Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
146. Musuh yang Digdaya


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Dua belas wanita cantik berpakaian merah berlesatan di udara. Mereka langsung berbagi. Enam orang menyerang Biksu Hitam dan enam lainnya mengeroyok Jenderal Ujung Langit.


Serangan bergelombang yang susul-menyusul langsung melanda Biksu Hitam dan Mong Tsing.


Namun, kedua belas wanita itu harus kecewa. Biksu Hitam tidak mempan oleh serangan tangan-tangan halus yang setajam pedang itu. Sama halnya dengan Mong Tsing. Zirah yang lengkap membuat tubuhnya aman dari serangan tangan-tangan Pengawal Angsa Merah yang setajam pedang.


Jika Biksu Hitam bertarung tanpa lincah bergerak tetapi mengandalkan kekebalan tubuhnya, Mong Tsing bertarung dengan kecepatan tinggi meskipun sudah aman oleh zirah tuanya. Untuk sementara Mong Tsing bertarung dengan tangan kosong.


Bum!


Pada satu ketika, Biksu Hitam menghentakkan tinju kirinya ke bawah. Satu gelombang tenaga besar menyebar cepat ke segala penjuru, mementalkan keenam wanita cantik yang mengepung Biksu Hitam.


Di sisi sebelah.


Bak bak buk...!


Gerakan Mong Tsing begitu cepat. Satu demi satu pukulan dan tendangannya menghajar keenam Pengawal Angsa Merah hingga mereka berjengkangan.


“Sepertinya Pengawal Angsa Merah tidak sanggup melawan mereka,” ucap Putri Yuo Kai.


“Siapa sebenarnya mereka, Kai’er?” tanya Kaisar Long Tsaw.


“Mereka adalah Biksu Hitam dan Jenderal Ujung Langit, buronan Negeri Jang yang pernah membantai keluarga dua jenderal Jang belasan tahun yang lalu,” jawab Putri Yuo Kai.


Terkejutlah Kaisar Long Tsaw dan Perdana Menteri La Gonho.


“Ini pasti ulah Xie Yua,” ucap Perdana Menteri La Gonho tiba-tiba yang mengejutkan Putri Yuo Kai.


Sebelumnya nama Xie Yua memang mencuat sebagai orang yang mengenal Bangsawan Sushan, tetapi Putri Yuo Kai hanya meyakini bahwa hal yang wajar jika banyak orang penting dari negeri lain hadir dalam peresmian Biro Naga Besi. Ia yakin, tidak mungkin sahabatnya itu terlibat dalam kelompok pemberontak.


“Hanya Kementerian Kehakiman yang memiliki arsip masa lalu kedua orang itu,” kata Perdana Menteri La Gonho lagi.


Entah benar atau tidak Xie Yua dan ayahnya Menteri Kehakiman Tu Hua terlibat, dugaan bersalah harus dikedepankan lebih dulu.  Sebab, masalah yang timbul sekarang sudah benar-benar mengancam keberlangsungan kekuasaan Kaisar Negeri Jang.


“Prajurit, tangkap Menteri Tu Hua!” perintah Kaisar Long Tsaw.


Menteri Tu Hua yang berdiri di antara para menteri lainnya, terkejut mendengar perintah itu. Ia merasa tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Ia pun sangat yakin bahwa dirinya tidak ada hubungannya dengan kekacauan saat ini atau pada hari-hari sebelumnya.


Sejumlah prajurit segera menangkap Menteri Tu Hua yang kebingungan.


“Yang Mulia Kaisar, aku tidak bersalah!” teriak Menteri Tu Hua dan berusaha memberontak. Namun, tarikan tangan para prajurit lebih kuat dan mata-mata senjata mengancam di dekat lehernya.

__ADS_1


Kaisar Long Tsaw tidak mengindahkan teriakan Menteri Tu Hua yang semakin menjauh, pergi menuju penjara.


“Formasi Tabuhan Dewi!” teriak pemimpin Pengawal Angsa Merah.


Maka enam Pengawal Angsa Merah yang mengeroyok Biksu Hitam dan enam lainnya yang mengeroyok Mong Tsing melakukan Formasi Tabuhan Dewi. Mereka menyerang susu-menyusul dengan cara bergerak melintas cepat sambil mengirim pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi dalam bentuk sinar hijau berpola telapak tangan.


Bam bam bam...!


Namun, tetap saja Biksu Hitam dengan tenang menghadapi formasi keenam lawannya. Menggunakan tameng tenaga berwarna bening yang melekat di depan telapak tangannya, Biksu Hitam menangkis semua sinar hijau yang menyerangnya bersusulan dari berbagai arah. Biksu Hitam hanya perlu gesit menggerakkan tangannya ke sana dan ke mari menangkis setiap sinar hijau.


Sementara Mong Tsing tidak menghiraukan lagi sinar-sinar hijau yang menyerangnya. Ia lebih fokus kepada menyerang tubuh pengeroyoknya yang melintas-lintas seperti serangga terbang. Semua pukulan jarak jauh berbentuk sinar hijau mentah saat menghantam tubuh Mong Tsing yang kini zirahnya menyala kuning.


Pak! Bak! Bug!


Kecepatan serangan Mong Tsing membuat keenam Pengawal Angsa Merah sulit mengelak. Kembali mereka dihajar satu demi satu. Berbeda dari sebelumnya, kali ini serangan Mong Tsing jauh lebih bertenaga dalam.


“Hoek! Hukhr!”


Akibatnya, keenam Pengawal Angsa Merah yang mengeroyok Mong Tsing bertumbangan dengan muntah darah.


“Hehehe!” Mong Tsing hanya terkekeh melihat keenam Pengawal Angsa Merah semuanya mengalami luka dalam yang parah.


Nasib keenam Pengawal Angsa Merah yang mengeroyok Biksu Hitam tidak lebih bagus.


Selanjutnya, Biksu Hitam mengangkat lurus tangan kanannya ke langit dengan telapak terbuka. Tiba-tiba di sekiling tubuh Biksu Hitam muncul dua puluh sinar merah berbentuk kelereng yang diam mengambang di udara.


Seseset!


Ketika Biksu Hitam mengepalkan tangannya yang terangkat, kedua puluh kelereng sinar itu berlesatan sangat cepat menyerang keenam Pengawal Angsa Merah.


Ces ces!


“Ak! Akh!”


Keenam Pengawal Angsa Merah berusaha menghindari atau menahan serangan sinar itu dengan tenaga dalam mereka.


Namun, tiga orang yang menahan dengan perisan tenaga dalam, harus terpental jauh sambil mulutnya menyemburkan darah kental. Satu orang berhasil menghindar. Sementara dua orang lagi lebih naas nasibnya. Mereka tidak sempat menghindar ataupun menamengi diri dengan tenaga dalam. Akibatnya, sinar merah itu melesat tembus melubangi dada mereka berdua.


“Si Miii!”


“Ye Laaan!”


Personel Pengawal Angsa Merah lainnya berteriak histeris melihat gugurnya dua rekan mereka.

__ADS_1


Putri Yuo Kai pun terkejut.


“Angsa Terakhir!” teriak satu anggota Pengawal Angsa Merah yang mengeroyok Mong Tsing.


Dengan langkah-langkah terhuyung, keenam gadis itu berkumpul merapat. Mereka akan mengerahkan kesaktian tertinggi mereka dengan mempertaruhkan nyawa sendiri.


Mendengar seruan pengawalnya itu, Putri Yuo Kai segera bertindak.


“Pengawal Angsa Merah! Mundur!” seru Putri Yuo Kai.


Keenam Pengawal Angsa Merah mengurungkan niatnya. Mereka segera bergerak mundur sambil tetap waspada jika-jika Mong Tsing dan Biksu Hitam menyusulkan serangan lagi.


“Jenderal Bo Yung, bawa Yang Mulia Kaisar ke ruang rahasia!” perintah Putri Yuo Kai kepada Kepala Pengawal Kaisar.


“Baik, Yang Mulia!” ucap Jenderal Bo Yung. Lalu katanya kepada Kaisar, “Silakan, Yang Mulia.”


“Kai’er, berhati-hatilah. Jangan korbankan dirimu,” kata Kaisar Long Tsaw berpesan.


“Baik, Ayahanda,” ucap Putri Yuo Kai.


Jenderal Bo Yung dan pasukannya segera membawa Kaisar Long Tsaw masuk ke dalam Istana Naga Langit.


“Joko!” panggil Putri Yuo Kai.


Joko Tenang mengangguk seraya tersenyum manis.


“Bo Fei, bantu obati Pengawal Angsa Merah!” perintah Putri Yuo Kai kepada pengawal pribadinya.


“Tapi, Yang Mulia,” ucap Bo Fei keberatan, sebab ia ingin bertarung bersama tuannya.


“Aku akan baik-baik saja. Aku tidak mau kehilangan pengawalku lagi,” kata Putri Yuo Kai.


Selanjutnya Putri Yuo Kai melesat terbang melewati barisan prajurit yang masih bertahan di tangga Istana.


Zesss! Buom!


Dalam lesatannya, Putri Yuo Kai langsung melepaskan Bidikan Mata Langit. Biksu Hitam yang diserang cepat memasang tameng beningnya menahan serangan sinar putih samar dari sang putri.


Dentuman keras tercipta saat sinar putih menghantam perisai Biksu Hitam. Sepasang Mata tua si biksu melebar seiring tubuhnya yang terdorong cukup jauh. Satu kakinya cepat menahan laju tubuhnya. Biksu Hitam menatap tajam kepada wanita cantik yang kini menjadi lawannya.


Sementara Joko Tenang berkelebat ringan dan mendarat halus di hadapan Mong Tsing. Senyum ramah ia kirimkan kepada lelaki tua yang berdiri gagah di depannya.


Para pejabat dan pasukan Negeri Jang diliputi ketegangan. Sebentar lagi mereka akan menyaksikan pertarungan dahsyat. (RH)

__ADS_1


__ADS_2