
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Ketika yang lain sedang menikmati kesejukan telaga bermanja dengan hembusan angin yang mengajak tidur mandiri, Tirana dan Getara Cinta mengobati Nyai Kisut.
Nyai Kisut mengalami luka dalam, diduga akibat serangan dua pendekar Kerajaan Baturaharja yang tadi rombongan Joko Tenang temui.
Senandung Senja akhirnya kembali siuman untuk kedua kalinya setelah tidak sadarkan diri sebanyak dua kali, gegara melihat tampang-tampang serigala milik Sandaria. Agar Senandung Senja tidak pingsan lagi, untuk sementara kaum serigala di sembunyikan dari jangkauan pandangan Senandung Senja.
Terbukti, ketika Senandung Senja tersadar, ia langsung mencari-cari ke sekitar dengan ekspresi yang masih ketakutan. Sepertinya ia mencari para serigala itu.
“Tenang, tenang, kau aman. Serigalanya sudah pergi,” ucap Kerling Sukma mencoba menenangkan Senandung Senja.
“Anjing, aku takut dengan mereka,” ucap Senandung Senja masih bernada panik.
“Itu serigala, bukan binatang yang kau maksud,” kata Kusuma Dewi pula.
Senandung Senja lalu berhenti mencari keberadaan para serigala yang diduganya adalah anjing-anjing. Ia lalu menatapi wajah jelita Kerling Sukma dan Kusuma Dewi bergantian. Kedua wanitanya Joko Tenang itu hanya memberikan senyuman.
“Nyai Kisut!” sebut Senandung Senja cemas saat teringat dengan wanita yang digendongnya.
“Nyai Kisut sedang diobati, dia akan baik-baik saja,” kata Kerling Sukma sambil menunjukkan di mana keberadaan Nyai Kisut.
“Prajurit, prajurit!” sebut Senandung Senja lagi, masih cemas dan takut.
“Mereka sudah pergi, kembali ke kerajaan,” jawab Kusuma Dewi.
“Apakah kalian orang baik?” tanya Senandung Senja, lugu. Rasa cemas dan ketakutannya sudah mulai berkurang.
“Tentu saja,” jawab Kerling Sukma cepat. “Tapi, apakah kau juga orang baik?”
“Iya, iya. Kami bukan orang jahat, kami bukan pemberontak, kami tidak mau dibunuh!” jawab Senandung Senja.
“Jika kalian bukan wanita jahat, lalu kenapa kalian hendak dibunuh?” tanya Kusuma Dewi.
“Aku tidak tahu. Mereka selalu meneriaki aku anak pemberontak, aku sedih, susah hati, ke sana dikejar, ke sini dikejar,” keluh Senandung Senja sedih, serasa ingin menangis.
“Kenapa kau takut dengan anjing-anjing?” tanya Sandaria yang datang mendekat tanpa membawa para serigalanya.
__ADS_1
Melihat kedatangan wanita cantik jelita, tapi matanya tertutup itu, Senandung Senja mengipaskan tangannya untuk menarik perhatian Sandaria. Namun, gadis mungil itu tidak bereaksi karena ia memang tidak melihat apa yang Senandung Senja lakukan.
“Mereka… mereka jahat. Mereka memakan Ibu,” jawab Senandung Senja lalu berubah semakin sedih. Lalu ia pun menangis seperti menangisnya anak kecil. “Ibu…!”
Tangis itu membuat ketiga wanita cantik itu jadi bingung. Tirana dan Getara Cinta yang sedang mengobati Nyai Kisut di sisi yang lain, jadi memandang kepada mereka.
“Ibu…!” ratap Senandung Senja. Ia benar-benar menangis, sebab air matanya banyak yang tertumpah.
“Peluk, peluk!” bisik Kusuma Dewi kepada Kerling Sukma.
Gadis bermata hijau itu lalu beringsut kian merapat kepada Senandung Senja, lalu dengan kaku bergerak mencoba memeluk gadis itu. Pelukan Kerling Sukma tidak seluwes ketika ia memeluk Joko Tenang.
“Jangan menangis, ibumu sudah bahagia di alamnya yang baru,” ucap Kerling Sukma berusaha menghibur.
Meski kaku, tetapi usaha Kerling Sukma berhasil menenangkan Senandung Senja dan membuat gadis itu menghentikan tangisnya.
“Senandung!” panggil Nyai Kisut lirih. Akhirnya wanita tua itu tersadar dari pingsannya yang cukup panjang. Ketika melihat keberadaan Tirana dan Getara Cinta, Nyai Kisut kerutkan kening keriputnya. “Siapa kalian? Apakah ini di nirwana?”
“Bukan, kau belum mati, Nyai. Kami adalah orang-orang yang menolongmu,” kata Tirana dengan gaya kesejukan sikapnya berhias senyum yang memberi kenyamanan.
“Di mana Senandung?” tanyanya lagi.
Nyai Kisut mengangkat sedikit badan atasnya seraya mengerenyit, menahan rasa sakit dalam tubuhnya. Ia memandang ke posisi Senandung Senja.
“Senandung Senja, Nyai Kisut mencarimu!” panggil Getara Cinta.
Senandung Senja segera bangkit berdiri. Ia segera datang ke tempat Nyai Kisut berada. Kerling Sukma, Kusuma Dewi dan Sandaria mengikuti di belakang. Kerling Sukma menggandeng tangan Sandaria, membuat gadis manja itu tersenyum.
Joko Tenang pun datang mendekat, ia perlu tahu cerita dari kedua wanita yang mereka tolong.
“Syukurlah, kau tidak apa-apa, Senandung,” ucap Nyai Kisut dengan suaranya yang masih bening, suara yang jauh lebih muda dari penampilan fisiknya. “Maafkan aku karena lengah melawan mereka.”
“Tidak apa-apa, Nyai. Yang penting kita selamat sekarang,” ucap Senandung Senja seraya tersenyum tipis bercampur kesedihan.
“Coba kalian ceritakan dengan tenang, jangan panik karena sekarang kalian dalam kondisi yang aman. Apakah benar Senandung Senja adalah keturunan terakhir dari pemberontak bernama Arta Pandewa?” tanya Joko Tenang dengan nada yang lembut.
Mendelik Nyai Kisut mendengar pertanyaan Joko Tenang. Ekspresinya menunjukkan kebingungan. Demikian pula ekspresi Senandung Senja yang berubah menjadi agak cemas kembali, seolah pertanyaan Joko Tenang menciptakan suasana yang mengancam.
“Kenapa kalian merasa terancam seperti itu?” Yang bertanya justru Sandaria yang bisa merasakan sikap Senandung Senja dan Nyai Kisut.
__ADS_1
“Kami tidak akan mencelakai kalian, karena kami tidak memiliki alasan untuk mencelakai kalian,” kata Tirana lembut.
“Bisakah aku tahu siapa kalian sebenarnya?” tanya Nyai Kisut. Ia memiliki jiwa yang lebih stabil dibandingkan dengan Senandung Senja yang terlihat lebih cengeng.
“Aku adalah Pangeran Dira dari Kerajaan Sanggana Kecil. Para wanita cantik ini adalah istri-istri dan calon istriku,” jawab Joko Tenang yang berdiri di belakang punggung Tirana.
“Hah!” desah Senandung Senja dan Nyai Kisut terperangah. Mereka jelas terkejut. Mereka pernah beberapa kali bertemu dengan orang yang memiliki istri lebih dari dua, tetapi baru kali ini yang sampai sebanyak ini dan semuanya memiliki level kecantikan Miss World.
“Tapi apakah kalian bisa membawa kami keluar dari wilayah kekuasaan Baturaharja?” tanya Nyai Kisut.
“Harus ada alasan yang kuat bagi kami untuk bisa membawa kalian keluar dari wilayah Baturaharja, Nyai,” kata Getara Cinta.
“Jika kalian tidak menceritakan permasalahan kalian dan kalian tidak jujur, jelas kami tidak punya alasan,” kata Kerling Sukma pula.
“Baik, aku akan menceritakan, tetapi kalian harus berjanji melindungi Senandung Senja. Setidaknya lindungilah dia sebagai seorang gadis malang yang sedang terancam tanpa memiliki seorang pun pelindung,” ujar Nyai Kisut.
“Baik, selama Senandung Senja bersama kami, kami wajib melindunginya, demikian pula dengan Nyai,” tandas Joko Tenang.
“Senandung Senja bukanlah putri seorang pemberontak. Benar, dia adalah keturunan terakhir Arta Pandewa, nama aslinya Putri Wilasin. Namun, Arta Pandewa bukanlah seorang pemberontak, tetapi ia adalah Raja Kerajaan Baturaharja yang digulingkan. Prabu Arta Pandewa dan semua keluarga besarnya telah dibunuh oleh raja Baturaharja yang sekarang. Senandung Senja adalah satu-satunya keturunan Prabu Arta Pandewa yang masih hidup. Maka, bagi Menak Ujung, Senandung Senja adalah bibit kehancuran baginya jika tetap dibiarkan hidup. Aku hanya bisa bercerita yang terkesan adalah sebuah kisah bohong, kami tidak punya bukti bahwa Senandung Senja adalah pewaris sah tahta Kerajaan Baturaharja. Aku adalah putri dari abdi dalam setia Permaisuri Lima Pesona, ibu dari Senandung Senja. Usiaku sepuluh tahun lebih tua dari Senandung,” tutur Nyai Kisut.
“Hah!”
Kali ini yang mendesah ramai-ramai terkejut adalah para istri dan calon istri Joko Tenang. Bagaimana tidak terkejut? Nyai Kisut mengaku usianya sepuluh tahun lebih tua dari Senandung Senja yang masih belia, tetapi fisiknya adalah nenek-nenek usia di atas enam puluh tahun.
“Nama asliku adalah Gema Ripah. Aku masih muda. Namun, karena aku salah minum ramuan guruku, aku menderita penuaan raga menjadi lebih cepat. Dan itu mengancam nyawaku jika ragaku sudah tidak kuat karena terlalu tua. Jadi aku memiliki tugas untuk mencarikan orang yang bisa melindungi Senandung Senja dari ancaman pembunuhan orang-orang Baturaharja,” jelas Nyai Kisut.
“Seharusnya suaramu juga terpengaruh, tetapi ini tetap muda,” komentar Kerling Sukma.
“Jadi, aku mohon kepada kalian. Bawalah kami keluar dari wilayah Baturaharja. Sejak kecil Putri Wilasin sudah mengalami ancaman-ancaman mengerikan dari para prajurit Baturaharja. Sepanjang hidupnya dihantui ketakutan sampai sekarang. Aku mohon, Gusti Pangeran,” ucap Nyai Kisut memelas.
“Apakah Permaisuri Lima Pesona tewas oleh anjing?” tanya Sandaria.
“Benar. Putri Wilasin akan sangat ketakutan jika melihat binatang itu, bahkan sampai jatuh tidak sadarkan diri,” jawab Nyai Kisut.
“Berarti aku harus jauh-jauh darinya, sebab para serigalaku mirip dengan hewan yang ditakutinya,” kata Sandaria.
“Baik, untuk sementara kami akan membawa kalian. Tapi kami membutuhkan bukti bahwa Putri Wilasin atau Senandung Senja ini adalah pewaris sah tahta Baturaharja,” kata Joko Tenang memutuskan.
“Tapi ada beberapa orang yang bisa memberi kesaksian bahwa Senandung Senja adalah Putri Wilasin, satu-satunya pewaris Prabu Arta Pandewa,” kata Nyai Kisut.
__ADS_1
Tirana lalu bergerak mengecup kening Nyai Kisut. Ia memberikan pengobatan Kecupan Malaikat, menyempurnakan pengobatan yang telah diberikan oleh Getara Cinta. (RH)