Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 9: Adipati Tambak Ruso


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*


Ia adalah seorang lelaki berkulit putih bersih dengan usia lebih separuh abad. Ia mengenakan pakaian dalaman putih dengan pakaian luar hitam berbahan tebal dan bagus. Ia juga mengenakan celana hitam. Ada kain putih yang melingkar di sekeliling pinggangnya. Lelaki yang kumisnya sudah dua warna itu sedang duduk di sebuah kursi menghadapi sebaskom air bening bertabur bunga di atas meja. Ia sedang memandikan keris bagusnya yang berwarna hijau gelap.


Dialah yang bernama Adipati Tambak Ruso, penguasa di Kadipaten Surosoh. Ia kini berada di kediamannya yang berupa rumah batu yang megah. Rumah yang paling megah dan terluas sekadipaten adalah kediaman Adipati Tambak Ruso.


Kediaman itu memiliki sejumlah pengamanan yang dilakukan oleh para prajurit kadipaten.


Di belakangnya berdiri dua wanita yang tinggal menunggu perintah saja. Kemudian muncul seorang wanita separuh baya berpakaian kebaya warna kuning. Wanita berkulit putih bersih itu lalu duduk di kursi seberang meja.


“Kakang Adipati, apakah dari Kerajaan tidak ada perwira dan pasukan yang dikirim?” tanya wanita yang bernama Pitaloka, istri Adipati.


“Aku sudah berulang kali mengirim pesan, tetapi sepertinya pesan-pesan itu hilang di tengah jalan,” jawab Adipati Tambak Ruso. “Aku curiga bahwa para utusan pembawa pesan itu berakhir di tangan Gerombolan Kuda Biru.”


“Gerombolan Kuda Biru adalah tempat berkumpulnya orang-orang sakti dunia persilatan, sedangkan kita hanya memiliki prajurit kadipaten. Jelas-jelas kita tinggal menunggu serangan mereka saja, lalu habislah kita,” kata Pitaloka.


“Kau tidak perlu sekhawatir itu, Nyai. Meskipun mereka menyerang masuk dengan kekuatan tidak terkalahkan, maka kau dan aku tidak akan celaka,” kata Adipati Tambak Ruso.


“Maksud Kakang bagaimana?” tanya Pitaloka tidak mengerti maksud suaminya.


“Tidak bisa aku jelaskan sekarang, kecuali serangan itu sudah terjadi. Aku juga sudah mengutus Arya Permana ke Padepokan Hati Putih. Mudah-mudahan Ayah bersedia membantu kita,” kata sang adipati.


Seorang prajurit berseragam biru putih datang menghadap dan menjura hormat kepada Adipati Tambak Ruso.


“Gusti, ada kereta kuda yang datang!” lapor prajurit itu.


“Kereta kuda? Apakah mereka dari kadipaten lain?” tanya Adipati Tambak Ruso heran kepada dirinya sendiri.


Adipati Tambak Ruso segera mengelap kerisnya lalu menyarungkannya. Keris itu kemudian ia selipkan di pinggang belakangnya.


Adipati Tambak Ruso dan istrinya segera pergi dengan mengitari sisi kanan rumahnya. Setibanya di teras, mereka melihat kedatangan sebuah kereta kuda dan seekor kuda hitam.


Orang yang berperan sebagai kusir adalah Tirana yang didampingi oleh Getara Cinta dan Kerling Sukma. Sementara penunggang kuda hitam adalah suami mereka, Pangeran Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang.


“Bukankah itu kuda milik Arya?” tanya Adipati Tambak Ruso kepada istrinya.


“Benar, Kakang,” jawab Pitaloka.


“Pasti sesuatu telah terjadi,” kata Adipati Tambak Ruso, tetapi sikapnya terlihat biasa-biasa saja.


Ia berjalan menuju pintu gerbang rumahnya yang dijaga oleh dua orang prajurit. Istri dan seorang prajurit berbadan besar segera menyusul.


Bertepatan dengan tibanya sang adipati di pintu halaman, kuda dan kereta juga tiba di depan gerbang. Sang adipati bahkan sempat terpukau melihat tiga mutiara yang berjejer di atas kereta. Namun, ia segera beralih kepada Joko Tenang yang sudah turun dari atas kuda.

__ADS_1


“Maaf, Kisanak….”


Kata-kata Adipati Tambak Ruso terhenti saat melihat Turung Gali turun dari bilik kereta dengan membawa tubuh Arya Permana pada kedua tangannya.


“Arya!” pekik Pitaloka panik lalu berlari menghampiri Turung Gali.


“Kami menemukan putra Adipati sedang diserang oleh anggota Gerombolan Kuda Biru,” ujar Joko Tenang sambil berjalan ke bilik kereta. Ia kemudian mengangkat tubuh teman Arya Permana.


“Bukira!” sebut Adipati Tambak Ruso mengenali sosok yang sedang diangkat oleh Joko Tenang. “Cepat bawa masuk!”


Joko Tenang dan Turung Gali bergegas membawa tubuh Arya Permana dan Bukira ke dalam. Tirana menjalankan kereta kudanya masuk ke dalam halaman.


Arya Permana dan Bukira di masukkan ke dalam sebuah kamar dan keduanya ditempatkan pada satu ranjang. Terlihat jelas bahwa luka Arya Permana ada di bahu kiri, sedangkan Bukira mengalami luka senjata tajam yang dalam di dada, lengan dan punggung.


“Tungkal, cepat pergi panggil tabib Rakitanjamu ke mari!” perintah Adipati Tambak Ruso kepada pengawal berbadan besarnya.


“Tapi, Gusti…” ucap prajurit yang bernama Tungkal ragu.


“Katakan, aku akan kembalikan benda pusakanya jika dia bisa mengobati Arya dan Bukira!” kata Adipati Tambak Ruso yang paham dengan keberatan pengawalnya itu.


“Baik, Gusti,” ucap Tungkal patuh.


Adipati Tambak Ruso memang sedang bersengketa dengan tabib yang bernama Rakitanjamu. Ia telah merebut secara sewenang-wenang sebuah pusaka milik tabib tersebut, tetapi sayangnya Adipati tidak tahu cara memakai pusaka tersebut.


“Pangeran?” ucap Adipati Tambak Ruso terkejut mendengar Turung Gali menyebut Joko Tenang dengan sebutan Pangeran.


“Maafkan kami, Yang Mulia Pangeran!” ucap Adipati Tambak Ruso sambil buru-buru berlutut menghormat dengan kepala menunduk dan kedua telapak tangan bertemu di depan dahi.


Hal yang sama segera dilakukan pula oleh Pitaloka.


“Kami sungguh tidak mengenali, Yang Mulia Pangeran!” ucap Adipati Tambak Ruso lagi.


“Bangunlah, Adipati. Aku hanya seorang pangeran jika di kerajaanku, tapi dalam perjalanan ini, aku tidak lebih hanya seorang pengembara,” kata Joko Tenang cepat sambil mengangkat kedua lengan sang adipati.


Adipati Tambak Ruso dan istrinya segera berdiri.


“Jika Adipati mengizinkan, maka lakukanlah, Ayah,” kata Joko Tenang kepada Turung Gali.


“Tentu, silakan, silakan!” kata Adipati Tambak Ruso.


Turung Gali lalu menghampiri tubuh Arya Permana untuk melakukan pengobatan ala pendekar.


“Aku adalah Pangeran Dira dari Kerjaan Sanggana Kecil di kaki Gunung Prabu. Turung Gali adalah ayah dari istriku,” kata Joko Tenang memperkenalkan diri. “Dan ketiga wanita yang di luar itu adalah istri-istriku.”

__ADS_1


“Oh!” desah Pitaloka terkejut, tidak menyangka.


“Aku Adipati Tambak Ruso dan ini adalah istriku Pitaloka. Itu adalah putraku, namanya Arya Permana. Dan yang di sebelahnya adalah pengawalnya, namanya Bukira. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi?” kata Adipati Tambak Ruso, lalu bertanya lagi.


“Ketika kami dalam perjalanan menuju ke Padepokan Hati Putih, kami berpapasan dengan Arya yang sedang dikejar oleh dua anggota Gerombolan Kuda Biru. Tepat saat berpapasan dengan kami, Arya terkena serangan dan terluka pada bahunya. Karena kami tahu bahwa kedua orang yang mengejar adalah anggota Gerombolan Kuda Biru, jadi kami memutuskan menolong Arya,” jelas Joko Tenang.


“Oh…” desah Adipati Tambak Ruso sambil manggut-manggut. Lalu katanya, “Lebih baik kita berbincang di luar, Pangeran.”


“Mari,” ucap Joko Tenang.


Joko Tenang dan Adipati Tambak Ruso lalu melangkah ke luar, meninggalkan Turung Gali yang sedang melakukan pengobatan pada luka bolong bahu kiri Arya Permana. Pitaloka berdiri dengan cemas menyaksikan proses pengobatan terhadap anaknya.


Di ruang depan, berdiri menunggu Tirana, Getara Cinta dan Kerling Sukma.


“Istri-istri Pangeran sungguh cantik-cantik,” puji Adipati Tambak Ruso ketika kembali melihat tiga mutiara milik Joko Tenang. “Silakan!”


Adipati Tambak Ruso mempersilakan Joko Tenang dan ketiga istrinya duduk di hamparan karpet tebal dan bagus berwarna merah hati.


“Aku ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Yang Mulia Pangeran Dira karena telah menolong putraku!” ucap Adipati Tambak Ruso.


“Sama-sama, Adipati. Sebenarnya kami tidak mengerti apa yang terjadi. Kami hanya berpatokan bahwa Gerombolan Kuda Biru adalah kelompok yang jahat, jadi kami memutuskan menolong,” kilah Joko Tenang.


“Lalu, ada tujuan apa Pangeran hendak pergi ke Padepokan Hati Putih?” tanya sang adipati lagi.


“Aku hanya ingin menyampaikan satu pesan penting dari guruku kepada Resi Tambak Boyo,” jawab Joko Tenang.


“Resi Tambak Boyo adalah ayahku,” kata Adipati Tambak Ruso. “Putraku hari ini pergi bersama satu pasukan kecil menuju ke sana juga, tetapi mungkin dihadang oleh Gerombolan Kuda Biru.”


“Sepertinya gerombolan itu sangat meresahkan kadipaten ini. Apa yang sebenarnya terjadi, Adipati?” tanya Tirana.


“Setahuku, Gerombolan Kuda Biru awalnya adalah gerombolan perampok hutan biasa. Namun tiba-tiba, mereka menjelma menjadi kelompok yang besar dan anggotanya bukan sembarang pendekar. Kini, mereka ingin menguasai Kadipaten Surosoh dan tiga kadipaten lainnya. Yang pertama mereka targetkan adalah kadipaten ini karena ini adalah pintu menuju ke ketiga kadipaten lainnya. Mereka sudah mengirim pesan kepadaku bahwa mereka akan menyerang dalam beberapa hari kemudian,” tutur Adipati Tambak Ruso.


“Tapi aku tidak melihat di kadipaten ini ada persiapan untuk menghadapi serangan?” tanya Joko Tenang.


“Aku sudah menugaskan putraku untuk mengatur pasukan di perbatasan, tapi sepertinya itu sia-sia jika melihat kepulangannya yang dalam kondisi seperti ini. Aku juga sudah berulang kali mengirim utusan ke Istana Baturaharja, tetapi tidak jelas apakah utusan itu sampai atau tidak ke Istana. Buktinya, sudah sepurnama lamanya tidak ada perwira atau pasukan bantuan yang dikirim ke kadipaten ini. Akupun sudah mencoba meminta bantuan dari ketiga kadipaten tetangga, tetapi mereka justru memutuskan jembatan yang menghubungkan antarkadipaten,” jelas Adipati Tambak Ruso. “Jadi, kami sudah pasrah dan tinggal menunggu.”


“Menurutku sikap itu salah, Adipati!” tukas Getara Cinta. Ia sebagai mantan seorang ratu menilai sikap sang adipati sangat berbahaya. (RH)


**************


Dalam perjalanan menuju Kerajaan Sanggana Kecil, ternyata sejumlah pendekar memutuskan bergabung dan siap mengabdi kepada Joko Tenang.


Author memperkenankan Readers untuk menciptakan satu karakter baru (nama, fisik, dan sifat dominannya) pilihan Readers sendiri, lengkap dengan nama ilmu, jurus, dan senjata (jika ada). Karakter-karakter ini nantinya akan tergabung dalam "Pasukan Pengawal Bunga".

__ADS_1


Karakter-karakter ini nantinya akan banyak dipakai di novel season berikutnya (sekitar 4 season lagi) dan novel lanjutannya "Kerajaan Sanggana Kecil". 😀🙏🙏


__ADS_2