
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Kedelapan orang yang dipimpin oleh Ombak Goro berlari biasa, sebab mereka harus mengimbangkan diri dengan lari lima ratus prajurit yang mengikuti mereka.
Perintah Ratu Ginari yang dititipkan melalui Biru Segara sangat jelas, yaitu “hadang rombongan Joko Tenang, bunuh yang dapat mereka bunuh, tapi jangan sentuh Joko Tenang!”
Di saat anggota lainnya bersemangat melaksanakan tugas dari sang ratu itu, Garis Merak menunjukkan wajah kebimbangan. Sepertinya ada hal yang begitu mengganggu pikirannya. Hingga akhirnya gadis manis itu tidak bisa memendam lebih lama lagi kegundahannya.
“Ombak Goro! Berhenti!” teriak Garis Merak sambil berlari lebih cepat, lalu melompat jauh ke depan dengan saltonya.
Jleg!
Garis Merak mendarat dengan mantap, tepat di depan jalur lari Ombak Goro yang berlari paling depan. Hal membuat Ombak Goro dan keenam lelaki lainnya berhenti berlari.
“Apa yang kau lakukan, Merak?!” bentak Ombak Goro. Ia tidak suka melihat sikap wanita itu yang cenderung menentang perintah.
“Kita tidak bisa menurut begitu saja, Ombak! Ini adalah langkah yang salah!” teriak Garis Merak.
“Apanya yang salah, hah?! Dari dulu kita mengikuti perintah Ketua. Hari ini sama dengan hari-hari kemarin. Kita selalu melaksanakan perintah Ketua tanpa kata tapi!” tegas Ombak Goro.
“Hari ini berbeda!” bantah Garis Merak. “Hari yang lalu kita diperintah langsung oleh Ketua tanpa pengaruh orang lain, tapi hari ini kita diperintah oleh orang lain, bukan oleh Ketua. Kita tidak tahu apa permasalahannya dan kita tidak tahu siapa yang harus kita bunuhi!”
“Kau jangan mengacaukan tugas ini, Merak!” hardik Ikan Kecil alias Wiro Kuto.
“Merak, kita sudah bersumpah setia. Tidak pandang itu benar atau salah, jika sumpah sudah terucap, maka tidak ada kata menolak!”
Kali ini Sogok Karang sendiri yang berkata kepada putrinya itu.
“Kau memperlambat kami, Merak!” kata Ombak Goro kesal. Ia lalu melanjutkan berlari untuk sampai kepada jalan pertigaan. Sebab menurut petunjuk, mereka hanya perlu sampai kepada pertigaan jalan. Setelah itu tinggal memeriksa apakah rombongan Joko Tenang sudah berlalu atau belum.
Ketujuh lelaki itu segera melanjutkan larinya. Swara Sesat hanya ikut ketika melihat rekan-rekannya berlari.
“Aku khawatir kita sengaja ditumbalkan!” teriak Garis Merak kencang.
Namun, ketujuh lelaki itu memilih terus berlari tanpa mengindahkan teriakan Garis Merak.
Ratusan prajurit Kerajaan Balilitan berlalu melewati Garis Merak berdiri.
Akhirnya, dengan menahan kekesalannya, Garis Merak berlari cepat kembali ke depan.
“Ayah!” panggil Garis Merak sambil berlari di sisi ayahnya.
“Jika kau pandang ini adalah salah, maka kembalilah ke lautan, Merak!” kata Sogok Karang.
__ADS_1
“Aku khawatir ini akan mengakhiri kita semua, Ayah!” kata Garis Merak bersikeras. “Apakah Ayah tidak curiga? Kita ditugaskan untuk menyerang rombongan Joko itu, tetapi rombongan ratu tetap pergi meninggalkan kita melalui jalan yang berbeda.”
Sambil terus berlari, Sogok Karang terdiam sejenak, seolah berpikir. Dalam benaknya, ia membenarkan juga kecurigaan putrinya itu.
Namun, belum lagi ia berkomentar, mereka ternyata telah tiba di pertigaan jalan. Mereka harus memeriksa jalan itu.
Ombak Goro sudah berjongkok di tanah tengah jalan. Ia memperhatikan jejak yang ada di tanah.
“Mereka baru saja lewat!” seru Ombak Goro. Lalu teriaknya lebih keras, “Ikan Kecil, Kurna Sagepa! Ikut aku!”
Ombak Goro, Ikan Kecil dan Kurna Sagepa segera melesat meninggalkan rombongan. Terlihat mereka sangat bersemangat untuk menyusul buruan mereka ke arah barat. Jika mengandalkan kecepatan lari para prajurit, kemungkinan besar akan sia-sia. Karenanya, Ombak Goro berinisiatif untuk menyusul dan menghadang, agar kemudian pasukan mereka bisa menyusul.
Dugaan Ombak Goro benar, terbukti sebentar saja, mereka sudah melihat buntut dari rombongan Joko Tenang.
Sementara itu di dalam rombongan.
“Ada yang datang!” seru Getara Cinta setengah berteriak.
Hanya sehitungan setarikan napas, orang-orang sakti itu bisa merasakan ada yang datang dari arah belakang. Namun, mereka tidak bisa langsung tahu apakah itu musuh atau bukan. Mereka semua harus menunggu sejenak.
“Tunggu!” teriak Ombak Goro yang melesat dari arah belakang rombongan.
Seiring mereka menengok ke belakang, tiga sosok manusia telah berkelebat cepat tinggi di udara, melewati atas rombongan Joko Tenang. Raja Kera yang duduk di atap bilik kereta sampai mendongak dan memutar kepalanya mengikuti tiga orang yang melintas di atasnya.
Jleg!
Namun, ketiga orang bajak laut itu dilanda keterkejutan saat melihat jelas siapa dan apa yang mereka hadang. Ada lima wanita cantik yang duduk di punggung lima serigala besar. Meski mereka burusaha untuk tidak terlihat norak karena mereka adalah penghadang, tetapi tetap saja perubahana ekspresi mereka terlihat jelas.
“Siapa kalian?!” tanya Turung Gali setengah membentak.
Untuk membuat penghadangan mereka bertiga terlihat lebih gereget, Ombak Goro mencabut kapak dan pisau besarnya, Ikan Kecil menghunuskan lidi besinyanya, dan Kurna Sagepa telah menggenggam kedua senjata pengaitnya.
“Mana orang yang bernama Joko Tenang?” Ombak Goro justru bertanya.
“Aku!” sahut Joko Tenang sambil turun dari belakang Kusuma Dewi.
“Bah, enak sekali dia!” ucap Kurna Sagepa, tanpa jelas maksud perkataannya.
“Pantas saja, Ratu Ginari sampai tergila-gila dengannya,” kata Ikan Kecil, seperti kaum lelaki gosipan.
“Jika kalian sudah mengeluarkan senjata seperti itu, berarti sudah siap mati!” tukas Joko Tenang.
“Kami tidak akan menyentuhmu, Joko, tapi kami akan membunuh yang lainnya!” desis Ombak Goro, tetapi sepertinya dia masih ragu untuk memulai serangan.
“Membunuh mereka itu sama saja dengan membunuhku!” tandas Joko Tenang.
__ADS_1
Perkataan Joko Tenang itu justru membuat ketiga orang penghadang tersebut saling pandang. Bayangan yang tercipta di benak mereka hampir seragam, yaitu jika mereka membunuh satu orang, maka Joko Tenang akan otomatis mati dengan sendirinya.
Turung Gali telah turun dari kudanya dan berdiri di sisi kanan Joko Tenang.
“Aku pikir mereka bagian dari pendekar roh, tapi ternyata bukan,” kata Tirana kepada Getara Cinta.
“Sepertinya kita salah menduga. Orang-orang yang menjadi bawahan Ginari ternyata bukan hanya enam pendekar, tetapi lebih banyak. Apakah akan seperti Gerombolan Kuda Biru?” kata Getara Cinta.
“Ini tidak sekuat sebelumnya, cukup satu dari kita,” kata Kerling Sukma pula.
“Aku khawatir, ada orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini jadi dilibatkan dan dikorbankan,” kata Getara Cinta.
Mendeliklah Tirana mendengar perkataan madunya itu. Ia jadi sadar akan sesuatu. Sebelum Joko Tenang dan Turung Gali berbuat sesuatu, Tirana cepat berseru.
“Kakang, tahan!” teriaknya, lalu Tirana berkelebat melayang seperti burung mendarat.
Tirana mendarat di sisi kiri Joko Tenang. Suaminya itu memandanginya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Joko Tenang lembut.
“Perseteruan ini adalah antara kita dengan Ginari, jangan mengorbankan orang lain yang tidak mengerti permasalahan ini,” kata Tirana lembut. “Ginari sepertinya menggunakan banyak orang lain selain keenam pengikut rohnya.”
“Tetapi ketujuh roh itu harus dibunuh, Joko!” sahut Manyo Pute alias Si Monyet Putih dari atas dahan pohon terdekat. Manyo Pute memang sejak tadi mengikuti rombongan Joko Tenang dengan cara berlompatan di sepanjang pepohonan pinggir jalan. Tingkahnya benar-benar seperti seekor monyet.
Kemunculan Si Monyet Putih cukup membuat Ombak Goro dan kedua rekannya terkejut. Bukan karena kenal, tetapi karena makhluk itu pasti bukan orang atau hewan sembarangan.
“Benar, kecuali calon istriku!” sahut Joko Tenang. Ia lalu beralih kepada Ombak Goro, “Siapa yang memerintahmu?”
“Ratu Ginari,” jawab Ombak Goro.
“Apakah kalian tahu apa masalahku dengan ratu kalian?” tanya Joko Tenang.
“Kau adalah calon raja kami yang diculik oleh wanita-wanita itu!” jawab Ikan Kecil.
“Aku ingatkan kalian, jika kalian berupaya membunuh istri-istriku saat ini, maka kami pun tidak akan segan. Namun, jika kalian mau tidak mencampuri urusanku dengan ratu kalian, nyawa kalian akan kami biarkan!” tandas Joko Tenang.
Di saat sedang dialog seperti itu, tiba-tiba….
“Seraaang…!” Teriakan keras terdengar dari arah jauh di belakang.
“Seraaang…!” teriak ratusan prajurit berseragam kuning hitam telah muncul berlari kencang beramai-ramai, menyerang rombongan itu dari sisi belakang, dipimpin oleh anggota Bajak Laut Elang Biru lainnya.
“Serang!” teriak Ombak Rogo juga memberi komando, yang artinya ia bersama Ikan Kecil dan Kurna Sagepa memutuskan menyerang Joko Tenang, Turung Gali dan Tirana.
Mendapat serbuan dari ratusan prajurit Kerajaan Balilitan, seketika membangunkan isting kependekaran Reksa Dipa, Surya Kasyara, Nyai Kisut, dan Kusuma Dewi. Keempat orang itu segera bertindak tanpa menunggu komando lagi. (RH)
__ADS_1