
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Surya Kasyara berhenti di bawah sebuah pohon besar di pinggiran sebuah desa yang masih di bawah kekuasaan Kadipaten Surosoh.
Surya Kasyara sudah membaik dari lukanya setelah ia meneguk beberapa kali tuaknya di dalam perjalanan. Air tuak Surya Kasyara memang memiliki khasiat sebagai obat.
Kayuni Larasati diturunkan. Ia duduk bersandar pada pohon dengan tangan terus membekapi perutnya, menahan agar darah tidak terlalu banyak keluar. Kayuni mengerenyit lemas menahan perih.
“Biar aku obati,” kata Surya Kasyara.
Kayuni Larasati tidak berkata apa-apa selain memandangi pemuda tampan yang telah menolongnya itu.
Surya Kasyara berlutut di depan gadis cantik itu. Ia membuka penutup bumbung tuaknya. Dituangkannya air tuak ke dalam mulutnya yang terbuka. Air itu tidak ia telan, tetapi ditahan di mulutnya.
Tanpa izin lebih dulu karena mulutnya penuh oleh air tuak, Surya Kasyara memagang tangan sang gadis dan memindahkan tangan itu dari perut, membuat lukanya terlihat jelas. Surya sedikit mengyingkap robekan kain untuk membuat semua garis luka terlihat jelas.
Pemuda itu lalu agak menundukkan kepalanya ke dekat perut Kayuni Larasati. Si gadis hanya memandangi Surya Kasyara dengan tatapan penuh arti.
“Fruuutr!” Surya Kasyara menyemburkan air tuak di mulutnya.
“Ekkh!” erang Kayuni Larasari saat cairan itu membasahi lukanya. Rasa perih langsung menyergap lebih dalam. Rasa itu tidak langsung hilang atau menyusut, tetapi mengalami proses.
“Tahan sebentar, hanya sebentar. Hasilnya akan baik,” kata Surya Kasyara mencoba menenangkan Kayuni Larasati karena melihatnya menahan sakit.
Dan memang benar, hanya sebentar. Kayuni Larasati merasakan rasa perih itu mulai berkurang. Hingga lima belas hitungan, rasa sakit dan perih itu lenyap sama sekali.
Kayuni Larasati segera memeriksa lukanya. Ia terbelalak terklejut, luka belahan pada kulit perutnya yang cukup panjang kini terlihat hanya seperti satu garisan yang rapat.
“Hahaha! Tidak perlu heran. Tuak Arwah milikku memang sangat manjur untuk mengobati luka luar dan dalam,” kata Surya Kasyara yang didahului tawa jumawanya. Ia lalu berpantun, “Jagung layu diikat memakai pita, laku dijual di pedagang belut, jangankan luka di kulit yang adik derita, luka di hati pun Kakang siap balut. Hahaha!”
“Hihihi…!” tawa Kayuni Larasati mendengar pantun Surya Kasyara.
__ADS_1
“Aaaah! Akhirnya aku melihatmu tertawa!” sorak Surya Kasyara begitu gembira, sampai-sampai ia berdiri dan melompat sekali. Perasaannya merasa begitu senang, seperti menemukan satu harta karun yang sangat sulit didapat.
Melihat kegirangan Surya Kasyara, Kayuni Larasati jadi menghentikan tawanya. Ia jadi mengerutkan kening, heran terhadap tingkah pemuda itu.
Sadar bahwa Kayuni telah berhenti tertawa dan berganti dengan tatapan heran, Surya Kasyara segera menghentikan kegirangannya dan berubah menjadi diam seraya senyum-senyum malu seperti pemuda perawan.
“Kenapa kau begitu senang melihatku tertawa, Kisanak? Apakah selama ini kau sering melihatku sehingga tahu aku sangat jarang tertawa?” tanya Kayuni Larasati.
“Namaku Surya Kasyara,” kata Surya Kaysara memperkenalkan diri.
“Oh, Surya ya,” ucap Kayuni singkat sambil manggut sekali. Saat ini tidak ada selapis pun senyum di wajahnya.
“Pemuda Kadipaten Surosoh mana yang tidak mengenal putri Adipati yang kecantikannya sangat masyhur,” kata Surya Kasyara.
Pujian itu tidak membuat Kayuni Larasati mengubah wajahnya jadi tersenyum. Namun, di dalam dada ia merasa senang mendengar sanjungan itu.
“Namun, dari mereka semua, tidak ada satu pun yang berani mendekatinya. Jadi para pemuda Surosoh hanya bisa memeluk bayangan angan dan mimpinya, termasuk aku. Hingga aku memutuskan pergi berguru hanya untuk bisa mendekatimu, hahaha!” tutur Surya Kasyara dengan tambahan kisah hoaks.
“Jadi selama ini kau selalu mengintaiku?” tanya Kayuni dengan nada sedikit agak meninggi.
Kayuni Larasati hempaskan napas kekesalan. Ia lalu bangun berdiri. Namun, ketika berdiri, ia agak sempoyongan. Surya Kasyara segera menahan punggung Kayuni dengan batang tangannya dari samping, sehingga terkesan seperti memeluk tubuh belakang. Maka, adegan tatap-tatapan ala-ala sinetron pun terjadi.
Kayuni Larasati sengaja mengedipkan sepasang matanya memberi kode kepada Surya Kasyara, yang terpaku karena terpana pandangan kesekian kali. Namun, memang baru kali ini ia memandangi wajah cantik itu dengan begitu dekat.
Kedipan mata Kayuni Larasati membuat Surya Kasyara tersadar.
“Oh, maafkan aku, Kayuni!” ucap Surya Kasyara sambil buru-buru agak mendorong tubuh Kayuni agar tegak. “Coba minumlah sedikit Tuak Arwah-ku. Ini akan menyegarkanmu!”
Surya Kasyara kembali membuka penutup bumbung tuaknya. Ia lalu mengangkatnya hendak menuangkannya ke mulut Kayuni Larasati.
Demi mendapatkan kondisi tubuh yang segar, Kayuni pun menengadah dan membuka mulutnya lebar-lebar. Pada saat itulah, jantung Surya Kasyara berdetak cepat dan ada aliran syer yang indah pada pembuluh darahnya.
__ADS_1
Saat itu Surya Kasyara menyaksikan pemandangan yang baginya begitu indah, lebih indah dari pemandangan lembah hijau dengan dua bukit berumputnya. Surya Kasyara melihat leher putih nan indah lagi putih mulus. Bibir yang begitu memikat hingga pola lubang hidung yang cantik.
“Glekr hap!” keluh Kayuni Larasati gelagapan, karena air tuak yang dituang ke mulutnya melebihi kapsitas. Bahkan tumpah ke wajah dan masuk ke hidung. Ia cepat menutup mulut dan menarik wajahnya menghindari air tuak yang dituang.
Alangkah terkejutnya Surya Kasyara. Kerterpukauannya membuat ia hilang kontrol saat menuang air tuaknya ke mulut Kayuni Larasati.
“Maaf maaf maaf!” sebut Surya Kasyara begitu menyesal.
“Kau mau membunuhku?! Ehhek ehhek ehhek!” teriak Kayuni Larasati lalu terbatuk-batuk karena tersedak.
“Maafkan aku! Aku terlalu bodoh karena begitu terpesona oleh kecantikanmu!” ucap Surya Kasyara jujur.
“Jika kau bukan orang yang menolongku, sudah aku beri pelajaran kau!” gerutu Kayuni Larasati, padahal di dalam hati ia senang karena dirinya terbukti memiliki daya pesona yang tinggi. Wajahnya tetap menunjukkan kekesalan. Namun, kemudian katanya, “Tuakmu memang hebat!”
Kayuni Larasati merasakan kondisi tubuhnya sudah segar, seolah tidak pernah terluka atau melakukan pertarungan sebelumnya.
“Bagaimana jika nanti tuakmu habis?” tanya Kayuni Larasati. Kali ini nada suaranya datar dengan ekspresi yang juga datar.
“Aku bisa membuatnya lagi. Cukup tuak biasa dimasukkan ke tabungku, maka khasiatnya akan langsung berubah,” jawab Surya Kasyara. “Oh ya, bagaimana kau bisa bertarung melawan orang-orang Kuda Biru?”
“Aku tanpa sengaja bertemu dengannya di dalam perjalanan. Kusuma Dewi adalah musuh lamaku. Dulu aku pernah memotong lengan teman lelakinya,” jawab Kayuni Larasati.
“Lalu kau mau ke mana sekarang?” tanya Surya Kasyara lagi.
“Aku ingin pulang,” jawab Kayuni Larasati.
“Ah, kebenaran. Aku juga mau bertemu dengan teman-teman lamaku di Kadipaten. Biar aku menemanimu, anggap saja aku mengawal seorang putri,” kata Surya Kasyara, yang lagi-lagi membuat Kayuni tersanjung karena diumpamakan dengan seorang putri.
Tanpa berkomentar, Kayuni melangkah pergi. Namun, ketika wajahnya sudah membelakangi pemuda itu, Kayuni Larasati tersenyum sendiri.
“Belanja salak pakai daun pohon jati, janji pinjaman haruslah dilunasi, biar saja tidak mendapat kursi di kamar hati, jadi pengawal pun aku rela jalani. Hahaha!” pantun Surya Kasyara lalu tertawa di belakang.
__ADS_1
“Hihihi…!” tawa Kayuni Larasati dengan tetap memandang ke depan.
Mendengar Kayuni kembali tertawa, alangkah senangnya Surya Kasyara di belakang. (RH)