
*Cincin Darah Suci*
Kedatangan Putra Mahkota Negeri Lor We di malam itu disambut dengan begitu meriah dan gegap gempita. Sejak memasuki gerbang ibu kota We, sambutan sudah terlihat dari warga Ibu Kota yang memang dikondisikan. Tabuhan genderang dan tiupan terompet menyambut di atas benteng Istana.
“Panjang umur dan perkasa Yang Mulia Kaisar!” ucap para pejabat dan prajurit Negeri Lor We ketika menghormat kepada Pangerang Young Tua.
Tersenyum lebarlah Pangeran Young Tua mendengar kata-kata penghormatan yang biasanya diucapkan teruntuk ayahnya, kaisar yang digulingkan. Dengan gagah dan jumawanya ia menaiki tangga istana, dikawal oleh pengawal pribadinya yang bernama Dao Lushan.
Di tangga teratas sudah menunggu para pejabat yang sebagian besar adalah pendukung kudeta yang terjadi di pagi hari itu.
“Hormat hamba, Yang Mulia Kaisar!” ucap seorang lelaki berusia 60 tahun sambil turun berlutut setelah Pangeran Young Tua tiba di tangga teratas. Lelaki berpakaian mewah warna kuning itu bernama Young Tan, adik dari kaisar yang digulingkan.
“Bangunlah, Paman!” seru Pangeran Young Tua cepat sambil memegang kedua lengan pamannya.
Setelah Young Tan berdiri tegak, Pangeran Young Tua justru menghormat membungkuk kepada pamannya.
“Terima kasih atas jasa Paman yang telah menggulingkan Ayahanda,” ucap Pangeran Young Tua.
“Besok pagi, setelah penobatanmu sebagai Kaisar Negeri Lor We, maka semua akan berada di dalam genggamanmu,” kata Young Tan berhias senyum kebanggaan.
“Aku akan menemui Ayahanda,” kata Pangeran Young Tua.
“Aku akan mengantarmu.”
Setelah acara penyambutan itu, Pangeran Young Tua bersama pamannya pergi ke penjara, tempat Kaisar Young Yeng ditempatkan.
Di dalam sebuah sel penjara. Tampak seorang lelaki berpakaian serba putih sedang duduk di sudut sel dengan beralaskan tumpukan jerami. Ia hanya mengenakan zhongyi, pakaian yang biasa dipakai sebagai pakaian dalam. Rambut lelaki itu digelung, tapi tidak rapi. Sejumlah rambutnya terlihat meriap acak menghiasi wajah tuanya. Kedua tangan dan kakinya dibelenggu dengan rantai.
Di dalam sel itu hanya ada sebuah meja kayu dan satu kursi. Tampak semangkuk nasi berlauk sepotong daging masih terlihat utuh di atas meja. Lengkap dengan satu cawan dan botol minum.
“Ayah!” sebut Pangeran Young Tua. Ia berhenti berdiri lima langkah dari lelaki tahanan itu.
“Pergilah. Nikmati kekuasaan terkutukmu, Tua’er,” ucap lelaki yang tidak lain adalah Young Yeng, Kaisar Negeri Lor We yang dikudeta.
Orang yang memimpin kudeta adalah Young Tan. Pangeran Young Tua hanya menikmati hasilnya.
__ADS_1
“Ayah, aku berjanji kepadamu. Aku akan membawa Lor We menjadi negeri yang lebih besar dan maju. Aku dan Pangeran Baijin sudah menandatangani kesepakatan berbagi Negeri Jang setelah negeri barat itu takluk. Persekutuan Ci Cin dan Lor We akan menghasilkan kekuatan yang tidak terkalahkan,” ujar Pangeran Young Tua.
“Tapi berhati-hatilah, Tua’er. Langit akan menghukummu dalam waktu yang singkat. Langit selalu mendengar jika wakilnya di bumi ini dilukai!” desis Kaisar Young Yeng dengan wajah bergetar karena menahan amarah yang teramat sangat.
“Beristirahatlah, Ayah,” ucap Pangeran Young Tua.
“Kalian berdua akan merasakan akibat dari dosa-dosa kalian!” teriak Kaisar Young Yeng murka.
Pangeran Young Tua dan Young Tan berbalik pergi. Sekeluarnya mereka dari sel tersebut, pintu sel kembali ditutup dan dikunci oleh prajurit sipir penjara.
Keesokan paginya, Pangeran Young Tua dinobatkan sebagai kaisar resmi Negeri Lor We. Young Tan diangkat sebagai Tangan Kanan Kaisar.
Sejak meninggalkan kamp militer di dekat perbatasan kota Taele, Kaisar Young Tua selalu memikirkan seorang gadis, yaitu Tirana. Kecantikan Tirana yang jelita langsung membuatnya jatuh hati. Padahal, tidak sedikit gadis-gadis putri para pejabat yang dekat dengannya, salah satunya adalah Zhao Lii.
Rasa jatuh hati yang menggebu-gebu itulah yang mendorongnya untuk segera mengundang Tirana dan Puspa ke Istana.
Zhao Lii, putri dari Jenderal Zhao Jiliang, telah menjanjikan bahwa Tirana dan Puspa yang katanya perempuan sakti itu, akan memenuhi undangan ketika tiba di ibu kota We.
Namun, pada pagi itu, Su Ntain membawa Tirana dan Puspa ke sebuah warung makan yang terkesan kumuh.
“Aku ingin bertemu Lio Ma,” ujar Su Ntai kepada lelaki yang baru membuka pintu.
“Punya uang?” tanya lelaki berusia 35 tahunan itu sambil mengalihkan pandangannya kepada kedua wanita cantik yang ada di belakang Su Ntai.
“Tidak punya,” jawab Su Ntai yang merupakan jawaban sandi.
“Ikut aku!” kata lelaki itu, lalu berbalik masuk ke dalam warung makan yang besarnya sederhana.
Maka Su Ntai, Tirana dan Puspa mengikuti. Ketiga kuda mereka tinggalkan tertambat di depan warung makan.
Di dalam hanya ada seorang wanita yang sedang sibuk memasak di dua tungku api. Di balik dinding papan, lelaki pemilik warung makan membuka sebuah pintu rahasia yang ada di lantai. Ada tangga menurun di balik pintu.
Mereka memasuki lorong yang tembus naik ke sebuah ruangan. Ruangan itu penuh oleh rak-rak yang berisi sarat buku-buku kertas dan buku bilah bambu.
Ada dua orang lelaki yang sibuk sedang bekerja di ruangan itu. Satu orang sibuk menulis di lembaran kertas yang kosong. Satu lagi sibuk menata dan memilah gulungan-gulungan kertas berdasarkan label-label yang menggantung menggunakan ikatan benang tebal.
Sejenak lelaki yang sedang menulis melihat siapa yang datang. Saat melihat wajah Su Ntai, ia langsung mengenalinya. Ia menghentikan pekerjaannya dan meletakkan kuasnya.
__ADS_1
Sementara lelaki yang tadi mengantar sudah kembali ke warung makannya.
“Sudah lama kau akhirnya muncul lagi, Su Ntai,” sapa lelaki yang usianya mungkin sebaya dengan Su Ntai.
“Tidak berubah kau, Lio Ma. Kau tetap setia dengan pekerjaanmu,” kata Su Ntai seraya tersenyum.
“Dua wanita cantik dan muda kau bawa bersama. Ada pencarian penting rupanya. Langsung saja, aku tidak punya waktu luang untuk berbincang-bincang,” kata Lio Ma.
“Kedua saudara istriku ini mencari berita tentang manusia yang jatuh dari langit di sebelah barat,” kata Su Ntai.
“Ini berita yang sangat mahal. Mungkin kau tidak akan mendapatkannya di kelompok lain. Berita ini hanya dimiliki oleh Jaringan Ular Tanah. Kau punya uangnya?” kata Lio Ma.
“Apakah ini cukup?” tanya Su Ntai sambil meletakkan sekantong kain merah berisi uang koin.
Lio Ma meraih kantong kain itu dan membukanya sedikit. Isinya uang koin emas yang banyak.
“Ini terlalu banyak, cukup sepuluh koin saja,” kata Lio Ma. Ia lalu merogoh kantong kain itu dan mengambil sesuai hitungan. Sisanya ia kembalikan kepada Su Ntai.
Uang itu adalah memberian dari Zhao Lii. Tadi malam mereka mendatangi kediaman Keluarga Zhao dan menagih janji bantuan dari Nona Zhao. Demi memenuhi permintaan Pangeran Young Tua, Zhao Lii rela mengeluarkan biaya besar agar Tirana dan Puspa bersedia memenuhi undangan dari sang pangeran yang pagi ini telah berubah menjadi seorang kaisar.
“Ada benda langit berwarna kuning emas jatuh dari langit dua hari lalu, tepatnya di sore hari. Tidak jelas benda apakah itu. Tepat jatuh dan menghancurkan Istana Haram, tempat Putri Negeri Jang tinggal,” kata Lio Ma yang merupakan salah satu petinggi Jaringan Ular Tanah cabang Negeri Lor We.
Su Ntai lalu menerjemahkan informasi dari Lio Ma kepada Tirana dan Puspa. Kabar itu seketika membuat Tirana tersenyum kecil menunjukkan keyakinannya bahwa benda sinar kuning emas itu adalah tubuh Joko Tenang. Ia begitu yakin karena arah dan waktunya sama ketika mereka jatuh dari langit, setelah keluar dari lorong alam ilmu Gerbang Tanpa Batas milik Puspa.
“Akhirnya kita bisa menemukan Kakang Joko, Puspa,” kata Tirana senang.
Puspa hanya manggut-manggut. Ia lebih tertarik memperhatikan banyak buku-buku di ruangan itu.
“Setelah kejadian itu, tiba-tiba di Istana muncul seorang pemuda asing. Putrimu Su Mai telah diminta oleh Putri Negeri Jang untuk menjadi penerjemah bagi pemuda asing berbibir merah itu,” lanjut Lio Ma.
Su Ntai kembali menerjemahkan perkataan Lio Ma.
“Benar, itu calon suamiku,” kata Tirana gembira. Dalam hati ia merasa sangat bersyukur akhirnya mengetahui dengan pasti bahwa Joko masih hidup.
“Ayo kita langsung pergi mencari Kucing Hutan!” kata Puspa.
“Kita harus memenuhi janji kita dulu kepada Nano Zhao. Setelah memenuhi undangan pangeran itu, baru kita langsung berangkat ke Negeri Jang,” tandas Tirana. (RH)
__ADS_1