
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Tirana dan Kembang Buangi terkejut melihat serangan terhadap Joko Tenang. Hal itu seketika membangkitkan kemarahan Tirana, ia tidak rela calon suami tercintanya diserang tanpa jelas pangkal masalahnya.
Wess!
Tiba-tiba ada angin berhembus ke segala arah yang bersumber dari tubuh Tirana di atas kuda. Di tangan kanan Tirana telah bercokol bola sinar biru dari ilmu Bola Kulit Langit.
Tindakan Tirana itu langsung membuat ketiga orang berjubah berhenti tertawa dan mendelik. Namun, ....
“Hahahak!” Ketiga orang berjubah justru kembali tertawa.
Meski angin dari ilmu Tirana berhembus menerpa mereka, tetapi mereka seolah tidak terganggu. Minati Sekar Arum tetap saja mengupas kulit rambutan dan memasukkan utuh sebulat daging buah itu bersama bijinya.
Lelaki tua kurus melambungkan satu buah rambutan, tepat ke arah wajah Tirana. Ketika buah itu tinggal dua jengkal lagi dari kulit wajah si gadis, buah itu berhenti, seolah mengambang di udara.
Minati dengan kedua teman tuanya jadi berhenti tertawa melihat kejadian itu. Tirana sendiri terbelalak, sebab buah rambutan itu ternyata memiliki tenaga yang superkuat, meski tadi hanya dilambungkan dengan ringan.
Ilmu perisai Kulit Dewi Gaib yang lebih kuat dari baja, yang kini menahan laju buah rambutan itu, perlahan terasa akan jebol oleh tekanan buah rambutan.
Duk!
Untuk pertama kalinya, perisai Kulit Dewi Gaib jebol oleh sesuatu. Buah rambutan yang sempat tertahan dua jengkal dari wajah Tirana, bergerak maju dan menghantam dahi si gadis.
Bruk!
“Hahahak...!” meledak tawa Minati Sekar Arum dan kedua teman lelakinya saat melihat Tirana terlempar ke belakang, jatuh dari atas kudanya.
Kejadian itu membuat Kembang Buangi terheran, tetapi langsung menyimpulkan bahwa ketiga orang itu adalah orang sakti yang bukan sembarang sakti.
Wuss!
Kembang Buangi melompat dari atas kudanya sambil mengirimkan satu angin pukulan kepada kumpulan tiga orang pemakan rambutan itu.
Wess!
Dengan santainya, Minati Sekar Arum mengibaskan jari tangannya seperti mengusir lalat di dekat telinganya. Hanya dengan gerakan kecil seperti itu, segelombang angin keras tercipta dan menderu menghalau angin pukulan Kembang Buangi.
Bluk!
“Hahaha!”
Ketiga orang berjubah itu kembali tertawa terbahak-bahak melihat Kembang Buangi pun jatuh.
Tuk tutuk!
__ADS_1
Kakek gendut melempar tiga kulit rambutan secara bersamaan. Masing-masing kulit mengenai kepala ketiga kuda yang masih berada di situ.
Heheeek!
Ketiga kuda itu terkejut dan kompak meringkik, lalu berlari kencang meninggalkan tempat itu tanpa peduli bahwa mereka meninggalkan tuannya.
Joko Tenang dan kedua gadisnya sudah kembali bangkit. Tirana dan Kembang Buangi tidak mengalami satu pun luka. Namun, berbeda dengan Joko.
“Kakang!” sebut Tirana terkejut, saat melihat luka di dada Joko Tenang.
Bagian dada baju Joko hangus berpola telapak kaki kucing besar.
“Itu Pukulan Tapak Kucing!” ucap Tirana lagi.
Mendengar itu, Joko cepat memeriksa luka di dadanya. Ia menemukan jejak telapak kaki kucing atau macan pada baju dan kulit dadanya. Namun, jejak pada dada tidak begitu merusak kulit. Meski demikian, hal itu jelas mengejutkan Joko sendiri.
Setahu Joko Tenang sebagai pemilik Pukulan Tapak Kucing, tidak ada orang lain yang memiliki ilmu pukulan maut itu, kecuali gurunya sendiri, Ki Ageng Kunsa Pari.
Joko Tenang menatap tajam dan serius kepada tiga orang di atas batang pohon tumbang itu. Ketiganya masih tertawa santai sambil asik mengupasi buah rambutan dan memakannya. Tampak pipi Minati Sekar Arum benjol bergerak-gerak saat giginya bekerja menggereogoti daging buah di dalam mulutnya.
“Jika benar pukulan ini Pukulan Tapak Kucing, maka harus aku buktikan,” batin Joko Tenang.
Babak babak babak...!
Joko Tenang tiba-tiba melakukan gerakan menghentak kedua tangan bergantian. Hentakan berulang-ulang itu dilakukan dengan gerakan cepat, bukan hanya sepuluh kali, tetapi lebih dari tiga puluh kali.
Sontak ketiga orang berjubah itu berlompatan sangat cepat ke udara. Lompatannya begitu cepat, nyaris tidak terlihat. Batang pohon besar yang mereka tinggalkan hancur berantakan bersama buah rambutan yang terpentalan jauh ke mana-mana. Setelah itu, pemandangan mencengangkan tergelar.
Minati Sekar Arum dan kedua kakek itu kini berada di angkasa. Dari atas sana, mereka bertiga juga melakukan hentakan tangan bergantian yang sangat cepat. Mereka melawan Pukulan Tapak Kucing dengan cara serang yang serupa.
Dalam kecepatan serangnya, Joko Tenang mengirimkan Pukulan Tapak Kucing kepada tiga target itu. Namun, ketiganya dapat menangkalnya. Anehnya, tidak ada suara-suara wujud dari peraduan dua atau empat tenaga dalam.
Tirana dan Kembang Buangi seolah sedang menyaksikan pertarungan bohongan yang penuh gaya saja. Keduanya tidak merasakan adanya hawa pertarungan. Padahal, Joko Tenang dan ketiga lawannya menunjukkan ekpresi wajah yang serius.
Akhirnya Joko Tenang berhenti. Minati Sekar Arum dan kedua kakek itu turun dari angkasa dan menjejak tanah berumput dengan halus.
“Mereka bertiga memiliki ilmu Pukulan Tapak Kucing,” ucap Joko Tenang. Wajahnya menunjukkan keheranan.
Cara tarung seperti tadi pernah Joko lakukan saat melawan gurunya untuk menguji Pukulan Tapak Kucing. Seperti itulah hasilnya jika sesama Pukulan Tapak Kucing diadu, seperti pukulan yang tanpa isi.
“Hahahak!” kedua kakek kembali tertawa santai.
Minati Sekar Arum hanya tersenyum sambil menatap Joko Tenang.
“Maafkan aku, Sesepuh. Sudilah kalian mengungkap jati diri kalian sebenarnya. Tentunya kalian pasti tahu bahwa aku dilanda tanda tanya yang besar,” kata Joko dengan nada yang santun.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa rendah lelaki gemuk. “Kau ini, menghancurkan tempat duduk kami.”
Kakek gemuk akhirnya memilih duduk bersila di rerumputan yang tidak jauh dari jalan.
“Ayo duduk!” ajak kakek gemuk.
Minati Sekar Arum dan kakek kurus juga sudah duduk di rumput.
Tidak ada pilihan lain selain menuruti orang-orang berkesakstian tinggi itu, Joko pun duduk. Tirana dan Kembang Buangi juga ikut duduk.
“Aku bernama Ewit Kurnawa, Malaikat Kipas Putih,” kata kakek gendut. Di pinggangnya memang terselip sebuah lipatan kipas berwarna putih, sesuai dengan julukannya. “Sedangkan dia adalah Iblis Timur, julukannya Malaikat Kipas Hijau. Nah, nenek muda itu bernama Minati Sekar Arum, Malaikat Kipas Merah.”
“Tiga Malaikat Kipas!” sebut Kembang Buangi.
“Hahaha!” tawa Ewit Kurnawa dan Iblis Timur berbarengan mendengar terkaan Kembang Buangi.
“Rupanya kau pernah mendengar nama kami, Bocah Cantik,” kata Iblis Timur, kakek yang berbekal lipatan kipas hijau di selipan perutnya.
“Guruku pernah bercerita tentang tiga tokoh sakti aneh yang tidak terkalahkan....”
“Apa? Aneh? Beraninya gurumu itu menyebut kami aneh!” gusar Iblis Timur.
“Siapa gurumu, Bocah Cantik?” tanya Ewit Kurnawa.
“Pangeran Tapak Tua,” jawab Kembang Buangi.
“Beraninya dia bilang guru-gurunya ini aneh,” rutuk Iblis Timur.
“Padahal dia sendiri aneh, hihihi!” kata Minati Sekar Arum lalu tertawa.
“Aneh karena murid mata keranjang itu juga jatuh hati kepada gurunya!” timpal Iblis Timur.
“Hei! Jangan ungkit kisah cinta masa lalu!” hardik Minati Sekar Arum sambil memukul kepala Iblis Timur.
“Kau tidak lihat murid Kunsa Pari itu. Dua gadis cantik jelita bersamanya. Dia lebih rakus daripada gurunya. Hahaha! Hebat juga dia mendidik murid, sampai ilmu memikat perempuan pun diwariskannya. Hahaha!” kata Iblis Timur.
Menjadi bingunglah Joko Tenang dan Kembang Buangi mendengar perdebatan ketiga orang berkipas di depan mereka. Adapun Tirana, ia tidak banyak tahu tentang cerita orang-orang dunia persilatan.
“Maafkan kami, para guru,” ucap Joko menyela obrolan orang tua itu. “Kami bingung dengan apa yang kalian perbincangkan, sementara kami tidak punya banyak waktu. Jika memang tidak ada hal penting, izinkan kami melanjutkan perjalanan kami.”
“Tidak boleh!” teriak Minati Sekar Arum. “Sudah lama kami mencarimu, hampir satu pekan. Ketika bertemu, kau mau pergi begitu saja. Tidak boleh!”
“Kau bisa menyebut kami Kakek Guru atau Nenek Guru, Joko,” kata Ewit Kurnawa, kali ini ia bernada serius, sementara ia simpan tawanya.
“Bagaimana bisa?” tanya Joko Tenang heran. (RH)
__ADS_1