
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Akhirnya Joko Tenang mengalah. Ia duduk di sisi ayah mertuanya. Sementara Gowo Tungga dan Gembulayu terdiam kaku di dalam bilik kereta. Mereka tidak berani berbicara atau pun banyak tingkah di dekat Reksa Dipa yang memandangi mereka dengan tajam.
Surya Kasyara mengendarai kuda dan berjalan di depan. Adapun kaum wanita berjalan di belakang dengan para serigalanya.
Namun, saat mereka melalui jalan hutan bambu, rombongan harus berhenti. Dari arah depan ada rombongan pasukan prajurit berkuda. Jumlah pasukan itu cukup besar dengan lima puluh prajurit berkuda. Para prajurit itu mengenakan seragam biru putih, menunjukkan bahwa mereka adalah pasukan dari Kerajaan Baturaharja.
Pasukan itu dipimpin oleh seorang perwira gagah yang tidak berbaju, tapi bercelana hitam. Usianya memang sudah hampir separuh abad, tetapi kekekaran tubuhnya memperlihatkan otot yang bagus. Ia berkumis tebal dengan hiasan di kepala berupa ring logam perak. Kedua lengan kekarnya dicekik oleh gelang perak. Sabuk logamnya berwarna kuning emas. Ada keris bagus terselip di balik pinggangnya. Ia adalah Duri Manggala, Senopati Kerajaan Baturaharja.
Senopati Duri Manggala menghentikan laju pasukannya dan memerintahkan rombongan Joko Tenang untuk berhenti. Ia segera sadar bahwa rombongan yang diberhentikannya itu bukan rombongan biasa, sebab ia melihat keberadaan kelima serigala yang ditunggangi oleh para wanita cantik, seumpama model-model yang dibayar untuk ikut acara karnaval.
“Hei! Kenapa menghentikan perjalanan kami?!” hardik Surya Kasyara, berlagak tidak takut mati.
“Siapa kalian dan mau ke mana?!” tanya Senopati Duri Manggala tidak kalah lantang.
“Kami adalah rombongan Ke…. Adaw!” jerit Surya Kasyara dengan tubuh yang terjatuh dari punggung kuda. Satu tenaga dalam telah menghantam bahu kirinya dari belakang.
Turung Gali telah mengirimkan pukulan jarak jauh terhadap Surya Kasyara atas perintah Joko Tenang.
“Maafkan kami, Gusti,” ucap Joko Tenang yang sudah berdiri dari tempat duduknya. Ia menjura hormat dengan sedikit membungkuk.
Senopati Duri Manggala lalu memajukan kudanya lebih mendekat kepada posisi Joko Tenang dan Turung Gali.
“Maafkan kelancangan prajuritku. Dia prajurit baru, belum mengerti tata krama,” ujar Joko Tenang.
“Siapa kau, Kisanak?” tanya Senopati Duri Manggala.
“Aku Pangeran Dira dari Kerajaan Sanggana Kecil. Kami dalam perjalanan pulang dan harus melalui wilayah Kerajaan Baturaharja,” jawab Joko Tenang.
“Maafkan aku, Pangeran. Aku tidak menduga bahwa kalian adalah rombongan kerajaan. Penampilan kalian mengecohku. Namun, aku baru kali ini mendengar nama kerajaan yang kau sebutkan itu,” kata Senopati Duri Manggala.
“Kerajaanku ada di utara Gunung Prabu. Kami kerajaan kecil, sangat jauh jika dibandingkan dengan Baturaharja,” jawab Joko Tenang merendah.
Senopati Duri Manggala manggut-manggut. Ia lalu memandang ke belakang kereta. Tepatnya ia memandang kepada wanita-wanita jelita yang duduk di atas keseraman para serigala.
“Lalu siapa mereka?” tanya Senopati lagi, seperti polisi lalu-lintas yang memberhentikan pengendara nakal.
__ADS_1
“Mereka istri-istriku,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum bahagia.
“Waw!” desah Senopati Duri Manggala terpukau. Lalu ucapnya dalam hati, “Meski aku berilmu tinggi, tetapi jika harus berurusan dengan lima anjing besar ini, bisa habis separuh kuda-kuda pasukanku. Para wanita cantik ini pastinya para pendekar berilmu tinggi. Aku bisa melihat ketenangan mereka duduk di atas anjing-anjingnya….”
“Jika tidak keberatan, dengan siapa aku bertemu?” tanya Joko Tenang.
“Aku Senopati Duri Manggala. Oh ya, apakah kalian pernah bertemu dengan pemuda bernama Laga Patra?”
“Seingatku kami tidak pernah bertemu dengan pemuda itu,” jawab Joko Tenang. “Apakah Senopati berniat menuju Kadipaten Surosoh?”
“Bagaimana Pangeran bisa tahu?” tanya Senopati Duri Manggala curiga.
“Kami sempat singgah di Kadipaten Surosoh. Kondisinya cukup tidak baik,” jawab Joko Tenang. “Di sana sangat membutuhkan kedatangan perwira dari Kerajaan. Aku rasa Senopati jangan menunda waktu.”
“Baiklah, senang bisa mengenal Pangeran,” kata Senopati Duri Manggala.
Joko Tenang hanya tersenyum mengangguk.
Senopati lalu memberi tanda tangan kepada para pasukannya untuk meneruskan perjalanan. Pasukan berkuda itu lalu melanjutkan langkah kudanya, melewati rombongan Joko Tenang. Ketika melewat kelompok serigala, rasa takjub dan terpesona bercampur dengan rasa ngeri di hati-hati para prajurit. Bisa saja satu serigala tiba-tiba berbelok menerkan satu kuda, maka kekacauan akan terjadi. Namun, itu tidak terjadi hingga pasukan itu benar-benar menjauhi rombongan Joko Tenang.
“Surya! Kau tidak bisa memperlakukan semua orang sama seperti memperlakukan orang rendahan. Meskipun kesaktianmu lebih tinggi, tetap kau harus merendah diri dan menghormati orang lain!” hardik Turung Gali kepada Surya Kasyara.
“Semakin sering salah, maka semakin banyak kau akan belajar,” kata Joko Tenang mencoba bijak, meski dia yang tadi memerintahkan Turung Gali untuk menghentikan lagak Surya Kasyara. “Kita lanjutkan perjalanan!”
Perjalanan kembali dilanjutkan.
Namun, ketika mereka tiba di perempatan jalan, mereka harus berhenti.
Dari arah jalan yang memotong, melintas pasukan prajurit berseragam kuning hitam. Jumlah mereka bukan puluhan atau ratusan, tapi ribuan. Mereka melintas di perempatan di depan rombongan Joko Tenang, panjang dan lama.
Pasukan itu lengkap dengan pasukan berkuda, pejalan kaki, pasukan pembawa barang dan peralatan, dan para punggawanya. Ada pula pasukan penabuh genderang dan terompet. Panji-panji ramai berkibar warna-warni.
Joko Tenang dan yang lainnya tidak sempat melihat rombongan terdepan, jadi mereka tidak melihat wujud pemimpin pasukan besar itu.
“Ini jelas pasukan perang,” terka Turung Gali.
“Tapi mau ke mana mereka melintasi wilayah Baturaharja?” tanya Joko Tenang yang tidak bisa dijawab oleh mertuanya itu.
Setelah menunggu agak lama, pasukan yang melintas itu akhirnya habis.
__ADS_1
“Aku dan Tirana pernah menghadapi pasukan yang lebih banyak di negeri seberang samudera saat mencari Permata Darah Suci,” kata Joko Tenang. “Kita lanjutkan perjalanan, Ayah!”
Rombongan Joko Tenang kembali melanjutkan perjalanan. Mereka mengambil rute lurus menuju area perbukitan berhutan.
Setelah meninggalkan perempatan jalan sejauh setengah jam perjalanan, rombongan itu kembali berhenti. Bukan karena berpapasan dengan pasukan atau ada pasukan yang melintas, tetapi ada seorang wanita berpakaian putih yang sedang berlari kecil dari arah yang berlawanan, menggendong satu tubuh wanita lain di punggungnya.
Wanita berpakaian hijau muda yang digendong di punggung seperti dalam kondisi pingsan atau mati, karena tidak bergerak.
Melihat ada satu rombongan berkuda, wanita berpakaian putih berhenti beberapa tombak di depan kuda Surya Kasyara. Ia mendongak, maka tampaklah wajah cantiknya yang putih bersih berkeringat dan rambutnya meriap-riap agak kusut. Sepasang matanya merah karena telah menangis sejak tadi. Dengan tergopoh-gopoh ia cepat menghampiri Surya Kasyara.
“Pendekar! Pendekar! Tolong selamatkan Nyai Kisut!” teriak wanita cantik itu dengan wajah mengiba. Uniknya, wanita itu memiliki jenis suara seperti anak kecil.
Surya Kasyara tidak langsung merespon, tetapi ia menengok ke belakang, memandang kepada Joko Tenang.
“Tanyakan!” perintah Joko Tenang.
“Nisanak, apa yang terjadi? Dan siapa kalian?” tanya Surya Kasyara kepada wanita muda yang masih tampak belia itu.
“Huuu! Hiks hiks! Aku Senandung Senja. Yang aku gendong adalah Nyai Kisut. Nyai Kisut terluka parah, aku khawatir dia mati, tolong selamatkan dia!” jawab wanita itu sambil menangis panik.
Dari arah belakang, melayang sosok Tirana dan Getara Cinta. Kali ini mereka meninggalkan serigalanya. Keduanya dengan anggun mendarat di dekat wanita yang mengaku bernama Senandung Senja.
Dengan mimik cemas, Senandung Senja menengok ke belakang. Sepertinya ia khawatir ada yang mengejarnya atau memang ada yang mengejarnya.
“Wanita itu dikejar prajurit Baturaharja,” kata Joko Tenang saat melihat ke ujung jalan.
Dari ujung jalan terlihat sekelompok lelaki berseragam biru putih sedang berlari mendekat. Jumlah prajurit itu sekitar dua puluh orang yang dipimpin oleh dua lelaki berperawakan pendekar.
Melihat kedatangan gerombolan itu, Senandung Senja menunjukkan wajah semakin ketakutan. Ia buru-buru berlari dan menempatkan dirinya di belakang punggung Tirana dan Getara Cinta.
“Mereka mau membunuh kami! Tolong kami!” teriak Senandung Senja ketakutan.
Ketika rombongan prajurit itu semakin dekat, Senandung Senja semakin ketakutan. Ia buru-buru berbalik dan berlari ke belakang.
“Aaa…!” jerit Senandung Senja begitu histeris saat melihat keberadaan para serigala besar. Senandung Senja tiba-tiba jatuh ke tanah tidak sadarkan diri.
Joko Tenang dan Turung Gali segera turun lalu mengangkat tubuh kedua wanita itu.
“Kalian keluar semua!” perintah Joko Tenang kepada Reksa Dipa, Gowo Tungga dan Gembulayu yang ada di dalam bilik kereta. (RH)
__ADS_1