
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
“Arah Hambur Angin memang ke arah sana, Den, tetapi kalau pasukan Kelompok Pedang Angin jumlah ratusan, sudah lama Bapak tidak melihatnya,” jawab seorang petani yang sedang istirahat di pinggiran sawahnya.
Joko Tenang terdiam sejenak lalu memandang Tirana dan Kembang Buangi. Pasalnya arah mereka benar, tetapi kenapa mereka kehilangan jejak pasukan Kelompok Pedang Angin. Sudah tiga kali mereka berhenti bertanya kepada orang yang mereka temui di jalan, tetapi tidak satu pun yang mengaku melihat pasukan Kelompok Pedang Angin yang berjumlah ratusan.
“Berapa jauh lagi untuk sampai ke Hambur Angin, Ki?” tanya Joko lagi kepada petani itu.
“Kalau jalan kaki mungkin satu hari penuh, jika berkuda, cukup setengah hari,” jawab si petani.
“Terima kasih, Ki,” ucap Joko Tenang.
“Sama-sama, Den,” kata si petani.
Joko lalu berdiskusi dengan Tirana dan Kembang Buangi.
“Sejak kita mengikuti arah ke Hambur Angin, kita kehilangan jejak pasukan itu,” kata Joko Tenang.
“Jika Hambur Angin adalah sarang Kelompok Pedang Angin, setibanya di sana pasti ada petunjuk tentang pasukan itu,” kata Kembang Buangi.
“Mungkin mereka kembali ke Kerajaan Tarumasaga, bukan ke Hambur Angin,” kata Tirana.
Joko lalu kembali bertanya kepada si bapak petani.
“Maaf, Ki. Jika Kerajaan Tarumasaga ke arah mana?”
“Jika Hambur Angin ke barat, Tarumasaga ke selatan, Den,” jawab petani itu lagi.
“Terima kasih lagi, Ki,” ucap Joko.
“Sama-sama lagi, Den,” ucap si petani juga.
Lalu kata Joko kepada kedua gadisnya, “Kita ke Hambur Angin. Jika tidak ada hasil, kita langsung obrak-abrik Kerajaan Tarumasaga!”
Joko Tenang lalu melesat pergi. Tirana dan Kembang Buangi turut menyusul melesat. Si petani hanya terperangah bengong melihat ketiga orang muda itu pergi seperti setan.
Joko Tenang dan Tirana harus mengimbangi larinya dengan Kembang Buangi yang kemampuannya ada di bawah mereka.
Setelah setengah jam melesat, ketiganya kembali berhenti. Mereka dihadapkan jalan bercabang. Jalan pertama akan masuk ke dalam hutan bambu kecil, jalan kedua agak berbelok mengikuti aliran sungai.
Belum lagi Joko berdiskusi dengan kedua wanitanya, dari ujung jalan di hutan bambu muncul seorang wanita yang berjalan terseok-seok, sepertinya sedang terluka.
Bruk!
__ADS_1
Namun, ketika jarak wanita separuh baya itu tinggal belasan tombak dari posisi Joko, ia jatuh tersungkur.
Kembang Buangi langsung berinisiatif berlari kepada wanita itu. Wanita berpakaian kuning itu berusaha bangun. Tampak sebagaian pakaiannya ternoda darah karena ada luka sayatan senjata tajam yang besar pada bahu dan dada kirinya.
“Nisanak! Apa yang terjadi?” tanya Kembang Buangi sambil segera menangkap tubuh wanita itu sebelum kembali ambruk.
“To... tolong,” ucap wanita itu terbatah. Mulutnya sudah penuh oleh darah.
“Kembang Buangi segera memapah wanita itu ke pinggir jalan yang berumput. Di situ ia mendudukkan wanita tersebut dan menyandarkannya pada batang pohon kecil.
Tirana segera datang menghampiri mereka.
“Nisanak, tolong... tolong selamatkan kalung... ini,” ucap wanita separuh baya itu sambil memberikan seuntai kalung permata hijau ke tangan Kembang Buangi.
“Apa ini?” tanya Kembang Buangi terkejut.
“Biarkan aku obati,” kata Tirana.
“Tidak... tidak usah. Yang penting... sampaikan... kalung ini ke Raja Kerakh!” ucap wanita itu hingga kata terakhirnya adalah napas terakhirnya.
“Terlambat,” kata Tirana.
“Kalung apa ini?” tanya Kembang Buangi sambil menunjukkan kalung untaian sejumlah butiran permata hijau yang berlumur darah.
Kembang Buangi menutup sepasang mata wanita itu yang masih terbuka.
“Kita harus menguburkannya,” kata Joko yang berdiri lima langkah dari para wanita itu. Namun kemudian, Joko berkata lain saat melihat ada yang datang, “Pembunuhnya sudah datang.”
Kembang Buangi dan Tirana menengok untuk melihat apa yang dimaksud oleh Joko Tenang.
Tampak di jalan yang menuju ke hutan bambu, muncul dua orang, lelaki dan wanita.
Orang pertama adalah seorang lelaki berbadan besar berpakaian serba biru. Pada pakaiannya terdapat hiasan logam-logam besi. Lelaki berambut pendek itu berusia kisaran empat puluhan tahun. Kumis dan jenggotnya terkesan tumbuh liar. Ia membawa senjata sebuah bola besi berduri sebesar genggaman. Bola itu memiliki rantai yang menyambung ke sebuah batang besi sepanjang satu jengkal.
Orang kedua adalah wanita muda lagi cantik yang berkulit masih kencang dan licin. Ia mengenakan pakaian serba merah. Rambut panjangnya di tata rapi dan diikat dengan pita merah. Tangan kanannya membawa sebilah pedang tanpa warangka, sehingga terlihat masih ada bekas darah di bagian ujung pedang.
“Serahkan kalung milikku!” perintah lelaki berkumis, setelah ia berhenti tujuh langkah dari posisi Kembang Buangi dan Tirana. Lelaki itu bernama Horonggeng.
Sementara Joko Tenang tetap berdiri di tempatnya, tidak mendekat, seolah tidak mau turut campur dengan urusan itu.
Melihat calon suaminya diam saja, Tirana menepuk bahu Kembang Buangi dan berbisik, “Sepertinya ini menjadi urusan pribadimu sebagai penerima kalung.”
Kembang Buangi mendelik mendengar perkataan Tirana. Seraya tersenyum kepada Kembang Buangi, Tirana pergi ke dekat Joko dalam jarak terbatas.
__ADS_1
“Lebih baik serahkan kalung itu, Nisanak. Itu milikku yang dicuri oleh wanita itu!” seru gadis berbaju merah, ia bernama Suci Sari yang berjuluk Si Cantik Pemukau. Kecantikannya memang bisa memikat setiap lelaki yang mata keranjang.
Kembang Buangi harus menerima nasibnya untuk menghadapi dua orang itu sendirian. Ia bangkit berdiri dan membiarkan mayat wanita tadi tersender di batang pohon.
“Kalian bohong, bagaimana sebuah kalung dimiliki oleh dua orang sekaligus? Atau, kalianlah yang berniat merampok wanita ini?” tuding Kembang Buangi tanpa gentar.
“Serahkan saja kalung itu. Wanita itu sudah mati, untuk apa kau memilikinya? Atau kau pun akan bernasib sama!” ancam Suci Sari.
“Dari sikapmu dalam menginginkan benda ini menunjukkan kalian memang perampok!” tukas Kembang Buangi. Ia lalu menyelipkan kalung berdarah itu ke balik pakaiannya.
“Tidak ada cara lain selain merebutnya dengan paksa!” kata Suci Sari lalu merangsek maju menusukkan pedangnya.
Kembang Buangi gesit menghindari pedang itu. Suci Sari terus memburu Kembang Buangi dengan pedangnya. Sebagai pendekar yang pernah bersenjatakan pedang, Kembang Buangi bisa membaca dengan mudah arah pergerakan pedang lawannya.
Kembang Buangi segera memainkan jurus Menggempur Mata Pedang. Permainan jurus Kembang Buangi cukup mengejutkan Suci Sari. Kembang Buangi berani menyambut tusukan, tebasan dan sabetan pedang Suci Sari tanpa takut terkena. Cara menghindar Kembang Buangi sangat tipis dari mata pedang, meski demikian, tidak satu pun gerakan pedang itu menyentuh pakaiannya. Jarak yang tipis justru memberi keuntungan bagi Kembang Buangi untuk menyarangkan serangan tangan kosongnya.
Horonggeng tampak gelisah melihat jalannya pertarungan kedua wanita cantik itu.
Bak babak!
Pada satu kesempatan, tubuh atas Kembang Buangi meliuk hanya sejengkal dari tusukan pedang Suci Sari. Tiga pukulan telapak tangannya mendarat beruntun di perut Suci Sari. Wanita berpakaian merah itu terjajar mundur dengan terbungkuk meringis.
Horonggeng kesal sendiri.
“Biar cepat selesai sekalian!” teriak Horonggeng lalu maju hendak menyerang Kembang Buangi dengan senjata bola durinya.
Das!
Namun, baru maju dua langkah, sebutir kerikil yang melesat tanpa terlihat menghantam dada Horonggeng. Lelaki besar itu sontak terlontar ke belakang dan jatuh terjengkang. Ia meringis kesakitan dan langsung memandang kepada Joko dan Tirana yang berdiri diam menonton.
Suci Sari menatap tajam kepada Kembang Buangi.
“Dia belum tahu siapa itu Si Cantik Pemukau!” desis Suci Sari. Lalu teriaknya kepada Kembang Buangi, “Kau akan menyesal telah berurusan dengan adik dari Ketua Raja Pedang. Rasakan kekejaman Tarian Pedang Bidadari!”
Terkejut Joko Tenang dan Tirani mendengar nama Ketua Raja Pedang disebut.
Setelah berteriak seperti itu, Suci Sari lalu maju dengan cara yang tidak biasa. Ia maju beberapa langkah lalu berbalik dan melempar mundur tubuhnya ke arah Kembang Buangi.
Kembang Buangi memasang waspada tinggi. Ia memilih mundur cepat menjaga jarak. Ternyata dari balik tubuh Suci Sari melesat cepat pedang tanpa dipegang.
Set!
Kembang Buangi terkejut. Buru-buru ia mengelak dan nyaris saja. Satu irisan merobek kain lengan kanan bajunya. Ada goresan kecil pula pada kulit halusnya. (RH)
__ADS_1