Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 3: Memancing Penghuni Telaga


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


“Cepat cepat cepat! Yang cepat kerjanya! Sudah mau senja!” teriak pemuda gemuk kekar berperut gendut. Lelaki bercambang tanpa jenggot itu berdiri santai di atas setonggak bambu. Ia mengenakan baju putih tanpa kancing, memperlihatkan dada kekar plus perut gendutnya. Ia mengenakan celana hitam gombrong. Ia bernama Adi Manukbumi.


Adi Manukbumi sedang mengawasi kerja para pria desa yang sedang mangangkut bongkahan-bongkahan batu dari tempat itu ke arah sungai. Warga desa rencananya akan membangun tanggul untuk lebih memaksimalkan irigasi ke sawah-sawah.


Sebagai jawaranya Desa Gatalangot, Adi Manukbumi selalu berlakon sebagai pengawas di saat para warga sedang bergotong-royong.


Set!


Tiba-tiba sebuah benda melesat di udara menargetkan Adi Manukbumi. Pemuda gendut itu tahu ada yang menyerangnya. Ia cepat melompat naik ke udara, bahkan sekali bersalto, membuat batu kecil yang menyerangnya lewat di bawah. Selanjutnya Adi Manukbumi masih mampu mendarat dengan satu ujung kakinya menapak seimbang di ujung tonggak bambu.


“Hahaha! Manukmu, kita mau memancing di Telaga Fatara nanti malammu, apakah kau mau ikutmu?” tanya pemuda berkulit hitam tapi tampan. Pemuda berambut gondrong itu memiliki sepasang mata yang agak lebar sehingga putih matanya terlihat terang. Giginya yang putih bersih bak gigi bintang iklan pasta gigi ketika tertawa. Pemuda berbaju merah itu membawa beberapa kayu pancingan. Ia bernama Kedalang. Namun, karena suka menyisipkan suku kata “mu” pada akhir kalimatnya, namanya manjadi Mumu Kedalang. Dialah yang melempar Adi Manukbumi dengan batu.


Mumu Kedalang datang bersama rekannya sesama pemuda, tetapi dia berkepala botak plontos. Di kepala botaknya ada gambar titik hitam yang dikurung oleh dua lingkaran, sehingga seperti target panahan. Lelaki bertubuh lumayan kekar itu bertelanjang dada. Bajunya ia ikatkan di pinggangnya. Tangan kirinya menenteng keranjang bambu. Ia bernama Luring, tetapi lebih dikenal dengan julukan Pawang Setan. Pokoknya, untuk urusan berkaitan dengan dedemit atau jurig, warga Desa Gatalangot hanya akan menyebut satu nama, yaitu Pawang Setan.


“Sejak kejadian dulu, sudah lebih satu tahun kita tidak memancing di Telaga Fatara. Kenapa tiba-tiba kalian mau memancing?” tanya Adi Manukbumi lalu melompat turun dari atas tonggak bambu.


“Aku mendapat bisikan melalui mimpiku, jika kita berhasil melihat wujud penghuni telaga itu, jangankan satu orang Asih Marang, sepuluh Asih Marang akan datang menyembah cinta kepadamu!” kata Luring penuh keyakinan, membuat Adi Manukbumi terpengaruh.


“Ah, yang benar, Setan?” Adi Manukbumi kurang percaya, artinya ada percayanya.


“Kecuali kau tidak percaya kepada Setan, Manukmu!” timpal Mumu Kedalang sambil tersenyum, menunjuk deretan gigi berkilaunya.


“Baik, siapa takut!” kata Adi Manukbumi. “Tapi dengan syarat….”


“Syarat apa, Manukmu?” tanya Mumu Kedalang.


“Jika kejadian seperti dulu terjadi lagi, tidak ada yang boleh lari. Sangat tidak lucu kalau kalian yang mengajak, tetapi justru kalian dulu yang kabur meninggalkanku,” gerutu Adi Manukbumi mengingat kejadian masa lalu mereka di pinggir Telaga Fatara.


“Tenang saja, Manukmu. Dulu itu kita masih rada penakutmu, tapi sekarangmu, sudah pemberani kitamu,” kata Mumu Kedalang.


“Kita mau cari umpan dulu,” kata Luring.


“Kalian tunggu aku di tempat kita dulu memancing. Aku ingin menemui Asih Marang dulu, nanti aku ke sana,” kata Adi Manukbumi.


“Baiklahmu. Tapi jangan lupamu, sampaikan salamku kepada Asih Marangmu, Manukmu!” kata Mumu Kedalang.


“Ah, buat apalah kau salam-salam kepada kekasihku?” tanya Adi Manukbumi dengan lirikan yang malas.


“Hahaha! Rasa cinta itu biasanya ada masa habisnyamu, aku tunggu jika rasa cintamu sudah habis kepada Asih Marang, Manukmu!” seloroh Mumu Kedalang sambil tertawa.


Malam harinya, Mumu Kedalang dan Luring pergi bersama meninggalkan Desa Gatalangot. Mereka harus melewati hutan bambu untuk sampai ke pinggir Telaga Fatara. Selain membawa kail dan keranjang bambu, mereka masing-masing membawa sebatang suluh sebagai alat penerangan.


Kegiatan memancing malam ini bukan sekedar memancing untuk mendapatkan ikan di Telaga Fatara, tetapi mereka punya misi lain, yaitu mencoba keberuntungan untuk melihat atau bertemu dengan penghuni Telaga Fatara.

__ADS_1


Warga Desa Gatalangot dan beberapa desa lain yang memiliki akses ke Telaga Fatara, mereka semua meyakini bahwa Telaga Fatara memiliki penghuni. Meski mereka yakin, tetapi mereka tidak memiliki cerita yang seragam dan kuat tentang siapa dan apa yang menghuni telaga tersebut. Hanya cerita beragam yang sifatnya tidak kuat yang beredar di antara keyakinan para penduduk.


Akhirnya Mumu Kedalang dan Luring tiba di pinggir Telaga Fatara yang kondisinya gelap gulita. Tempat yang mereka pilih adalah sebongkah batu besar yang memiliki ketinggian setengah tombak dari permukaan air.


“Lihat di sanamu!” tunjuk Mumu Kedalang ke arah selatan, tepatnya ke arah seberang telaga yang jauh.


“Sejak kapan di sana ada kehidupan?” tanya Luring pula setelah melihat keberadaan nyala api jauh di seberang telaga besar itu.


Keduanya duduk di batu sambil terus memperhatikan keberadaan nyala api di seberang telaga.


“Jika dilihat dari ketinggian apinya, aku yakin itu bukan api manusia, tetapi api bangsa jurig,” kata Luring yakin.


“Apakah itu kediaman penghuni Telaga Fatara inimu?” duga Mumu Kedalang.


“Aku yakin iya. Bukankah di sana tidak ada kampung atau tempat tinggal seseorang? Keberuntungan bagi kita bisa melihat kediaman penghuni telaga ini. Mungkin kitalah orang pertama yang melihat kediaman penghuni jurig itu,” kata Luring penuh keyakinan.


“Hahaha! Belum mancing saja kita sudah beruntungmu,” kata Mumu Kedalang.


Mereka meneruskan kegiatannya, memancing. Setelah memasang umpan pada mata kail, pancing pun di lempar ke dalam air yang tenang. Keduanya duduk agak terpisah dengan maksud agar ikan-ikannya tidak bingung mau makan umpan siapa.


Sambil menunggu, mereka sesekali memandang jauh ke seberang, tepatnya kepada cahaya api di seberang telaga.


“Setahun lebih tidak pernah dipancing, pasti ikannya sudah pada gadis,” kata Luring.


“Hahaha! Kau pikir ikan itu tikus, berkembang banyak dengan melahirkan?” sergah Luring.


“Hahaha!” Mumu Kedalang justru tertawa menyadari kebodohannya sendiri.


Pak!


Di saat mereka berdua larut dalam tawa, tiba-tiba terdengar suara yang begitu nyaring, sangat dekat di belakang kepala mereka.


“Waaa!” pekik Mumu Kedalang sambil spontan melompat ke depan.


“Setaaan!” teriak Luring pula, terkejut bukan main. Ia juga sontak melompat ke depan.


Jbur! Jbur!


Mumu Kedalang dan Luring masuk ke dalam air telaga yang dingin.


“Hahaha…!” tawa Adi Manukbumi keras. Ia berdiri di atas batu sambil memegangi perut gendutnya.


Rupanya, Adi Manukbumi datang mengendap-endap dari belakang, lalu ia melompat ke belakang kedua sahabatnya sambil bertepuk tangan sekali. Namun, tepukan tangan itu bukan tepukan biasa, tetapi mengandung tenaga dalam, sehingga suara yang ditimbulkannya pun sangat keras.


Di bawah sana, Mumu Kedalang dan Luring muncul ke permukaan dengan gelagapan.

__ADS_1


“Setan Ijuk kau, Manuk!” teriak Luring gusar setelah melihat dan mendengar Adi Manukbumi tertawa ngakak.


“Kusumpahi kau cerai dengan Asih Marangmu, Manukmu!” maki Mumu Kedalang.


Namun, tiba-tiba tawa Adi Manukbumi berhenti mendadak. Sepasang alisnya mengerut tegang. Ia melihat dengan serius ke arah air telaga.


Dengan bantuan cahaya suluh yang temaram, Adi Manukbumi melihat air telaga tiba-tiba berombak, padahal tadi tenang. Ketika Mumu Kedalang dan Luring jatuh, air memang akan berombak karena riak yang tercipta, tetapi ombak yang Adi Manukbumi lihat jauh lebih besar.


Reaksi Adi Manukbumi yang berubah drastis, membuat kedua sahabatnya yang masih ada di dalam air menjadi heran.


“Ada apa, Manukmu?” tanya Mumu Kedalang.


Namun, Adi Manukbumi tidak menjawab. Ia justru melemparkan pandangannya agak jauh ke tengah telaga. Ia berusaha menembus kegelapan dengan menajamkan pandangannya.


“Cepat naik!” kata Adi Manukbumi datar, tetapi masih terdengar oleh kedua rekannya.


“Kau jangan mengerjai kami, Manuk!” hardik Luring kesal. Ia yakin bahwa Adi Manukbumi hanya berlakon untuk mengerjai ia dan Mumu Kedalang.


“Cepat keluar dari air! Naik! Cepaaat!” teriak Adi Manukbumi kencang, tiba-tiba panik.


Hal itu berhasil membuat Mumu Kedalang dan Luring terbawa panik pula tanpa tahu apa yang mengancam. Namun dugaan sepintas di benak mereka, ada yang mengancam dari dalam telaga.


Adi Manukbumi yang posisinya ada di sisi atas, bisa melihat bayangan merah bercahaya redup, melesat meluncur di dalam air. Bayangan yang muncul dari dalam kegelapan air telaga itu melesat ke arah posisi mereka berada.


Dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya, Mumu Kedalang dan Luring melompat naik ke udara, keluar dari air telaga dan mendarat di batu tempat mereka tadi duduk memancing.


Bduar!


Adi Manukbumi melihat dengan jelas ada bayangan besar berwarna merah menyala di dalam air, yang melesat cepat ke arah tempat mereka berada. Namun, sebelum bayangan dalam air itu sampai, tahu-tahu batu besar tempat mereka berada meledak hancur.


Jbur jbur jbur!


Ketiga pemuda itu berpentalan lalu kembali terjebur ke dalam air. Ketiganya kian panik. Pintasan pikiran buruk seketika ada dalam pikiran mereka saat itu.


Setelah gelagapan di dalam air, satu per satu dari ketiganya mampu kembali melompat keluar dari air, tanpa mendapat serangan mematikan dari seekor ikan buas atau makhluk jejadian. Setelah berhasil mendarat kembali di darat, mereka langsung berlari terbirit-birit tanpa peduli lagi dengan pancingan atau obor untuk penerangan jalan.


“Apa itu tadi, Manukmu?!” teriak Mumu Kedalang dengan napas terengah-engah.


“Aku juga tidak tahu!” jawab Adi Manukbumi dengan berteriak pula. “Aku melihatnya, tetapi tidak jelas itu apa!”


“Itu jelas sangat berbahaya, buktinya batu itu hancur!” kata Luring Pula.


Mereka bertiga berhenti sejenak di dalam gelapnya hutan bambu. Mereka mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, sekaligus menenangkan diri. (RH)


 

__ADS_1


__ADS_2