Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
85. Penjahat Berkuda


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


 


“Aku harus lebih dulu menemukan Jalang, baru pergi ke barat mencari Kakang Joko. Kakang, maafkan aku karena melepas tanganmu....”


Tirana berhenti sejenak. Wajahnya bergerak halus dan ia menangis.


“Kakang, jangan mati,” ucapnya lirih.


Namun, Tirana tidak lama larut dalam tangisan. Ia sadar bahwa yang perlu ia lakukan bukanlah menangis, tetapi pergi menemukan Joko dan memastikan calon suaminya itu masih hidup.


Tirana kembali berjalan. Ia memandang ke langit untuk menentukan arah. Matahari sudah mau tenggelam.


“Hiah! Hiah!”


Tiba-tiba terdengar suara ramai dari kejauhan. Suara perempuan yang melengking tinggi bercampur suara banyak lelaki yang berteriak-teriak. Seiring itu, terdengar pula suara ladam kuda yang banyak saling berlari kencang.


Tirana mencari sumber suara itu, tetapi ia tidak melihat seseorang atau seekor kuda pun. Namun, Tirana memastikan suara itu berasal dari balik tabing batu yang tidak begitu jauh dari daerah hijau berpohon. Di bawah tebing ada sebuah jalan yang alurnya melewati posisi Tirana.


“Hiah! Hiah!” suara ramai itu semakin dekat, demikian pula suara lari kuda yang lebih dari empat atau lima kuda.


Suara itu semakin jelas ada di balik tebing. Semakin mendekat.


Benar. Tidak sampai dua puluh hitungan, muncul seekor kuda hitam yang berlari kencang dari balik tebing yang menikung. Kuda itu ditunggangi oleh seorang wanita berpakaian merah biru.


“Hiah!” pekik wanita muda itu kencang sambil menggebah tali kekang kudanya.


Suara banyak lelaki yang berteriak semakin jelas terdengar di belakang kuda si wanita. Dan akhirnya, dari balik tebing batu yang berpasir keluar segerombolan kuda yang ditunggangi oleh para lelaki yang tampak besar-besar. Pakaian mereka yang berbahan bulu dan berlapis-lapis membuat tubuh mereka terlihat besar-besar. Dalam kondisi berkuda kencang seperti itu, tangan mereka memegang senjata pula. Ada yang memegang busur, tombak, pedang besar, dan jenis lainnya. Jumlah kuda yang mengejar itu ada delapan kuda yang berarti ada delapan lelaki yang mengejar.


Kedelapan lelaki berperawakan kasar itu terus berteriak kencang seperti sedang menikmati buruannya, seolah mereka sangat bernafsu ingin menyusul kuda wanita itu.


Tirana segera melangkah bergeser menjauhi tengah jalan, sebab lari kuda-kuda itu akan melewati posisinya.


Set!


Lelaki penunggang kuda yang bersenjata panah melesatkan satu anak panah ke arah wanita yang mereka kejar. Satu tindakan yang membutuhkan keahlian khusus untuk bisa memanah dari atas kuda yang berlari kencang.


Namun, anak panah itu meleset dan hanya menancap jatuh di tanah berpasir.

__ADS_1


Kuda wanita yang ternyata seorang muda dan cantik itu akhirnya lewat di depan Tirana berdiri dan terus melesat menjauh. Wanita cantik itu masih sempat melihat keberadaan Tirana sekilas. Demikian pula kedelapan kuda yang mengejar, lewat di depan Tirana, meninggalkan debu yang membumbung tinggi oleh jejak kaki-kaki kuda mereka yang kokoh.


Terlihat jelas oleh Tirana lelaki yang mengejar paling depan. Seorang lelaki besar bertampang sangar dengan kumis yang lebat. Ia mengenak pakaian tebal berbulu berwarna hitam. Tangannya memegang golok besar, padahal sedang sibuk memainkan tali kekang kuda. Lelaki besar berambut gondrong dan lebat itu sempat memperhatikan sosok Tirana sambil ia dan kudanya melesat. Ia adalah pemimpin dari gerombolan lelaki itu, namanya Bala Rong.


Rombongan kejar-kejaran itu akhirnya berlalu dari hadapan Tirana.


“Bong! Lai! Tangkap perempuan tadi!” teriak Bala Rong sambil menengok dan menunjuk ke belakang.


Dua lelaki penunggang kuda paling belakang langsung menarik tali kekang kudanya dengan kencang, membuat hewan tunggangan mereka itu mengerem sambil angkat dua kaki depan. Kepala kuda langsung ditarik agar berbelok 180 derajat.


Ketika kedua kuda mereka sudah berbalik arah, lelaki bertombak yang bernama Bong dan lelaki berpedang bernama Lai itu langsung menggebah kudanya. Keduanya melesat menuju jalan tempat Tirana tadi berdiri. Masih terlihat sosok Tirana berjalan membelakangi mereka.


Tirana menghentikan langkahnya. Pendengarannya menangkap suara lari kuda dari arah belakang yang mendekat kepadanya.


Set! Teb!


Tirana mendengar jelas ada suara benda melesat dari arah belakang. Namun, ia tidak bergerak, sebab ia tahu bahwa benda itu tidak mengarah tepat kepadanya.


Benar. Dalam hitungan kurang dari satu detik, sebatang tombak kayu bermata besi tahu-tahu menancap di tanah, beberapa lompatan tepat di depan Tirana. Ia tidak berbalik. Ia sudah bisa menggambarkan apa yang terjadi di belakangnya. Ia bisa menghitung jumlah kuda yang mendatanginya sebelum melihatnya.


Bong memposisikan kudanya menghadang Tirana. Sementara Lai menempatkan kudanya di belakang Tirana. Kemudian mereka menjalankan kudanya dengan pelan memutari posisi Tirana yang berhenti memandangi tindakan kedua lelaki itu.


“Hahaha!” Bong dan Lai justru tertawa keras. Bong lalu berkata kepada temannya, “Apa yang dikatakan perempuan cantik ini?”


Bong dan Lai tidak mengerti kata-kata Tirana yang asing di telinga mereka.


“Perempuan ini pasti dari negeri lain. Bong, cepat ikat lalu kita bawa menyusul Ketua!” kata Lai.


Mendengar kata-kata Lai, barulah Tirana memahami bahwa bahasanya dengan kedua lelaki itu berbeda. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Bong dan Lai.


Bong segera melompat turun dari kudanya. Ia ambil gulungan tali yang ada di pelana kuda lalu mendatangi Tirana. Gadis itu hanya diam di tempat, menunggu hal apa yang akan dilakukan oleh kedua lelaki itu. Dengan seenaknya, tangan besar Bong bergerak ingin meraih lengan kanan Tirana.


Dak!


“Ak!” jerit Bong sambil membungkuk memegangi tulang kering kaki kanannya.


Sebelum tangan kasar Bong menyentuh lengan Tirana, kaki kanan gadis itu tiba-tiba bergerak cepat menendang tulang kering kaki kanan Bong. Seketika lelaki berbaju tebal itu kesakitan.


Lai yang ada di atas kuda jadi terkejut juga melihat gerakan cepat kaki Tirana. Hanya satu gerak tanpa pindah posisi.

__ADS_1


“Hiaat!” teriak Lai. Dia melompat dari atas kudanya mencoba menyergap tubuh Tirana dari belakang. Ia tidak menggunakan pedangnya karena pertimbangan bahwa Tirana barang bagus.


Namun, apa yang Lai dapatkan dari Tirana?


Bak!


Tirana melompat tinggi sambil tubuhnya berbalik di udara, sementara kaki kanannya mengibas cepat dan menampar telak wajah Lai di udara. Tubuh yang agak kurus itu terlempar jatuh ke samping. Ia meringis kesakitan, tidak hanya pada tubuhnya yang terbanting, tetapi juga sakit pada wajahnya yang laksana ditampar balok kayu besar. Terlihat robek pelipis kiri Lai, mengalirkan darah.


Sadar bahwa wanita cantik itu bukan wanita biasa, Bong cepat menyambar tombaknya lalu merangsek maju menusuk Tirana.


Memang Tirana jauh dari wanita biasa. Gerakannya yang cepat hanya bisa membuat Bong menerima dirinya dibuat tidak berdaya


Krak!


“Aaak!” Bong melolong sambil jatuh bersama tombaknya. Kali ini ia memegangi lutut kirinya.


Tirana yang dengan mudah dan tenang maju sambil menghindari tusukan tombak, begitu keras menendang lutut kiri Bong. Gerak tulang yang patah terdengar jelas yang disusul menjeritnya Bong.


Tirana memungut tombak Bong lalu melemparkannya kepada Lai seperti orang melempar daging ke kucing.


Tang!


Mudahnya bagi Lai menebas tombak yang datang dengan pelan. Lalu ia maju mengibaskan pedangnya.


Bek!


Namun, belum lagi pedang itu mengibas. Tahu-tahu Tirana sudah berdiri sejangkauan di depan wajah Lai. Mudah tangan kiri Tirana menahan tangan kanan Lai yang memegang pedang, sementara tangan kanan memukul batang leher Lai. Gerakan Tirana terlalu cepat.


Lai roboh dalam kondisi tidak sadarkan diri. Ia jatuh bersama pedang yang tergeletak begitu saja di tanah.


Sementara Bong, meski masih punya tenaga, tetapi ia tidak bisa bangun berdiri. Lututnya yang sudah cedera parah membuatnya tidak berkutik.


“Jika orang-orang ini mau menangkapku begitu saja tanpa ada urusan, berarti wanita berkuda tadi perlu pertolongan,” pikir Tirana.


Ia memandang ke arah pengejaran terjadi. Rombongan berkuda teman-teman Bong dan Lai terlihat sudah begitu jauh. Jika mengejarnya dengan kuda, Tirana yakin tidak akan terkejar. Karenanya, untuk bisa mengejar, Tirana harus menggunakan ilmu Lorong Laba-Laba.


Bress!


Tirana melempar sinar merah berpola sarang laba-laba ke tanah. Lalu melangkah masuk tenggelam ke dalam sinar yang kemudian lenyap dengan sendirinya.

__ADS_1


“Hah! Hantuuu!” kejut Bong yang melihat lenyapnya Tirana ke dalam bumi. Suaranya gemetar ketakutan. Ternyata ia dan Lai menyergap wanita yang bukan manusia. (RH)


__ADS_2