
Cincin Darah Suci*
Tubuh Joko Tenang, Tirana dan Puspa melesat sangat cepat. Sedemikian cepatnya, membuat mereka tidak bisa memahami alam apa sebenarnya yang mereka lalui. Sedemikian cepatnya, membuat mereka kesulitan pula untuk membuka mata. Bernafas pun terasa terhambat, tetapi tidak sampai pada kondisi tidak bisa bernafas.
Rasa yang kulit mereka rasakan juga sesekali berubah. Terkadang panas, terkadang hangat, terkadang dingin, terkadang sejuk, terkadang seperti menerobos angin pasir, atau seperti menerjang alam penuh lapisan-lapisan udara bermacam rasa.
Begitu cepatnya mereka melesat, mereka pun tidak bisa saling berbicara. Jika berteriak pun suaranya langsung tertinggal jauh ke belakang sehingga tidak sempat terdengar. Terpaksa mereka hanya bisa merasakan tanpa bisa melihat.
Ketiganya masih berpegangan. Joko Tenang sudah tidak memegang, tetapi dipegang kuat oleh Tirana dan Puspa. Pemuda tampan itu sudah tidak bertenaga, kondisinya antara sadar dan tidak. Ikat rambutnya telah terbang entah ke alam mana.
Meski tidak bisa melihat kondisi Joko Tenang karena mata mereka sulit dibuka, tetapi Tirana dan Puspa bisa merasakan begitu lemahnya denyut nadi di pergelangan tangan Joko. Kondisi itu membuat kedua wanita itu menyimpan rasa cemas. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi seperti itu. Keduanya tidak mau jika satu dari mereka ada yang lepas dan terpisah.
Setelah sekitar setengah jam mereka bertiga dalam lesatan, mereka melesat masuk ke dalam gumpalan alam penuh dengan asap putih pekat. Tidak lama, mereka kembali keluar.
“Rintangan terakhir,” membatin Puspa. Ia sebagai pemilik ilmu Gerbang Tanpa Batas itu bisa merasakan sudah sampai di mana perjalanan mereka.
Bdakk!
Ketiganya menghantam sebuah lapisan udara yang keras sehingga menimbulkan suara yang keras. Meski terkesan empuk dan bisa tertembus, tetapi membuat tubuh mereka melesat dengan putaran yang tidak teratur.
“Kakang!” teriak Tirana kencang, seketika memaksa membuka matanya.
“Kucing Hutan!” teriak Puspa lebih kencang. Ia juga membuka matanya.
Hantaman terhadap lapisan udara tidak terlihat tadi membuat pegangan kedua wanita itu kepada tangan Joko agak goyah. Mereka merasakan tangan Joko yang mereka pegang terlepas. Mereka melihat tubuh Joko melesat terpisah dari jangkauan mereka.
Hal yang membuat mereka bisa membuka mata adalah rasa beda yang mereka rasakan. Ternyata mereka telah melesat di alam terbuka. Di bawah mereka lautan awan dan di atas mereka lautan awan lainnya. Di atas mereka juga ada langit biru yang sudah meredup cahayanya.
“Kakang Joko!” teriak Tirana histeris melihat tubuh Joko melesat cepat jatuh masuk menembus awan putih, jauh dari garis lesatan mereka berdua.
“Kucing Hutan!” teriak Puspa keras, bahkan mengandung tenaga dalam.
Namun, tubuh Joko melesat miring menembus awan ke arah barat, sementara Tirana dan Puspa yang masih berpegangan melesat jatuh menembus awan ke arah sebaliknya, timur.
__ADS_1
“Kakang...!” jerit Tirana menangis, karena di dalam benaknya yang tergambar adalah calon suaminya kemungkinan besar akan mati. Joko jatuh dalam kondisi lemah tanpa tenaga.
Tubuh Joko Tenang terus meluncur. Kesadarannya telah lenyap. Ia dalam kondisi pingsan. Dan bahayanya lagi, tubuh Joko meluncur jatuh menuju ke hamparan bumi. Tubuh itu terus meluncur mendekati bumi. Tubuh Joko dipastikan akan jatuh ke sebuah daerah yang memiliki banyak bangunan rumah beratap dan dikelilingi oleh garis. Garis itu jika dilihat lebih dekat tidak lain adalah tembok benteng yang tinggi dan tebal.
Perkiraan Tirana dan Puspa tentang nasib Joko Tenang tampaknya berbeda dengan apa yang kemudian terjadi dengan diri Joko.
Bress!
Dalam kondisi tidak sadarkan diri seperti itu, tiba-tiba rompi merah yang Joko kenakan bersinar kuning emas, sehingga tubuh pemuda itu diselimuti sinar kuning emas pula. Namun, itu tidak membuat Joko tersadar. Rompi yang Joko kenakan adalah pusaka warisan ayahnya yang diberikan melalui gurunya, Ki Ageng Kunsa Pari. Rompi itu memilik nama Rompi Api Emas.
Semenjak Rompi Api Emas dipakai oleh Joko Tenang sejak remaja, baru kali ini sudah dua kali pusaka itu bereaksi dengan mengeluarkan sinar kuning emas, kontras dengan warna merahnya. Pertama kali rompi itu mengeluarkan sinar emas adalah ketika Joko Tenang di usia remaja melompat ke dalam jurang yang dalam demi menyelamatkan gadis bermata hijau yang bernama Kerling Sukma.
Tubuh Joko Tenang terus meluncur menghiasi langit yang mulai meneduh. Arah jatuh tubuh Joko jelas mengarah ke kota He, ibu kota Negeri Jang.
Cahaya kuning emas yang menyelimuti tubuh Joko membuat tubuh itu terlihat jelas dari kejauhan, seperti komet berekor.
Di kota He terdapat sejumlah menara pengawas yang tinggi di titik-titik yang saling berjauhan. Salah satu prajurit penjaga menara pengawas melihat luncuran sinar kuning emas di langit yang jatuhnya mengarah istana.
“Hah! Apa itu!” pekik si prajurit terkejut.
Alangkah terkejutnya prajurit penjaga menara di dalam benteng istana. Saat dia mengeluarkan kepalanya lewat jendela dan melihat ke atas langit, ia lebih terkejut. Sinar kuning emas melintas begitu cepat di depan matanya dan....
Bruakr!
Benda bersinar kuning emas itu telah jatuh menghantam salah satu atap bangunan mewah di dalam lingkungan Istana Kekaisaran. Suara hantamannya begitu keras, terdengar hingga ke luar lingkungan Istana Kekaisaran yang luas.
Prajurit penjaga menara di dalam benteng Istana Kekaisaran kembali memasukkan kepalanya ke bawah atap menara dengan sudah berubah pucat. Kedua kakinya berdiri gemetar. Ia tertegun sejenak dengan pandangan masih mendelik, syok.
Namun kemudian, ia cepat tersadar. Dengan tangan yang gemetar, ia segera memasang pesan papan sandi di dinding menara yang menghadap ke menara pusat di jantung Istana Kekaisaran. Pesan itu berbunyi “bintang jatuh di Istana Haram”.
Prajurit penjaga menara di jantung Istana juga dalam kondisi yang terkejut. Ia juga melihat lintasan benda kuning itu jatuh begitu cepat di depan matanya menghantam Istana Haram, istana kediaman Putri Yuo Kai.
Suara hantaman ke bumi itu didengar dan mengejutkan seisi Istana Kekaisaran, termasuk Kaisar Tsaw yang sedang berdiskusi dengan beberapa pejabat dan menteri di ruang baca pribadinya.
__ADS_1
Prajurit penjaga menara pusat segera bergerak menuruni tangga. Ketika dia turun, seorang prajurit sandi yang lain langsung naik menggantikan posisinya berjaga di atas.
Prajurit itu bergerak terburu-buru hingga sampai ke lantai dasar dan keluar. Ia langsung menaiki seekor kuda yang memang dipersiapkan untuk membawa pesan yang sangat penting dan darurat.
“Hiah!” gebah prajurit itu dengan keras.
Kuda pun langsung berlari kencang melalui jalan di dalam lingkungan Istana Kekaisaran.
“Aaw!” pekik serombongan pelayan Istana karena hampir tertabrak oleh kuda yang lari tergesa-gesa. Beberapa dari pelayan itu bahkan sempat jatuh bersama nampan bawaannya karena mengelaki tabrakan kuda.
“Pesan darurat!” teriak prajurit itu kencang sambil mengangkat tangannya yang memegang lencana khusus saat akan melintasi gerbang yang dijaga oleh sejumlah prajurit.
Para prajurit yang berjaga agak menutupi lubang gerbang segera bergeser memberi kelonggaran jalan, sehingga kuda itu tidak perlu melambat dan langsung berlari masuk.
Kuda itu berhenti di depan bangunan ruang baca pribadi Kaisar. Hanya kuda pembawa pesan yang memiliki izin bisa masuk sampai ke depan tangga Pengadilan Kaisar dan ruang baca pribadi Kaisar di dalam Istana.
Prajurit itu langsung melompat dan berlari meninggalkan kudanya yang sudah dipegang oleh seorang prajurit penjaga. Ia berlari dan langsung berlutut di depan pintu ruang baca Kaisar.
“Pesan darurat!” teriaknya.
Mendengar laporan itu, Kaisar Tutsi Long Tsaw memberi tanda kepada kasim penjaga pintu agar membiarkan prajurit sandi itu masuk.
Saat itu Kaisar Tsaw sedang bersama Kepala Kasim Yo Gou, Kepala Pengawal Kaisar Jenderal Bo Yung, Perdana Menteri La Gon Ho, Kepala Pasukan Naga Hitam Jenderal Wae Yie, Menteri Ibu Kota Ce Puang, dan Menteri Pertahanan Negeri Jenderal Bo Sun.
Prajurit sandi itu berjalan cepat masuk menghadap kepada Kaisar dan para pembesar kerajaan. Ia langsung bersujud menghormat kepada Kaisar Tsaw yang duduk di belakang meja lebar dan besarnya.
“Sampaikan!” perintah Kaisar Tsaw.
“Benda bersinar kuning dari langit jatuh di Istana Haram, Yang Mulia. Hamba saksi mata langsung!” lapor prajurit sandi.
“Apa?!” kejut Kaisar.
Semua pejabat itu pun terkejut mendengar kabar itu.
__ADS_1
Kaisar Tsaw seketika bangkit. Wajahnya menunjukkan kepanikan.
“Siapkan kuda!” perintah Kaisar Tsaw lalu berjalan tergesa meninggalkan para pejabatnya begitu saja. (RH)