Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC34: Kelicikan Arjuna Tandang


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*


 


Joko Tenang mudah mengelaki serangan pedang sungguhan yang datang membokong. Justru pedang itu dia tangkap gagangnya lalu dijadikan penangkis terhadap ilmu Angin-Angin Mengiris dari Arjuna Tandang.


"Ada kuda yang datang," kata Getara Cinta kepada Tirana.


Di lapangan pertarungan memang muncul seorang penunggang kuda yang menuju arah titik pertarungan. Penunggang itu adalah seorang wanita muda cantik berpakaian merah dan berpita merah pada rambut panjangnya.


"Itu adik Ketua Raja Pedang," kata Tirana yang mengenali ciri-ciri wanita berkuda itu.


"Kurang ajar! Lelaki itu mau main curang!" maki Ginari yang sudah berada di antara calon madunya.


Ting ting ting!


Arjuna Tandang masih berusaha mendesak Joko dengan angin-angin tajamnya. Namun, mudah bagi Joko Tenang menangkisnya.


Sreeet!


Saat Joko Tenang bergerak hendak maju, Arjuna Tandang kembali mengerahkan Pasukan Pedang Haus Nyawa. Sepuluh pedang sinar biru langsung melesat menyambut kedatangan Joko.


Joko Tenang terpaksa menahan gerakannya dan langsung berbalik memberikan punggungnya.


Seep!  Set! Tang!


Saat bersamaan dengan masuknya kesepuluh pedang sinar biru ke dalam rompi pusaka Joko, dari arah depan Joko justru melesat cepat satu pedang lain.


Spontan Joko Tenang menangkis dengan pedang di tangannya, membuat pedang terbang itu terlempar lalu berbelok lagi melesat terbang mengincar Joko.


"Joko, aku bunuh kau!" teriak seorang perempuan sambil melesat di udara dengan pedang sungguhan yang bersinar kuning redup. Ia tidak lain adalah Suci Sari yang berjuluk Si Cantik Pemukau.


Tang!


Joko Tenang menangkis tusukan pedang dari Suci Sari. Namun, pedang di tangan Joko dengan mudahnya patah seperti kayu.


Ses!  Ctar!


Buru-buru Joko berkelebat menjauh sambil melesatkan satu sinar hijau berbentuk pisau menghadang serangan pedang terbang. Joko menjauh karena Suci Sari adalah perempuan.


Pedang terbang hancur oleh ilmu Pisau Neraka Joko.


"Kau jangan turut campur Suci, nanti aku disangka curang!" seru Arjuna Tandang.


"Ini kesempatanku untuk membalas dendam!" teriak Suci Sari sambil merangsek cepat memburu Joko Tenang. Ia ingin bertarung jarak pendek dengan Joko.


Namun, Joko memilih menjauhi Suci Sari dan lebih fokus kepada Arjuna Tandang.


"Suci! Pergi kau dari pertarungan ini!" teriak Arjuna Tandang sambil melesat ke depan mendekati Joko.


Sest!


Tanpa ada pedang, Arjuna Tandang melompat berputar dekat di depan Joko. Itu adalah gerakan Putaran Pedang Angin.


Joko Tenang merasakan beberapa tenaga tajam setajam pedang tapi tidak terlihat, yang menebas tubuhnya sekaligus.


Pada saat serangan Putaran Pedang Angin versi Arjuna Tandang menghajar Joko Tenang, tangan kiri Joko mengepal kuat. Artinya saat itu Joko sedang mengerahkan ilmu Hijau Raga.


Arjuna Tandang jadi gelagapan karena begitu terkejut. Jelas-jelas pedang gaibnya dalam Putaran Pedang Angin menebas tubuh Joko beberapa kali. Seharusnya tubuh Joko Tenang terpotong menjadi beberapa bagian.


Babaks!


Kesempatan itu Joko gunakan untuk maju cepat dan mendaratkan dua pukulan telapak tangan kanannya ke dada Arjuna Tandang.

__ADS_1


Arjuna Tandang terjengkang keras dengan bibir sudah merembeskan darah kental.


“Joko! Jangan menghindar dariku! Apa kau pengecut?” teriak Suci Sari sambil berkelebat menyerang Joko.


Joko memilih menghindar menjauh.


Tiba-tiba....


“Perempuan liar, urusanmu denganku!” teriak satu suara perempuan melengking membahana.


Bukk!


“Hukk!” keluh Suci Sari nyaring. Tendangan yang mendarat di lambung kirinya begitu menyakitkan.


Seorang gadis cantik berambut sebahu dan berpakaian putih hijau, melesat sangat cepat, nyaris tidak terlihat. Sosok yang sangat disenangi oleh setiap mata lelaki itu tidak lain adalah Dewi Bayang Kematian.


Joko Tenang agak terkejut, bukan terkejut karena ia adalah Dewi yang “menantang”, tetapi gerakan tendangannya sangat cepat selevel dengan gerakan Bayang-Bayang Malaikat.


“Kampret!” maki Arjuna Tandang terkejut sekaligus gusar. “Rencanaku gagal!”


Arjuna Tandang punya siasat dalam melawan Joko, yaitu mengajak adiknya ikut dalam pertarungan, dengan pura-pura Suci Sari turut campur karena alasan balas dendam.


Ketika Joko dan Tirana datang ke kediamannya tiga malam yang lalu, Arjuna Tandang curiga melihat Joko yang menjadi lemah saat berpelukan dengan Ginari. Ia tidak bertanya kepada Ginari karena tidak mungkin gadis itu mau memberi tahu kenapa Joko menjadi lemah. Akhirnya Arjuna Tandang hanya bisa menduga bahwa Joko tidak boleh bersentuhan dengan perempuan.


Arjuna lalu menugaskan anak buahnya untuk mencari adiknya. Saat bertemu Suci Sari, ia meminta adiknya untuk menjadi pengganggu saat duel berlangsung. Tujuannya hanya satu, yaitu Suci Sari harus mendekati Joko hingga bisa menyentuhnya.


Kecurigaan Arjuna Tandang semakin kuat ketika Joko selalu menjauhi serangan jarak pendek Suci Sari.


Namun, kemunculan Dewi Bayang Kematian sungguh ia tidak sangka. Mantan kekasihnya itu sudah dibuang jauh ke dasar jurang, rasanya sulit bisa hadir di tempat itu.


“Biar aku yang mengurus perempuan pantas mati ini, Joko. Kau urus saja lelaki buaya itu!” kata Dewi Bayang Kematian kepada Joko. Pada akhir kata-katanya, Dewi mengedipkan satu matanya kepada pemuda berbibir merah itu.


Nyesss!


Ada-ada saja tingkah Dewi Bayang Kematian. Kedipan matanya membuat hati Joko Tenang seperti terbang tanpa pijakan dan tanpa sayap. Sampai-sampai ia termundur setindak seolah hilang keseimbangan.


Sreeet!


Sreeet!


Dari atas udara pun Arjuna Tandang melesatkan sepuluh pedang sinar biru.


Seep!


Ketika sepuluh pedang pertama Joko biarkan masuk ke punggung rompinya, Joko harus menghindari sepuluh pedang sinar lainnya yang datang dari atas. Namun, kesepuluh pedang gaib itu terus memburu Joko.


Clap!


Tiba-tiba Joko Tenang menghilang di tempatnya.


“Hah!” Arjuna Tandang yang masih berada di udara terkejut bukan main. Tubuh Joko Tenang tahu-tahu muncul di depan tubuhnya di udara. Ia tidak melihat sedikit pun gerakan tubuh Joko naik ke udara.


Tap!


“Hekh!” erang Arjuna Tandang saat tangan kanan Joko Tenang mencekik kuat lehernya. Ia berusaha menahan cekikan bertenaga dalam Joko.


Tubuh kedua pemuda tampan itu meluncur turun dalam kondisi Joko Tenang mencekik leher Arjuna Tandang yang gelagapan karena sulit bernapas.


Hingga akhirnya, kedua pecinta Ginari itu menjejak bumi.


Sret!


Joko Tenang terkejut saat tiba-tiba dari dalam tubuh depan Arjuna Tandang muncul keluar beberapa mata pedang sinar merah. Pedang-pedang itu menusuk tubuh Joko hingga tembus sedikit ke belakang.

__ADS_1


Namun, Arjuna Tandang yang awalnya mau tersenyum licik, jadi justru terkejut picik. Benar, pedang-pedang sinar merah dari ilmu Jebakan Pedang itu jelas menusuk tubuh Joko, tetapi tubuh Joko seperti tidak berwujud padat, hanya seperti bayangan berwarna.


Semua orang yang melihat pedang menusuk Joko, terkejut. Mereka menyangka bahwa Joko memang tertusuk oleh pedang sinar itu. Jarak pandang membuat mereka tidak mengetahui dengan jelas. Namun, bagi Tiga Malaikat Kipas yang mewariskan ilmu Hijau Raga, serta Tirana dan Kembang Buangi yang pernah melihat ilmu itu, dapat menduga bahwa Joko mengerahkan ilmu Hijau Raga.


“Bagaimana bisa?” tanya Arjuna Tandang dalam hati. Pada titik itu, ia merasa dirinya pasti akan kalah.


Baks!


Satu hantaman telapak tangan bertenaga dalam tinggi menghajar dada Arjuna Tandang.


Ketua Raja Pedang itu termundur-mundur dengan darah menyemprot dari mulutnya. Ia sudah terluka dalam parah.


Kini tubuh Joko Tenang dilapisi sinar putih transparan. Itu wujud dari ilmu Putih Raga warisan Ewit Kurnawa alias Malaikat Kipas Putih.


Bdak!


Tubuh Joko melesat cepat ke depan, menabrak Arjuna Tandang yang tidak bisa mengelak. Lelaki licik itu terpental lalu jatuh terjengkang.


Setelah itu, Joko Tenang kembali dalam keadaan normal. Ia kini melangkah tenang mendatangi Arjuna Tandang.


Arjuna buru-buru bangkit sambil menahan sakit yang begitu dalam. Ia hentakkan sedikit lengannya untuk mengerahkan ilmu Pasukan Pedang Haus Nyawa.


“A... apa?!” pekik Arjuna Tandang terkejut bukan main. Ia tidak merasakan tenaga dalamnya ada, apalagi bisa mengeluarkan ilmu Pasukan Pedang Haus Nyawa. “Apa yang terjadi? Ke mana tenaga dalamku?!”


Plak!


Tamparan tangan Joko mendarat keras di wajah kiri Arjuna Tandang, sampai-sampai pemuda itu terbanting ke samping.


Arjuna Tandang merasakan rasa panas pada wajah dan isi kepalanya. Bibirnya sampai pecah dan hidungnya berdarah. Wajah tampan itu memerah.


“Apa yang kau lakukan terhadapku, Joko!” teriak Arjuna Tandang begitu marah.


“Semua kesaktianmu aku musnahkan,” jawab Joko datar.


“Tidak! Kembalikan kesaktianku, Joko!” teriak Arjuna Tandang.


Namun, Joko berbalik pergi. Ia berjalan tidak mengindahkan teriakan Arjuna Tandang di belakang.


“Biarkan aku kehilangan kesaktianku, tetapi kau akan kehilangan Ginari untuk selamanya!” teriak Arjuna Tandang.


Deg!


Terhentak jantung Joko Tenang mendengar kata-kata Arjuna Tandang. Amarahnya tiba-tiba naik kembali.


Ia berbalik dan menatap bengis kepada Arjuna Tandang yang meringis kesakitan.


Melihat Joko memandanginya dengan penuh nafsu ingin membunuh, Arjuna Tandang berkata pelan, “Racun Ikatan Seratus Langkah sebenarnya sudah lama aku hentikan sejak kita sepakat untuk bertarung. Obat yang dimakan oleh Ginari tadi bukanlah penawar dari racun itu, tetapi itu adalah Racun Tanpa Rasa. Racun itu tidak akan terasa, baru terasa jika sudah membunuh jantung!”


Melebar lingkar mata Joko mendengar penjelasan musuhnya itu.


Wess! Crass!


“Hihihi! Ini pembalasan dari rakyat Kerajaan Tabir Angin, Ayam Busuk!” teriak Ratu Puspa yang tahu-tahu muncul di hadapan Arjuna Tandang dan merobek putus leher lelaki itu dengan cakaran panasnya.


Arjuna Tandang tumbang tanpa jeritan dan tanpa nyawa lagi. Ratu Puspa menatap puas kematian Arjuna Tandang.


“Ginari!” sebut Joko panik.


Clap!


Joko Tenang langsung menghilang.


Di saat yang sama, Suci Sari juga tumbang dalam kondisi tanpa nyawa. Adik Arjuna Tandang itu terlalu sulit menghadapi Dewi Bayang Kematian yang memiliki kecepatan gerak seperti setan. Suci Sari mati dalam kondisi jantung ditusuk oleh pedangnya sendiri.

__ADS_1


Dengan demikian, terbayar sudah kematian Kariya, kakak angkat Dewi Bayang Kematian dan putri dari Satria Gagah. (RH)


 


__ADS_2