
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Putri Sri Rahayu dan Kerling Sukma sama-sama melesat ke depan dengan ilmu kesaktian sudah siap di tangan masing-masing.
Putri Sri Rahayu berbekal ilmu Amarah Siluman di tangan kanannya. Sementara Kerling Sukma berbekal ilmu Api Putih di tangan kanannya. Mereka akan beradu dalam pertemuan jarak.
“Hentikan!” teriak Joko Tenang sebelum sesuatu yang buruk terjadi di antara kedua wanita yang disayanginya.
Namun, teriakan Joko terlalu terlambat dibandingkan kecepatan gerak kedua gadis sakti itu.
Bress!
Di saat kritis itu, tiba-tiba dari samping melesat sangat cepat dua sinar merah tipis. Sinar merah yang berwujud jaring laba-laba itu melesat berdiri tegak menghadang kedua gadis tepat di pertengahan jarak. Satu sinar jaring laba-laba dengan lainnya berjarak hanya sedepa saja.
Slap! Slap!
Joko Tenang yang sempat panik melihat kondisi genting itu, dapat bernapas lega. Helai Sejengkal hanya bisa terus terkejut karena tidak tahu apa yang akan terjadi pada detik-detik berikutnya.
Putri Sri Rahayu dan Kerling Sukma tidak bisa menolak tubuh mereka menabrak sinar merah jaring laba-laba besar yang datang tiba-tiba dari samping dan menghadang mereka di pertengahan jarak tarung.
Tubuh Putri Sri Rahayu masuk menghilang ke dalam sinar merah jaring laba-laba. Demikian pula dengan Kerling Sukma, ia pun masuk menghilang.
Bress! Bress!
Ketika kedua sinar jaring laba-laba lenyap sendiri di udara, di dua titik lain yang terpisah muncul sinar yang serupa. Lalu dari dalam masing-masing jaring sinar laba-laba, melesat keluar sosok Putri Sri Rahayu dan Kerling Sukma yang masih berbekal dengan ilmunya di tangan.
Keduanya mendarat dengan sedikit agak bingung. Keduanya saling cari satu sama lain.
“Putri Sri Rahayu!” sapa seorang wanita lain dengan lembut seraya tersenyum manis. Ia telah muncul di pertengahan jarak kedua gadis itu.
“Tirana,” sebut balas Putri Sri Rahayu.
Kerling Sukma menatap serius kepada gadis jelita yang baru muncul. Ia belum pernah melihatnya. Namun, ketika Putri Sri Rahayu menyebut namanya, barulah Kerling Sukma segera paham bahwa gadis yang laksana bidadari itu adalah calon istri Joko yang diceritakan oleh Helai Sejengkal.
Tirana dengan senyum ramahnya berjalan menghampiri Kerling Sukma.
“Syukurlah, kita tidak butuh waktu lama untuk bertemu, Kerling Sukma,” sapa Tirana begitu akrab.
“Kau mengenalku?” tanya Kerling Sukma dengan wajah yang masih dingin. Ia sudah memadamkan ilmu Api Putih-nya di tangan.
“Pasti hanya satu wanita yang memiliki ciri mata hijau nan cantik sepertimu, sebagaimana yang diceritakan oleh Kakang Joko,” kata Tirana seraya tertawa kecil, membuat Kerling Sukma tersenyum kecil.
Kerling Sukma segera beralih memandang ke arah Joko, sebab di sana muncul lagi seorang wanita cantik berpakaian lebih indah dan berhias. Meski wanita itu terlihat berusia matang, tetapi kecantikannya tidak kalah dengan Tirana. Wanita itu adalah Getara Cinta.
Melihat Kerling Sukma memandang kepada Joko, Tirana sejenak ikut memandang ke sana.
“Wanita itu adalah Ratu Getara Cinta,” kata Tirana memperkenalkan calon madunya. “Kita sama-sama wanita berkesaktian dan sama-sama mencintai satu lelaki. Alangkah bijaknya jika kita bicarakan dari hati ke hati.”
Kerling Sukma terdiam sejenak menatap Tirana tanpa berkedip. Tirana hanya memberikan senyum kesejukan kepada gadis bermata hijau itu.
__ADS_1
Kerling Sukma menarik napas dalam. Lalu dengan berat ia berkata, “Baiklah, kita bicara.”
“Terima kasih atas kebijakan hatimu, Sukma,” ucap Tirana seraya tersenyum lebar. “Pergilah temui Kakang Joko untuk melepas rindu. Aku harus menyapa Putri Sri Rahayu.”
“Tunggu, Tirana!” tahan Kerling Sukma saat Tirana hendak berbalik.
Tirana terpaksa membatalkan gerakan tubuhnya dan bertanya dengan tatapan mata yang teduh.
“Benarkah Joko sedang mencari delapan orang istri?” tanya Kerling Sukma.
“Benar. Kau sudah tahu?”
“Hanya menduga, karena guruku menduga seperti itu,” kata Kerling Sukma.
“Nanti akan aku jelaskan, kenapa Kakang Joko harus melakukan itu.”
“Harus?”
“Ya, harus. Karenanya, kita sebagai wanita-wanita yang mencintainya, harus berlapang dada menerimanya,” jelas Tirana sambil tersenyum selalu.
Tirana lalu berbalik dan berkelebat menghampiri Putri Sri Rahayu yang bingung harus berbuat apa.
Awalnya Putri Sri Rahayu ingin mendekat kepada Joko, tetapi muncul Getara Cinta. Ia dan Getara Cinta belum akrab karena belum pernah bertemu langsung, kecuali hanya saling melihat dari jauh saat di Lembah Cekung.
Kerling Sukma pergi menemui Joko Tenang.
“Sangat mengejutkan, Putri,” kata Tirana seraya tersenyum kepada Putri Sri Rahayu.
“Ya.” Tirana membenarkan sambil tertawa akrab.
“Dan yang lebih mengejutkan, aku bersama Joko di saat kalian berdua terpisah dengannya?”
Tawa Tirana lebih meninggi mendengar tebakan Putri Sri Rahayu.
“Semoga tebakanku benar. Emm… apakah kau sudah masuk daftar sebagai calon istri Kakang Joko?” tanya Tirana.
“Belum. Baru sebatas bakal calon istri,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Kenapa baru setahap itu?” tanya Tirana lagi. Ia agak heran.
“Joko yang memaksaku untuk menjadi calon istrinya, jadi aku memberinya syarat harus mendapat persetujuan ayah dan ibuku,” jelas Putri Sri Rahayu.
“Waw, kau sangat istimewa, Putri,” kata Tirana lalu meraih tangan kiri Putri Sri Rahayu, kemudian mengajaknya berjalan menuju ke tempat Joko berada.
Pujian dan sikap akrab Tirana membuat Putri Sri Rahayu tersenyum senang.
Saat ini Joko bersama Getara Cinta, Kerling Sukma dan Helai Sejengkal.
“Kami semua yang memaksa Kakang Joko untuk menjadi suami kami, tetapi berbeda denganmu yang diminta khusus oleh Kakang Joko untuk menjadi istrinya,” kata Tirana lagi.
__ADS_1
“Kau akrab dengan wanita bermata hijau itu?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Baru kali ini aku bertemu dengannya, namanya Kerling Sukma. Namun, ia adalah wanita yang memiliki hak pertama atas Kakang Joko. Ternyata Kakang Joko sudah memiliki calon istri sejak kecil, yaitu Kerling Sukma, murid Dewi Mata Hati,” jawab Tirana.
“Tirana, sebenarnya hatimu terbuat dari apa? Apakah kau tidak memiliki rasa cemburu sedikit pun?”
“Hihihi…!” tawa Tirana berkepanjangan mendapat pertanyaan seperti itu.
“Aku saja yang melihatnya memeluk Joko dengan erat menjadi terbakar. Karenanya aku menyerangnya dan kami bertarung,” kata Putri Sri Rahayu yang secara tidak langsung menjelaskan penyebab di balik pertarungannya dengan Kerling Sukma.
“Kebahagiaan itu bukan sekedar kita menerima cinta dan sayang dari orang yang kita cintai. Berkorban untuk membuat pasangan kita bahagia dan nyaman dengan sikap kita, tanpa memberinya beban masalah dan pikiran, tanpa membuatnya marah dan gelisah, haruslah menjadi bagian dari kebahagiaan kita juga. Aku percaya dan sangat yakin, Kakang Joko juga pasti ingin menjadi seorang lelaki yang setia kepada satu hati dan cinta, tetapi ada hal yang lebih penting dari itu semua yang memaksa kami harus berbagi hati dan cinta, serta mengedepankan keikhlasan dan persaudaraan,” tutur Tirana.
Putri Sri Rahayu manggut-manggut mendengar penjelasan Tirana.
Joko Tenang tersenyum bahagia kepada Tirana dan Putri Sri Rahayu ketika keduanya bergabung dengan tiga wanita cantik lainnya.
“Terima kasih, Tirana. Kau datang tepat waktu,” ucap Joko Tenang.
“Aku sangat bahagia, Kakang. Kerling Sukma sudah bertemu denganmu dan bergabung bersama kita. Dan aku juga bahagia karena Kakang berani merayu Putri Sri Rahayu tanpa memandang rupa,” ujar Tirana.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang bernada bangga.
“Maafkan aku, Sukma. Aku terlalu cemburu terhadapmu,” ucap Putri Sri Rahayu kepada Kerling Sukma, ia memilih menurunkan standar egonya.
“Seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak tahu sedang berhadapan dengan seorang putri,” kata Kerling Sukma pula seraya tersenyum. Padahal di dalam hatinya ia merasa berdebar, karena ia kini berada di tengah-tengah wanita yang tidak hanya cantiknya luar biasa, tetapi kesaktiannya juga tidak main-main.
“Jika Putri Sri sudah terlalu cemburu, berarti sudah layak sebagai calon istri Kakang Joko.” Kali ini yang berbicara adalah Getara Cinta.
“Sungguh aku tidak patut bersaing dengan seorang ratu,” ucap Putri Sri Rahayu seraya tersenyum merendah.
“Tirana mengajariku, calon istri calon istri Kakang Joko, atau nanti istri-istri Kakang Joko, bukanlah bersaing, tetapi saling mengangkat saudara dan mengikat persaudaraan, saling menjaga dan saling berkorban untuk kebahagiaan saudaranya,” tutur Getara Cinta.
“Waw! Sungguh aku bersedih!” celetuk Helai Sejengkal tiba-tiba.
“Bersedih kenapa, Helai?” tanya Kerling Sukma.
“Aku tidak bisa ikut menikmati indahnya persaudaraan kalian,” jawab Helai Sejengkal sambil tersenyum kecut.
Mereka semua hanya tertawa rendah mendengar jawaban Helai Sejengkal.
“Kakang, Sukma sudah lama menunggumu. Pergilah kalian berdua untuk berbincang-bincang dan melepas rindu. Kami akan naik pergi menemui Nyi Lampingiwa,” kata Tirana.
“Benar. Penantian bertahun-tahun itu sangat menyiksa, Kakang. Pergilah, nanti temui kami di kediaman Nyi Lampingiwa,” kata Getara Cinta, yang membuat Putri Sri Rahayu dan Kerling Sukma bingung sendiri dengan sikap kedua calon istri Joko itu.
Joko Tenang memandang kepada Kerling Sukma. Gadis bermata hijau itu jadi tersenyum menunduk malu.
“Ayo, Sukma. Jika kau ingin marah kepadaku, kau bisa melampiaskannya nanti,” ajak Joko lembut.
“Baik,” ucap Kerling Sukma lalu melangkah ke arah Joko.
__ADS_1
Joko cepat berjalan juga, menjaga jarak dengan Kerling Sukma.
Melihat Joko buru-buru menjaga jarak, keempat gadis yang ditinggalkan hanya tertawa rendah. (RH)