Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
35. Rahasia Kotak Biru


__ADS_3

Putri Sagiya bersama Pengawal Gaga berjalan terburu-buru menaiki tangga depan istana.


“Yang Mulia!”


Terkejut Putri Sagiya dan Pengawal Gaga mendengar teriakan itu. Mereka sontak menengok ke belakang. Ternyata, Tirana telah terlihat melesat di udara tanpa ada yang menghalangi atau mengejarnya. Tirana telah melewati dua lapis tembok benteng kerajaan tanpa penghalang berarti.


“Pengawal Gaga, halangi Tirana!” perintah Putri Sagiya seraya tersenyum melihat kemunculan Tirana. Lalu ucapnya, “Akhirnya dia masuk ke sini juga.”


“Yang Mulia! Kembalikan milikku!” seru Tirana seraya kian mendekat.


“Aku ingin lihat, sejauh mana sahabatku bisa masuk ke istana!” jawab Putri Sagiya. Ia lalu berkelebat menuju ke pintu besar bangunan utama istana.


Pengawal Gaga segera berkelebat menyongsong kelebatan tubuh Tirana. Kedua wanita itupun bertemu di udara.


Saling serang dan tangkis tangan terjadi cepat seiring tubuh keduanya bergerak turun ke tanah.


Pertarungan itu membuat para prajurit kerajaan yang berjaga di beberapa posisi segera berdatangan dan melakukan formasi mengepung dengan tombak siap tusuk.


Tirana dan Pengawal Gaga baru kali ini saling serang, sehingga keduanya belum tahu kehebatan lawannya masing-masing.


Pengawal Gaga harus mengerutkan kening ketika melihat Tirana memiliki ketangkasan yang tinggi. Semua serangan Pengawal Gaga dibuat mentah oleh pertahanan Tirana. Meski demikian, Pengawal Gaga tidak mau cabut pedang, sebab pertarungan itu hanyalah untuk menguji kehebatan Tirana semata.


“Berhentilah, Pengawal Gaga! Aku tidak mau bercanda jika kotak biruku dicuri!” seru Tirana.


“Maaf, aku hanya melaksanakan perintah, Tirana!” kata Pengawal Gaga.


“Baik!” seru Tirana menandakan sikapnya.


Pak!


“Hugh!” keluh Pengawal Gaga terkejut, seiring tubuhnya terhempas ke samping.


Satu tamparan tangan kanan Tirana mudah ditangkis oleh tangan kiri Pengawal Gaga di sisi kepalanya. Namun, kali ini Pengawal Gaga terkejut, sebab tenaga tamparan itu berkali lipat kuatnya dari semua serangan Tirana sebelumnya. Pengawal Gaga jatuh ke samping, tapi ketangkasannya mencegah ia menghantam bumi dengan telak.


“Serang!” teriak seorang prajurit.


Serentak sebanyak 12 prajurit bertombak maju dari segala arah menusukkan senjatanya.


Bluss!


Tirana dengan cepat meninjukan kepal kirinya ke bumi. Dari titik tinju itu, menyebar gelombang tenaga dalam tinggi yang mendorong kedua belas prajurit berjengkangan ke belakang.


Sementara Pengawal Gaga melompat naik tinggi ke udara menghindari gelombang tenaga dalam itu.


Selanjutnya, Tirana berkelebat menuju bangunan utama istana. Pengawal Gaga cepat melesatkan sarung pedangnya untuk mencegah langkah gadis sakti itu lebih jauh.


Insting pendekar Tirana yang sangat tajam membuatnya tahu adanya benda yang datang dari belakang, lebih cepat dari lesatan tubuhnya.


Beng!


Dalam lesatan tubuhnya, Tirana melakukan satu gerakan tangan. Hasilnya, satu kekuatan tenaga perisai muncul melindungi tubuh mungilnya. Ujung sarung pedang milik Pengawal Gaga menghantam satu lapisan tenaga tak terlihat di belakang punggung Tirana. Sarung pedang itu terpental balik jatuh ke tanah.


Namun, sebelum Tirana memasuki bangunan utama, tiba-tiba muncul puluhan prajurit yang cepat berbaris dua lapis di atas tangga. Mereka membentuk pagar betis yang rapat dan tameng dipasang rapat, sementara pedang siap di tangan kanan.

__ADS_1


Di saat yang sama, Pengawal Gaga melesat cepat mengejar Tirana dengan pedang terhunus.


Bress!


Sinar merah jaring laba-laba dilepaskan oleh Tirana. Jaring itu menempel di pagar tameng para prajurit. Sekali menolakkan kaki di anak tangga, lesatan tubuh Tirana tiba-tiba secepat anak panah dan langsung menabrak benteng tameng prajurit di posisi sinar jaring laba-laba.


Namun, prajurit yang bertahan hanya bisa terperangah. Sebab, Tirana telah hilang seolah masuk ke dalam tameng.


Melihat Tirana menghilang, Pengawal Gaga hanya bisa turun memungut warangka pedangnya di tanah. Namun kemudian, dia berkelebat tinggi melewati barisan prajurit yang hanya membiarkannya.


Di dalam istana, Putri Sagiya berlari-lari kecil di sebuah koridor. Titik-titik yang memiliki penjagaan, dilaluinya dengan penghormatan dari para prajurit.


“Putri! Berhenti!” seru seorang wanita tiba-tiba.


Dengan terkejut, Putri Sagiya menengok ke belakang. Ternyata, Tirana telah berlari kencang ke arahnya.


“Prajurit, tahan wanita itu!” perintah Putri Sagiya.


Sejumlah prajurit terdekat segera bergerak menghadang kedatangan Tirana. Para prajurit menghunus pedang berbenteng perisai.


Sementara Putri Sagiya berkelebat pergi ke bangunan lain yang pintunya terbuka lebar, tapi dijaga oleh 12 prajurit berseragam kuning emas dan seorang pria berpakaian perwira.


Hadangan prajurit tidak ada gunanya untuk menahan Tirana, karena gadis itu bisa dengan mudah lewat begitu saja melesat cepat menyusul Putri Sagiya.


Putri Sagiya berlari menaiki tangga untuk mencapai para prajurit penjaga pintu. Para prajurit dan perwira yang berdiri pun sudah bisa melihat kejar-kejaran yang terjadi. Kedatangan Sang Putri membuat mereka segera menjura hormat.


Berbeda dengan 12 prajurit lainnya, perwira berpakaian putih bersenjatakan pedang tetap berdiri dengan tundukan kepala menghormat. Ia adalah seorang pria berwajah tegas berusia 45 tahun. Pedang bagus di tangannya seolah menunjukkan keistimewaan dari pangkatnya. Ia adalah Pengawal Tingkat Satu Gadur Sobo, pengawal pribadi Raja Anjas Perjana Langit.


“Pengawal Sobo, Gusti Mulia sedang apa?” tanya Putri Sagiya.


“Kau lihat wanita sakti itu, dia mau membunuhku!” kata Putri Sagiya dengan nada sedikit tinggi. Ia segera berlari masuk ke dalam bangunan.


Sementara sosok berpakaian putih Tirana telah terbang di udara seperti burung raksasa, langsung ke arah pintu bangunan.


Pengawal Sobo sebagai pengawal pribadi orang nomor satu di kerajaan itu tidak tinggal diam. Ia melihat itu jelas sebuah serangan. Maka ia segera mengibaskan lengan kirinya.


Wuss!


Serangkum angin  keras menderu menyongsog Tirana. Dengan kelihaiannya, Tirana bisa mengubah laju tubuhnya di udara. Ia membuang tubuhnya menghindari angin serangan itu.


“Serang!” perintah Pengawal Sobo kepada anak buahnya.


Kedua belas prajurit berseragam kuning emas segera berkelebatan di udara dan turun dalam formasi yang mengepung Tirana.


Sementara di dalam, Putri Sagiya masuk setengah berlari seraya tersenyum. Kedatangannya membuat Raja Anjas Perjana Langit yang tanpa mahkota menghentikan komunikasinya dengan tiga gadis cantik yang sedang menghadapnya.


Gadis cantik pertama adalah Tirai Selaksa berpakaian kuning. Gadis berjuluk Penyulam Mutiara itu adalah putri ketiga Mahapati Agung. Gadis cantik kedua bernama Numi yang berjuluk Dewi Seribu Cangkang. Ia adalah prajurit di Pasukan Seratus Bintang. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Adapun gadis ketiga adalah Kirani yang mengenakan pakaian warna hijau gelap. Ia putri Senopati Kurapaksa.


Ketiga gadis itu segera menjura hormat kepada Putri Sagiya.


“Berdirilah!” perintah Putri Sagiya cepat.


“Masalah apa yang kau bawa sehingga terjadi pertarungan di luar, putriku?” tanya Raja Anjas.

__ADS_1


“Aku memaksa sahabat saktiku masuk ke dalam istana, karena dia tidak pernah mau masuk ke istana setiap aku ajak,” jawab Putri Sagiya terseyum, tanpa peduli lagi untuk menghormat kepada ayahnya.


Sementara di luar sana. Kedua belas prajurit pengawal raja mengepung Tirana dengan formasi yang kuat, sehingga membuatnya tidak bisa ke mana-mana. Terlebih Pengawal Sobo masuk menyerangnya dengan serangan yang tidak main-main. Namun, Tirana begitu lihai.


Bress!


Pada satu kesempatan, Tirana menempelkan sinar merah jaring laba-labanya ke bumi. Dengan cepat ia masuk menghilang ke dalam formasi sinar itu seperti orang tenggelam ke dalam air.


Pengawal Sobo terkejut. Ia cepat memberi perintah, “Lindungi Gusti Mulia Raja!”


Pengawal Sobo segera berkelebat masuk ke dalam ruangan. Kedua belas prajurit pun berlari cepat menyusul.


Di saat yang sama, Tirana muncul begitu saja dari langit-langit ruangan yang mengejutkan Raja Anjas dan keempat gadis yang ada. Putri Sagiya segera bergerak pindah ke dekat ayahnya.


“Putri! Serahkan kotakku!” seru Tirana.


“Tirana, apa kau mau lancang di depan Gusti Mulia Raja?” tanya Putri Sagiya dengan wajah tersenyum samar.


Mendengar perkataan Putri Sagiya, Tirana terkejut bukan main. Buru-buru dia menjatuhkan diri memberi hormat sedalam-dalamnya.


“Ampuni hamba, Gusti Mulia! Ampuni hamba! Hamba telah lancang, hamba patut dihukum!” ucap Tirana berlutut tanpa berani mengangkat kepalanya sedikit pun.


Dari luar berlari masuk Pengawal Sobo yang langsung hunuskan pedang dan menempelkannya ke leher Tirana. Kedua belas pengawal pun menyusul masuk.


“Siapa kau?” tanya Raja Anjas.


“Hamba Tirana, putri dari Turung Gali dari Kampung Cahaya Bumi,” jawab Tirana.


“Apakah kau sahabat Putri Sagiya?” tanya Raja Anjas lagi.


“Benar, Gusti Mulia,” jawab Tirana.


Raja Anjas lalu memberi isyarat kepada Pengawal Sobo. Pengawal nomor satu itu pun menarik pedangnya jauh dari leher Tirana. Ia lalu memerintahkan kepada anak buahnya untuk pergi, sementara ia tetap berdiri di tempatnya.


“Berdirilah!” perintah Raja Anjas.


Maka berdirilah Tirana dengan pandangan tetap menunduk.


“Tirana putri salah satu prajurit Pasukan Seratus Siluman, Ayah,” kata Putri Sagiya berbisik kepada ayahnya.


Raja Anjas hanya manggut sekali, lalu tanyanya, “Bagaimana bisa kau berani menerobos masuk sampai ke hadapanku?”


“Yang Mulia Putri telah membawa paksa benda berhargaku, Gusti Mulia. Kotak itu sangat berharga bagiku.”


“Mana kotaknya?” tanya Raja Anjas kepada putrinya.


Putri Sagiya memberikan kotak kayu kecil berukir indah berwarna biru.


“Tolong Gusti Mulia jangan buka!” seru Tirana cepat dengan wajah tegak memandang sang raja.


“Kotak ini tidak beracun. Apa yang kau khawatirkan jika aku membuka kota ini?” tanya Raja Anjas yang jadi tertarik ingin tahu isi kotak tersebut.


“Hanya sebuah rahasia, Gusti Mulia,” jawab Tirana bernada lemah, terkesan pasrah.

__ADS_1


Raja Anjas tanpa ragu membuka kotak kecil tersebut. Di dalamnya hanya ada segulung kecil kain putih terikat benang emas. Raja Anjas terus membuka dan akhirnya ia hanya menemukan sekalimat tulisan bersulam biru. (RH)


__ADS_2