Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 9: Gimba Jatuh


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*


 


Sudah satu malam satu hari lamanya Prabu Dira, Putri Yuo Kai terbang bersama Gimba serta para abdi sang putri. Sebelumnya mereka sempat singgah sebentar di sebuah pulau terpencil.


Putri Yuo Kai hanya sebentar menunggangi makhluk belalang jingganya. Durasi penggunaan makhluk penghuni Cincin Mata Langit memang terbatas, karena ia menggunakan pengerahan tenaga dalam, meski tidak besar.


“Sepertinya aku tidak siap untuk berjumpa dengan para istri yang lain, Suamiku,” ucap Putri Yuo Kai yang berbaring dengan berbantalkan paha suaminya.


“Mungkin untuk pertama kali kau akan kikuk, tetapi mereka semua wanita-wanita yang baik. Bahkan mereka menanti-nantikan kedatanganmu. Yaaa, mungkin ada yang sedikit jahil seperti Sandaria. Dia buta, tetapi suka main serobot. Jadi kau harus bersiap jika-jika nanti hakmu diserobot olehnya, hahaha!” kata Prabu Dira lalu tertawa karena mengingat keusilan Sandaria ketika pertempuran di Kadipaten Surosoh, posisi Ratu Getara Cinta dengan isengnya ia serobot, termasuk ketika menikah dengan Kusuma Dewi.


“Kau sudah memiliki tujuh istri, berarti satu istri lagi,” kata Putri Yuo Kai.


“Mungkin tiga atau empat lagi,” ralat Prabu Dira. “Satu istriku bukan bagian dari Delapan Dewi Bunga. Dia adalah cinta pertamaku di masa remaja. Aku tidak bisa menyakitinya. Aku pun sedang merawat calon istri pertamaku yang kehilangan akal sehatnya setelah bangkit dari kematian. Namanya Ginari, ia pun bukan bagian dari Delapan Dewi Bunga. Tirana sedang merawatnya. Jika dia nanti sembuh dan akalnya kembali, aku akan menikahinya. Kakeknya pernah berwasiat kepadaku sebelum meninggal, agar aku menikahinya. Ia adalah gadis yang hidupnya penuh kemalangan, karenanya aku harus menjadi kebahagiaannya.”


“Sudah kehendak langit. Aku bisa memilih pria sekehendakku, tetapi aku justru memilihmu, yang sebelum menikah aku tahu bahwa kau akan memiliki banyak istri,” ucap Putri Yuo Kai seraya menatap wajah suaminya dari bawah. Ia tersenyum, seolah menertawai “kebodohan” dirinya.


Joko Tenang hanya tertawa rendah sambil membelai-belai kepala istrinya.


“Suamiku!” sebut Putri Yuo Kai.


“Hmm!” sahut Prabu Dira bergumam.


“Apakah kau akan memperkenalkan aku kepada keluargamu?” tanya Putri Yuo Kai.


“Sebenarnya aku memiliki hubungan keluarga yang rumit. Aku tidak pernah bertemu dengan ayahku sejak kecil, meski dia telah memberikan sebuah kerajaan untuk aku rajai. Nama ibuku Ningsih Dirama, tetapi itupun aku baru tahu kurang dari sepurnama yang lalu. Aku pun belum pernah bertemu dengannya. Aku berasal dari keluarga yang hancur dan tidak jelas. Setelah urusan Delapan Dewi Bunga ini selesai, aku akan menuntut kepada ayahku!” jelas Prabu Dira. “Tapi adik tiriku ada di Istana, kau bisa berkenalan dengannya.”


“Rupanya kau memiliki sejarah kasih sayang yang buruk,” kata Putri Yuo Kai.


“Kasih sayangku hanya aku dapat dari guruku yang suka marah-marah,” kata Joko Tenang seraya tersenyum sendiri. “Tapi kemudian aku mendapat kasih sayang dari banyak wanita cantik, padahal guruku tidak pernah mendidikku untuk memiliki banyak istri. Hahaha!”


“Lalu siapa yang ingin kau salahkan, Suamiku?” tanya Putri Yuo Kai.


“Hemm, mungkin ayah kakekku. Sebab penyakitku sama sepertinya,” jawab Joko Tenang.


Kaaak!


Tiba-tiba Gimba berkoak agak keras, menarik perhatian Prabu Dira.


Prabu Dira segera memandang jauh ke depan.


“Di depan ada badai besar,” kata Prabu Dira.


Putri Yuo Kai segera bangun duduk dan memandang jauh ke depan.


Terlihat langit di depan sana penuh dengan awan hitam yang bersusun-susun membentuk kengerian alam. Gerakan awan hitam itu begitu cepat didorong oleh angin badai. Hujan lebat di pusat badai membuat jarak pandang terhalang oleh tirai keabuan. Sementara di bawah sana, laut samudera bergolak hebat dengan ombak-ombak yang menggunung. Sementara mereka kian mendekati wilayah badai itu.


“Gimba! Apa kau yakin bisa melewati badai itu?” teriak Prabu Dira. Angin kencang sudah mulai menerpa mereka, memaksa ia dan Putri Yuo Kai harus berpegangan kepada bulu leher rajawali raksasa itu.


Kaaak!


Gimba berkoak kembali menjawab pertanyaan Prabu Dira.

__ADS_1


“Tidak, terlalu berbahaya, apalagi kakimu membawa beban. Terbanglah memutar untuk menghindari pusat badai!” perintah Prabu Dira.


Kaaak!


Pekik Gimba patuh. Burung raksasa itu lalu berbelok terbang untuk memutari pinggiran wilayah badai.


“Lihat lorong angin itu, begitu mengerikan!” kata Prabu Dira sambil melihat adanya dua angin tornado yang berdiri dari permukaan laut samudera ke langit.


Rambut dan pakaian pasangan suami istri itu berkibar hebat. Bilik kereta yang menggantung di bawah pun terayun-ayun oleh angin kencang.


“Lihat itu!” pekik Mai Cui saat ia melihat keluar melalui jendela bilik.


“Kita berada di dekat badai!” kata Chi Men agak tegang setelah melihat jauh ke luar.


Bo Fei dan Yi Liun pun segera melihat ke luar.


Awalnya Prabu Dira dan Putri Yuo Kai tidak begitu khawatir karena mereka tidak masuk ke pusat badai. Namun, tiba-tiba arah badai berubah.


“Arah badai berubah!” seru Prabu Dira terkejut.


“Kenapa bisa berubah seperti ini?” ucap Putri Yuo Kai pula jadi tegang.


Kaaak!


Gimba berkoak kencang sebagai tanda bahwa situasi cukup berbahaya.


“Gimba! Terbang lebih cepat! Hindari badainya!” teriak Prabu Dira keras.


Kaaak!


Prabu Dira segera memeluk erat tubuh istrinya dari belakang sambil tangan yang lain berpegangan kuat pada bulu Gimba. Lebatnya hujan membuat pandangan Prabu Dira dan Putri Yuo Kai terganggu.


Namun, cuaca dahsyat alam itu begitu luas. Kecepatan angin badainya lebih cepat dari lesatan terbang Gimba. Secepat-cepatnya Gimba terbang untuk menghindari badai, tetap saja akhirnya ia masuk ke dalam badai.


Jlegerr!


Alangkah terkejutnya Prabu Dira dan sang putri saat tiba-tiba ada kilatan petir bersama suaranya yang menakutkan. Bahkan satu lidah petir terlihat begitu dekat dari posisi terbang mereka. Keterkejutan juga dialami oleh keempat wanita yang ada di bilik kereta.


“Bagaimana keadaan, Yang Mulia Putri?” tanya Mai Cui begitu cemas.


“Semoga Yang Mulia baik-baik saja,” kata Bo Fei dengan wajah yang menyiratkan ketegangan.


Namun, di atas sana ketegangan terjadi.


“Suamiku! Putaran angin itu mendekati kita!” teriak Putri Yuo Kai.


Benar yang dikatakan Putri Yuo Kai. Ada satu angin tornado yang bergerak cepat mendekati posisi Gimba terbang. Meski Gimba adalah burung raksasa, tetapi alam itu lebih raksasa lagi.


Secara perlahan, Gimba mulai tersedot oleh angin yang memutar seperti lorong yang berdiri. Sedotan itu juga begitu terasa bagi Prabu Dira dan Putri Yuo Kai yang sudah basah kuyup oleh hujan deras.


“Gimba! Di sana ada gunung! Terbang ke balik gunug!” teriak Prabu Dira kencang.


Gimba mengerahkan kepakan terkuat dari sayapnya untuk bertahan dari tarikan pusaran angin. Dan itu akhirnya berhasil, membuat Gimba bisa terbang menjauhi angin tornado. Ia cepat melesat terbang menuju gunung yang terlihat samar-samar karena lebatnya hujan.

__ADS_1


Mereka tidak tahu, apakah gunung itu adalah sebuah pulau atau gunung dari sebuah daratan luas.


Prabu Dira dan Putri Yuo Kai belum lega, karena mereka masih berada di dalam badai.


Jleger!


Kaaak!


Tiba-tiba dari langit berkiblat selarik petir dan mengenai sayap kiri Gimba, membuatnya berkoak menjerit kesakitan.


“Gimba!” teriak Prabu Dira terkejut bukan main.


Setelah itu, terbang Gimba jadi terganggu dan oleng.


“Gimbaaa!” teriak Prabu Dira dan Putri Yuo Kai bersamaan.


Kaaak!


Koak Gimba memberi tahu bahwa ia pasti jatuh. Sangat jelas bahwa Gimba sudah tidak bisa mengontrol arah terbangnya. Terlukanya satu sayap membuat Gimba hilang kendali.


Gimba terbang cepat menerobos lebat hujan dan mengarah ke badan gunung berhutan. Situasi itu jelas adalah keadaan yang sangat kritis.


“Perintahkan Bo Fei dan Chi Men menyelamatkan diri!” kata Prabu Dira kepada istrinya.


“Bo Fei! Chi Men! Selamatkan diri kalian!” teriak Putri Yuo Kai menggunakan bahasa aslinya. Teriakan itu mengandung tenaga dalam, sehingga terdengar jelas oleh mereka yang berada di dalam bilik.


Brak!


Setelah itu, Bo Fei dan Chi Men secara bersama mendobrak dinding bilik sehingga hancur. Kondisi itu membuat Mai Cui dan Yi Liun menjerit ketakutan. Hujan langsung menyiram tubuh mereka berempat.


Mereka lebih terkejut lagi saat mendapati diri mereka sedang mengarah ke badan gunung. Bo Fei cepat merangkul pinggang Mai Cui yang ketakutan. Chi Men melakukan hal yang sama kepada Yi Liun.


“Putri! Kami akan baik-baik saja!” teriak Bo Fei keras, bermaksud menenangkan junjungannya agar tidak panik memikirkan mereka.


Bsruakrr!


Akhirnya, Gimba menabrak pepohonan gunung.


Namun sebelum itu terjadi, Bo Fei dan Chi Men lebih dulu melompat dari bilik kereta kuda yang mereka tempati.


Bdugk!


“Hukh!” keluh Bo Fei saat tubuhnya menghantam tanah gunung yang gembur karena terhujani. Bo Fei telah mengatur posisi tubuhnya agar tubuh Mai Cui terlindungi dari benturan apa pun. Ketika tubuhnya menghantam tanah gunung, ia telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan benturan keras.


Blet!


Sementara Chi Men melesatkan selendang hitamnya kepada sebatang dahan pohon besar. Ia lalu menggunakan selendang itu untuk berayun bersama tubuh Yi Liun.


Bugk!


Namun, kencangnya luncuran mereka yang terbawa oleh Gimba, membuat ayunan Chi Men jadi liar. Keduanya tetap jatuh menghantam tanah gunung yang gembur, tetapi benturan tubuh mereka tidak sekuat yang dialami oleh Bo Fei.


Zersss!

__ADS_1


Berbeda dengan Prabu Dira dan Putri Yuo Kai. Sang putri mengeluarkan penghuni Cincin Mata Langit sebelum Gimba jatuh menabrak gunung. Setelahnya, suami istri itu melompat tinggi ke udara. Maka keduanya disambar oleh belalang jingga. Sementara Gimba menabrak gunung. (RH)


__ADS_2