Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
103. Pertarungan Tuntas Dua Komandan


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Bakr!


Mengetahui bahwa tongkat besi Komandan Ram Pok mengandung tenaga yang tidak biasa, Jia Li memilih melompat dari atas jembatan dan turun ke perahu di parit yang lebar. Sementara itu, tongkat besi hanya menghajar lantai jembatan, menciptakan lubang memanjang dan membuat retakan yang merapuhkan jembatan.


Sementara itu, Bao-yu dengan gesit mengelaki tusukan pedang Komandan So Song.


Melihat Komandan So Song menyerang Bao-yu dengan pedang, terkejutlah Komandan Ram Pok. Buru-buru ia menusukkan ujung tongkatnya kepada rekannya itu.


Ting!


Terkejut Komandan So Song karena sabetan pedangnya yang mengincar kepala Bao-yu justru dihadang oleh tongkat Komandan Ram Pok.


“Apa yang kau lakukan, So Song?!” teriak Komandan Ram Pok marah. “Apa kau berniat membunuh Yang Mulia?!”


“Jangan halangi aku! Aku tahu yang kulakukan!” teriak Komandan So Song pula. Melihat Jia Li ada di atas perahu sendirian, ia cepat berteriak kepada para prajurit, “Panaaah!”


Namun, tidak ada satu pun prajurit panah yang melepaskan anak panahnya. Itu terjadi karena Komandan So Song bukanlah komandan mereka.


“Pan...!” Komandan Ram Pok yang hendak memerintahkan prajurit memanah Jia Li, berhenti berteriak karena Bao-yu yang masih memanggul tubuh putri justru melompat turun ke perahu tempat Jia Li berada. Maka teriaknya, “Tahaaan!”


Tindakan tenang Bao-yu dan Jia Li dalam menghadapi situasi itu justru membuat kedua komandan itu bingung.


Set! Brakr!


Komandan Ram Pok cepat melempar tongkat besinya ke bawah, ke perahu tempat Bao-yu dan Jia Li berada. Tongkat yang berat itu menusuk hancur lantai dan badan perahu.


Seset seset!


Treng!


Kedua wanita itu melompat naik ke udara sambil melesatkan hujan jarum dan paku yang sulit dilihat oleh para prajurit.


“Ak... akk... akh...!”


Sejumlah prajurit di kanan dan kiri parit bertumbangan terkena jarum-jarum dan paku-paku beracun yang jumlahnya tidak sedikit.


Komandan So Song gesit menangkis jarum dan paku dengan pedangnya. Sementara Komandan Ram Pok melakukan gerakan mengelak di tempat.


“Akh!” pekik Komandan Ram Pok sambil pegangi betis kaki kirinya. Rupanya ada satu paku berhasil bersarang di betis itu.


“Ayo pergi!” seru Bao-yu kepada Jia Li.


Kedua wanita itu segera berkelebat pergi meninggal perahu yang mereka pijaki. Jia Li menutup payungnya. Keduanya mendarat di tanggul sisi kiri lalu berlari cepat dan melompat naik ke atap rumah warga untuk kabur.


“Kejaaar!” teriak Komandan Ram Pok yang sedang kesakitan di atas jembatan.


Pasukan yang ada di tanggul kiri cepat bergerak beramai-ramai mengejar ke arah pelarian Bao-yu dan Jia Li.


Set set set!


“Ak... akk... akk...!”


Pasukan di tanggul kanan yang berniat menyeberang lewat jembatan, tiba-tiba bertumbangan. Sepuluh prajurit tumbang dengan leher telah ditancapi tusuk konde.


Betapa terkejutnya Komandan Ram Pok. Komandan So Song yang sudah berlari hendak mengejar Bao-yu dan Jia Li, jadi mengurungkan niatnya, karena pada saat itu juga, sesosok tubuh berpakaian hitam berkelebat di udara dan mendarat di tengah-tengah jembatan, tepat di depan Komandan Ram Pok.


Orang yang baru datang adalah seorang wanita berpakaian hanfu hitam. Perawakannya tinggi besar dan parasnya cantik dengan kematangan usia sekitar 40 tahun.

__ADS_1


“Aaarrgg!” raung Komandan Ram Pok sambil melancarkan satu tinju kiri bertenaga dalam tinggi. Ia sadar bahwa yang datang adalah musuh, teman dari Bao-yu.


Tseb! Tseb!


“Aaakrrr!” jerit Komandan Ram Pok tinggi.


“Ram Poook!” teriak Komandan So Song histeris.


“Komandaaan!” teriak para prajurit di sisi kanan yang masih tersisa sepuluh orang.


Wanita tinggi besar dengan lima tusuk konde di sanggulnya itu adalah Qionglin, satu dari teman Bao-yu.


Dengan mudahnya Qionglin menepis serangan dengan cara langsung menusuk nadi tangan kiri Komandan Ram Pok menggunakan tusuk konde. Sementara tangan satunya begitu cepat menusuk ke leher sang komandan.


Darah segar memancur dari leher Komandan Ram Pok, bahkan ada yang muncrat mengenai wajah cantik Qionglin. Namun, bagi seorang pembunuh, bermandikan darah bukan hal yang menjijikkan.


“Seraaang!” teriak salah seorang prajurit yang tersisa, mengomandoi teman-temannya untuk menyerang Qionglin.


Seset seset!


“Akk... akk... akk...!”


Entah berapa banyak tusuk konde yang Qionglin simpan di balik pakaiannya. Lagi-lagi ia menebarkan sepuluh tusuk konde untuk sepuluh leher prajurit. Kesepuluh prajurit yang tersisa bertumbangan sebelum mencapai posisi Qionglin.


Namun, menjelang ajalnya, satu prajurit masih sempat menembakkan suar merah ke langit dan meledakkan.


Cuss! Ctar!


Komandan Ram Pok yang setia akhirnya ikut jatuh menghembuskan napas terakhir, duduk terkulai bersandar pada pagar jembatan.


“Heaaat!” teriak Komandan So Song sambil berlari cepat ke atas jembatan.


Qionglin melesatkan dua tusuk konde menyambut kedatangan Komandan So Song. Sigap sang komandan menangkis dengan lintangan pedangnya sambil terus maju.


Saat mendapati Qionglin, Komandan So Song langsung menebas dan menusuk dengan cepat. Sosok besar Qionglin seolah menjadi target empuk bagi pedangnya. Namun, Qionglin begitu gesit menghindar. Bahkan ia menggunakan tusuk konde dalam genggaman kedua tangannya untuk sesekali menangkis pedang.


Merasa gagal dengan cara itu, Komandan So Song melompat mundur membuat jarak. Ia merasa harus mengeluarkan kemampuan terhebatnya.


Komandan So Song menegakkan pedangnya di depan wajahnya. Sementara dua jari kirinya ia usapkan ke badan pedang dari bawah ke atas. Usapan itu tampak mengerahkan tenaga dalam yang tinggi.


Zress!


Hingga usapan itu sampai ke puncak mata pedang, tiba-tiba badan pedang memancarkan sinar biru redup.


Melihat perubahan itu, Qionglin memutuskan melesatkan satu per satu tusuk konde secara beruntun.


Set set set!


Ting ting ting!


Namun, dengan gesit Komandan So Song menangkis semua serangan tusuk konde dengan pedangnya. Ada satu tusuk konde yang terpental dan jatuh ke dekat kaki Qionglin. Terlihat bahwa wujud tusuk konde itu tinggal separuh bentuk. Bukan karena patah ketika ditangkis oleh pedang, tetapi lumer seperti termakan api yang sangat panas.


“Hiaaat!” teriak Komandan So Song sambil melesat maju mengibaskan pedangnya.


Qionglin tidak mau ceroboh pada tahap ini. Ia menghindar dengan melompat mundur, sehingga ujung pedang mengibas jauh di depan perutnya.


“Hah!” kejut Qionglin. Ia mendapati perut pakaiannya robek hangus, padahal jarak pedang dengan perutnya cukup jauh.


Namun, Komandan So Song sudah datang lagi dengan pedang mautnya. Buru-buru Qionglin mencari akal. Ia menghindar dengan melompat turun ke atas perahu. Lompatan yang berbobot berat membuat perahu terhentak, tetapi tidak sampai rusak. Namun, menimbulkan gelombang lokal di air parit.

__ADS_1


“Mau lari ke mana kau?!” teriak Komanda So Song sambil melompat mengejar ke perahu yang sama sambil menebaskan pedangnya.


Qionglin cepat melompat jauh dan mendarat di perahu lain. Setiap ia mendarat ke sebuah perahu, ia sengaja mengerahkan tenaga agar perahu terguncang kuat dan menimbulkan ombak-ombak yang akan menggoyang perahu-perahu lain yang sedang di tambatkan.


Set!


Menghindarnya Qionglin membuat pedang Komandan So Song menebas putus badan perahu menjadi dua bagian.


Komandan So Song tidak berhenti. Dia langsung melompat mengejar dengan pedang tetap terayun.


Qionglin melakukan hal sama. Ia melompat lagi ke perahu di sisi yang lain. Perahu yang ia tinggalkan kembali terbelah dua oleh pedang Komandan So Song.


Komandan Naga Hitam Selatan itu kembali melakukan hal yang sama dengan kemarahan yang kian memuncak.


Pada saat sang komandan melompat itulah Qionglin mengambil waktu yang tepat untuk menyerang.


Seset! Tringting!


Seiring kakinya mendarat di lantai perahu, Qionglin langsung menghentak kedua lengannya ke arah belakang. Saat itu, Komandan So Song telah berada dalam puncak lompatannya di udara mengejar Qionglin.


Sepuluh tusuk konde melesat bersamaan menyerang Komandan So Song yang ada di udara. Hebatnya, dalam waktu yang singkat itu, Komandan So Song bisa menangkis tujuh tusuk konde dan tiga lainnya dibiarkan mengenai pelindung baju zirahnya.


Dari atas perahu, Qionling langsung berkelebat naik ke atas jembatan dengan posisi mundur. Sementara dua lengannya kembali menghentak menyerang Komandan So Song yang baru mendarat di perahu.


Sesez!


Rupanya kali ini serangan Qionglin berbeda dari sebelum-sebelumnya. Memang sepuluh tusuk konde melesat, tetapi kali ini kesepulunya dibungkus oleh sinar hijau.


Tringting! Teptep!


“Akh!”


Irama yang sama terdengar ketika pedang Komandan So Song gesit menangkis delapan tusuk konde. Namun, dua tusuk konde mengenai zirah pada bagian lambung kiri dan bahu kanan. Berbedanya, kali ini tusuk konde yang mengenai zirah tidak mental, tetapi tembus masuk ke dalam tubuh. Maka pastilah Komandan So Song menjerit tertahan menahan sakit dan panas yang tinggi.


“Serangan terakhir!” pekik Qionglin yang berdiri di atas pagar jembatan. Ia mengirim serangan yang sama, yaitu Sepuluh Setan Penjemput.


Sesez!


Tetep!


Kali ini, Komandan So Song tidak bisa menangkis lagi. Ia pun pasrah kesepuluh tusuk konde bersinar hijau itu menghujani tubuhnya di sepuluh titik. Baju zirahnya pun tidak mampu melindungi tubuhnya.


Dengan mulut terbuka lebar, mata mendelik merah, dan tubuh kejang, Komandan So Song tumbang perlahan ke belakang. Tubuhnya ambruk ke lantai perahu dengan luka 12 lubang yang membuatnya tidak bernyawa lagi.


Warga sekitar hanya bisa menyaksikan tamatnya perlawanan di jembatan parit.


Qionglin berdiri diam menatap mayat Komandan So Song di bawah sana. Senyum sinis tergambar di bibir merahnya.


Set!


Tiba-tiba sepasang mata Qionglin melebar. Ia merasakan ada satu benda yang melesat cepat ke arahnya dari samping atas.


Set! Prak!


Refleks Qionglin langsung melesatkan satu tusuk konde normal tanpa memastikan lebih dulu benda apa yang menyerangnya. Tusuk konde itu menghadang lesatan sebuah genteng hingga menghancurkannya di tengah jalan.


Qionglin memandang jauh ke atas, di sisi kanan.


Di atas atap sebuah rumah warga, berdiri seorang wanita cantik berpakaian kuning berpadu warna putih. Dari jenis pakaiannya dan perhiasannya yang mewah memberi tanda bahwa wanita di atas atap rumah itu bukanlah prajurit atau pendekar kebanyakan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2