
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Di sebuah sungai kecil lagi dangkal, tampak sepasang kaki putih mulus sedang bermain air di balik batu besar di pinggir sungai. Pemilik kaki itu duduk di batu yang terlindungi oleh batu yang lebih besar lagi.
Kaki mulusnya hanya terlihat sebatas betis. Gerakan mengayun bergantian di air sungai menimbulkan suara gemerincik. Pemilik kaki itu tidak lain adalah seorang gadis berwajah buruk, berpakaian serba merah. Gadis bersarung tangan merah itu tidak lain adalah Putri Sri Rahayu.
Saat itu sang putri sedang menatap jauh ke langit sambil dua jari tangannya mengelus-elus bibirnya. Bibirnya tersenyum-senyum kecil sendiri karena di dalam pikirannya teringat selalu peristiwa barusan, yaitu berciuman dengan Joko Tenang dua kali, meski status ciumannya adalah kecelakaan, bukan kesengajaan.
“Seharusnya Joko bertanggung jawab, sebab dia lelaki pertama yang merusak kehormatanku. Dia lelaki pertama yang berani menindihku, berani mencium leherku, berani mencium bibirku. Pakai dua kali segala. Sungguh memalukan, putri terhormat seperti aku sampai dicium tiga kali, mau ditaruh mana wajahku jika ada siluman yang tahu. Tapi, kenapa aku senang setelah itu?” pikir Putri Sri Rahayu bingung, tetapi ada senyum tipis di wajahnya.
Selama ini siapa yang berani menggoda Putri Sri Rahayu? Tidak ada. Selama ini, semua orang yang mengetahui kesaktian sang putri tidak akan ada yang berani menggoda dalam hal rasa suka kepada lawan jenis atau lainnya. Hanya Siluman Gagap yang cukup berani berseloroh kepadanya, yang lainnya tidak. Bisa dibilang Putri Sri Rahayu termasuk kejam di komunitasnya.
“Untung aku tidak membawa siluman. Jika mereka tahu tentang peristiwa tadi, bisa jatuh martabatku. Apalagi jika Ayahanda tahu,” membatin Putri Sri Rahayu. “Tapi kenapa aku meninggalkannya? Padahal aku senang bercanda dengannya, kenapa aku justru pergi? Lebih baik aku pergi lagi bertemu Joko, di sini aku hanya sendiri tanpa tujuan.”
Putri Sri Rahayu akhirnya memilih bangkit dari duduknya dan segera mengenakan kembali sandal bertalinya.
“Putri!”
Tiba-tiba satu suara lelaki memanggil Putri Sri Rahayu.
Sang putri tersenyum sendiri karena ia mengenali suara itu.
“Dasar lelaki mata keranjang, ditinggal sebentar saja langsung mencari,” gerutu Putri Sri Rahayu, tetapi senang karena Joko Tenang ternyata mencarinya.
Putri Sri Rahayu segera keluar dari balik batu sungai.
“Benar pelacakanku!” seru Joko Tenang sumringah saat melihat kemunculan sang putri dari balik batu.
“Kenapa mencariku?” tanya Putri Sri Rahayu bernada agak ketus dengan wajah kembali dimerengutkan. Padahal di dalam dada hatinya berbunga-bunga.
__ADS_1
“Sebelum aku jawab, ingin aku katakan bahwa ikan-ikan di sungai pada mati keracunan!” kata Joko Tenang.
“Hah!” kejut Putri Sri Rahayu. Ia sebelumnya tidak sedikit pun menyadari bahwa racun di kulik kakinya akan memberi celaka pada warga sungai. Ia segera melihat memperhatikan ke arah hilir.
Ada beberapa ekor ikan mengambang di bagian pinggir sungai.
“Aku tidak menyadarinya,” kata Putri Sri Rahayu seraya tersenyum. Lalu ia beralih kepada masalah antara mereka berdua, “Kau belum jawab pertanyaanku.”
“Jelas aku mau menuntutmu atas pelecehan yang kau lakukan. Aku sebagai seorang lelaki dan seorang pendekar, tentu akan jatuh harga diriku jika aku dilecehkan oleh wanita yang bukan istriku!” ujar Joko Tenang.
Joko saat ini berusaha untuk mendapatkan seorang calon istri yang bukan dari jalur terpaksa atau dari upaya Tirana. Ia ingin mencoba mendapatkan calon istri dari usahanya sendiri. Nah, ia menargetkan Putri Sri Rahayu.
Jika dirunut, semua calon istri Joko datang dengan sendirinya, tidak ada yang atas kehendak awalnya dari Joko. Seperti Ginari, Joko mau menerima karena wasiat dari Pangemis Maling. Tirana karena melaksanakan perintah Raja Sanggana. Getara Cinta karena ia tertarik dengan jiwa pengorbanan Joko. Putri You Kai karena Joko kalah adu tanding. Adapun Kerling Sukma yang belum jelas kepastiannya, ia mau menjadi istri Joko karena insiden ciuman di dalam jaring jeratan saat keduanya masih remaja.
Joko Tenang ingin mendapat calon istri dari hasil usahanya sendiri. Karenanya ia berusaha menjerat Putri Sri Rahayu meski ia tahu bahwa wanita yang katanya bertopeng itu, semua tubuhnya beracun.
“Joko…” sebut Putri Sri Rahayu geram bukan main. Ia menahan kekesalannya. “Di mana-mana, insiden semodel itu, yang dirugikan selalu wanita, bukan lelaki. Seharusnya aku yang menuntutmu untuk menikahiku!”
“Tapi tidak!” sanggah Putri Sri Rahayu cepat.
“Kenapa tidak?” tanya Joko yang agak merasa kecewa, kegirangan hatinya langsung terjun bunuh diri.
“Aku bisa dibunuh oleh Ayahanda karena aku telah jatuh cinta kepada seorang lelaki,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Itu artinya Putri telah jatuh cinta kepadaku?” tanya Joko Tenang.
Terkesiap Putri Sri Rahayu atas kesimpulan Joko. Ia baru tersadar bahwa ia telah keceplosan.
“Kenapa aku menjadi bodoh sekali di depan Joko?” pikir Putri Sri Rahayu bingung dengan dirinya sendiri. “Apakah aku memang jatuh cinta kepadanya. Bukankah aku hanya jatuh cinta kepada burungnya?”
__ADS_1
Joko Tenang hanya tersenyum seganteng mungkin melihat Putri Sri Rahayu memandanginya dengan tatapan penuh arti.
“Jika kau ingin memperistriku, kau harus menemui ayah dan ibuku,” kata Putri Sri Rahayu akhirnya, seolah sebagai isyarat bahwa ia mau.
Mendengar itu, Joko Tenang tersenyum lebar. Saat itu, seribu bunga nan harum sedang bermekaran di dalam dadanya. Dan Putri Sri Rahayu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dengan tersenyum malu. Keketusannya seolah-olah sudah raib.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang gembira. Ingin rasanya ia melompat memeluk Putri Sri Rahayu, tetapi ia sadar betul bahwa itu tidak mungkin. Lalu tanyanya, “Apakah itu berarti kau sekarang adalah calon istriku?”
“Belum. Aku baru resmi disebut sebagai calon istrimu jika kau sudah mendapat restu ayahku. Saat ini aku bisa disebut sebagai bakal calon istrimu,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Tidak masalah. Tirana pasti senang mendengar ini,” kata Joko masih tersenyum-senyum senang, seolah kebahagiaan itu tidak mau pergi-pergi dari dalam pikirannya.
“Tapi aku berharapan kecil kau akan berhasil, Joko. Ayahanda pasti akan memberi syarat yang berat. Jikapun Ayahanda setuju, Ibunda panti tidak setuju jika putri kesayangannya harus berebut cinta dengan wanita lain,” ujar Putri Sri Rahayu.
“Aku tidak mempermasalahkan. Setelah aku merebut keris yang dipegang Mega Kencani, aku akan menikahi Tirana dan Getara Cinta. Setelah itu, barulah aku akan berjuang demi mendapatkanmu,” kata Joko.
“Hihihi!” Putri Sri Rahayu tertawa mendengar Joko akan berjuang demi mendapatkannya. Meski ia terasa melayang-layang Bahagia, tetapi ia melihat akan ada kesedihan ke depannya karena ia bisa memasktikan bahwa Joko tidak akan berhasil.
“Berarti urusan tuntut-menuntut kita sudah selesai?” tanya Joko Tenang, menatap serius lagi menggoda hati kepada Putri Sri Rahayu.
“Hihihi! Berarti jika aku mengejarmu, kau tidak akan melarikan diri lagi?”
“Tentu tidak, justru aku akan memelukmu dengan lembut dan mengecupmu dengan penuh cinta dan kasih sayang!” tandas Joko Tenang.
Tersenyum malulah Putri Sri Rahayu. Kali ini sang putri sampai menundukkan wajah lalu memandang jauh entah ke mana.
“Apakah kau bisa melakukannya?” tanya Putri Sri Rahayu menggoda.
“Tentu bisa, karena setelah malam pertama dengan Tirana, maka penyakitku akan hilang, hahaha!” kata Joko bangga.
__ADS_1
“Berarti kita tidak boleh berjauh-jauhan lagi,” kata Putri Sri Rahayu lalu melompat ke hadapan Joko dalam satu jangkauan saja.
Buru-buru Joko melompat menjauh, meninggalkan Putri Sri Rahayu yang hanya tertawa. (RH)