Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 12: Bajak Laut Elang Biru


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)* 


 


Ctar!


Kedelapan orang yang sedang dalam perjalanan itu segera mendongak ke langit arah selatan. Mereka melihat ledakan sinar merah jauh di angkasa.


“Ayo segera! Ketua sudah menunggu kita di selatan!” seru lelaki botak yang menutupi kebotakannya dengan kain berwarna merah.


Lelaki berpakaian biru gelap itu berkulit hitam, warna yang serasi sama-sama gelap. Lelaki empat puluh lima tahun itu memakai giwang berbandul keong kecil berwarna kuning mengilap di telinga kanannya. Ia membawa gulungan tambang yang diselempangkan pada badannya, sehingga tubuhnya terlihat penuh muatan. Di pinggang kanan tergantung sebuah kapak dan di pinggang kiri menggangtung sebuah pisau besar. Ia bernama Ombak Goro, pemimpin di antara mereka.


“Ombak Goro! Aku masih tidak mengerti dengan maksud Ketua mencari Ketua Tujuh Roh. Sebenarnya siapa Ketua Tujuh Roh itu?” tanya gadis bertubuh sekal, berpakaian kuning. Wanita muda itu berkulit agak hitam dengan wajah yang hitam manis. Ada tahi lalat kecil di atas sudut bibir kirinya. Rambutnya panjang berwarna kemerahan karena terbakar oleh panas matahari. Rambut itu diikat sederhana dengan seutas tali tambang kecil. Ia membawa sebuah kayu kecil yang dilengkapi dengan senar dan kailnya. Gadis bercelana hitam sebetis itu bernama Garis Merak, satu-satunya wanita dalam rombongan itu.


“Kita tidak ada yang tahu, tetapi sebagai anak buah, kita menurut saja,” timpal lelaki separuh abad yang bertubuh kurus tinggi, tetapi memiliki otot-otot yang alot. Lelaki berpakaian putih biru gelap itu membawa sebuah pedang besar di punggungnya. Ia bernama Sogok Karang, ayah dari Garis Merak.


“Mata Samudera lebih mengerti apa yang terjadi dengan Ketua,” kata Ombak Goro.


“Semenjak bangkit lagi dari kematiannya, Ketua memang berubah. Dulu kita disegani karena kita adalah kelompok bajak laut yang suka membantu kelompok teman dan tidak terkalahkan. Namun setelah itu, kita ditakuti karena kekejaman kita dan ketidakterkalahkannya kita,” kata lelaki tua gagah berusia tujuh puluh tahun. Ia berambut putih, berkumis putih, dan jenggot putihnya dikepang satu sampai dada. Alis tebal putihnya memiliki mata tua yang merah dan tajam. Lelaki tua berpakaian hijau gelap itu mengikat pinggangnya dengan kain biru terang seperti seorang sinden. Di depan perutnya terselip sebuah pisau panjang berbentuk melengkung, lengkap dengan warangkanya yang berwarna biru bagus. Ia yang bernama Mata Samudera.


“Kita seperti ikan yang meninggalkan laut,” celetuk pemuda tampan berhidung mancung berambut keriting pendek. Ada dua giwang cincin merah di kedua cuping telinganya. Pemuda berusia tiga puluh tahun itu membawa dua senjata seperti alat pengait es balok. Ia bernama Kurna Sagepa.


“Hahaha! Yang jelas kau akan merindukan air asin!” timpal lelaki bertubuh mungil dan kecil, tetapi sudah tua karena rambutnya sudah putih dan kulitnya sudah kendur. Dia bukan seorang cebol, tetapi memang fisiknya yang kecil. Ia berbaju putih, tetapi berjubah hitam yang sesuai ukurannya. Ia bernama Wiro Kuto, tapi lebih dikenal dengan nama Ikan Kecil. Ia membawa senjata berupa besi kecil panjang dan lentur seperti kawat. Senjata itu digantung di pinggang kanannya.


Sementara lelaki berperut gendut, berwajah bulat hitam dan berambut gondrong merah sebahu, hanya diam. Usianya sudah tiga puluh lima tahun. Ia mengenakan baju cokelat yang lumayan ketat, karena memang ia tidak memiliki baju yang longgar. Ia tidak mencolok membawa senjata. Namun, ada lilitan senar yang tebal di kedua pergelangan tangannya. Padanya ada menggantung besi kecil berbentuk segitiga. Ia bernama Swara Sesat.


Swara Sesat berjalan paling belakang dan agak tertinggal bersama lelaki lain bertubuh kurus tapi tidak tinggi, tidak seperti Sogok Karang. Ia hanya mengenakan celana hitam dengan rompi putih tanpa kancing, membuat dada kurus dan lengan kerempengnya terbuka nyata. Lelaki berjenggot kambing itu bernama Cukik Aking. Ia membawa gada kecil berduri sebesar batang tangannya.


“Swara! Cukik! Cepat yang banyak!” teriak Ombak Goro yang melihat keduanya berjalan biasa saja.


Namun, keduanya tidak menyahut maupun beralih memandang kepada Ombak Goro.


Melihat hal itu, Ombak Goro memungut sepotong kayu pendek di pinggir jalan, lalu melemparnya ke depan kaki Swara Sesat dan Cukik Aking.


“Hup!” pekik Swara Sesat terkejut sambil melompat mundur dan memasang kuda-kuda. Pandangannya ke depan, mencari siapa yang melemparnya. Ia mirip panda di dalam kartun kung fu.

__ADS_1


“Hahaha…!” tawa kencang Cukik Aking.


Melihat Ombak Goro dan beberapa temannya memandangnya, Swara Sesat pun bertanya dengan gerakan alisnya.


“Cepat jalannya!” teriak Ombak Goro.


Swara Sesat menggelengkan kepalanya sambil mengendurkan kuda-kudanya. Lalu sahutnya, “Aku belum lelah. Aku masih kuat!”


Ombak Goro menjatuhkan ketegakan dadanya dan hempaskan napas kesal. Ia lalu berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.


“Hihihi!” tawa Garis Merak, menertawakan Ombak Goro.


“Kau ingin membuat Swara berjalan cepat? Seperti ini caranya!” seru Mata Samudera, lalu orang tua itu berkelebat mendahului langkah Ombak Goro.


Kurna Sagepa, Wiro Kuto, Garis Merak, Cukik Aking dan Sogok Karang segera berlari cepat dan berkelebat mengikuti Mata Samudera sebagai orang tertua di antara mereka.


Swara Sesat jadi mendelik terkejut karena ditinggal begitu saja. Ia buru-buru berlari cepat. Berguncang tubuh gendutnya saat ia berlari.


“Apa yang kau lamunkan, Ombak! Ayo!” teriak Swara Sesat sambil melewati Ombak Goro.


“Garis Mekar memang layak dilamunkan. Hahaha…!” timpal Swara Sesat lalu tertawa.


Tidak berapa lama setelah mereka melesat menuju lokasi yang diduga tempat Ketua Elang Biru berada, kedelapan orang itu akhirnya memasuki sebuah desa.


Desa itu tidak terlalu ramai, karena memang bukan jalur perjalanan para pendekar atau pedagang. Jadi, kedelapan orang itu hanya menemukan berbagai kegiatan warga desa yang sibuk dalam pekerjaannya masing-masing, terutama di area persawahan yang berundak-undak turun ke bawah.


Kedatangan mereka cukup menjadi perhatian para warga karena desa itu memang jarang didatangi orang dari dunia persilatan.


Namun berbeda hari ini, sejak pagi ada orang-orang sakti yang masuk ke desa itu dan kepada Kepala Desa mereka minta tempat untuk singgah. Orang-orang sakti itu tergabung dalam satu kelompok saja yang dipimpin oleh Ginari, Pendekar Tikus Langit.


Semenjak memasuki desa yang bernama Atuluncur, Ombak Goro dan teman-temannya mencari ke sana dan ke sini dengan pandangannya.


Blar!


Tiba-tiba tanah satu tombak di depan rombongan kelompok bajak laut itu meledak, mengejutkan mereka bertujuh.

__ADS_1


Entah kapan datangnya dan dari arah mana datangnya, lima tombak di depan mereka telah berdiri seorang wanita separuh baya berpenampilan cantik dengan kebaya biru, juga ramai dengan kemewahan. Wanita itu tidak lain adalah Nyai Kilau Maut.


“Siapa kalian?!” seru Nyai Kilau Maut dengan suara yang keras.


“Kami Bajak Laut Elang Biru. Kami mencari Ketua Elang Biru!” sahut Ombak Goro.


“Aku di sini, orang-orang hebatku!” seru satu suara lelaki yang menggelegar, seiring di udara berkelebat sesosok tubuh besar.


Lelaki bertubuh tinggi besar itu mendarat di sisi Nyai Kilau Maut. Ia tidak lain adalah Biru Segara. Ia lalu tersenyum kepada wanita mewah itu.


“Dia orang-orangku, Nyai,” ujar Biru Segara seraya tersenyum lebar kepada Nyai Kilau Maut.


“Huh!” dengus Nyai Kilau Maut lalu berbalik dan melangkah pergi.


“Kalian, ikut aku bertemu dengan Ketua Tujuh Roh!” seru Biru Segara kepada Ombak Goro dan rekan-rekannya.


Ombak Goro dan rekan-rekannya segera pergi mengikuti ketua mereka.


Biru Segara membawa kedelapan anak buahnya ke sebuah rumah bambu berpanggung pendek. Di teras lantai bambunya telah berdiri wanita berpakaian serba biru dan bercadar biru. Wanita bermata bening itu tidak lain adalah Ginari yang kini berstatus sebagai Ketua Tujuh Roh.


Biru Segara dan kedelapan anak buahnya berdiri di depan rumah itu.


“Kalian semua ikuti aku!” perintah Biru Segara kepada anak buahnya.


Biru Segara lalu turun berlutut, kemudian bersujud dengan kedua tangan lurus ke depan, rata dengan tanah.


“Kami Bajak Laut Elang Biru setia mengabdi kepada Ketua Tujuh Roh!” ucap Biru Segara.


Kedelapan anak buah Biru Segara saling pandang, heran dan bingung.


Namun kemudian, Ombak Goro turun berlutut dan bersujud bersama dengan Mata Samudera, Sogok Karang, Wiro Kuto, Kurna Sagepa, dan Cukik Aking.


“Kami Bajak Laut Elang Biru setia mengabdi kepada Ketua Tujuh Roh!” ucap mereka bersamaan.


Sementara Garis Merak dan Swara Sesat saling pandang di belakang. Garis Merak lalu mengangguk kepada rekan tulinya. Dengan berat hati, akhirnya mereka juga turun bersujud, tanpa mengucapkan lafaz janji setianya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2