
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
Setelah makan buah yang cukup banyak, termasuk buah mangga muda juga dihabiskan, barulah pada tengah malam Gimba merasa kuat untuk melakukan komunikasi dengan pihak Alam Kahyangan.
Prabu Dira Pratakarsa Diwana sudah meminta Mai Cui dan Yi Liun untuk menyumbat kedua lubang telinganya serapat mungkin.
Kaaak!
Hingga akhirnya, Gimba mulai berkoak keras sekali. Koakan pertama ini yang mengejutkan penghuni Desa Stormeggland.
Putri Yuo Kai dapat menahan mendengar suara koakan yang jauh lebih kencang dari koakan biasanya. Bo Fei dan Chi Men hanya mengerenyit sedikit. Kedua pelayan sang putri meringis kesakitan, meski mereka sudah menyumpal serapat mungkin lubang telinganya. Sementara Prabu Dira tidak terpengaruh.
Kaaak! Kaaak! Kaaak!
Setelah diam sebentar mengumpulkan energi, Gimba kembali berkoak tiga kali bersusulan. Energinya yang masuk ke dalam telinga para abdi Putri Yuo Kai lebih menusuk. Yi Liun sampai memekik kecil.
Setelah berkoak tiga kali, Gimba harus mengumpulkan tenaga dulu ke dalam paru-parunya. Setelah agak lama, ia pun kembali berkoak sebanyak tiga kali.
Kaaak! Kaaak! Kaaak!
“Akhirnya datang!” seru Prabu Dira senang.
Dari atas langit yang gelap, tiba-tiba muncul titik merah menyala. Benda asing itu melesat turun ke arah Prabu Dira dan yang lainnya berada.
Ketika benda asing itu semakin mendekati mereka, barulah mereka bisa melihat benda asing apa yang datang dari langit.
Benda merah menyala itu tidak lain adalah sebuah batu besar berwarna merah membara panas. Di atas batu itu duduk seorang lelaki tua berambut putih yang berpakaian serba putih. Meski usianya sudah lebih dari satu abad, tetapi terlihat masih segar bugar. Wajahnya terkesan bercahaya di dalam kegelapan. Sorot matanya tajam berwibawa. Dialah orang yang memiliki Alam Kahyangan, penguasa Alam Kahyangan berikut isi-isinya, termasuk hewan-hewan raksasa Alam Kahyangan. Namanya Resi Putih Jiwa.
Batu merah membara panas itu kemudian berhenti melesat dan melayang dua tombak di depan Prabu Dira berdiri.
“Hormatku, Resi Putih Jiwa!” ucap Prabu Dira seraya menghormat.
Putri Yuo Kai, Bo Fei dan Chi Men menghormat dengan adatnya masing-masing. Melihat putrinya menghormat, buru-buru Mai Cui dan Yi Liun datang dan berlutut menghormat.
“Bangkitlah!” perintah Resi Putih Jiwa yang tahu, jika ia tidak memerintahkan berdiri, kedua pelayan Putri Yuo Kai bisa terus berlutut. “Apa yang terjadi, Joko?”
“Gimba terkena petir saat badai, Resi,” jawab Prabu Dira melapor.
__ADS_1
“Jadi kau ingin Gimba pulang ke Alam Kahyangan?” terka Resi Putih Jiwa.
“Benar, Resi. Aku tidak tahu cara mengobati Gimba di saat kesaktianku yang lama masih tersegel, Resi,” kilah Prabu Dira.
“Hahaha…!” tawa Resi Putih Jiwa. “Aku dengar-dengar istrimu sudah tujuh perempuan, Joko.”
“Hah! Apakah Resi memantau aku sehingga tahu bahwa aku sudah beristri tujuh?” tanya Prabu Dira terkejut.
“Gimba yang bercerita kepadaku. Hahaha!” kata Resi Putih Jiwa.
Prabu Dira beralih memandang kepada Gimba.
Kaaak!
Koak Gimba lirih.
“Apakah Resi tahu kami berada di mana?” tanya Prabu Dira.
“Ini Tanah Burma. Kau masih terlalu jauh dari Sanggana Kecil,” jawab Resi Putih Jiwa.
Prabu Dira terdiam berpikir.
“Tapi aku harus hadir dalam pertemuan di Jurang Lolongan, Resi,” kilah Prabu Dira.
“Kau bisa menggunakan kuda di daratan dan menggunakan perahu di lautan untuk mengejar waktu. Di bawah asuhan Dewi Mata Hati kerajaanmu akan baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas, serahkan saja urusan kerajaan kepada wanita-wanita sakti itu,” kata Resi Jiwa Putih.
“Apakah Resi sudah tahu tentang pertemuan di Jurang Lolongan?” tanya Prabu Dira.
“Sudah, Pangeran Lidah Putih yang memberi tahuku. Namun, aku sudah minta izin kepada Tiga Malaikat Kipas untuk tidak hadir. Aku tidak bisa meninggalkan Alam Kahyangan lama-lama. Terlebih tokoh-tokoh seperti Pangeran Lidah Putih, Dewa Kematian, Dewi Mata Hati dan Malaikat Serba Tahu, aku rasa mampu memberikan jalan keluar dari permasalahan yang sangat dikhawatirkan oleh Tiga Malaikat Kipas,” ujar Resi Putih Jiwa.
“Apakah Dewa Kematian akan hadir?” tanya Prabu Dira.
“Mungkin. Buyutmu itu sudah seperti aku. Meski ia hadir, mungkin hanya memberi masukan tanpa mau terlibat lagi dengan urusan dunia persilatan secara langsung,” kata Resi Putih Jiwa.
Suzz!
Tiba-tiba saja di atas kepala Resi Putih Jiwa muncul sebola sinar putih menyilaukan.
__ADS_1
“Lihat cahaya itu!” seru Kan Lwin, pemuda andalan Ketua Desa Stormeggland.
Sejak kemunculan benda merah dari langit, Ketua Desa Kodawgyi Arkar Denpo bersama para lelaki desa, termasuk San San Htay yang cantik, memusatkan perhatian mereka ke arah badan gunung.
Mereka sempat kehilangan benda merah membara karena terhalang oleh dedaunan pohon, tetapi ketika bola sinar putih menyilaukan muncul di atas kepala Resi Putih Jiwa, para warga desa bisa melihatnya dari jauh. Namun, mereka hanya bisa melihat sinar, tanpa bisa melihat keberadaan Prabu Dira dan lainnya.
“Apa sebenarnya itu?” ucap Kodawgyi Arkar Denpo.
“Jelas-jelas itu bukan perbuatan manusia!” kata Ducken Pert yang secara tidak langsung menyangkal tudingan Abhoy Danu.
“Tapi aku benar-benar penasaran!” kata Abhoy Danu lalu tiba-tiba dia berkelebat pergi menembus kegelapan dengan tetap membawa satu obor.
“Abhoy!” teriak Kan Lwin terkejut dengan kenekatan lelaki gendut itu. Lalu katanya kepada Ketua Desa, “Aku akan menyusul Abhoy, Kodawgyi!”
Tanpa menunggu Kodawgyi mengiyakan, Kan Lwin telah berkelebat pergi menyusul ke arah Abhoy Danu pergi. Ia juga membawa sebatang obor.
Sementara di atas gunung, bola sinar putih melesat dari atas kepala Resi Putih Jiwa ke tubuh Gimba. Maka sinar putih seketika menyebar menjelajahi seluruh tubuh dan bulu burung yang sangat besar itu.
Clap!
Ketika seluruh tubuhnya terlapisi oleh sinar putih tersebut, tiba-tiba Gimba hilang begitu saja, seperti pesulap David Copperfield menghilangkan patung Liberty.
“Permintaanmu sudah terpenuhi, Joko. Aku tidak akan berlama-lama,” kata Resi Putih Jiwa.
“Terima kasih, Resi,” ucap Prabu Dira.
“Jika Gimba telah sembuh, aku akan mengirimnya untuk mencarimu,” kata Resi Putih Jiwa.
“Baik, Resi,” ucap Prabu Dira.
Resi Putih Jiwa lalu melesat cepat naik ke langit, ke arah ia tadi datang.
“Abhoy! Lihat, benda itu sudah pergi!” seru Kan Lwin kepada Abhoy Danu yang diikutinya mulai menaiki gunung.
Abhoy Danu berhenti dan cepat melihat ke langit. Dilihatnya benda merah menyala sudah terbang menjauh ke langit. Lalu hilang. Ia jadi ragu untuk melanjutkan niatnya naik ke atas sana.
“Hah! Baiknya besok pagi kita selidiki apa yang terjadi di atas sana!” kata Abhoy Danu akhirnya, setelah menghempaskan napas kekesalan.
__ADS_1
Kedua orang sakti Desa Stormeggland itu lalu berbalik pulang.
Akhirnya, ketua dan warga desa melalui malam itu dengan membawa rasa pertanyaan dan penasaran dengan apa yang mereka dengar dan lihat. Ketua Desa, San San Htay, Kan Lwin, Abhoy Danu, dan Ducken Pert jadi tidak bisa tidur memikirkan fenomena asing itu. (RH)