Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 3: Menata Sanggana Kecil


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*


Seorang prajurit membuka pintu sel penjara. Dua prajurit lainnya melangkah masuk ke dalam. Satu orang membawa nampan yang menadah sebuah teko tanah liat dan sebuah gelas bambu, sementara prajurit lainnya bertindak sebagai pemimpin.


Di dalam sel itu ada dikurung Tangpa Sanding, Lengking dan Delik Rangka. Mereka bertiga dalam kondisi kaki dipasung dan kedua tangan dirantai. Namun, rantai pada belenggu tangan lebih renggang. Ujung rantai lainnya menyatu di tembok sel. Lantai penjara itu ternyata berupa pasir yang mengeluarkan hawa hangat, yang lama-lama justru menciptakan suasana gerah yang tidak nyaman.


“Minuman ini obat untuk memulihkan kaki kalian. Pemimpin kalian sudah bergabung dengan Kerajaan Sanggana Kecil. Nanti sore kalian akan dibebaskan,” ujar prajurit kepada mereka bertiga.


Prajurit satunya lalu meletakkan kendi dan gelas dititik yang terjangkau oleh ketiganya.


Kedua prajurit itu melakukan hal yang sama kepada Sugigi Asmara dan Nyi Mut yang dipenjara di sel yang berbeda.


Setelah meminum minuman obat resep dari Senopati Batik Mida, kelima pengikut Pangeran Kubur itu merasakan ada perubahan pada kaki mereka. Dalam hitungan beberapa jam, kaki mereka benar-benar pulih.


Menjelang sore hari, kelimanya dilepaskan dari belenggu pasungan dan borgol. Mereka digiring dalam kawalan sepuluh orang prajurit menuju ke luar penjara.


Ketika mereka keluar dari penjara, mereka berlima terkejut. Mereka melihat rekan-rekan sesama pengikut Pangeran Kubur sudah berkumpul menunggu, seolah menunggu bebasnya orang-orang penting.


“Kakang Tampaaan!” teriak seorang pendekar wanita bertubuh gemuk, tapi cantik, berlari lalu menabrak dan peluk Tangpa Sanding.


“Hahaha! Istriku mungil!” sebut Tangpa Sanding sambil memeluk erat wanita yang bernama Srikayi itu.


“Aku sudah mendaftar dalam Pasukan Pedang Putri. Kakang lebih baik mendaftar di Pasukan Hantu Sanggana daripada Pasukan Pengawal Bunga,” ujar Srikayi.


“Memangnya kenapa jika mendaftar di Pasukan Pengawal Bunga?” tanya Tangpa Sanding penasaran.


“Aku nanti cemburu,” jawab Srikayi agak merengut, menggemaskan. Rasanya, ingin gigit pipinya.


Sementara itu, seorang pemuda berambut gondrong lagi keriting, menyambut peluk kepada Nyi Mut.


“Nyi Mut Sayang, aku pikir kita tidak akan bertemu lagi!” ucap pemuda bernama Dahak Buras itu sambil rentangkan kedua tangan bermaksud peluk mesra tubuh Nyi Mut.


“Dasar, mengambil kesempatan!” rutuk Nyi Mut sambil mengelakkan tubuhnya dari tangkapan Dahak Buras.


“Dahak Buras!” panggil Sugigi Asmara bernada genit.


“Hiiih!” Dahak Buras mendelik tergidik lalu buru-buru menjauh saat Sugigi Asmara merentangkan tangan hendak memeluknya.


“Kurang sopan! Kau pikir aku genderuwo?! Aku gigit kau nanti!” maki Sugigi Asmara kesal.


“Hahaha…!” tertawa ramailah para pendekar Kampung Kubur yang menyambut kebebasan mereka.


Tangpa Sanding, Lengking, Delik Rangka, Sugigi Asmara, dan Nyi Mut akhirnya mendaftar juga sebagai prajurit, setelah mereka mendapat masukan-masukan dari rekan-rekannya.


Sugigi Asmara dan Nyi Mut memilih mendaftar di Pasukan Pengawal Bunga. Tangpa Sanding juga memilih mendaftar di Pasukan Pengawal Bunga, membuat sang istri merengut. Sedangkan Lengking dan Delik Rangka mendaftar di Pasukan Hantu Sanggana.

__ADS_1


Setiap pendaftar bagian manapun, mereka akan diberi selembar kain bertanda untuk sementara sebagai bukti pendaftaran mereka. Sebab, besok mereka akan dites kemampuannya.


Pada hari itu juga, pasukan Kerajaan Sanggana Kecil pulang dengan mambawa banyak tahanan. Orang-orang Gunung Prabu yang mengenali para tawanan dari seragamnya, hanya bisa terperangah, tapi juga senang. Hal itu dikarenakan kelompok penghuni Hutan Malam Abadi adalah musuh mereka.


Semua tawanan orang Hutan Malam Abadi dijebloskan ke dalam penjara, membuat penjara kelebihan kapasitas.


“Yang Mulia Ratu, penjara tidak bisa menampung jumlah para tawanan!” lapor Senopati Batik Mida kepada Ratu Getara Cinta.


“Bukankan di antara mereka ada yang tidak terluka?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Benar, Yang Mulia.”


“Bagi tawanan yang tidak terluka, beri keringanan dengan tawaran untuk mengabdi sebagai prajurit. Tapi dengan ancaman, jika mereka berani bersiasat, hukuman mati ditempat akan diberikan. Angkat kehormatan pemimpin kecilnya untuk memimpin kaumnya membuka permukiman baru di Hutan Malam Abadi!” perintah Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia Ratu!” ucap Senopati Batik Mida patuh.


“Kalian tempatkan di mana Penagih Nyawa?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Sesuai perintah Permaisuri Serigala, aku tempatkan di kamar tamu dalam kondisi lumpuh oleh ilmu Pengunci Paha,” jawab Senopati Batik Mida.


“Perlakukan dengan baik. Sifat buruk seseorang bisa berubah jika ia mengikuti pemimpin yang baik,” kata Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia!” ucap Senopati Batik Mida.


Pada saat yang sama, Permaisuri Nara pulang bersama Lubuk Parut yang lebih melegenda dengan nama Iblis Takluk Arwah. Kedatangan sang penghuni Gua Api membuat orang-orang Gunung Prabu menjadi heboh. Mereka selama ini hanya tahu desas-desus tentang ada penghuni sakti mandraguna di dalam gua. Namun, mereka tidak tahu siapa sebenarnya pertapa di dalam Gua Api, yang pernah membunuh belasan pengikut Pangeran Kubur.


“Selamat datang di istana kami yang kecil ini, Guru,” ucap Ratu Getara Cinta dengan senyum ramahnya.


“Hahaha! Jadi kau Ratu Getara Cinta itu?” ucap Iblis Takluk Arwah. Ia lalu menatap para permaisuri satu per satu. “Aku tidak menyangka, kalian muda-muda, tetapi memiliki kesaktian yang semengerikan seperti ini.”


“Aku rasa Guru begitu melebihkan,” ucap Kerling Sukma.


“Aku bisa merasakan aura kesaktian kalian semua. Dan tiga dari kalian sudah pasti bisa membunuhku. Sementara yang lain mungkin bisa membunuhku,” ujar Iblis Takluk Arwah.


“Iblis Takluk Arwah adalah sahabatku di masa lalu. Ia adalah seorang pembunuh yang berubah menjadi pertapa. Tanpa meminta persetujuan Gusti Ratu dan kalian terlebih dahulu, aku menawarkan tempat bertapa kepadanya di dalam istana,” ujar Permaisuri Nara.


“Iblis Takluk Arwah adalah salah satu nama yang tertera di dalam undangan Guru Tiga Malaikat Kipas….”


“Tiga Malaikat Kipas?” sebut Iblis Takluk Arwah terkejut, memotong perkataan Permaisuri Tirana.


“Benar, Guru. Prabu Dira adalah murid Tiga Malaikat Kipas,” jelas Permaisuri Tirana.


“Guru mengangkat murid dari murid muridnya,” ucap Iblis Takluk Arwah, menyimpulkan sendiri.


“Aku rasa kita tidak akan mempermasalahkan orang yang sudah dipercaya oleh Guru Tiga Malaikat Kipas,” kata Permaisuri Tirana.

__ADS_1


“Dengan senang hati kami akan menyediakan ruang pertapaan yang nyaman bagi Guru Iblis Takluk Arwah,” kata Ratu Getara Cinta.


“Terima kasih, Ratu,” ucap Iblis Takluk Arwah.


“Hal penting yang perlu Gusti Ratu dan para permaisuri ketahui, selama dua puluh tahun bertapa di Gua Api, ternyata dia juga menjaga keberadaan sumur minyak dan batu emas di dalam gua,” kata Permaisuri Nara.


Terkesiaplah Ratu Getara Cinta dan para permaisuri.


“Ini berita bagus,” kata Ratu Getara Cinta.


“Aku serahkan semuanya kepada kerajaan ini,” kata Iblis Takluk Arwah.


“Terima kasih atas kemurahan hatimu, Guru,” ucap Ratu Getara Cinta. “Aku akan segera mengirim utusan ke Rimba Berbatu untuk meminta dikirimkan ahli tambang emas. Kita harus mengolah tambang menggunakan orang-orang yang ahli di bidangnya. Sepertinya kita akan banyak menyusun rencana untuk bisa membuat kerajaan ini terus berjalan.”


“Gusti Ratu, kita juga membutuhkan tabib sebagai pejabat perobatan dan seorang hakim untuk mengadili para tawanan,” kata Permaisuri Kerling Sukma.


“Kita begitu kekurangan orang dan kita belum begitu mengenal kemampuan dan karakter orang-orang Gunung Prabu dan Hutan Malam Abadi. Dengan terpaksa beberapa urusan harus kita tangani sendiri,” kata Ratu Getara Cinta.


“Untuk sementara biarkan aku yang menghakimi para tawanan itu!” sahut Permaisuri Nara.


“Terima kasih, Kakak Permaisuri,” ucap Ratu Getara Cinta.


“Untuk tabib, sementara bisa ditangani oleh ayahku,” kata Permaisuri Tirana.


“Baiklah. Aku akan mencoba meminta Tabib Rakitanjamu untuk bersedia membantu di sini,” kata Ratu Getara Cinta. “Adik Mata Hijau, kirim seorang utusan hari ini juga ke Kadipaten Surosoh untuk menemui Tabib Rakitanjamu!”


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Permaisuri Kerling Sukma.


Sementara itu di ruangan lain. Mantri Kesejahteraan Putri Sagiya sedang melakukan pertemuan kecil dengan Adipati Pangeran Kubur dan ketiga kepala desa yang belum punya desa, yaitu Setan Kesurupan, Tukang Tanam dan Bala Bala.


Kelimanya sedang mengelilingi sebuah meja kayu. Di atas meja itu ada gelaran kain berwarna hijau berpola lingkaran. Tepat pada tengah kain diletakkan sebuah batu kecil.


“Ini adalah Gunung Prabu. Batu ini adalah puncak gunung. Adipati dan kalian bertiga lebih mengenal area Gunung Prabu. Anggaplah sisi gunung yang ada di depanku adalah arah utara. Silakan kalian tunjukkan area mana saja yang memiliki tanah subur untuk pertanian, dan tanah padat yang baik untuk membangun permukiman. Batu bulat tanda untuk pertanian dan batu pipih untuk permukiman,” kata Putri Sagiya.


Mendengar arahan itu, tiga kepala desa segera mengambil batu-batu kecil yang terkumpul pada satu sisi meja tersebut. Mulailah Setan Kesurupan, Tukang Tanam dan Bala Bala mengambil lalu meletakkan beberapa batu pada kain hijau.


Setelah menyelesaikan penataan batunya di atas kain hijau, maka terlihatlah pola susunan batu. Pada bagian kain hijau yang melambangkan arah timur, tampak sepi dari penempatan batu.


“Area timur gunung adalah area berbatu, jurang dan bertebing, Gusti Putri,” kata Bala Bala. Ia adalah seorang lelaki bertubuh agak pendek tetapi berbadan lebar. Ia seorang pendekar yang bersenjata dua tombak pendek yang ia pasang di punggungnya.


“Jadi wilayah pertanian dan permukiman dibagi tiga desa. Bangun lebih dulu di titik yang terbaik,” kata Putri Sagiya. Ia lalu membuat lingkaran tanpa warna dengan ujung tongkat kecil di beberapa bidang kain hijau. “Ini desa yang dipimpin oleh Setan Kesurupan, ini dipimpin oleh Bala Bala, dan ini dipimpin oleh Tukang Tanam.”


“Maaf, Gusti. Lalu siapa yang akan menjadi warga dan petaninya?” tanya Tukang Tanam. Ia adalah seorang lelaki bertinggi sedang, tetapi besar karena berotot. Ia memiliki wajah tegas berpola mirip kotak, dengan kumis tebal. Usianya sudah lewat empat puluh tahun.


“Warga Gunung Prabu yang memilih menjadi warga biasa akan dibagi tiga untuk menghuni setiap desa.”

__ADS_1


“Baik, Gusti Putri!” ucap mereka patuh.


“Seiring waktu, jumlah warga kalian akan terus bertambah dan nantinya akan layak disebut sebuah desa. Adipati akan mengatur dan mengawasi serta memperhatikan kesejahteraan hidup warga. Ingat, membangun dari awal membutuhkan perjuangan dan kerja keras. Hasil tidak akan mengkhianati usaha!” kata Putri Sagiya. (RH)


__ADS_2