Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
123. Takluknya Pengawal Angsa Merah


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Tidak ada jalan lain bagi Joko Tenang. Aksesnya untuk lolos dari keenam wanita di bawah sana kini ditutup oleh enam wanita berpakaian merah yang terbang menutup di atas kepalanya.


Tuk tuk bak!


Sebelum tenaganya melemah karena dekat atau bersentuhan dengan seorang wanita, Joko Tenang terpaksa memainkan jurus Bayang-Bayang Malaikat, jurus yang membuat gerakan hanya bisa dibaca oleh mata berketajaman tingkat tinggi.


Tanpa terlihat oleh wanita yang diserangnya, beberapa cubitan disarangkan ke tubuh satu wanita dan satu wanita lainnya ditendang sebagai tolakan untuk melesat jauh ke samping, keluar dari pengepungan Pengawal Angsa Merah.


Putri Yuo Kai yang memiliki ketajaman pandangan tingkat tinggi, hanya bisa terkejut melihat kecepatan Joko Tenang yang nyaris tidak terlihat olehnya.


Joko Tenang kini telah berdiri di sisi utara halaman, agak jauh dari Pengawal Angsa Merah yang kini berdiri berkumpul satu memasang kuda-kuda.


Blug!


Namun, satu dari ke-12 personel Pengawal Angsa Merah mendarat dengan tubuhnya. Dialah korban yang terkena tendangan Joko ketika menjadikannya tolakan.


“Hahaha...!”


Tiba-tiba satu personel lagi yang terlihat tidak mengalami luka apa pun, tertawa kencang tanpa terlihat ada sebab yang lucu. Tawanya yang kencang dan panjang membuat semua orang yang ada di lokasi itu terheran-heran.


Para personel Pengawal Angsa Merah jadi saling pandang, mempertanyakan apa yang terjadi dengan satu anggota mereka itu.


“Ning Xo! Kenapa kau tertawa?!” bentak salah satu anggota Pengawal Angsa Merah.


“Hahaha...! Aku tidak tahu! Hahaha! Seluruh tubuhku terasa geli! Hahaha...!” jawab personel Pengawal Angsa Merah yang bernama Ning Xo dengan berteriak sambil menahan tawanya yang faktanya tidak bisa dibendung.


Di tempatnya berdiri, Joko Tenang hanya tersenyum kecil. Ning Xo kini tertawa sambil berjongkok memegangi perutnya, sedetik kemudian dia jatuh meringkuk di tanah sambil tertawa keras tanpa henti.


“Apa yang Joko lakukan terhadap pengawalku?” gumam  Putri Yuo Kai.


“Itu pasti perbuatan Pendekar Joko, Yang Mulia,” kata Bo Fei di sisi sang putri.


“Aku tahu,” kata Putri Yuo Kai. Lalu perintahnya kepada para Pengawal Angsa Merah yang jadi lalai dengan formasinya. “Apa yang kalian lakukan? Serang Joko!”


“Siap!” jawab Pengawal Angsa Merah kompak.


Wess!


Baru saja satu kaki-kaki mereka hendak melangkah, sosok Joko Tenang sudah hilang dari tempatnya berdiri. Para Pengawal Angsa Merah hanya mendelik karena targetnya telah tidak ada. Namun, mereka merasakan ada angin yang sangat terasa melintas di tengah-tengah mereka.


“Joko menghilang,” kata Bo Fei.


“Tidak, dia melesat ke sana,” kata Putri Yuo Kai sambil menunjuk dan menghadap ke arah yang berlawanan dari posisi Joko sebelumnya.

__ADS_1


Hanya Putri Yuo Kai yang dapat melihat bayangan tubuh Joko Tenang melesat sangat cepat, menerabas kumpulan Pengawal Angsa Merah dan berhenti di sudut halaman yang lain.


Bo Fei mengikuti arah pandangan Putri Yuo Kai. Ternyata di sudut halaman yang berlawanan, telah berdiri Joko Tenang di sana dengan senyum ringannya.


“Hahaha...!”


Di saat semua Pengawal Angsa Merah kebingungan mencari sosok Joko, tiba-tiba enam personel wanita berpakaian merah itu tertawa keras bersamaan, mengikuti apa yang terjadi terhadap Ning Xo.


Suasana pun berubah ramai hiruk pikuk oleh suara tawa keras tujuh wanita yang berkepanjangan tanpa putus.


Putri Yuo Kai menghempaskan napas panjang tanda kecewa dan kesal.


“Bagaimana bisa Pengawal Angsa Merah dibuat tidak berdaya seperti ini?” gerutuh Putri Yuo Kai.


Breg breg breg!


Tiba-tiba sejumlah pasukan keamanan Istana, Pasukan Naga Hitam, bermunculan dan langsung membentuk barikade yang menutup semua jalan keluar dari halaman itu.


Kebisingan yang terjadi membuat para prajurit harus melakukan tindakan pengamanan, terlebih itu di dalam lingkungan Istana.


Namun kemudian, puluhan prajurit berpedang itu jadi heran dan bingung harus berbuat apa. Mereka heran melihat ada tujuh personel Pengawal Angsa Merah yang tertawa tanpa henti sampai meringkuk dan bergulingan di tanah. Mereka bingung karena ternyata di sana ada Putri Yuo Kai.


“Semua prajurit bubar! Ini ada dibawah tanggung jawabku!” seru Putri Yuo Kai kepada para prajurit.


Selanjutnya, para prajurit kembali bubar secara teratur. Mereka kembali ke posnya masing-masing, membiarkan kondisi sebelumnya.


Putri Yuo Kai melangkah mendekati Joko. Pada jarak empat langkah dari Joko ia berhenti.


Melihat pergerakan sang putri, Su Mai segera mendekat pula. Mungkin jasa bahasanya diperlukan.


“Apa yang kau lakukan kepada para pengawalku, Joko?” tanya Putri Yuo Kai.


Tanpa diperintah, Su Mai segera menerjemahkannya.


“Aku hanya membuat mereka tertawa agar berhenti menyerangku,” jawab Joko.


Su Mai menerjemahkan.


“Justru aku yang ingin bertanya, kenapa Yang Mulia menyerangku?” tanya Joko yang kembali disusul oleh terjemahan dari Su Mai.


“Aku hanya ingin tahu, apa yang akan terjadi kepadamu jika ada seorang wanita yang menyentuhmu,” kata Putri Yuo Kai jujur.


“Hahaha!” tawa Joko setelah mendengar terjemahan dari Su Mai. Lalu tanyanya, “Jadi Yang Mulia ingin aku membayar berita tentang calon istriku dengan sentuhan perempuan padaku?”


“Ya,” jawab Putri Yuo Kai yang tidak perlu terjemahan.

__ADS_1


Joko Tenang tersenyum. Lalu dengan entengnya Joko berkata, “Mendekatlah, aku tidak akan menjauh, dengan syarat setelah itu Yang Mulia menyampaikan berita tentang Tirana calon istriku.”


Su Mai segera menerjemahkannya.


“Tidak, aku berubah pikiran. Aku ingin menuntut dua pembuktian sekarang,” tandas Putri Yuo Kai.


Su Mai menerjemahkan.


“Baik, akan aku lakukan,” tegas Joko pula setelah mengerti maksud sang putri.


Su Mai menerjemahkan.


“Sebelum aku meminta dua pembuktian darimu, aku minta kau selamatkan mereka dari kematian karena tertawa,” kata Putri Yuo Kai.


Su Mai menerjemahkan.


Tanpa bicara lagi, tiba-tiba Joko Tenang menghilang dari hadadapan Putri Yuo Kai. Putri Yuo Kai sekejap mengikuti bayangan Joko ke arah kumpulan Pengawal Angsa Merah berada.


Hanya dua detik. Joko Tenang kembali sudah berdiri di tempatnya semula. Namun, ada perubahan. Ketujuh personel Pengawal Angsa Merah sudah berhenti tertawa. Mereka merasakan pegalnya wajah, perut dan beberapa bagian tubuh akibat tertawa berlebihan.


“Ada yang memukul bokongku,” kata Ning Xo kepada teman-temannya.


“Iya, aku juga,” kata anggota Pengawal Angsa Merah yang juga korban jurus Cubitan Seribu Geli milik Joko.


Hal yang publik tidak ketahui adalah cara untuk menghentikan tawa orang yang terkena Cubitan Seribu Geli yaitu dengan memukul bokongnya. Karena Joko harus memukul tujuh bokong perempuan, ia terpaksa melakukannya dengan cara tersembunyi, yaitu menggunakan jurus Bayang-Bayang Malaikat. Para korban Cubitan Seribu Geli hanya merasakan bahwa bokong mereka seperti ada yang memukul tanpa melihat orang yang memukulnya karena terlalu cepatnya gerakan Joko.


“Mari kita lanjutkan, Yang Mulia Putri,” kata Joko Tenang yang kembali diterjemahkan oleh Su Mai.


“Sebelum aku membuktikan permintaanku yang pertama, aku ingin membuktikan bahwa kau lebih sakti dariku,” kata Putri Yuo Kai yang kemudian diterjemahkan oleh Su Mai.


“Apakah kita harus saling melukai untuk membuktikan lebih unggul?” tanya Joko.


Su Mai menerjemahkan.


“Tidak mengapa, karena pembuktian ini sangat penting bagiku.”


“Baiklah,” kata Joko setelah mendengar terjemahan Su Mai.


Putri Yuo Kai lalu melangkah pergi ke tengah halaman.


“Apa pun yang terjadi terhadapku, kalian semua jangan turun membantu!” seru Putri Yuo Kai kepada seluruh Pengawal Angsa Merah.


“Baik, Yang Mulia!” jawab seluruh personel Pengawal Angsa Merah patuh.


Joko berjalan dan berhenti sepuluh langkah di depan Putri Yuo Kai.

__ADS_1


Kini Putri Yuo Kai dan Joko Tenang siap tarung. Ketegangan pun tercipta. (RH)


__ADS_2