Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 17: Tamu Ganteng


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


“Pernikahan ini harus dibatalkan! Joko ditakdirkan sebagai suami dari cucuku, bukan suami wanita lain!” teriak Serigala Perak dari atas punggung serigala peraknya yang bernama Samudera.


Ingin rasanya semua orang emosi menghadapi tindakan nenek pembawa sembilan serigala itu. Sudahlah datang membuat rusuh, dengan seenaknya pula ia menyuruh membatalkan pernikahan besar itu.


Kaum wanita sudah ramai berdiri di sekitar pintu-pintu. Lili Angkir, Gatri Yandana, Sari Tembaya, dan Obang Kenari sudah bergabung berdiri di teras balairung. Sementara Nyi Lampingiwa bersama Helai Sejengkal berdiri memperhatikan dari posisi yang agak jauh.


“Nenek Rambut Putih!” seru Turung Gali lantang kepada Serigala Perak. “Aku adalah ayah dari salah satu pengantin perempuan. Ini adalah hari-hari bahagia kami. Kau jangan mengacau. Aku tidak kenal denganmu, maka aku tidak akan sungkan jika kau mengacaukan acara penting ini!”


“Oh! Kau menantangku rupanya!” gusar Serigala Perak.


Sess! Zrup!


Tiba-tiba Nenek Serigala melesatkan satu sinar ungu kecil dari sentilan satu jarinya. Melesat cepat kepada Turung Gali. Namun, Nenek Serigala harus mendelik karena dengan mudahnya Turung Gali menangkap sinar itu dengan telapak tangan kanannya yang diselimuti sinar biru gelap. Turung Gali tidak mengalami cidera apa pun.


“Eh eh eh! Tahan dan sabar, Santa Marya! Ini bisa kita bicarakan baik-baik. Aku memahami apa yang kau yakini. Mungkin benar Joko Tenang adalah calon suami Sandaria, tapi juga mungkin benar bahwa Sandaria harus berbagi suami dengan gadis-gadis yang lainnya,” ujar Ki Ranggasewa mencoba menengahi dan membujuk Serigala Perak.


“Jangan coba mempengaruhiku, Ranggasewa!” bentak Serigala Perak.


“Serigala Perak!” Kali ini yang bersuara adalah Gatri Yandana. Ia maju berdiri di sisi Turung Gali. “Aku sebagai ibu dari Kerling Sukma sangat tidak rela jika pernikahan putriku diusik oleh kalian. Dan kami semua di sini sangat mendukung pernikahan besar ini. Jika memang cucumu mencintai Pangeran Joko Tenang, lebih baik nikahkan juga sekalian!”


“Pangeran?” sebut ulang Serigala Perak.


“Sedangkan kau tidak mengenali calon suami bagi cucumu!” kata Gatri Yandana ketus.


Sementara itu, Sandaria tampak gelisah mendengar ketegangan yang tercipta antara gurunya dengan orang banyak.


“Neneeek!” panggil Sandaria bernada merengek.


“Diam kau, Sandaria!” bentak Serigala Perak kepada cucunya. “Nenek lakukan ini untuk kebaikan masa depanmu. Joko Tenang adalah pendekar masa depan. Demi mendapatkan Joko Tenang, aku rela berkalang tanah demi kebahagiaan cucuku!”


“Selama datang, Sandaria!” sapa seorang wanita tiba-tiba, seiring harum bunga mawar merebak di sekitar tempat itu. Ia adalah Tirana yang datang bersama Getara Cinta, Kerling Sukma dan Putri Sri Rahayu.


Putri Sri Rahayu lah yang menyebarkan aroma mawar yang cukup tajam.


“Terima kasih, Kakak Tirana!” sahut Sandaria seraya tersenyum manis, kegembiraannya atas sapaan Tirana langsung mengabaikan kemarahan sang nenek.


“Masuklah ke mari, ajak nenekmu untuk menikmati hidangan kami!” kata Getara Cinta pula.

__ADS_1


Ketiga calon istri Joko Tenang itu sudah tampil bersih dan berpakaian rapi. Karena harus mencuci wajah terlebih dahulu, mereka muncul agak telat.


“Oh, jadi ini gadis-gadis yang akan menjadi saingan cucuku? Cantik-cantik dan sakti-sakti. Aku bisa merasakan ketinggian kesaktian kalian. Kalau begitu kalian aku tantang adu kesaktian dengan cucuku. Jika kalian bertiga kalah, batalkan pernikahan!” ujar Serigala Perak.


“Tidak bisa!”sergah Lili Angkir pula. “Para pengantin tidak diperbolehkan turun tarung sebelum pernikahan disahkan!”


“Kalau begitu, serahkan Joko kepadaku!” tandas Serigala Perak.


“Tidak bisa seperti itu, Serigala Perak,” kata Pendekar Seribu Tapak, masih berusaha lembut, meski ia juga kesal dengan sikap keras hati Serigala Perak itu.


“Selamat datang, Sandaria!” seru seorang lelaki yang tahu-tahu muncul di antara mereka, tetapi posisinya terjaga dari kedekatan dengan wanita yang juga ramai ada di situ. “Selamat datang, Nenek Serigala Perak!”


Lelaki berompi merah itu tidak lain adalah Joko Tenang.


“Hahaha…!”


Tiba-tiba pula, tawa para murid Perguruan Tiga Tapak meledak tanpa bisa dicegah. Para calon istri Joko Tenang pun tertawa ramai. Demikian pula dengan para tetua.


Sementara Serigala Perak sendiri menahan tawanya demi menjaga wibawanya sebagai pihak perusuh.


Mereka semua menertawakan Joko Tenang yang muncul dengan kondisi wajah terlapisi masker wajah seperti “emak-emak” salon.


“Apa boleh buat, ini pasti gara-gara pikiranku yang larinya sudah ke mana-mana…” pikir Joko Tenang.


Akhirnya Joko Tenang cuek saja seiring meredanya tawa.


“Setidaknya suasana sedikit cair,” kata Getara Cinta yang masih menyisakan senyuman.


“Ternyata calon suami kita bisa melucu di saat yang tegang,” timpal Tirana pula, juga masih senyum-senyum.


“Ada apa, Nek?” tanya Sandaria bingung. Ia tidak bisa melihat apa yang terjadi dan apa yang ditertawakan.


“Calon suamimu itu ternyata pesolek, dia muncul dengan berbedak tebal!” jawab Serigala Perak ketus.


Sandaria jadi tertawa kecil mendengar itu. Ia bahkan jadi membayangkan rambut Joko Tenang sedang disanggul.


“Maafkan aku, aku terlupa!” ucap Joko Tenang seraya tersenyum. Ia lalu beralih berkata kepada Serigala Perak, “Nenek Serigala Perak, sebenarnya aku mencarimu. Aku ingin menyampaikan pesan dari guruku, Tiga Malaikat Kipas!”


“Apa? Kau murid Tiga Malaikat Kipas?” kejut Serigala Perak, seakan tidak percaya.

__ADS_1


“Benar, Nek. Aku juga belum menyampaikannya kepada Kakek Seribu Tapak,” tandas Joko Tenang.


Sejak mendengar nama Tiga Malaikat Kipas, terlihat jelas ekspresi wajah Serigala Perak melunak.


“Tamu ganteng datang!”


Tiba-tiba suasana dipecahkan oleh teriakan penjaga gerbang. Yang membuat teriakan itu jadi berbobot adalah adanya sisipan kata “ganteng”. Kata itu seketika menimbulkan tanda tanya dan rasa penasaran.


“Malaikat Serba Tahu telah tiba!” teriak murid penjaga gerbang lagi.


“Nah, ini dia!” ucap Ki Ranggasewa sumringah. Ia menilai, Malaikat Serba Tahu-lah kunci kesalahpahaman yang dianut oleh Serigala Perak dan Putri Serigala.


“Biar si cebol itu yang menjelaskan bahwa Joko adalah takdir untukmu!” bisik Serigala Perak kepada Putri Serigala.


Suasana berubah hening, hanya bisik-bisik yang terdengar.


“Nek, bukankah Malaikat Serba Tahu itu sudah tua?” tanya Helai Sejengkal berbisik kepada Nyi Lampingiwa.


“Benar,” jawab Nyi Lampingiwa.


“Kenapa disebut ganteng?” tanya Helai Sejengkal lagi.


“Hihihi! Kau lihat aku, aku buta,” kata Nyi Lampingiwa.


Semua mata tertuju kepada pintu gerbang pertama. Akhirnya, yang mereka tunggu pun muncul memasuki pintu gerbang pertama.


“Hahaha!”


Memang dasar murid Perguruan Tiga Tapak, tidak bisa melihat hal yang lucu sedikit. Mereka kembali tertawa melihat siapa yang datang.


Tamu yang datang adalah seekor kambing berkuping panjang terkulai. Kambing itu sedikit lebih tinggi dari kambing kebanyakan. Warnanya serba hitam, hampir mirip Satria, serigala tunggangan Sandaria.


Bukan hanya seekor kambing, tetapi juga ada seorang manusia yang duduk di punggung si kambing tanpa lapisan pelana dan tanpa tali kekang. Orang yang duduk adalah seorang lelaki berwajah tampan. Rambutnya pendek berwarna hitam dan berikat kepala merah terang. Ia mengenakan baju putih dan bercelana hitam. Sabuknya terbuat dari bahan kulit berpola sisik ular, karena itu memang terbuat dari kulit ular berwarna hitam. Namun, dia adalah seorang pendek atau katai bin cebol. Dialah orang yang selama ini namanya sering disebut, yaitu Malaikat Serba Tahu.


“Itukah Malaikat Serba Tahu?” tanya Tumbuk Gertak kepada Ki Ranggasewa.


“Benar,” jawab Ki Ranggasewa.


“Hei! Apakah karena aku datang dengan kambing lalu tidak ada yang menyambutku?” teriak lelaki cebol tampan itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2