
Dua kuda putih nan gagah dan bersih itu berhenti di depan sebuah rumah batu bata yang halamannya nyaris penuh di selimuti oleh aneka tanaman bunga hias. Tanah halamannya pun berumput halus dan lembut, seperti permadani alam.
Kedua penunggang kuda adalah dua orang wanita yang masih muda-muda dan cantik-cantik bak mutiara di keremangan bawah langit. Sebab, wilayah itu tidak akan pernah mendapat keterangan seperti terangnya alam di tengah hari. Lokasinya yang berada jauh di bawah permukaan tanah membuat perkampungan besar itu hanya mendapat cahaya matahari secukupnya di kala siang. Jika melihat ke langit, maka yang didapati adalah langit-langit bebatuan alam dan kerimbunan pepohonan hutan yang lebat. Ada beberapa lubang besar di beberapa titik yang membuat sinar matahari menerobos langsung ke kampung bawah tanah itu, meski tidak bisa menerangi semua sudut secara sempurna. Karenanya, setiap rumah dan sudut jalan memiliki lampu-lampu penerangan berupa lampion-lampion yang indah. Kampung itu dinamai Cahaya Bumi.
Gadis penunggang kuda pertama berpakaian serba merah tapi indah dengan hiasan sulaman berukir dari benang warna putih. Rambut panjangnya di tata cantik dengan hiasan beberapa untai mutiara pendek dan ikat rambut dari pita berhias emas. Kecantikannya dibuat semakin segar dengan gincu merah yang terlihat basah. Pada bagian pinggang, menggantung sebuah lingkaran tali berwarna kuning emas dan perak yang memiliki hulu pegangan yang bagus. Ia adalah Putri Sagiya Riangga Liya, putri dari Kerajaan Sanggana.
Gadis penunggang kuda kedua juga seorang gadis cantik, tapi pakaian dan penampilannya tidak semewah dan seindah sang putri. Ia mengenakan pakaian biru gelap dengan sabuk berlapis sulaman perak yang luas. Logam berbentuk kepala ular menganga menjadi kepala sabuknya. Rambut panjang lurusnya hanya diikat sederhana dengan pita kuning, tapi sebuah hiasan emas tersemat di atas dahinya. Di pinggang kirinya tergantung sebuah pedang bagus berwarangka hitam. Ia adalah Pengawal Tingkat Tiga Jatria Gaga, pengawal pribadi Putri Sagiya. Ia lebih populer dengan nama Pengawal Gaga.
Kedatangan Putri Sagiya dan pengawalnya mengejutkan seorang pria berkumis tak berbaju yang sedang sibuk di teras rumah dengan pekerjaan mengukir kayunya. Pria berusia 46 tahun itu tergopoh-gopoh segera mendatangi depan kuda dan turun berlutut dengan satu kaki dan menunduk dalam.
“Sembah hamba, Yang Mulia Putri!” ucap pria bertubuh kekar bercelana hitam tersebut.
“Berdirilah, Turung Gali!” perintah Putri Sagiya seraya tersenyum ramah.
Pria yang disebut namanya Turung Gali itu segera bangkit berdiri.
Pengawal Gaga turun dari kudanya dan membiarkan sang kuda. Ia segera datang ke samping kuda sang putri yang berpelana lebih bagus dengan hiasan logam perak. Dengan anggun Putri Sagiya turun dari kuda dan tangannya dipegangi oleh sang pengawal.
Turung Gali tanpa diperintah segera meraih tali kuda Pengawal Gaga dan menambatkannya. Sementara Pengawal Gaga menambatkan tali kuda sang putri.
“Tirana di mana?” tanya Putri Sagiya kepada Turung Gali.
“Di kamarnya, Yang Mulia,” jawab Turung Gali seraya berdiri agak membungkuk sebagai tanda hormat.
“Kau tunggu di sini saja, Gaga!” perintah Putri Sagiya.
“Hamba, Yang Mulia,” ucap Pengawal Gaga patuh.
Putri Sagiya melangkah pergi masuk ke dalam rumah sendiri. Ia adalah tamu rutin di rumah tersebut, karena putri Turung Gali yang bernama Tirana adalah sahabat kentalnya di Kampung Cahaya Bumi.
“Sembah hamba, Yang Mulia Putri!” ucap seorang wanita di dalam rumah dengan cara berlutut dua kaki dan tubuhnya direndahkan mendekati lantai rumah. Wanita berusia matang itu adalah istri Turung Gali bernama Pira Lili.
“Berdirilah, Pira Lili!” perintah Putri Sagiya sambil meraih kedua bahu wanita itu dengan senyuman ramah.
Setelahnya, ia terus berjalan masuk dan berhenti di depan sebuah pintu ruangan berwarna hijau muda. Sikap Putri seperti itu sudah biasa bagi Turung Gali dan istrinya, karena Putri Sagiya begitu akrab dengan Tirana.
Tok tok tok tok!
Ketuk Putri Sagiya.
__ADS_1
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu pintu dibuka. Setelah pintu dibuka, seorang wanita segera berlutut satu kaki.
“Sembah hamba, Yang Mulia Putri,” ucap wanita berpakaian putih itu dengan kepala menunduk dalam.
“Berdirilah, Gadis Penjaga!” perintah Putri Sagiya seraya tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamar yang berdinding bebatuan warna putih indah. Ia langsung melihat sebuah kerajinan tangan di atas kasur berupa sulaman.
“Wah, pendekar sakti sepertimu masih peduli dengan pekerjaan menyulam seperti ini,” kata Putri Sagiya.
“Iya. Aku harus menjaga keterampilan menyulamku, karena Jarum Bernyawa adalah salah satu senjataku,” kata gadis cantik bernama Tirana sambil kembali duduk di tepian ranjangnya. Sikapnya kini biasa, tidak lagi menunjukkan rasa hormat yang berlebihan. Mendadak Tirana terdiam lalu memandang serius kepada wajah Putri. Lalu tanyanya, “Kedatangan Yang Mulia melanggar kebiasaan. Seharusnya dua hari lagi Yang Mulia ke mari. Apakah Yang Mulia punya niat khusus sehingga datang lebih cepat dari biasanya?”
Pertanyaan itu membuat Putri Sagiya tertawa kecil.
“Aku ingin mengajakmu ke istana,” jawab Putri Sagiya.
“Hihihi, tidak,” kata Tirana seraya tertawa. “Aku tidak sedikit pun bermimpi untuk masuk ke istana, meski sahabatku adalah seorang putri.”
“Tapi jika kau masuk istana, kau bisa bertemu dengan Yang Mulia Putra Mahkota Pangeran Drajat Mega Sukma yang sangat tampan,” kata Putri Sagiya.
“Aku tidak tertarik sedikit pun,” tandas Tirana seraya tersenyum cantik.
“Di istana hari ini ada pesta, kita bisa menonton berbagai hiburan dan menikmati santapan lezat,” kata Putri Sagiya lagi mencoba membujuk.
“Bagaimana jika kau aku undang sebagai tamu kehormatan bersama kedua orangtuamu?” tawar Putri Sagiya lagi.
“Kehormatan apa yang dimiliki keluargaku sehingga layak menjadi tamu kehormatan di istana?” tanya Tirana.
“Ayahmu adalah anggota Pasukan Seratus Siluman,” jawab Putri Sagiya.
“Pasukan Seratus Siluman tidak pernah masuk istana,” bantah Tirana lagi.
“Baiklah,” kata Putri Sagiya memutuskan mengalah. Ia lalu duduk di sebuah kursi berbantal merah di depan sebuah rak kayu bagus berisi beberapa kerajinan ukiran kayu yang indah. “Coba berikan aku juga.”
“Bukankah salah satu yang wajib dipelajari oleh seorang putri juga menjahit?” kata Tirana sambil mengambilkan kain, benang, jarum dan rim untuk sang putri.
“Aku bisa membuat sulaman pola sungai,” kata Putri Sagiya.
“Aku ingin lihat, jika memang bagus, aku akan minta belajar darimu,” kata Tirana.
“Tirana, bukankah kemarin kau mengatakan bahwa pohon apel pahitmu sudah berbuah matang?” tanya Putri Sagiya.
__ADS_1
“Iya. Ayo kita ke belakang jika kau mau!” ajak Tirana.
“Kau saja yang ambilkan beberapa buah, biar aku menjahit di sini. Aku jadi penasaran saat kau katakan manisnya terlalu sehingga seperti pahit rasanya,” kata Putri Sagiya.
“Baik, Yang Mulia Putri,” ucap Tirana seraya tersenyum.
Putri Sagiya hanya tersenyum manis memandangi Tirana yang ia akui kecantikannya lebih unggul darinya.
“Duduk yang manis, jangan berisik, apalagi sampai pergi!” pesan Tirana.
Putri Sagiya hanya tersenyum lebar mendengar nasihat Tirana.
Tirana melangkah pergi ke luar kamar. Ditinggalkanlah Putri Sagiya seorang diri di kamar.
Kisah sebelumnya, Tirana memberi tahu sang putri bahwa pohon apel di belakang rumah sudah berbuah matang. Tirana memberi tahu bahwa apel miliknya berbeda manisnya dengan apel-apel yang lain. Sedemikian manisnya, bahkan seolah-olah terasa pahit.
Namun, sepeninggal Tirana, Putri Sagiya cepat melepas pekerjaan tangannya dan bergeser membuka sebuah laci di rak kayu. Tidak mendapatkan apa yang dicarinya, Putri Sagiya membuka laci yang lain.
Ia ingat, beberapa pekan yang lalu, Tirana begitu melarangnya untuk menyentuh sebuah kotak kayu kecil berwarna biru yang ada di rak kayu itu. Saat itu, kotak tersebut berada di luar laci ketika Putri Sagiya datang.
“Ini dia,” ucap Putri Sagiya pelan. Ia mendapati sebuah kotak kayu kecil berukir berwarna biru indah. Ketika kotak kayu itu dibuka, di dalam hanya ada sebuah gulungan kecil yang diikat dengan benang perak.
Seraya menutup kembali kotak sebesar genggaman itu, Putri Sagiya segera keluar dari kamar. Ia langsung berlari kecil ke depan rumah.
“Turung Gali, jika Tirana mencariku, katakan bahwa aku membawa kotak birunya,” kata Putri Sagiya kepada Turung Gali di teras rumah.
“Baik, Yang Mulia Putri,” jawab Turung Gali penuh hormat.
Tanpa menunggu layanan dari Pengawal Gaga, Putri Sagiya langsung naik ke punggung kudanya. Pengawal Gaga pun segera menaiki kudanya.
Seolah khawatir Tirana akan lebih dulu mengetahui aksi pencurian, Putri Sagiya langsung menggebah kencang kudanya. Pengawal Gaga pun dengan cepat mengikuti sang putri yang pergi dengan terburu-buru.
“Apa Yang Mulia Putri lakukan?” tanya Pengawal Gaga seraya melarikan kudanya di sisi kiri kuda Putri Sagiya di jalan berdebu yang cukup lebar.
Putri Sagiya justru tertawa kencang. Lalu jawabnya dengan cukup kencang, “Aku mencuri kotak berharga Tirana. Aku mau memaksanya datang ke istana!”
Meski kedua kuda itu berlari kencang dan tidak mengindahkan warga di jalanan, tapi warga yang tahu bahwa yang melintas adalah Putri Sagiya atau hanya tahu adalah anggota keluarga istana, mereka tetap memberi penghormatan dengan cara turun berlutut satu kaki dan kepala menunduk, hingga kedua kuda itu berlalu pergi.
Untuk keluar dari Kampung Cahaya Bumi, keduanya harus mendaki jalan menanjak memutar agar sampai ka tanah atas. (RH)
__ADS_1