati.


“Senang bertemu dengan Bibi Nara lagi,” sapa Joko Tenang yang sejak tadi menunggu kesempatan bagus untuk menyapa Dewi Mata Hati.


Dewi Mata Hati tersenyum tanpa meluruskan wajahnya kepada Joko Tenang.


“Aku sudah menduga bahwa kau akan menjadi perusuh asmara di masa yang akan datang. Jika bukan karena petunjuk dari Kendor Buluk, aku adalah orang yang pertama menentang hubunganmu dengan Dewi Mata Hijau,” kata Dewi Mata Hati dengan menyebut julukan Kerling Sukma.


Mendengar ungkapan Dewi Mata Hati itu, Kerling Sukma hanya tersenyum lebar.


“Silakan lanjutkan pembahasan kalian!” kata Dewi Mata Hati.


“Hahaha! Baik, baik, baik. Tapi, sampai di mana tadi pembahasan kita?” kata Malaikat Serba Tahu seraya tertawa, lalu bertanya.


“Tepatnya akan ada berapa jumlah istri Kakang Joko?” tanya Tirana cepat, mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


“Tidak ada angka yang tersirat. Hanya yang aku baca dari penerawanganku adalah lebih dari delapan,” jawab Malaikat Serba Tahu.


“Apakah ilmunya juga akan berubah menjadi ilmu Dua Belas Dewi Bunga?” tanya Ki Ranggasewa.


“Entahlah…” jawab Malaikat Serba Tahu.


Pada saat itu, sejumlah murid perempuan Perguruan Tiga Tapak bermunculan membawa berbagai hidangan.  Tanpa terganggu oleh aktivitas para penyaji itu, Joko Tenang segera bertanya perkara yang menjadi misteri.


“Kakek Serba Tahu, tolonglah aku. Apakah kau tahu banyak tentang Kalung Tujuh Roh?” ujar Joko Tenang.


“Eeeh, jangan menyebutku kakek. Itu sebutan yang bisa melunturkan kegantenganku,” kata Malaikat Serba Tahu.


“Meski kau ganteng, aku tahu, kau tetap saja tidak bisa berkuda bersama seorang wanita!” celetuk Dewi Mata Hati.


“Adduh, kenapa kau ungkap rahasiaku, Nara?” keluh Malaikat Serba Tahu seraya mengerenyit tanpa rasa sakit.


“Baik, aku akan diam. Jawablah pertanyaan Joko Tenang itu,” kata Dewi Mata Hati.


“Kalung Tujuh Roh,” sebut Malaikat Serba Tahu sambil manggut-manggut. Lalu mulailah ia berkisah tentang kalung ajaib milik Raja Kera itu. “Kalung Tujuh Roh adalah ciptaan seorang sakti jahat bernama Ringga Sola yang berjuluk Hantu Awan Hitam. Namun, dia sudah mati karena ia hidup pada masa dua ratus tahun yang lalu. Kalung itu ia ciptakan dengan tujuan untuk menghidupkan ketujuh pengawal saktinya jika ada yang mati. Entah bagaimana ceritanya, kalung itu ada di tangan Si Monyet Putih, sahabat Raja Kera. Si Monyet Putih memberikan kalung itu kepada Raja Kera. Kalung itu benar bisa menghidupkan orang yang baru mati, tetapi ada pengaruh buruknya….”


“Apa?” tanya Joko Tenang cepat, seolah tidak sabaran, padahal Malaikat Serba Tahu tetap akan menjelaskannya.


“Kalung itu dibuat menggunakan energi jahat dengan tujuan yang jahat. Jadi, siapa yang dihidupkan kembali dengan kalung itu, jangan harap orang itu akan memiliki karakter yang sama seperti sebelum matinya. Kekuatan hitam kalung itu mengambil tumbal, yaitu ingatan-ingatan baik orang tersebut sebagian akan diambil, alias lenyap dari ingatan. Justru sifat-sifat buruk dan kenangan-kenangan buruk yang terpelihara di dalam ingatan orang yang dihidupkan.”


Terkejutlah Joko Tenang dan mereka yang mengetahui Ginari masih hidup karena Kalung Tujuh Roh. Ki Ranggasewa yang sudah diberi tahu tentang kehidupan kembali Ginari, juga terkejut. Maka masuk akal sudah, kenapa Ginari yang Joko Tenang dan lainnya hadapi kini sangat berubah.


“Kalung ini akan menghidupkan hanya tujuh orang. Dan orang terakhir yang dihidupkan akan menjadi pemimpin dari keenam orang sebelumnya, jika mereka masih hidup setelah dihidupkan kembali,” kata Malaikat Serba Tahu lagi.


“Maksud Kakek Ganteng bagaimana, aku kurang paham?” tanya Tirana lagi. Sebutan “Kakek Ganteng” bertujuan untuk membuat senang Malaikat Serba Tahu agar lebih murah hati untuk berbagi penjelasan.


“Setiap orang yang pernah dihidupkan oleh Kalung Tujuh Roh akan memiliki emosi yang serupa dan batin mereka saling terikat secara gaib. Hantu Awan Hitam sudah mengatur bahwa orang terakhir yang dihidupkan akan menjadi pemimpin dari keenam orang lainnya. Ketika orang ketujuh dihidupkan, dengan sendirinya ikatan gaib itu bereaksi. Enam orang sebelumnya akan tergerak sendiri mendatangi pimpinan mereka untuk berkumpul satu, meski jarak mereka berjauhan. Ketika mereka berkumpul, maka mereka akan membentuk satu kekuatan jahat yang sangat kuat.”


Semakin terkejut Joko Tenang, Ki Ranggasewa dan para kekasih Joko Tenang.


“Itu artinya, Ginari akan menjadi pemimpin kekuatan jahat…” membatin Joko Tenang.


“Apakah ada cara untuk menjadikan orang-orang itu kembali baik?” tanya Getara Cinta.

__ADS_1


“Ah, aku tidak sadar bahwa di sini ada Ratu Kerajaan Tabir Angin di Rimba Berbatu. Menjawab pertanyaan, Yang Mulia Ratu. Tetap ada, yaitu dengan cara memberikannya hal-hal yang sifatnya kebaikan yang kemudian itu akan tertanam di dalam ingatannya. Mudah-mudahan saja hal-hal baik itu bisa mengubah sifat buruknya,” jelas Malaikat Serba Tahu. Kemudian dia berkata dengan nada yang lebih tinggi dan gembira, “Sungguh luar biasa. Bertemu Joko Tenang dengan calon-calon istrinya membuatku menemukan banyak harta karun.”


Lagi-lagi perkataan Malaikat Serba Tahu menimbulkan pertanyaan dan rasa penasaran pada mereka semua yang mendengarnya. (RH)


__ADS_2