Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
67. Pertarungan Hujabayat


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Pertarungan final di Sumur Juara terus berlanjut. Untuk sementara Kerajaan Tabir Angin memperoleh satu kemenangan dan Kerajaan Hutan Kabut satu kemenangan juga.  Hasil sementara imbang.


Kini, giliran Tirana yang turun ke arena lebih dulu. Namun, belum terlihat pendekar jagoan yang akan diturunkan oleh Ratu Aswa Tara untuk menghadapi Tirana. Bagi mereka yang sudah pernah melihat kesaktian Tirana, mereka pasti berkeyakinan bahwa Tirana akan menang dan kemenangan menjadi milik Kerajaan Tabir Angin.


Namun, Ratu Aswa Tara jelas tidak mau kalah dengan mudah. Buktinya, sebelumnya ia menurunkan dua petarung yang tidak disangka-sangka, yaitu Pangeran Serak Bayat dan Puspa.


“Joko, apa yang kau sepakati dengan Puspa?” tanya Ratu Getara Cinta di tribun utara.


“Dia berjanji akan datang kepadaku di Tabir Angin,” jawab Joko tanpa datang mendekat kepada sang ratu.


“Apa yang kau janjikan kepadanya untuk membujuknya?”


“Hanya mengalah dan mengajaknya jalan-jalan mencari permata.”


Ratu Getara Cinta hanya tersenyum kecil mendengar jawaban itu.


Sementara itu, dari dalam lorong di tribun selatan muncul sosok lelaki berbaju merah bercelana hitam. Kepalanya diikat pita putih yang dua ujungnya terjuntai panjang di belakang. Pemuda tampan bersabuk transparan itu tidak lain adalah Hujabayat, pemuda yang dicari-cari oleh Kembang Buangi di Kampung Penerus dan Lembah Gelap. Tangan kanannya memegang sebilah pedang tanpa warangka.


Hujabayat lalu berkelebat turun ke gelanggang dan mendarat di hadapan Tirana.


Melihat kemunculan Hujabayat, Joko Tenang dan Tirana agak terkejut. Keberadaannya itu menunjukkan bahwa Ginari dan Kembang Buangi tidak akan menemukan Hujabayat di tempat yang mereka serang.


Namun, ada yang aneh pada Hujabayat. Ekspresi wajahnya dingin, datar-datar saja. Warna putih sepasang matanya hilang, berganti merah.


“Hujabayat!” sebut Tirana memanggil.


Hujabayat tidak menjawab. Ia justru merespon dengan langsung menyerang Tirana. Serangan pembukanya begitu galak dan bernafsu, meski Hujabayat sendiri tetap menunjukkan wajah dingin.


Meski cepat, jika hanya sekedar serangan pedang biasa, Tirana dengan mudah mementahkannya.


“Hujabayat! Apa kau mendengarku?!” seru Tirana sambil mengelaki semua serangan pedang Hujabayat. Ia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan diri Hujabayat. Ia yakin bahwa Ratu Aswa Tara atau prajuritnya telah membuat Hujabayat menjadi aneh.


Namun, Hujabayat tidak menjawab seruan Tirana. Ia terus menyerang gadis itu tanpa henti dan jeda.

__ADS_1


“Siapa pemuda itu, Joko? Kenapa Tirana tidak langsung menaklukkannya?” tanya Panglima Jagaraya kepada Joko.


“Dia Hujabayat, kekasih Kembang Buangi,” jawab Joko.


“Mungkin dia dikendalikan oleh ilmu Kendali Arwah milik Aswa Tara,” duga Panglima Jagaraya. “Selama dia tidak mati, dia tidak akan berhenti menyerang.”


“Tampaknya Ratu Aswa Tara yakin bahwa aku dan Tirana tidak akan mungkin membunuh Hujabayat,” kata Joko.


Bak!


Satu tendangan cukup keras akhirnya disarangkan Tirana ke dada Hujabayat. Tubuh pemuda itu jatuh terjengkang. Ia segera bangkit lagi lalu langsung menyerang Tirana lagi dengan pedang yang berpola sama.


“Hujabayat! Apakah kau tidak mengenaliku?!” bentak Tirana sambil mundur setindak mengelaki sabetan pedang Hujabayat.


Hujabayat seperti tidak punya telinga. Ia sedikit pun tidak bereaksi terhadap pertanyaan Tirana.


Dak! Buk!


Kaki kiri Tirana menendang keras tangan kanan Hujabayat, membuat pedangnya terpental keras jauh. Menyusul kaki kanan menusuk perut Hujabayat. Pemuda itu terjajar mundur dengan tubuh membungkuk.


Hujabayat kembali tegak. Ia menghentakkan kedua lengannya, membuat kedua tangannya berubah warna menjadi menyala kuning. Selanjutnya Hujabayat melesat ke depan menyerang Tirana.


Untuk pertama menghadapi ilmu Lengan Menguning milik Hujabayat, Tirana belum berani langsung menangkis. Ia memilih mengelak. Saat serangan tangan Hujabayat lewat tidak jauh dari wajah Tirana, dapat dirasakan dengan kental hawa panas tapi membawa bau asam.


“Jika Hujabayat dikendalikan, kenapa ia bisa mengeluarkan ilmunya sendiri, Panglima?” tanya Joko Tenang kepada Panglima Jagaraya.


“Itulah kelebihan ilmu Kendali Arwah, korban tetap bisa mengeluarkan ilmu kesaktiannya, tapi tidak bisa mengenali lawan,” jawab Panglima Jagaraya.


“Sangat berbahaya jika orang yang dikendalikan seorang pendekar sakti,” kata Joko.


Di arena tarung, Tirana menggunakan ilmu pelindungnya untuk menangkal kehebatan Lengan Menguning Hujabayat. Meski tubuh Tirana terlihat biasa-biasa saja, tetapi ketika ia menepis pukulan Hujabayat, muncul seperti percikan sinar merah. Ilmu Kulit Naga Api milik Tirana membuat ia kebal terhadap efek bakar dan penghancur kulit dari ilmu Lengan Menguning.


Bak bak!


Dua pukulan Tirana masuk menghajar dada Hujabayat, membuat pemuda tampan itu terjengkang. Namun pukulan keras itu tidak melukai Hujabayat, karena memang Tirana tidak mau membuat fisiknya terluka.

__ADS_1


Hujabayat kembali bangkit. Kedua lengannya sudah tidak menyala kuning. Ia lalu melompat dari satu tempat ke tempat lain. Setiap ia melompat, ia meninggalkan satu sosok duplikat Hujabayat. Tirana memilih diam menunggu.


Ketika Hujabayat berhenti melompat, maka Tirana kini dikepung oleh 12 sosok hujabayat yang sama persis. Kedua belas Hujabayat itu memiliki gerakan sendiri-sendiri yang tidak sama. Namun, semua tangan mereka mengeluarkan sinar hijau. Itu adalah ilmu andalan Hujabayat yang bernama Lingkar Hantu.


Joko Tenang sendiri mengenali ilmu itu dan sudah pernah menaklukkannya, ketika Hujabayat masih belum bersahabat dengannya. Ia yakin bahwa Tirana yang lebih sakti darinya memiliki cara sendiri untuk menaklukkan ilmu itu.


Tirana menggerakkan kedua tangannya seperti memercikkan air ke dua sisi. Maka dua gelombang tenaga halus menebar melebar ke dua arah lalu menerpa kedua belas sosok Hujabayat. Dari hasil itu, satu sosok Hujabayat berhenti bergerak dan berdiri mematung. Sementara kesebelas sosok lainnya tidak terpengaruh. Sosok Hujabayat yang mematung itu menunjukkan bahwa ialah sosok asli.


Sess! Sess!


Namun, dua sosok palsu Hujabayat menghentakkan kedua lengannya yang kemudian melesatkan empat sinar hijau berbentuk jaring laba-laba, hampir serupa dengan Lorong Laba-Laba milik Tirana.


Zersss! Zess! Zess!


Tirana mampu mengelak dengan cepat menghindari serangan jaring yang bertujuan melumpuhkan pergerakannya. Tubuhnya gesit melesat datar di bawah sambil kedua tangannya mengeluarkan bola sinar biru yang berasap tipis. Bola itu langsung dilepaskan melesat menghantam dua sosok palsu Hujabayat. Dua sosok itu seketika buyar dan lenyap.


Sess! Sess!


Zersss! Zess! Zess!


Sosok Hujabayat yang lain tidak tinggal diam, beberapa di antaranya melesatkan jaring-jaring sinar hijau. Tirana terlalu cepat bergerak. Dengan mudah ia menghindari sergapan jala-jala itu. Dua jala bahkan menangkap sosok Hujabayat palsu yang lain, membuatnya langsung menghilang. Tirana pun kembali melepaskan sinar Bola Kulit Langit. Dua sosok palsu Hujabayat kembali lenyap, karena sosok-sosok itu tidak memiliki kegesitan dalam bergerak.


Ilmu Lingkar Hantu Hujabayat tidak begitu bekerja bagi Tirana. Justru Tirana melenyapkan sosok-sosok palsu Hujabayat satu demi satu. Tirana berani menghancurkan kesebelas sosok Hujbayat yang lain karena ia tahu sosok aslinya.


Melihat ketidakberkutikan ilmu hebat Hujabayat terhadap Tirana, membuat Ratu Aswa Tara gusar di tempat.


Bress!


Lengan kanan Tirana melepaskan sinar merah berbentuk jaring laba-laba yang kemudian menempel di bongkahan batu. Tirana menghampiri Hujabayat asli yang berdiri diam tidak berkutik. Ia raih belakang baju Hujabayat dan menyeretnya. Tubuh Hujabayat lalu ia tarik dan dilemparkan ke dalam jaring sinar laba-laba. Tubuh Hujabayat masuk tenggelam seperti masuk ke dalam air. Hilang. Setelah itu, sinar Lorong Laba-Laba Tirana juga lenyap.


Mendeliklah Ratu Aswa Tara melihat kenyataan itu. Para prajurit kubu Kerajaan Tabir Angin bersorak mengekspresikan kemenangan mereka.


“Pertarungan berakhir, Ratu!” seru Tirana kepada Ratu Aswa Tara.


Ratu Aswa Tara dan para punggawanya terdiam menahan kemarahan. Namun, tiba-tiba....

__ADS_1


“Seraaang!” (RH)


__ADS_2