
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
Ketua Perguruan Tiga Tapak Jaga Manta dan rombongannya yang baru bertemu di depan gerbang utama ketiga, harus berhenti.
Mereka semua dihadang oleh sebuah dinding sinar kuning yang membentang dari ujung ke ujung dan tingginya seolah mencapai langit. Sinar itu berwarna transparan.
Bukan hanya Jaga Manta yang terkejut, Gatri Yandana dan yang lainnya juga terkejut, sebab baru kali ini mereka melihat dinding sinar seperti itu.
Sememtara di seberang dinding sinar itu berdiri sosok kakek gagah berambut putih panjang. Kakek berjubah hijau gelap itu berdiri berwibawa sambil bersedekap. Ia adalah salah tokoh sakti aliran putih yang bernama Pendekar Seribu Tapak.
“Kakek Guru, apa ini?” tanya Jaga Manta heran.
“Ini adalah ilmu Dinding Perkasa. Ini adalah tantanganku kepada Kerling Sukma. Jika Sukma tidak bisa menghancurkan dinding ini, maka kembalilah kepada Dewi Mata Hati hari ini juga!” ujar Pendekar Seribu Tapak.
Mendeliklah Kerling Sukma dan ibunya mendengar perkataan Pendekar Seribu Tapak. Semua mata lalu beralih memandang kepada Kerling Sukma. Mereka ingin tahu apa tanggapan murid Dewi Mata Hati terhadap tantangan yang diberikan oleh orang tersakti di perguruan itu.
“Guru, apakah ini perlu dilakukan? Kerling Sukma sudah lama tidak kembali, kami pun ingin bersamanya sejenak,” kata Gatri Yandana keberatan. Ia jelas sangat tidak yakin bahwa Kerling Sukma bisa menghancurkan ilmu perisai raksasa itu.
“Di dunia persilatan ini penuh dengan orang-orang jahat yang lebih sakti dari aku. Jika baru memiliki kesaktian biasa-biasa saja lalu ingin pulang, maka bersiaplah jadi pecundang!” tegas Pendekar Seribu Tapak.
“Guru, aku ibunya. Aku rindu kepada putriku!” kilah Gatri Yandana mencoba mendebat.
“Benar, Kakek Guru. Jika Adik Sukma gagal menghancurkan Dinding Perkasa ini, izinkanlah Adik Sukma tetap masuk,” kata Jaga Manta pula.
“Jika kalian ingin melepas rindu, kalian bisa lakukan di luar sana jika Sukma tidak sanggup menghancurkan dinding ini!” tandas Pendekar Seribu Tapak.
“Ibu, Kakang, biar aku mencoba,” kata Kerling Sukma akhirnya.
“Baiklah,” kata Gatri Yandana lalu melangkah mundur.
Jaga Manta, Obang Kenari, Helai Sejengkal, Tembas Rawa, Getara Cinta, dan Nyi Lampingiwa segera bergerak mundur, memberi ruang kepada Kerling Sukma.
Kerling Sukma lalu berkonsentrasi. Ia berdiri dengan kaki rapat.
Zess!
Tiba-tiba kedua lengan Kerling Sukma dilapisi sinar emas bergelombang.
Melihat apa yang terjadi pada diri Kerling Sukma di seberang dinding, Pendekar Seribu Tapak segera memasang kuda-kuda. Ia pun harus bersiap-siap, sebab hancurnya dinding itu akan berpengaruh pula pada dirinya.
Tidak hanya sekedar mengerahkan ilmu Tebasan Mata Batin pada kedua tangannya, tetapi Kerling Sukma juga mengerahkan tenaga saktinya untuk menunjang kekuatan ilmu yang akan ia kerahkan.
__ADS_1
Pendekar Seribu Tapak mendelik ketika merasakan kemunculan tenaga sakti pada diri Kerling Sukma. Hal yang sama juga bisa dirasakan oleh Getara Cinta, tetapi tidak dengan yang lainnya.
Sruups!
Saat melihat Kerling Sukma mulai bergerak hendak menyerang Dinding Perkasa, Pendekar Seribu Tapak cepat mengeluarkan ilmu perisainya yang lain. Sebuah bola sinar besar berwarna putih seperti susu muncul dan mengurung tubuh Pendekar Seribu Tapak, sehingga wujudnya hanya terlihat samar dari luar.
Zezzz! Press! Bemmm! Sreet!
Akhirnya Kerling Sukma mengibaskan lengan kanannya ke depan. Maka satu kiblatan sinar emas tipis berbentuk vertikal melesat cepat, menebas dinding kuning raksasa tersebut lalu menghantam bola sinar putih, kemudian terus membelah dua bangunan utama perguruan.
Hasilnya adalah Dinding Perkasa lenyap yang menimbulkan guncangan seperti gempa sejenak. Sinar bola putih terpental keras ke samping hingga menjebol dinding salah satu bangunan perguruan. Dan kini, gedung utama perguruan terbelah menjadi dua bagian, mengalami kerusakan yang cukup parah.
“Guru!” teriak Gatri Yandana terkejut melihat Pendekar Seribu Tapak terpental dahsyat.
“Kakek Guru!” teriak Jaga Manta dan para murid bersamaan.
Sementara Obang Kenari hanya tersenyum.
Gatri Yandana dan Jaga Manta segera berlari ke tempat Pendekar Seribu Tapak terpental. Ada rasa kecemasan yang meliputi keduanya dan para murid Perguruan Tiga Tapak.
Namun, dari dalam bangunan papan itu berjalan keluar sosok Pendekar Seribu Tapak. Ia berjalan sambil mengusap-usap bibir dan jenggot putihnya yang kotor oleh darah kental.
“Guru?” tanya Gatri Yandana, cemas.
“Kakek Guru, maafkan aku!” kata Kerling Sukma sambil datang berlari dengan ekspresi menyesal.
“Tidak apa-apa, hehehe!” kata Pendekar Seribu Tapak lalu terkekeh.
“Maafkan aku, Kakek Guru. Aku terlalu berlebihan mengeluarkan tenagaku,” ucap Kerling Sukma masih merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, ternyata kesaktianmu sangat jauh dari perkiraanku. Fruuukrr!”
Tiba-tiba Pendekar Seribu Tapak menyemburkan darah yang banyak dari mulutnya.
“Guru!”
“Kakek Guru!”
Jaga Manta segera menangkap tubuh orang tua itu agar tidak jatuh ke lantai. Beberapa murid, termasuk Tembas Rawa, segera datang membantu.
Pendekar Seribu Tapak segera dibawa ke kediamannya yang terpisah sendiri dari rangkaian gedung induk perguruan.
“Dasar orang tua, ulahnya ada-ada saja!” kata Obang Kenari kepada Nyi Lampingiwa.
__ADS_1
“Hehehe!” Nyi Lampingiwa hanya terkekeh.
“Lihat akibatnya, dia terluka, perguruan pun jadi rusak!” gerutu Obang Kenari lagi. “Ujung-ujungnya aku juga yang mengurusnya!”
“Tembas Rawa, pimpin sejumlah murid untuk segera memperbaiki bagian yang rusak!” perintah Gatri Yandana.
“Baik, Ibu Guru Kedua,” ucap patuh Tembas Rawa. Ia segera pergi dan membiarkan Jaga Manta dan murid lainnya membantu Pendekar Seribu Tapak masuk ke kediamannya.
“Ibu Guru Pertama tiba!” teriak murid penjaga pintu gerbang lantang.
Mendengar pemberitahuan itu, Gatri Yandana segera beranjak dari tempatnya.
Para tamu diarahkan untuk berkumpul di balairung perguruan yang merupakan ruangan luas beratap tapi tidak berdinding.
Tidak berapa lama, sebuah kereta kuda terbuka berwarna hijau berhias warna hitam yang ditarik oleh dua ekor kuda, telah masuk melewati gerbang utama pertama.
Pada kursi kereta yang mewah berwarna hitam dan berukir, duduk seorang lelaki separuh baya berpakaian bagus warna putih. Pakaian berbahan mahalnya memiliki beberapa perhiasan yang terbuat dari emas dan perak. Lelaki berblangkon hitam itu adalah Pangeran Arya Duduwani. Ia adalah pangeran yang tidak memiliki jatah warisan tahta di kerajaan.
Di sisinya duduk rapat seorang wanita separuh baya, tetapi lebih muda dari Pangeran. Wanita bertubuh langsing itu mengenakan pakaian warnah hijau muda. Rambutnya ditata rapi dan disanggul. Perhiasan emas tersemat di kepala hingga di jari-jarinya. Ia adalah Lili Angkir, istri Pangeran Arya Duduwani. Ia lah yang disebut sebagai Ibu Guru Pertama.
Lili Angkir adalah ibu kandung Jaga Manta. Usia pernikahannya dengan Pangeran Arya Duduwani baru berusia tiga tahun.
Gatri Yandana dan Kerling Sukma segera menyongsong kedatangan kereta kuda yang baru saja berhenti. Mereka tersenyum menyambut kedatangan pasangan suami istri itu.
“Kerling Sukma!” sebut Lili Angkir sambil turun dan langsung menghamburkan diri memeluk gadis bermata hijau itu.
“Ibu Pertama!” sebut Kerling Sukma pula.
“Sekarang kau menjadi gadis yang sangat cantik!” puji Lili Angkir.
“Ibu Pertama juga, sekarang seperti seorang ratu!” balas Kerling Sukma.
Tertawalah Lili Angkir.
“Kau bisa saja, Sukma. Perkenalkan, suami Ibu, Pangeran Arya Duduwani,” kata Lili Angkir memperkenalkan suaminya.
“Senang kenal dengan Pangeran,” kata Kerling Sukma seraya tersenyum.
“Hahaha! Aku juga senang berkenalan dengan seorang murid Dewi Mata Hati,” kata Pangeran Duduwani pula.
“Mari, Pangeran!” ucap Gatri Yandana sambil menunjukkan arah ke aula perguruan.
Mereka lalu pergi bergabung dengan para tamu lainnya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi, Adik Gatri?” tanya Lili Angkir karena melihat kerusakan yang terjadi. (RH)