
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
“Jangan biarkan satu pun dari mereka ada yang hidup! Seraaang!” teriak Ririn Salawi mengomandoi para pengikutnya untuk menyerang rombongan Kerajaan Sanggana Kecil.
Cring! Clap!
Mendengar komando dari pemimpin musuh itu, Permaisuri Sandaria yang memimpin rombongan, segera menggerakkan bel kalung pada leher serigala hitamnya.
Puluhan pendekar pengikut Penagih Nyawa yang sudah berlompatan menyerang atau melesatkan senjatanya berupa paku-paku besar, jadi terkejut karena mereka menyerang ruang yang kosong dari lawan.
Rombongan besar itu tahu-tahu menghilang seperti tertelan udara. Selanjutnya, mereka bingung mencari ke sekitar. Mereka tidak menemukan seorang pun lawan.
Ririn Salawi dan para pengikutnya mengalami keterkejutan dan kebingungan selama sepuluh detik. Selanjutnya, mereka dilanda ketegangan, sebab mereka yakin bahwa lawan mereka akan menyerang mendadak, entah dari mana.
“Tetap siaga!” teriak Ririn Salawi mengingatkan seluruh pengikutnya.
Grerrr!
“Huah!” pekik kencang Ririn Salawi sambil spontan melempar kencang tubuhnya ke belakang, menabrak pasukannya sendiri.
Bagaimana Ririn Salawi tidak terkejut tingkat setan? Tiba-tiba tepat di depan wajah cantik berhidung jambu itu, muncul begitu saja moncong Satria yang menggeram menampakkan gigi-gigi besarnya yang runcing.
Pada saat yang sama, Permaisuri Sandaria yang duduk dipunggung Satria melayang turun ke depan, tepat di hadapan Ririn Salawi.
Tak tuk tak tuk tok tok…!
Barisan pengikut yang ada di belakang Ririn Salawi cepat bereaksi dengan cara menyerang Permaisuri Sandaria bertubi-tubi dan bergantian. Namun, tanpa menggerakkan tubuhnya atau menggeser kakinya, Permaisuri Sandaria dengan tenangnya memainkan tongkat birunya, gerakannya sangat cepat.
Semua serangan yang datang kepada Permaisuri Sandaria dipukul dengan ujung tongkat biru ajaibnya. Itupun bukan pukulan biasa. Satu kali kena pukul, korban langsung terkapar. Apakah kakinya jadi lumpuh, tangannya jadi lumpuh, atau kepalanya jadi error, sehingga satu ketukan sama dengan satu musuh berkurang.
Pada saat yang sama, empat serigala besar yang tubuhnya sudah berperisai lapisan sinar biru muncul pula dan berlakon seperti banteng. Mereka tidak lagi menggigit atau mencakar, tetapi fungsinya berubah menjadi menyeruduk. Orang yang diseruduk pun berpentalan dengan berbagai kondisi akhir. Ada yang menghantam batang pohon, ada yang masuk ke rimbunnya semak belukar, atau terpental menabrak rekan sendiri. Kesakitan hingga patah tulang, itulah hasilnya.
Clap!
Bruss bruss bruss…!
Tiba-tiba dari atas pohon besar, berkelebat sosok Senopati Batik Mida. Sepasang lengan kekar dan besarnya itu langsung menghentak-hentak seperti kerja mesin 4 tak.
Jaring-jaring sinar merah kecil berlesatan dari kedua telapak tangan Senopati Batik Mida. Sinar-sinar dari ilmu Pengunci Paha itu mengenai setiap serangan, membuat para pegikut Penagih Nyawa yang terkena langsung ambruk, karena tiba-tiba paha mereka menjadi lumpuh. Mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali bisa menggeser tubuhnya dengan angkatan kedua tangannya.
Namun, satu sinar merah jaring laba-laba mungil itu bisa dihindari oleh seseorang, yaitu Loyak Bata, pemimpin orang-orang yang berpakaian biru gelap.
Meski bisa mengelaki serangan itu, tetapi Loyak Bata akan mengalami masa sulit di tangan Senopati Batik Mida. Perwira bertubuh perkasa itu telah melesat cepat memburunya. Loyak Bata cepat mengandalkan pedangnya.
Di sisi lain, Adi Manukbumi dan Luring tiba-tiba muncul menyerang Gebang Batra. Keduanya bertarung dengan ganas, membawa dendam atas kematian Mumu Kedalang.
Set! Teb!
“Aaak!” pekik Gebang Batra tinggi.
Saat Gebang Batra hendak menyerang Adi Manukbumi dengan cakaran besinya, tiba-tiba satu anak panah melesat cepat menancapi telapak tangan Gebang Batra yang terangkat.
Asih Marang yang telah memanah tangan Gebang Batra, beralih menargetkan para pendekar berpakaian merah yang bersenjata tali kuning.
__ADS_1
Surya Kasyara yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah pasukan Ririn Salawi, mengamuk tanpa sebab. Ia langsung memainkan jurus Pemabuk Buta. Surya Kasyara pun menggila. Gerakannya yang tidak teratur tidak bisa diterka dan ia pun sulit untuk di pentung atau dijewer.
Jleg! Wus wus wus…!
Zess zess zess…!
Blar blar blar…!
Reksa Dipa muncul pula di tengah-tengah pertarungan. Dari dalam tubuhnya langsung berlompatan lima bayang dirinya, dengan kedua tangan menggenggam bola sinar berwarna merah.
Kelima bayangan dari ilmu Sukma Bayang Wujud itu melesatkan kesepuluh sinar merahnya pada kelompok musuh yang ada dalam formasi barisan. Maka tanpa ampun, sepuluh ledakan membuat barisan musuh berantakan dengan anggota tubuh yang berhancuran.
Sepertinya pendekar pendiam ini tidak menerima pesan Prabu Dira yang memerintahkan untuk memperkecil korban.
“Seraaang!”
“Seraaang!”
Tiba-tiba dari sisi belakang barisan lawan bermunculan para prajurit pasukan Kerajaan Sanggana Kecil. Teriakan “serang” mereka yang kompak, mengejutkan barisan pengikut Ririn Salawi yang sudah kadung jatuh mentalnya.
Mungkin, level keilmuan para pengikut Ririn Salawi ada di atas keilmuan para prajurit biasa bawahan Senopati Batik Mida, tetapi serangan dadakan dari belakang secara beramai-ramai membuat mereka mati langkah dan mati nyali.
Sebagai prajurit militer, para prajurit itu sudah dibekali tekhnik melumpuhkan. Maka dalam gerak sekali gebrak, mereka menghajar keras bagian belakang kepala para pendekar itu dengan pinggiran perisai.
Kondisi itu menimpa dua barisan anak buah Ririn Salawi, sehingga banyak yang tumbang tidak sadarkan diri.
Sementara itu, Permaisuri Kerling Sukma langsung menargetkan Babat Seta.
Buk!
Seset!
Babat Seta yang kesakitan, cepat melesatkan serentetan jarum-jarum besar kepada Permaisuri Kerling Sukma.
Wuss!
Namun, mudah bagi Permaisuri Kerling Sukma mengibaskan tangannya, menciptakan angin tenaga dalam yang membuang arah lesatan jarum-jarum itu.
“Aaak!” jerit dua orang pendekar berseragam hitam karena terkena jarum-jarum itu. Namun, mereka tidak akan mati, mereka hanya akan lumpuh karena efek racun dari senjata itu.
Permaisuri Kerling Sukma telah melesat maju dengan tangan kanan berbekal ilmu Api Putih.
Sess! Bluar!
Bola api putih dilesatkan oleh Permaisuri Kerling Sukma. Beruntung, Babat Seta bisa melesat menghindar naik ke udara, meninggalkan akar pohon yang hancur parah.
Seset! Clap!
Dari atas, Babat Seta kembali melesatkan sejumlah jarum besarnya. Namun, Babat Seta hanya bisa mendelik terkejut. Ia tidak tahu Permaisuri Kerling Sukma melesat ke arah mana. Sosoknya seperti menghilang begitu saja karena terlalu cepatnya.
“Sial! Di atas!” maki Babat Seta saat merasakan kehadiran lawannya ada di atas posisinya.
Wuzzz! Sess!
Dengan tubuh yang meluncur ke bawah, Babat Seta menghentakkan kedua tinjunya ke atas, ke arah Permaisuri Kerling Sukma yang memang tahu-tahu sudah berada tinggi di udara.
__ADS_1
Segelombang sinar biru berwujud runcing melesat cepat menghantam sinar putih berwujud bola api kiriman Permaisuri Kerling Sukma.
Bluar!
Satu ledakan tenaga sakti terjadi di udara, mengguncang beberapa pohon besar sekitar.
Bdugk!
“Hoekhr!”
Setelah tubuhnya menghantam keras tanah hutan akibat dorongan daya ledak tadi, Babat Seta muntah darah kental.
Permaisuri Kerling Sukma dengan ringannya mendarat di dekat Babat Seta.
“Ja… jangan bunuh!” ucap Babat Seta ketakutan, karena ia memang sudah tidak bisa melawan. Selain sakit, seluruh tubuhnya melemah karena luka dalamnya.
“Aku ampuni kau,” ucap Permaisuri Kerling Sukma. Ia lalu menotok Babat Seta.
Selanjutnya, mulailah Permaisuri Kerling Sukma melakukan operasi pelumpuhan pasukan musuh yang masih tersisa.
Di sisi lain, Loyak Bata berusaha melakukan perlawanan. Permainan pedangnya cepat dan menggila. Serangan itu hanya membuat Senopati Batik Mida bergerak mundur-mundur. Hingga kemudian….
Tik! Ting!
Dengan satu gerakan yang cepat tidak terlihat, tahu-tahu pedang Loyak Bata terhenti oleh jepitan dua jari kuat Senopati Batik Mida. Lelaki berjenggot itu hanya mendelik terkejut ketika Senopati dengan mudahnya mematahkan pedang. Pedang pun sampai terlepas dari genggaman Loyak Bata.
Bruss!
“Hekk!” keluh Loyak Bata saat tubuhnya dimasuki sinar merah berwujud jaring laba-laba mungil, yang dilesatkan begitu saja oleh tangan kiri Senopati Batik Mida.
Sontak Loyak Bata jatuh terduduk, karena otomatis kedua pahanya lumpuh.
“Heaaat!” teriak Loyak Bata. Ia masih mau melawan dengan menghentakkan lengan kanannya dalam posisi terduduk.
Cerss!
Sling! Bless!
“Aaa!” pekik seorang lelaki berseragam merah saat sebutir sinar merah melesat menembus dadanya. Ia pun jatuh tanpa nyawa.
Sebelum kejadian itu, dari telapak tangan Loyak Bata melesat satu sinar merah kecil menyerang Senopati Batik Mida. Namun, dari telapak tangan kanan Senopati Batik Mida keluar sebidang lapisan sinar seperti cermin putih yang memantulkan sinar merah ke arah lain.
Sinar merah itu jadi beralih arah menembus batang pohon besar lalu mengenai dada rekan Loyak Bata yang saat itu berada di balik pohon.
“Surya Kasyara!” teriak Permaisuri Kerling Sukma tiba-tiba.
“Hamba, Yang Mulia!” sahut Surya Kasyara sambil menginjak lutut lawannya dengan gaya mabuk.
“Cepat pulang, minta bantuan pasukan!” teriak Permaisuri Kerling Sukma.
“Siaaap!” teriak Surya Kasyara.
Pendekar Gila Mabuk lalu meninggalkan lawan-lawannya yang kelimpungan mengeroyok pendekar satu itu. Surya Kasyara berkelebat cepat meninggalkan arena pertempuran.
Permaisuri Sandaria dan Senopati Batik Mida jadi terkejut dengan perintah Permaisuri Kerling Sukma kepada Surya Kasyara. Keduanya sangat yakin bahwa kelompok Hutan Malam Abadi ini bisa ditaklukkan dengan mudah, tapi kenapa Permaisuri Kerling Sukma justru minta bantuan. (RH)
__ADS_1