Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo25: Pertarungan Pamungkas


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


 


Bumm!


Bajik Lungo hanya menahan tinju bertenaga dalam tinggi Joko Tenang dengan telapak tangan kanannya. Peraduan dua tenaga dalam tingkat tinggi terdengar berdebum.


Mendapati dirinya harus terjajar tiga tindak ke belakang, Bajik Lungo mendelik. Ia tidak menyangka jika tenaga dalam Joko Tenang begitu tinggi.


Joko Tenang tidak berhenti. Ia langsung menyusul Bajik Lungo dengan serangan berkecepatan tinggi yang nyaris tidak terlihat oleh pengawasan mata biasa. Namun, puluhan serangan tangan dan kaki Joko Tenang yang bertenaga dalam tinggi, dihadapi dengan tenang oleh Bajik Lungo. Bahkan orang tua itu tidak bergeser dari tempat berdirinya.


Bak!


Hingga akhirnya, usaha Joko Tenang berhasil. Satu tendangannya masuk menghantam perut Bajik Lungo. Orang tua itu hanya terdorong mundur dua langkah.


“Giliranku, Bocah!” teriak Bajik Lungo.


Setelah itu, Bajik Lungo melesat maju dan menyerang Joko Tenang dengan kecepatan kilat, tidak terlihat jelas oleh para penonton karena terlalu cepatnya.


Joko Tenang agak terkesiap mendapati kecepatan serang Bajik Lungo. Itu secepat gerak Bayang-Bayang Malaikat-nya. Joko Tenang pun tidak ada pilihan lain selain memainkan jurus Bayang-Bayang Malaikat.


Maka yang terjadi, seluruh penonton tidak bisa melihat pertarungan itu dengan utuh dan jelas, kecuali Tirana yang memang memiliki level kesaktian setinggi calon suaminya.


Dadadak duk daduk...!


Warga Desa Wongawet harus kehilangan visual pertarungan. Mereka harus mencari ke sana dan ke sini untuk menemukan posisi pertarungan berlangsung. Mereka hanya mendengar suara peraduan dua tenaga hebat dalam ritme yang cepat sekali, menjadi musik menegangkan dengan background kobaran api besar di sisa rumah Ki Daraki.


Namun, ketika ritme bertarungan antara Joko Tenang dan Bajik Lungo sempat mengendur, para penonton bisa melihat keberadaan mereka sejenak, lalu hilang lagi.


“Gila, jika pendekar biasa yang melawan Tetua Desa, pasti perjuangan kita akan sia-sia,” ucap Palang Segi dengan tatapan serius mencoba membaca gerak pertarungan, tapi sia-sia.


“Jika seperti ini kesaktian Tetua Desa, semuanya masih tanda tanya besar,” kata Tudurya kepada Mak Gandur yang berdiri di sampingnya.


“Itulah sebabnya kekuasaan Tetua langgeng hingga sekarang. Semua tokoh persilatan yang coba mendongkel kekuasaannya di desa ini harus mati di tangannya. Semoga kali ini tidak,” kata Mak Gandur.


“Jika pemberontakan ini berhasil, aku akan mengusung Mak Gandur sebagai Kepala Desa Wongawet,” kata Tudurya bersemangat.


“Kau pikir kau siapa bisa menentukan itu?” rutuk Mak Gandur.


“Hahaha!” Tudurya hanya tertawa santai.


“Sudah ada hasil!” kata Sunirma agak keras sambil memandang serius ke arena tarung.


“Hahaha...!” tawa Bajik Lungo keras dan berkepanjangan.


Kini mereka bisa melihat keberadaan Joko Tenang dan Tetua Desa karena pertarungan terhenti.


“Jika terus seperti ini, sampai pagi pun tidak akan ada hasil,” pikir Joko Tenang saat masih saling bakuserang dengan Bajik Lungo.


Akhirnya, dalam serangannya, Joko Tenang menyisipkan jurus Cubitan Seribu Geli. Hasilnya, Bajik Lungo berhenti dan tertawa berkepanjangan.


“Ilmu aneh apa yang kau berikan kepadaku, Bocah?! Hahaha...!” teriak Bajik Lungo. “Kau pikir ini bisa mempecundangiku, hahaha...!”


Wuss!


Joko Tenang tidak menjawab. Ia hanya melepaskan segelombang angin panas yang menderu keras menyeramkan telinga yang mendengarnya.


“Hahaha...!”


Sambil tertawa kencang, Baji Lungo memperkuat kuda-kudanya sambil mengerahkan ilmu perisainya yang kasat mata.


Blup!


Tubuh Bajik Lungo terhempas jauh di udara seiring tubuhnya diselimuti api berwarna hijau. Tapi api itu tidak mempan terhadap raganya.


Semua penonton tegang tanpa berkata-kata. Terlebih ketika tubuh Joko Tenang tahu-tahu berada di atas lesatan tubuh Tetua Desa.


Sess! Blarr!


Bajik Lungo yang melihat Joko tahu-tahu muncul di angkasa, di atas tubuhnya, terkejut. Terlebih Joko membanting sinar hijau berbentuk bulan sabit. Ilmu penghancur Bulan Pecah Karang menghantam telak badan depan Bajik Lungo.


Tubuh tua itu tidak meledak di udara, hanya berubah jalur, jadi jatuh deras lurus ke bawah menghantam tanah berumput.


Melihat Bajik Lungo tidak hancur dan hanya terbenam sedalam dua jengkal ke dalam tanah, Joko Tenang segera kembali berkelebat ke atas tubuh lawannya.


Press! Slassh!


Joko Tenang mengerahkan ilmu Surya Langit Jagad yang bersinar hijau menyilaukan. Namun, sebelum Joko melepaskan ilmu pamungkas itu, tiba-tiba muncul satu ledakan cahaya kuning dari dalam tubuh Bajik Lungo.


Joko Tenang yang saat itu berada di udara di atas tubuh Bajik Lungo, terpental keras dan jauh di dalam kegelapan.


Bsrukr!

__ADS_1


Terdengar suara jatuh tubuh Joko di dalam kegelapan. Di sisi lain, Bajik Lungo telah bangkit dengan ekspresi kemarahan yang mengerikan. Hanya ada segaris darah kental yang menodai sudut bibirnya. Pengaruh Cubitan Seribu Geli pun telah hilang dari tubuhnya.


Bababak...!


Tiba-tiba tubuh Bajik Lungo terhentak keras beberapa kali di posisinya berdiri. Ternyata Joko Tenang kembali meniru gaya serang istrinya, Putri Tutsi Yuo Kai, yaitu melesat cepat sambil melepaskan lima Pukulan Tapak Kucing.


Tapi memang dasarnya Bajik Lungo orang sakti. Lima Pukulan Tapak Kucing itu tidak membunuhnya, meski ada segelombang darah kental meluap dari mulutnya.


Press! Zuarrs!


Bluarr!


Ketika Joko Tenang melepaskan sinar hijau menyilaukan, Bajik Lungo masih bisa melesatkan sinar merah besar berbentuk mata anak panah. Itu adalah ilmu tertinggi Bajik Lungo.


Dua sinar pun bertabrakan di tengah jarak, menciptakan ledakan tenaga yang dahsyat luar biasa. Warga yang sudah berdiri dalam jarak aman, tetap saja terjengkangan akibat terkena gelombang kejutnya.


Joko Tenang terpental deras menghantam batang pohon besar, hingga dedaunan pohon berguguran. Joko jatuh berdebam seperti buah nangka jatuh.


Sementara Bajik Lungo terpental keras pula masuk ke dalam kubangan tanah kering. Kondisinya sudah hangus berasap. Tidak bergerak lagi. Keberuntungan bagi Joko saat beradu ilmu adalah Bajik Lungo dalam kondisi terluka dalam parah, membuat ilmu yang dikerahkannya pun tidak maksimal.


“Kakang?” panggil Tirana yang sudah berada empat langkah dari tubuh calon suaminya.


“Hmm!” Terdengar gumaman Joko menyahut. Ia perlahan bergerak bangun. Tampak dagu dan bibirnya belepotan darah kental.


Bangirayu berkelebat di udara dan mendarat di sisi tubuh Bajik Lungo. Kakinya ia tusuk-tusukkan ke lambung hangus orang tua itu. Tidak ada gerakan reaksi sedikit pun, menunjukkan bahwa orang nomor satu di Desa Wongawet itu telah tewas.


“Tetua Desa telah mati!” seru Bangirayu kepada seluruh warga.


“Yeee!” sorak hampir seluruh warga Desa Wongawet.


“Tangkap Karani dan Sumirah!” teriak Mak Gandur tiba-tiba sambil menunjuk ke arah kegelapan.


Sejumlah warga laki-laki dan perempuan segera berkelebat mengejar ke dalam kegelapan.


Karani dan Sumirah yang sejak tadi menyaksikan pertarungan dari tempat yang jauh dan gelap, buru-buru melarikan diri setelah Bangirayu mengumumkan kematian Tetua Desa.


“Tirana, di mana Kemuning?” tanya Bangirayu kepada Tirana.


“Kalian harus mencarinya, ia ada di satu tempat di desa ini. Mungkin di sekitar sungai,” jawab Tirana.


Joko Tenang memilih mencoba mengobati luka dalamnya.


Bangirayu mendatangi Sedap Malu selaku pimpinan mereka.


“Palang Segi, pergilah cari Kemuning,” perintah Sedap Malu.


“Baik,” jawab Palang Segi. Ia dan Tudurya mengajak rekan-rekannya untuk pergi ke daerah sungai dengan berbekal beberapa obor bambu.


“Bangirayu, temani aku ke dalam gua terlarang!” ajak Sedap Malu.


Sedap Malu yang lukanya sudah lebih baik karena diobati oleh Tirana, melangkah pergi menuju gua terlarang. Bangirayu, Asih Marang, dan Mak Gandur menemani Sedap Malu pergi ke gua.


Akhirnya, Karani dan Sumirah memilih menyerah ketika mereka dikepung oleh belasan warga yang semuanya memiliki kesaktian setingkat mereka juga. Palang Segi dan rekan-rekannya akhirnya menemukan keberadaan Kemuning yang tidak berdaya di pinggir sungai, setelah ia dibuang oleh Tirana dengan ilmu Lorong Laba-Laba.


Sedap Malu dan gadis lainnya berhenti melangkah ketika mereka mendapati keberadaan seorang wanita di dalam kerangkeng. Tidak terlihat jelas wajah dari wanita yang penuh luka parah di tubuhnya itu. Ia terbaring meringkuk seperti kucing tidur.


“Kak Mawar Embun!” sebut Sedap Malu bernada ragu.


Tidak ada reaksi dari wanita di dalam kerangkeng. Sedap Malu melangkah lebih mendekat dan berdiri di sisi kerangkeng yang dikunci menggunakan rantai besi.


“Kak Mawar Embun!” panggil Sedap Malu lagi.


Kali ini terlihat kepala wanita dalam kerangkeng bergerak.


“Si... siapa? Siapa yang memanggilku?” tanya lirih wanita dalam kerangkeng, tanpa memandang kepada orang yang berdiri di dekatnya.


“Kakaaak!” panggil Sedap Malu histeris, seiring tangisnya yang tumpah. Betapa tidak, hatinya terasa teriris-iris melihat kondisi wanita itu yang ternyata adalah kakaknya. “Kakak Mawar, ini aku Sedap Malu!”


Terdiam wanita di dalam kerangkeng. Terlihat bibirnya yang pecah-pecah bergetar hebat. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan mendongak, berusaha melihat wajah orang yang mengaku sebagai adiknya itu.


Sedap Malu segera berjongkok, sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Mawar Embun. Ia menatap lekat wajah wanita yang sudah rusak oleh luka. Hancur perasaannya menyaksikan wajah kakaknya. Wajah yang dulu sangat cantik, kini telah rusak parah.


“Sedap Malu?” tanya Mawar Embun lemah.


“Iya, Kak. Ini adikmu. Aku datang mencarimu. Orang jahat itu sudah mati,” kata Sedap Malu penuh emosional.


“Benarkah?” tanya Mawar Embun.


“Benar, Mawar,” sahut Mak Gandur. “Kau masih ingat aku?”


Crak!


Dengan mudahnya Mak Gandur memutus rantai yang mengunci kerangkeng itu.

__ADS_1


“Aku kira kau sudah mati dibunuh Tetua,” kata Mak Gandur.


Buru-buru Sedap Malu meraih tubuh kakaknya setelah pintu kerangkeng dibuka. Ia mengangkat tubuh lemah kakaknya dan memeluknya, tenggelam dalam tangisan. Mawar Embun hanya terdiam lemah. Sekian lamanya ia tidak pernah berdiri, membuat kakinya lemah. (RH)


********


PENGUMUMAN!


Dari hasil respon dan pengajuan nama para READERS untuk berkontribusi di PENDEKAR SANGGANA season PERTARUNGAN ATAS CINTA (PAC), Author MEMILIH:




Sri Rahayu, Bidadari Asap Racun




Arjuna Tandang, Ketua Raja Pedang




Rajimin, Wakil Ketua Pedang Angin




........., Raja Kerajaan Tarumasaga




Alifa Homar, Putri Kerajaan Tarumasaga




........., Pangeran Kerajaan Tarumasaga




Yudi Mandala, Mahapati Kerajaan Tarumasaga




Ewit Kurnawa, Malaikat Kipas Putih 




Minati Sekar Arum, Malaikat Kipas Merah




Iblis Timur, Malaikat Kipas Hijau




CATATAN:


Keikutsertaan dalam karya ini berdasarkan sukarela dan tanpa imbalan apa pun dari Author.


READERS yang namanya dilibatkan atau dicantumkan, harus menerima dengan ikhlas alur dan dialog dalam cerita, tanpa protes ataupun menggugat.


READERS yang sudah terdaftar boleh mundur atau batal sebelum namanya muncul pertama kali dalam cerita novel Pendekar Sanggana ini.


(AUTHOR: RUDI HENDRIK)

__ADS_1


__ADS_2