Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
47. Negosiasi Asmara


__ADS_3

Di Hutan Kabut.


Usai memenangkan Hutan Kabut dalam pertarungan Sumur Juara, Joko Tenang dan Tirana ditempatkan di sebuah pondok kayu yang tidak begitu jauh dari sungai yang mengalir. Namun, pondok kayu itu mendapat penjagaan yang ketat oleh sejumlah prajurit wanita berpakaian putih-putih.


Ada satu kamar untuk beristirahat. Di ruang depan disiapkan makanan, buah dan minuman.


“Apa selanjutnya yang harus kita lakukan, Kakang?” tanya Tirana sambil menuangkan minum untuk calon suaminya.


“Aku khawatir dengan kondisi Ginari dan Kembang Buangi,” kata Joko pelan.


“Kita harus menekan Ratu Aswa Tara agar mau menyerahkan Ginari dan Kembang Buangi dalam pengawasan kita, Kakang,” kata Tirana. “Biar aku nanti masuk ke penjara untuk mencari mereka. Jika mereka ditahan di sana, aku bisa mengamankan mereka dari tangan orang-orangnya Aswa Tara.”


“Tapi kita belum tahu pula keberadaan Hujabayat.”


“Aku rasa kita bisa mengorek paksa keterangan dari para prajurit.”


“Aku curiga bahwa kaum lelaki ditempatkan di suatu tempat. Tidak mungkin pasukan wanita ini tercipta begitu saja tanpa adanya lelaki.”


“Silakan diminum, Kakang,” kata Tirana seraya tersenyum manis. Ia lalu bergeser agak menjauh.


Joko Tenang beringsut ke dekat meja dan meraih gelasnya.


“Jika memang Arak Kahyangan ada di Kerajaan Tabir Angin, kita harus bertindak cepat, Tirana. Kita belum tahu, sejauh mana letak Kerajaan Tabir Angin dan di mana tepatnya. Jika mengikuti perhitungan Nyi Lampingiwa, kita tinggal memiliki waktu tiga hari. Sedangkan pertemuan ketiga pertarungan Sumur Juara tiga hari kemudian. Jelas tidak bisa menunggu sampai pertarungan di Sumur Juara,” kata Joko.


“Jalan satu-satunya adalah membawa Ginari dan Kembang Buangi ke Kerajaan Tabir Angin hari ini juga....”


“Kau akan kesulitan, Sayang,” kata Joko memotong.


Mendelik dan terdiam Tirana ketika Joko menyebutnya “Sayang”. Jantung hatinya terasa dibelai saat itu juga. Akhirnya Tirana tersenyum malu sendiri. Ini untuk kali kedua Joko menyebutnya “Sayang” setelah pertama kali Joko menyebutnya saat berada dalam penjara.


“Kenapa?” tanya Joko.


“Aku bahagia, Kakang,” jawab Tirana jujur dengan wajah memerah malu.


Joko Tenang tersenyum.


“Aku harus menyayangimu, Tirana, sebagaimana engkau mencurahkan hati, raga dan waktumu untukku. Tidak akan adil jika cinta dan sayang itu hanya datang darimu. Tidak adil jika hanya engkau yang mempertaruhkan nyawa untukku. Aku pun harus mempertaruhkan nyawa untukmu.”


“Terima kasih, Kakang,” ucap Tirana tersenyum lalu menyeka setetes air mata harunya. “Aku merasa sangat beruntung bisa dicintai oleh Kakang.”


Joko Tenang tersenyum.


“Setelah urusan ini selesai, kita temui guruku untuk menikahkan kita,” tandas Joko.


“Kakang sudah sepenuh hati untuk benar-benar mau menikah?” tanya Tirana.


“Aku siap. Namun itu bisa kita bahas lagi setelah menyelamatkan Ginari dan Kembang Buangi,” kata Joko. “Jika kau bisa menemukan Ginari dan Kembang Buangi, langsung bawa mereka ke Kerajaan Tabir Angin.”


“Itu berarti aku akan berpisah dengan Kakang. Aku tidak bisa melakukannya, aku harus tetap bersama Kakang,” kata Tirana.


“Tidak bisa, Sayang. Jika kita terlihat bergerak bebas berdua, Ratu Aswa Tara bisa mengeksekusi Ginari, Kembang Buangi dan Hujabayat. Kita harus mengutamakan Ginari dan Kembang Buangi, sebab mereka dalam kondisi sekarat. Sementara kita abaikan Hujabayat, dengan dugaan bahwa ia hanya dipenjara di suatu tempat. Kau cari Ginari dan Kembang Buangi, bawa mereka pergi.”

__ADS_1


“Baik, Kakang. Tapi Kakang harus segera menyusulku ke timur,” kata Tirana.


Dari luar rumah masuk seorang prajurit wanita.


“Hormat hamba, Pendekar!” ucap prajurit itu di ambang pintu.


“Ada apa?” tanya Joko.


“Pendekar Joko diminta menemui Yang Mulia Ratu,” jawab prajurit wanita itu.


Joko menatap Tirana. Gadis jelita itu mengangguk.


“Tidak lama saat bersama Ratu, aku akan membuat keributan,” kata Joko pelan kepada Tirana.


Joko bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.


“Jalanlah lebih dulu!” perintah Joko.


Prajurit wanita itu patuh. Ia keluar lebih dulu. Ternyata di luar telah menunggu lima prajurit wanita lainnya untuk mengawal Joko.


“Berjalanlah kalian lebih dulu!” kata Joko.


Para prajurit itu melaksanakan apa yang diperintahkan Joko. Joko sendiri berjalan empat langkah di belakang mereka. Sesekali prajurit wanita paling belakang menengok ke belakang memastikan keberadaan Joko.


Sejumlah prajurit tetap berjaga di depan pintu rumah dan sekitarnya. Tirana muncul di pintu.


“Aku mau istirahat. Aku minta tidak ada yang masuk menggangguku kecuali suamiku!” kata Tirana kepada dua prajurit penjaga pintu.


Tirana lalu masuk dan menutup pintu. Ia pergi masuk ke kamar dan menutup pintu kamar pula.


Dalam perjalanannya, Joko diam-diam mempelajari area-area dan penjagaan yang dilaluinya. Hingga akhirnya Joko dibawa masuk ke sebuah ruangan besar nan megah. Di sepanjang pinggiran ruangan luas itu berdiri para prajurit wanita, termasuk di empat tiang besarnya. Ruangan itu diterangi oleh nyala api obor-obor batu, karena tempat itu memang tidak dimasuki cahaya matahari.


Setelah agak jauh memasuki ruangan besar itu, Joko dan para prajurit yang mengantarnya tiba pada ruang yang berdinding tirai serba kuning. Sisi luar ruang bertirai indah itu dijaga rapat oleh para prajurit wanita berpakaian putih pula, tapi model pakaiannya berbeda dari prajurit pada umumnya. Di pintu ruangan bertirai berdiri seorang prajurit wanita bertubuh tinggi besar berpakaian merah gelap. Wajahnya dingin. Ia adalah Pina Pima.


Setibanya di depan pintu ruang bertirai, para prajurit wanita yang mengantar Joko menjura hormat kepada Pina Pima, lalu berbalik pergi meninggalkan Joko.


“Silakan, Pendekar,” kata Pina Pima setelah bergeser menyingkir dari posisi berdirinya yang menghalangi jalan masuk ke dalam ruang bertirai.


Joko Tenang melangkah masuk. Serba tirai kain kuning. Joko Tenang terus masuk. Ternyata di balik tirai-tirai itu ada ruangan megah yang cukup lapang. Ruang bertirai itu diterangi oleh bola-bola kristal berwarna putih yang membuat ruangan itu menjadi terang.


Ada sebuah dipan berlapis tilam tebal berwarna merah dengan bantal-bantal kuning yang empuk. Dipan itu terbuat dari kayu hitam yang dipahat berukir indah. Di sanalah Ratu Aswa Tara duduk santai barsandarkan di sisi dipan. Ia mengenakan pakaian serba putih. Kali ini kepalanya tidak dihiasi tiara atau pun perhiasan rambut lainnya. Rambutnya lurus terurai, tetapi tidak mengurangi kecantikannya dengan bibir yang tetap merah.


Tidak jauh dari dipan terdapat sebuah meja rias lengkap dengan cermin dan rak yang memuat berbagai macam bahan-bahan dan perlengkapan kecantikan. Di ruangan itu pula terdapat sebuah kolam kecil yang memiliki beberapa patung ikan. Dari setiap mulut ikan yang menganga keluar aliran air yang jatuh ke kolam, memberi musik alam di ruangan itu.


“Silakan duduk, Joko,” kata Ratu Aswa Tara seraya tersenyum manis.


Joko Tenang duduk di salah satu kursi kayu yang posisinya lima langkah dari dipan yang ditempati sang ratu. Di depan kursi itu ada meja batu yang di atasnya terdapat seperangkat alat minum dan sekeranjang buah anggur.


“Tinggalkan kami!” perintah Ratu Aswa Tara kepada Pina Pima.


Pina Pima yang bisa mendengar percakapan di dalam, segera melangkah pergi bersama seluruh prajurit yang berjaga di sekitar kamar bertirai itu.

__ADS_1


“Aku menginginkan kedua wanitaku kau bebaskan, Ratu,” ujar Joko langsung.


“Itu hal yang mudah untuk aku kabulkan. Aku tahu kau merasa tidak tenang selagi kau belum melihat langsung kondisi mereka berdua,” kata Ratu Aswa Tara seraya tersenyum kecil, kian mempermanis kecantikannya. Ia memindahkan rambutnya ke sisi kiri semua, memperlihatkan sisi leher kanannya yang putih bersih.


“Kau telah berjanji akan memberikan Arak Kahyangan,” tuntut Joko.


“Benar. Namun, masih ada satu pertarungan lagi, Joko. Pertarunganmu hari ini telah membuat aku tidak mau kehilangan kau, Joko. Kau telah memikatku.”


“Lalu apa yang kau inginkan, Ratu?” tanya Joko.


“Aku menginginkan kau. Secara pribadi aku menawarkan hatiku, ragaku, dan kerajaanku. Asalkan kau mau menikah denganku,” kata Ratu Aswa Tara.


Joko Tenang terdiam sejenak memandangi Ratu Aswa Tara.


“Maaf, Ratu. Bagaimana bisa aku meletakkan mata dan hatiku kepada wanita lain sedangkan dua wanita yang kucintai berada di ambang kematian?” kilah Joko. “Maaf, aku sedikit pun tidak tertarik dengan kecantikan, cinta, harta dan kekuasaan.”


“Kau menolakku, Joko? Kau tidak takut dengan keselamatan kedua gadis itu?” tanya Ratu Aswa Tara. Kini ia menatap dingin tanpa ada senyum manis lagi.


“Aku dan calon istriku telah memenuhi permintaanmu, Ratu. Aku tidak bisa menunggu untuk pertarungan ketiga itu. Namun, jika kau bisa memberikan Arak Kahyangan hari ini kepada kedua wanitaku, aku akan bertarung di pertemuan ketiga,” kata Joko.


“Tidak. Arak Kahyangan baru akan aku berikan setelah pertarungan ketiga di Sumur Juara!” tegas Ratu Aswa Tara. Ia lalu berdiri dan melangkah hendak mendekati Joko.


“Berhenti, Ratu!” seru Joko ketika jarak mereka tinggal empat langkah.


“Kenapa, Joko? Aku bisa memberikan kehangatan dan buaian yang tidak akan pernah kau dapatkan dari wanita mana pun,” kata Ratu Aswa Tara dengan suara setengah berbisik.


Melihat gelagat tidak bersahabat itu, Joko Tenang segera berdiri.


“Jika hingga senja kedua wanitaku tidak kau bawa kepadaku bersama Arak Kahyangan, aku tidak akan segan, Ratu!” ancam Joko lalu berbalik pergi.


Sest! Sep!


Tiba-tiba Ratu Aswa Tara melesatkan satu sinar putih kecil yang membokong Joko dalam jarak yang demikian dekat. Serangan itu tidak bisa dihindari oleh Joko Tenang. Namun, sinar itu mengenai punggung Joko yang dilindungi oleh rompi pusaka Api Emas. Hasilnya, rompi merah itu menelan sinar putih Ratu Aswa Tara tanpa memberikan pengaruh kepada Joko.


Melihat hal itu, Ratu Aswa Tara hanya bisa mendelik. Ia berharap bahwa serangan curangnya itu bisa membuat Joko berada dalam kendalinya. Serangan itu membuat Joko berbalik menghadap sang ratu.


“Kau tidak bisa dipercaya, Ratu,” kata Joko.


Joko lalu berbalik pergi. Untuk sejenak Ratu Aswa Tara tidak berbuat apa-apa.


“Bagaimana bisa Jentik Kendali Jiwa tidak berguna sedikit pun terhadapnya?” membatin Ratu Aswa Tara. Ia lalu tersadar, segera ia pergi hingga ke pintu bertirai dan berteriak, “Prajurit, jangan biarkan dia pergi!”


“Kepung!” teriak Pina Pima keras dari tempat yang agak jauh dari ratunya.


Maka saat itu juga, puluhan prajurit yang berjaga di ruangan luas itu serentak bergerak mengepung Joko Tenang dengan pedang terhunus.


Pina Pima bersama sejumlah pengawal khusus segera datang mendekat kepada Ratu Aswa Tara.


“Kirim perintah untuk membunuh kedua wanita sekarat itu!” perintah Ratu Aswa Tara kepada Pina Pima.


“Baik, Yang Mulia Ratu,” ucap Pina Pima. Ia lalu mengangguk kepada salah satu prajuritnya yang kemudian segera berlari pergi.

__ADS_1


Sementara itu, kepungan terhadap Joko Tenang ternyata tidak main-main. Ada tiga lapis formasi prajurit yang mengepung. Selain itu, ada sejumlah prajurit yang mengeluarkan alat-alat besi aneh yang terbuat dari besi yang besar. Joko tidak tahu sedikit pun apa fungsi alat-alat yang masing-masing dipegang oleh dua orang prajurit. (RH)


__ADS_2